Hukum Melakukan Aktivitas Sebelum Mandi Junub, Bolehkah?Tanya Ustadz
Assalamualaikum. Bagaimana norma melakukan kegiatan seperti memasak, mencuci, alias pekerjaan lainnya sebelum mandi janabah (mandi besar)? Apakah perihal tersebut berdosa? (Rahmat/40 tahun)
Jawaban
Terima kasih sudah bertanya pada redaksi. Ketika seseorang berada dalam keadaan junub, dia memang dianjurkan untuk segera melakukan mandi janabah sebagai corak penyucian diri.
Namun dalam praktiknya, tidak sedikit orang yang menunda mandi lantaran kudu menyelesaikan kegiatan tertentu, seperti memasak, mencuci, alias keperluan lainnya. Lantas, gimana norma melakukan kegiatan tersebut sebelum mandi junub?
Pada dasarnya, para ustadz menjelaskan bahwa orang yang junub tetap diperbolehkan melakukan beragam kegiatan sehari-hari, termasuk memasak, menyuci, dan pekerjaan rumah lainnya. Hal ini didasarkan pada sabda sahih yang diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dari Abu Hurairah, dia berkata:
> لَقِيَنِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَنَا جُنُبٌ، فَأَخَذَ بِيَدِي، فَمَشَيْتُ مَعَهُ حَتَّى قَعَدَ، فَانْسَلَلْتُ، فَأَتَيْتُ الرَّحْلَ، فَاغْتَسَلْتُ ثُمَّ جِئْتُ وَهُوَ قَاعِدٌ، فَقَالَ: أَيْنَ كُنْتَ يَا أَبَا هِرٍّ؟ فَقُلْتُ لَهُ، فَقَالَ: سُبْحَانَ اللَّهِ يَا أَبَا هِرٍّ، إِنَّ الْمُؤْمِنَ لَا يَنْجُسُ
Artinya: “Aku berjumpa Rasulullah ﷺ dalam keadaan junub. Beliau menggandeng tanganku dan saya melangkah berbareng beliau hingga beliau duduk. Lalu saya pergi diam-diam untuk mandi, kemudian kembali sementara beliau tetap duduk. Beliau bertanya, ‘Ke mana engkau tadi wahai Abu Hurairah?’ Aku menjelaskan bahwa saya tadi dalam keadaan junub. Maka beliau bersabda, ‘Subhanallah, wahai Abu Hurairah, sesungguhnya seorang mukmin tidaklah najis.’”
Hadis ini menunjukkan bahwa keadaan junub tidak menjadikan seseorang najis secara zat, sehingga dia tetap boleh berinteraksi dan melakukan aktivitas.
Penjelasan ini diperkuat oleh keterangan Ibnu Hajar al-Asqalani dalam kitab Fathul Bārī, dia menyatakan:
وَفِيهِ جَوَازُ تَأْخِيرِ الِاغْتِسَالِ عَنْ أَوَّلِ وَقْتِ وُجُوبِهِ، وَعَلَى جَوَازِ تَصَرُّفِ الْجُنُبِ فِي حَوَائِجِهِ
Artinya: “Hadis ini menunjukkan kebolehan mengakhirkan mandi dari awal waktu kewajibannya, serta kebolehan orang junub melakukan kegiatan untuk memenuhi kebutuhannya.”
Dengan demikian, memasak, mencuci, bekerja, alias kegiatan lainnya sebelum mandi junub hukumnya bolehdan tidak berdosa. Namun demikian, terdapat etika yang dianjurkan. Jika seseorang dalam keadaan junub hendak makan alias minum, maka disunnahkan untuk berwudhu terlebih dahulu. Hal ini lantaran makan dan minum dalam keadaan junub tanpa wudhu dihukumi makruh oleh sebagian ulama.
Dasarnya adalah sabda yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Aisyah binti Abu Bakar:
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا كَانَ جُنُبًا فَأَرَادَ أَنْ يَأْكُلَ أَوْ يَنَامَ، تَوَضَّأَ وُضُوءَهُ لِلصَّلَاةِ
Artinya: “Apabila Rasulullah ﷺ dalam keadaan junub dan hendak makan alias tidur, beliau berwudhu sebagaimana wudhu untuk shalat.”
Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan:
1. Melakukan kegiatan seperti memasak sebelum mandi junub diperbolehkan dan tidak berdosa.
2. Orang junub tidak dianggap najis secara fisik, sehingga tetap sah beraktivitas.
3. Dianjurkan untuk berwudhu terlebih dulu jika hendak makan, minum, alias tidur dalam keadaan junub.
Dengan memahami perihal ini, seorang muslim dapat menjalani kegiatan sehari-hari dengan tenang tanpa keraguan, sembari tetap menjaga etika dan kesempurnaan ibadah.
English (US) ·
Indonesian (ID) ·