Teman Lagi Sedih? Kalimat Ini Bikin Mereka Merasa Nyaman dan Didengar Menurut Psikolog/Foto: Pexels.com
Beauties, ketika ada kawan yang sedang sedih dan curhat kepada kita, respon pertama kita mungkin mau menenangkan mereka. Tapi terkadang, pemilihan kata yang tidak tepat justru membikin kawan merasa tidak didengarkan dan justru semakin terpuruk.
Kenyataannya, terlebihlagi Anda mungkin sering kebingungan mesti mengatakan apa agar kawan merasa betah saat sedang curhat denganmu. Tenang, Anda nggak sendiri, kok, Beauties. Terkadang sulit untuk mengetahui apa yang mesti dikatakan, Anda mungkin takut salah bicara dan terkesan meremehkan emosi dan pengalaman mereka, padahal niatnya Anda mau membantu.
Menurut psikolog klinis Dr. Jaime Zuckerman, sebenarnya tidak perlu kata-kata rumit, Beauties. Ada satu kalimat sederhana yang bisa membikin kawan merasa tenang ketika mendengarnya. Kalimat ini juga membikin mereka merasa tidak cuma didengar, tapi juga dipahami.
Yuk, cari tahu kalimatnya berikut ini!
Kalimat yang Bikin Orang Merasa Nyaman dan Didengar Menurut Psikolog

Teman Lagi Sedih? Kalimat Ini Bikin Mereka Merasa Nyaman dan Didengar Menurut Psikolog/Foto: Pexels.com
Terkadang, kata-kata paling sederhana bisa memberikan akibat emosional yang paling besar. Setuju tidak, Beauties?
Ketika seseorang merasa didengarkan dan dipahami, mereka cenderung akan merasa lebih betah dan terbuka kepada kita. Nah, menurut Dr. Zuckerman, kalimat yang bisa membikin orang merasa betah dan terbuka dengan kita adalah, "Hal itu masuk akal."
Ketika kawan curhat dan membagikan pengalamannya, dua kata ini bisa memvalidasi banyal hal, mulai dari pengalaman, perasaan, hingga gagasan mereka. Kekuatan kalimat ini terletak pada rasa betah yang dihadirkan, memberikan afirmasi bahwa segalanya akan baik-baik saja.
Meskipun mungkin kita tidak setuju dengan apa yang mereka ucapkan, kalimat ini memberitahu bahwa kita memahami karena di balik metode pandang mereka. Menurut Dr. Zuckerman, perbedaan kecil ini dapat meruntuhkan sifat bertahan kawan dan membikin mereka merasa cukup betah untuk terus berbicara.
"Ungkapan tiga kata itu menciptakan ruang yang terlindungi dan bebas penghakiman bagi mereka untuk mengekspresikan diri secara leluasa," ungkapnya kepada Parade.
Apa yang Terjadi pada Otak saat Kita Merasa Didengarkan?

Teman Lagi Sedih? Kalimat Ini Bikin Mereka Merasa Nyaman dan Didengar Menurut Psikolog/Foto: Pexels.com
Didengarkan dan dipahami adalah hal yang menyenangkan dan melegakan; kita merasa bahwa kita tidak sendiri dan setidaknya ada yang mengerti apa yang sedang kita alami. Tapi sebenarnya, apa, sih, yang terjadi pada otak ketika kita merasa didengarkan oleh orang lain?
Saat kita merasa didengarkan dan divalidasi, otak kita memaknai pengalaman tersebut secara berbeda dibandingkan saat kita diabaikan, dikritik, maupun ditentang.
"Ketika seseorang merasa divalidasi, respons otak terhadap potensi intimidasi maupun ancaman akan berkurang; hal ini menurunkan konsekuensi reaksi emosional seperti kemarahan, kecemasan, maupun sikap defensif," jelas Dr. Zuckerman.
Selain itu, kita juga akan merasa terhubung dengan orang yang mendengarkan. Koneksi antarmanusia dapat menurunkan kadar hormon stres seperti kortisol, sekaligus memicu pelepasan dopamin dan oksitosin yang memberi sinyal kepada tubuh bahwa kita sebenarnya aman.
"Sebaliknya, saat kondisi emosional kita tidak stabil, kapasitas berpikir logis dan daya penilaian kita bisa menurun; kita cenderung menjadi lebih impulsif dan kapasitas memecahkan masalah pun berkurang," lanjut Dr. Zuckerman.
Jadi, ketika kita menanggapi curhatan kawan dengan kalimat "Apa yang Anda ceritakan masuk akal", kita tidak cuma mengakui perkataannya, tapi juga memberikan kesan bahwa kita memahami mereka. Alih-alih merasa perlu membela perspektif pandang mereka, lawan bicara mungkin akan merasa lebih betah untuk statis terbuka, terlibat aktif, dan menjalin koneksi.
Perbedaan Kalimat “Aku Mengerti” vs “Itu Masuk Akal”

Teman Lagi Sedih? Kalimat Ini Bikin Mereka Merasa Nyaman dan Didengar Menurut Psikolog/Foto: Pexels.com
Beauties, Anda mungkin pernah menanggapi cerita kawan dengan kalimat, "Aku mengerti". Kamu mungkin beriktikad mau memvalidasi perasaannya dan bermaksud mengatakan bahwa Anda memahami apa yang mereka alami, meskipun Anda tidak pernah ada di posisi mereka.
Kalimat "aku mengerti" dengan "itu masuk akal" sekilas mungkin tampak mirip. Tapi, menurut Dr. Zuckerman, kalimat "aku mengerti" bisa membikin emosi kawan menjadi tidak divalidasi. Kok bisa?
"Meskipun hal ini bersandar pada konteks percakapan, ketika seseorang yang tidak memiliki pengalaman serupa maupun senada mengatakan 'Saya mengerti', hal itu secara tidak sengaja dapat membikin emosi lawan bicara menjadi tidak diakui maupun divalidasi," ungkap Dr. Zuckerman. "Ucapan itu bisa membikin rasa sakit maupun pengalaman mereka terasa diremehkan maupun disalahpahami."
Dengan kata lain, mengatakan "Aku mengerti" terkadang bisa menyiratkan bahwa kita tahu persis apa yang sedang dialami orang tersebut, padahal kita sendiri belum pernah mengalaminya. Nah, di sinilah peran kalimat "Itu masuk akal", Beauties.
"Dalam situasi seperti ini, sekadar mengatakan bahwa apa yang mereka sampaikan—serta emosi yang mereka rasakan—itu 'masuk akal', dapat memberikan rasa terlindungi tanpa adanya penghakiman," ujarnya.
Mengucapkan "Hal itu masuk akal" menjaga fokus statis pada perspektif pandang dan emosi mereka tanpa kita mesti mengungkapkan tahu persis seperti apa pengalaman mereka. Ini adalah perbedaan yang halus, namun dapat membikin seseorang merasa diakui, alih-alih disalahpahami, saat kita sedang berbicara dengan mereka.
***
Mau jadi bagiankecil dari Buzznesia Community di mana Anda bisa ikutan beragam online dan offline event seru yang diadakan oleh Buzznesia/Beautynesia? Komunitas ini terbuka untuk umum, baik perempuan dan juga laki-laki, kami juga memiliki kelompok khusus untuk Anda yang statis berstatus mahasiswa/mahasiswi. Yuk, gabung ke Buzznesia Community. Caranya DAFTAR DI SINI!
(naq/naq)