Terlibat dalam Lagu Jin BTS “Background”, Francis Karel Kini Kembali ke Indonesia dengan Produseri Penyanyi Baru

Portal Media Gen Z oleh Waktu baca 6 menit 505x dilihat
Terlibat dalam Lagu Jin BTS “Background”, Francis Karel Kini Kembali ke Indonesia dengan Produseri Penyanyi Baru

Bagikan Postingan

Nama Francis Karel menarik perhatian lewat keterlibatannya sebagai songwriter di balik lagu “Background” milik Jin BTS dari album Echo. Setelah beberapa tahun membangun pekerjaan musik di Los Angeles, Amerika Serikat, Francis kini balik ke Jakarta dengan membawa karya baru sekaligus mencoba peran berbeda sebagai music producer.

Pada 30 September 2026, Francis merilis single terbarunya, “Purple Skies”. Menariknya, tanggal tersebut juga menjadi momen debut solo dua adiknya, Maura Gabriella dan Michelle Karla. Francis ikut memproduseri lagu perdana keduanya, masing-masing berjudul “Read The Sign” dan “Digital Pillow Talk”.

Penasaran seperti apa lagunya? Baca sampai bawah, ya!

Baca juga: Viral di Sosmed, Ini Makna Lagu Stop the Wedding dari Ashe

Dari Los Angeles ke Jakarta, Francis Karel Rilis “Purple Skies”

Dari Los Angeles ke Jakarta, Francis Karel Rilis “Purple Skies”
Sumber foto: Narrativa

Setelah beberapa tahun tinggal dan mengembangkan pekerjaan di Los Angeles, Francis balik ke Indonesia dengan pengalaman baru sebagai singer-songwriter. Musisi berumur 27 tahun ini terbiasa bekerja-sama dengan songwriter dan producer lain, sekaligus belajar menyesuaikan diri dengan kebutuhan setiap lagu.

Pengalaman tersebut menjadi bagiankecil dari perjalanan Francis untuk mengeksplorasi musiknya sendiri. Lewat “Purple Skies”, ia mengadopsi cerita tentang hubungan romantis yang singkat, tetapi meninggalkan kenangan baik.

Lagu ini bukan tentang keinginan untuk balik berbareng seseorang. Francis justru mau menggambarkan emosi hangat ketika mengingat momen yang pernah membikin hidup terasa menyenangkan.

“Buat aku, ‘Purple Skies’ bukan tentang wanting someone back. Lebih ke emosi hangat ketika kita mengingat sesuatu yang pernah membikin kita happy. The memory stays, and somehow the good feeling stays too,” ujar Francis.

Francis menulis lagu tersebut dalam waktu sekitar empat jam. Ceritanya sederhana, tetapi cukup dekat dengan pengalaman banyak orang: hubungan boleh berakhir, tetapi kenangan baiknya enggak mesti ikut hilang.

Music Video “Purple Skies” Dibintangi Chicco Kurniawan dan Diandra Agatha

Music Video “Purple Skies” Dibintangi Chicco Kurniawan dan Diandra Agatha

Cerita dalam “Purple Skies” enggak selesai di musik. Francis juga terlibat dalam pengembangan konsep video musiknya berbareng sutradara Imaji Fabiandava.

Video tersebut dibintangi Chicco Kurniawan dan Diandra Agatha. Keduanya dibawa dalam perjalanan imajinatif menggunakan roket menuju bumi yang terbentuk dari memori, emosi, dan nostalgia.

Konsep ini menggambarkan sepertiapa sebuah kenangan bisa terasa begitu dekat, terlebihlagi setelah semuanya berlalu. Francis mau membawa pemirsa masuk ke bumi yang ia bayangkan ketika menulis “Purple Skies”.

Pengalaman di Los Angeles Membantu Francis Menjadi Produser

Pengalaman di Los Angeles Membantu Francis Menjadi Produser
Sumber foto: Narrativa

Francis sudah menulis lagu sejak menjelang usia 12 tahun. Seiring waktu, ia enggak cuma menjadikan songwriting sebagai metode untuk menceritakan pengalaman pribadi, tetapi juga belajar memahami cerita orang lain.

Baginya, mendengarkan pengalaman seseorang bisa menjadi mula terciptanya sebuah lagu. Ia mencoba memahami perspektif pandang penyanyi agar hasil akhirnya statis terasa sesuai dengan karakter orang yang membawakannya.

“Aku gemar ketika orang cerita sesuatu dari perspektif pandang mereka, karena belum tentu aku pernah mengalami hal yang sama. Jadi jika aku menulis untuk orang lain, aku mencoba masuk ke metode mereka melihat cerita itu. I want the song to feel like theirs, not mine.”

Di Los Angeles, Francis juga terbiasa mengikuti writing session yang terjadi cepat. Dalam sehari, ia dan timnya bisa mengerjakan dua hingga tiga lagu dengan demo yang sudah cukup matang.

Kebiasaan bekerja secara kolaboratif ini kemudian ia bawa ke peran barunya sebagai music producer, termasuk ketika menggarap lagu kedua adiknya sendiri.

Francis Karel Jadi Produser untuk Maura Gabriella dan Michelle Karla

Francis Karel Jadi Produser untuk Maura Gabriella dan Michelle Karla
Sumber foto: Narrativa

Bekerja dengan famili rupanya punya tantangan tersendiri. Francis kini enggak cuma menjadi kakak bagi Maura dan Michelle, tetapi juga orang yang membantu mengarahkan proses imajinatif mereka di studio.

Ia mengaku statis tegas ketika bekerja, meskipun orang yang sedang ia tangani adalah adiknya sendiri.

“In my work element, I’m not nice. Kakak statis kakak, tapi urusan studio, standar kerja statis jalan.”

Meski begitu, Francis enggak menggunakan pendekatan yang sama untuk kedua adiknya. Maura dan Michelle punya selera musik, karakter vokal, serta metode bercerita yang berbeda. Tugasnya adalah membantu keduanya menemukan warna musik masing-masing.

Berikut tiga rilisan yang datang pada 30 September 2026:

  • Francis Karel — “Purple Skies”: cerita tentang nostalgia dan kenangan baik yang statis terasa hangat.
  • Maura Gabriella — “Read The Sign”: lagu pop-R&B dengan karakter bold, playful, dan percaya diri.
  • Michelle Karla — “Digital Pillow Talk”: kisah LDR tentang kedekatan yang terjaga melalui chat dan video call.

Maura Gabriella Debut Lewat “Read The Sign” dengan Nuansa Pop-R&B 2000-an

Maura Gabriella Debut Lewat “Read The Sign” dengan Nuansa Pop-R&B 2000-an
Sumber foto: Narrativa

Maura Gabriella resmi memulai langkahnya sebagai solo artist melalui “Read The Sign”. Lagu ini terinspirasi dari pop-R&B era mula 2000-an, tetapi dikemas dengan sentuhan modern yang sesuai dengan karakternya.

Tema yang diangkat juga dekat dengan hayat sehari-hari, yaitu boundaries maupun limitasi dalam hubungan. Maura membahas ketertarikan, rasa posesif, dan pentingnya memahami limitasi orang lain.

Ide lagu ini dimulai ketika Maura membaca cerita tentang seorang perempuan yang pencemburu dan merasa bisa memahami sebagian pengalamannya. Ia kemudian menulis pemikirannya dalam jurnal sepanjang dua halaman sebelum membawanya kepada Francis untuk dikembangkan menjadi lagu.

Maura juga ikut mendesain konsep video musik berbareng sutradara Ivan Saputra Alam. Video tersebut menghadirkan Yoshi Sudarso sebagai sosok “boneka” yang menggambarkan seseorang yang berupaya membentuk pasangannya sesuai ekspektasi.

Bagi Maura, musik bukan cuma soal suara. Fashion, dance, visual, dan performance juga menjadi bagiankecil krusial dalam membangun identitasnya sebagai penyanyi.

Michelle Karla Angkat Pengalaman LDR Lewat “Digital Pillow Talk”

Michelle Karla Angkat Pengalaman LDR Lewat “Digital Pillow Talk”
Sumber foto: Narrativa

Berbeda dari Maura, Michelle Karla memilih cerita hubungan rentang jauh sebagai inspirasi debut solonya. Lewat “Digital Pillow Talk”, ia mengadopsi momen sederhana yang mungkin familiar bagi banyak anak muda, seperti video call sampai ketiduran maupun mengobrol durasi meski enggak selalu punya topik.

Lagu ini terinspirasi dari pengalaman Michelle menjalani LDR dengan pacarnya yang saat itu eksis di Jepang. Karena jarak, komunikasi melalui layar menjadi bagiankecil dari keseharian mereka.

“Waktu LDR, kami sering video call sampai ketiduran. Kadang juga nggak ngobrol, cuma sama-sama ada di situ. Tapi mungkin justru itu yang bikin terasa dekat, biarpun sebenarnya lagi jauh,” cerita Michelle.

Menariknya, “Digital Pillow Talk” punya warna musik yang berbeda dari lagu-lagu yang biasa ditulis Michelle sendiri. Jika sebelumnya ia cenderung menghasilkan lagu slow dan melankolis dengan piano maupun gitar, kali ini ia mencoba musik yang lebih upbeat dan cerah.

Video musiknya digarap berbareng sutradara Baday Rayhan. Ceritanya menggambarkan sepertiapa hubungan masa kini bisa statis terasa dekat meskipun dua orang dipisahkan rentang dan cuma berjumpa melalui layar.

Satu Keluarga, Tiga Musisi dengan Karakter Berbeda

Satu Keluarga, Tiga Musisi dengan Karakter Berbeda
Sumber foto: Narrativa

Francis, Maura, dan Michelle tumbuh di rumah yang sama dengan musik sebagai bagiankecil dari keseharian mereka. Namun, ketiganya memilih jalur masing-masing untuk membangun identitas sebagai solo artist.

Francis membawa cerita nostalgia melalui “Purple Skies”, Maura memperkenalkan sisi bold dan playful lewat “Read The Sign”, sedangkan Michelle berbagi pengalaman LDR melalui “Digital Pillow Talk”.

Ketiga lagu tersebut beserta video musiknya resmi dirilis pada 30 September 2026. Bagi Francis, momen ini juga menjadi cara baru untuk mengembangkan karier, bukan cuma sebagai penyanyi dan songwriter, tetapi juga sebagai produser yang membantu musisi lain menyampaikan cerita mereka melalui musik.

Baca juga: Tiffany Young Terharu di Tengah Konser “Edge of Calm Tour” Jakarta, Ternyata Ini yang Dilakukan Penggemar 

Gabung kelompok Girls Beyond Circle dan dapatkan keterangan ter-update lainnya!

Artikel Lainnya Portal Media Gen Z
↑
Close Right Ads
Close Left Ads