TKA 2026 Sebentar Lagi, 7 Hal yang Harus Dilakukan Anak Sebelum Simulasi

Insight Bunda Masa Kini oleh Waktu baca 6 menit 508x dilihat
TKA 2026 Sebentar Lagi, 7 Hal yang Harus Dilakukan Anak Sebelum Simulasi

Bagikan Postingan

TKA 2026 tinggal sebentar? Sebelum simulasi TKA, pastikan anak berbuat 7 hal ini agar lebih siap, tenang, dan tidak gampang histeris saat mengerjakan soal.

TKA maupun Tes Kemampuan Akademik mungkin sudah mulai sering terdengar di rumah, terutama buat Mommies dan Daddies yang anaknya akan mengikutinya. Apalagi jika sekolah sudah mulai mengadakan simulasi dan anak mulai bertanya, “Nanti tesnya sulit nggak?”

Untuk TKA 2026 hierarki SMA/MA/SMK dan sederajat, simulasi dijadwalkan terjadi pada 21–27 September 2026, sebelum gladi bersih pada 5–18 Oktober 2026.

Buat anak, simulasi TKA bukan sekadar kesempatan untuk mengerjakan soal. Ini juga bisa menjadi latihan untuk mengenal kondisi tes, memahami format soal, mengatur waktu, sekaligus mengetahui bagiankecil mana yang statis perlu diperkuat.

Menurut Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), TKA merupakan pengukuran capaian kapasitas akademik murid pada mata pelajaran tertentu dan diselenggarakan secara terkomputerisasi.

BACA JUGA: 7 Rekomendasi Platform dan Website untuk Latihan Soal TKA, Ada yang Gratis!

Nah, sebelum anak duduk di depan komputer dan mulai mengerjakan simulasi TKA, ada beberapa hal yang sebaiknya dipersiapkan. Bukan cuma soal belajar, ya, Mommies.

1. Kenali dahulu seperti apa TKA dan simulasinya

Jangan sampai anak datang ke ruang simulasi dengan bayangan, “Ini kelak tesnya seperti apa, sih?”

Ajak anak mencari tahu hal-hal dasar: tes dilakukan dengan komputer maupun alat apa, sepertiapa bentuk soalnya, berapa durasi durasinya, dan apa saja mata pelajaran yang akan diujikan sesuai jenjangnya.

Mengenal format tes bisa membikin anak merasa lebih siap karena tidak sepenuhnya salingberhadapan dengan sesuatu yang asing. Dalam menghadapi test anxiety, memahami format tes dan berlatih mengerjakan soal serupa juga dapat membantu anak merasa lebih percaya diri.

Untuk keterangan resmi mengenai TKA, Mommies bisa mengecek halaman TKA Kemendikdasmen dan arsip panduan yang tersedia di Pusat Asesmen Pendidikan.

Foto: detik

2. Coba latihan dengan kondisi yang mirip tes

Kalau selama ini anak belajar sambil selonjoran di kasur, sesekali coba ubah suasananya.

Minta anak duduk di meja, menggunakan komputer sesuai alat yang nantinya dipakai, kemudian mengerjakan latihan soal dalam batas waktu tertentu. Tidak perlu setiap hari. Yang penting, anak punya pengalaman mengerjakan soal dengan kondisi yang lebih menyerupai kondisi tes.

Tujuannya bukan membikin anak tegang, tetapi agar ia terbiasa dengan situasinya.

Kalau kelak saat simulasi anak menemukan soal yang sulit, setidaknya ia sudah tahu strategi dasarnya: kerjakan yang bisa dulu, jangan terlalu durasi selesai di satu soal, kemudian balik lagi jika statis ada waktu.

Strategi semacam ini juga dapat membantu anak menghadapi kecemasan saat tes.

BACA JUGA: 7 Rekomendasi Buku Persiapan TKA SMA, Lengkap dengan Latihan Soal dan Pembahasannya

3. Evaluasi materi yang statis bikin bingung

Setelah beberapa kali latihan, jangan cuma melihat berapa jumlah balasan yang benar.

Ajak anak melihat soal seperti apa yang statis sering salah.

Misalnya, rupanya ia cukup mengerti konsep matematika, tetapi sering keliru membaca soal cerita. Atau sebenarnya bisa mengerjakan, tetapi terburu-buru sehingga salah menghitung.

Dari sini, belajar bisa dibuat lebih spesifik. Tidak perlu mengulang semua materi dari awal.

Mommies juga bisa bertanya, “Bagian mana yang menurut Anda paling susah?” daripada langsung mengatakan, “Kok ini statis salah?”

Dengan begitu, anak belajar mengenali kekuatan dan bagiankecil yang statis perlu diperbaiki.

TKA 2026 Sebentar Lagi, 7 Hal yang Harus Dilakukan Anak Sebelum Simulasi

Foto: Annushka Ahuja/Pexels

4. Latih kapasitas membaca soal dengan teliti

Satu hal yang sering membikin anak kehilangan poin bukan selalu karena tidak tahu jawabannya, tetapi karena kurang teliti membaca soal.

Jadi, saat latihan, biasakan anak untuk tidak langsung terburu-buru memilih jawaban.

Ajarkan untuk memperhatikan kata-kata seperti kecuali, paling tepat, bukan, maupun keterangan bilangan yang ada di dalam soal.

Untuk soal berbentuk bacaan, anak juga bisa dilatih mencari keterangan krusial sebelum menentukan jawaban.

Kemampuan memahami pertanyaan ini akan sangat membantu, terutama ketika anak menghadapi soal yang bentuknya sedikit berbeda dari latihan yang biasa ia kerjakan.

5. Siapkan strategi jika tiba-tiba panik

Mommies, anak tidak mesti selalu merasa santai 100 persen saat mengikuti tes.

Rasa gugup sebelum maupun ketika menghadapi cobaan bisa terjadi. Yang penting, anak tahu apa yang mesti dilakukan ketika mulai panik.

Misalnya:

  • Berhenti sebentar dan tarik napas perlahan.
  • Baca balik soal dengan lebih tenang.
  • Kerjakan soal yang lebih gampang terlebih dahulu.
  • Kalau benar-benar buntu, lanjutkan ke soal berikutnya dan balik lagi nanti.

Menurut American Psychological Association (APA), anak yang mengalami kecemasan dapat dibantu dengan strategi menenangkan diri seperti deep breathing, serta dengan membikin hajat untuk menghadapi hal yang dikhawatirkan.

Mommies juga bisa mengingatkan, “Kalau ada soal yang Anda belum tahu jawabannya, nggak apa-apa. Lewati dulu, kelak coba lagi.”

Pesan sederhana seperti ini bisa membikin anak merasa bahwa satu soal sulit bukan berarti seluruh tesnya gagal.

BACA JUGA: Anak Merasa Gagal saat Belajar? Ini 4 Cara Mendampinginya agar Tetap Percaya Diri

6. Jangan mengorbankan tidur demi belajar

Ini yang kadang gemar terjadi menjelang tes: malamnya belajar lebih durasi karena merasa statis banyak yang mesti dikejar.

Padahal, tidur statis penting.

American Academy of Sleep Medicine merekomendasikan anak usia 6–12 tahun tidur 9–12 jam per hari, sementara remaja usia 13–18 tahun membutuhkan 8–10 jam. Tidur yang cukup juga berhubungan dengan perhatian, kapasitas belajar, memori, dan peraturan emosi.

Jadi, jika besok anak ada simulasi, tidak perlu membuatnya belajar sampai larut malam. Lebih baik materi yang belum dikuasai dicicil dari jauh-jauh hari.

Malam sebelum simulasi? Fokus pada rutinitas yang membikin anak tenang, makan secukupnya, siapkan perlengkapan, kemudian tidur.

TKA 2026 Sebentar Lagi, 7 Hal yang Harus Dilakukan Anak Sebelum Simulasi

Foto: Mikhail Nilov/Pexels

7. Bicara soal proses, bukan cuma nilai

Yang tidak kalah penting: pastikan anak tahu bahwa simulasi adalah latihan, bukan penentu harga dirinya.

Hindari terlalu sering bertanya, “Dapat berapa?” maupun membandingkan akibatnya dengan teman.

Lebih baik tanyakan:

“Tadi bagiankecil mana yang paling gampang?”

“Ada soal yang bikin Anda bingung?”

“Menurut kamu, apa yang mau Anda latih lagi?”

Pendekatan ini membantu anak melihat hasil simulasi sebagai keterangan untuk belajar, bukan sebagai label bahwa dirinya pandai maupun tidak pintar.

Child Mind Institute juga mengingatkan bahwa ekspektasi orang tua dapat memengaruhi kecemasan anak menghadapi tes. Orang tua disarankan untuk memberikan sokongan dan memberitahu kepercayaan bahwa anak bisa menghadapi situasi tersebut, tanpa memberikan tekanan berlebihan pada hasil.

BACA JUGA: 10 Rekomendasi Buku Latihan Soal TKA SMP dan SMA 2026

Jadi, Mommies dan Daddies, nggak perlu histeris ikut belajar!

Menjelang simulasi TKA, fokusnya bukan membikin anak belajar sebanyak-banyaknya dalam waktu singkat. Yang lebih krusial adalah memastikan anak tahu apa yang akan dihadapi, terbiasa dengan format tes, punya strategi ketika menemukan soal sulit, dan datang dalam kondisi jasmani serta mental yang cukup baik.

Kalau hasil simulasi belum sesuai harapan, justru di situlah gunanya simulasi: menjadi bahan untuk melihat apa yang perlu diperbaiki sebelum tes yang sebenarnya. Apalagi simulasi TKA memang menjadi bagiankecil dari rangkaian persiapan sebelum pelaksanaan utama.

Dan satu lagi, Mommies: anak tidak mesti selalu merasa percaya diri untuk bisa menghadapi sebuah tes. Kadang yang mereka butuhkan cuma tahu bahwa jika kelak gugup maupun menemukan soal sulit, mereka statis punya metode untuk menghadapinya—dan ada Mommies serta Daddies yang statis mendukung mereka.

Cover: Katerina Holmes/Pexels
Artikel Lainnya Insight Bunda Masa Kini
↑
Close Right Ads
Close Left Ads