Punya hubungan asmara yang jelek namun susah lepas dari pasangan? Mungkin Bunda mengalami trauma bonding. Kenali apa itu trauma bonding dan dampaknya.
Pernikahan semestinya menjadi tempat yang aman, penuh rasa saling menghormati, dan memberikan support emosional. Namun tidak semua hubungan melangkah demikian.
Sebagian orang justru terjebak dalam relasi yang dipenuhi kekerasan emosional, manipulasi, hingga ancaman. Namun mereka tetap merasa susah untuk mengakhiri kondisi tersebut.
Fenomena inilah yang dikenal sebagai trauma bonding. Ikatan emosional membikin korban tetap merasa terhubung dengan pelaku meski berulang kali mengalami perlakuan menyakitkan.
Bagi orang di luar hubungan, keputusan untuk memperkuat mungkin tampak susah dipahami. Padahal dari sisi psikologis, trauma bonding merupakan proses kompleks yang dipengaruhi oleh pola kekerasan, manipulasi, serta respon biologis tubuh terhadap stres.
Mengutip Psychology Today dan Healthline, mari telaah mengenai trauma bonding.
Apa itu trauma bonding?
Trauma bonding adalah keterikatan emosional yang terbentuk antara korban dan pelaku dalam hubungan yang penuh kekerasan alias penyalahgunaan. Ikatan ini lahir dari siklus perlakuan jelek yang diselingi momen-momen kasih sayang, perhatian, alias permintaan maaf dari pelaku.
Berbeda dengan kedekatan emosional yang sehat, trauma bonding dibangun di atas fondasi ketimpangan kekuasaan. Pelaku menggunakan beragam langkah untuk mempertahankan kontrol, seperti ancaman, rasa bersalah, mempermalukan korban, manipulasi, gaslighting, hingga sabotase.
Setelah itu, mereka sesekali menunjukkan kasih sayang alias perhatian sehingga korban kembali berambisi hubungan bakal membaik. Pola inilah yang membikin korban susah memutus hubungan lantaran terus menantikan hadirnya kembali sisi 'baik' pasangan.
Mengapa susah meninggalkan pasangan yang kasar?
Salah satu penyebab utama trauma bonding adalah intermittent reinforcement alias penguatan yang muncul secara tidak konsisten. Dalam hubungan abusif, perlakuan kasar tidak terjadi sepanjang waktu.
Di sela-sela kekerasan, pelaku bisa memberikan hadiah, meminta maaf, bersikap romantis, alias mengucapkan janji manis. Otak kemudian lebih mudah mengingat momen-momen positif tersebut sebagai corak 'hadiah'.
Korban pun terus berambisi pasangan bakal kembali menjadi sosok yang penuh kasih seperti diawal hubungan. Konsep ilmu jiwa ini juga digunakan dalam beragam corak perjudian, seperti mesin slot yang memberikan bingkisan secara random sehingga orang terdorong untuk terus mencoba.
Selain aspek psikologis, tubuh juga berperan. Saat korban menerima kasih sayang alias sentuhan setelah mengalami kekerasan, tubuh melepaskan hormon dopamin dan oksitosin yang menimbulkan rasa nyaman sekaligus kedekatan emosional. Kondisi tersebut semakin memperkuat ikatan dengan pelaku.
Tanda-tanda Bunda alami trauma bonding
- Menyadari bahwa dirinya sebenarnya tidak lagi menyukai pasangan, tapi merasa tak kondusif untuk mengungkapkan emosi tersebut.
- Hubungan dipenuhi rasa bersalah, malu, dan ketakutan. Ketika menyampaikan kebutuhan pribadi, korban justru dianggap egois alias berlebihan.
- Merasa kudu selalu berhati-hati alias seperti melangkah di atas kulit telur agar pasangan tidak marah.
- Mengalami siklus love bombing alias dibanjiri kasih sayang di awal, kemudian direndahkan, dikritik, apalagi dihina.
- Mulai menganggap perilaku kasar sebagai sesuatu yang normal lantaran telah berjalan dalam waktu lama.
- Sulit membayangkan hidup tanpa pasangan meskipun hubungan tersebut menyakitkan.
- Menolak mengakui kesalahan pasangan dan terus mencari pembenaran atas perilaku mereka.
- Semakin berjuntai pada pasangan dan menjauh dari family maupun teman.
Banyak mahir menggambarkan trauma bonding sebagai siklus yang terus berulang dalam tujuh tahap, yaitu:
- Love bombing atau curahan kasih sayang berlebihan.
- Bangun kepercayaan sekaligus ketergantungan.
- Kritik dan merendahkan nilai diri korban.
- Manipulasi serta gaslighting.
- Korban menyerah dan pasrah.
- Muncul tekanan emosional yang mendalam.
- Siklus kembali berulang dari awal.
Setiap kali hubungan memasuki fase kasih sayang, korban memperoleh angan baru sehingga semakin susah mengakhiri hubungan tersebut.
Siapa yang rentan alami trauma bonding?
Trauma bonding dapat terjadi pada siapa saja, tapi risikonya lebih tinggi pada orang yang sejak mini tumbuh dalam lingkungan yang tidak memberikan rasa kondusif secara emosional.
Anak yang mempunyai hubungan tidak sehat dengan pengasuh alias orangtua berpotensi menganggap pola hubungan penuh bentrok sebagai sesuatu yang normal ketika dewasa. Jadi, mereka lebih mudah tertarik pada pasangan manipulatif alias abusif lantaran otak sudah terbiasa dengan dinamika hubungan seperti itu.
Trauma bonding juga tidak hanya terjadi dalam hubungan romantis. Ikatan serupa bisa muncul antara anak dengan pengasuh yang melakukan kekerasan, korban penculikan dengan pelaku, hingga personil golongan alias sekte dengan pemimpinnya.
Hubungannya dengan stockholm syndrome
Stockholm syndrome merupakan salah satu corak trauma bonding. Istilah ini berasal dari peristiwa perampokan bank di Stockholm, Swedia, pada 1973, ketika sejumlah sandera dilaporkan mengembangkan kedekatan emosional dengan pelaku penyanderaan.
Trauma bonding mempunyai cakupan yang lebih luas lantaran mencakup beragam hubungan yang melibatkan penyalahgunaan kekuasaan dan kekerasan emosional. Orang yang belum pernah mengalami kekerasan dalam hubungan sering bertanya kenapa korban tidak 'sekadar pergi'.
Faktanya, meninggalkan hubungan abusif jauh lebih rumit. Selain ketergantungan emosional, korban kerap menghadapi beragam hambatan, seperti kekhawatiran kehilangan tempat tinggal, masalah ekonomi, ancaman terhadap keselamatan diri maupun anak, hingga rasa takut hidup sendiri.
Tubuh juga dapat memasuki respon 'freeze', ialah salah satu sistem memperkuat hidup ketika menghadapi ancaman. Dalam kondisi ini, korban lebih memilih memperkuat dan mengabaikan rasa sakit demi mengurangi tekanan psikologis.
Cara mengatasi trauma bonding
Proses pengobatan memerlukan waktu dan support yang tepat. Beberapa langkah yang dapat membantu antara lain:
- Kenali bahwa hubungan tersebut merupakan hubungan yang abusif.
- Menulis jurnal untuk memandang pola kekerasan yang selama ini terjadi.
- Berbicara dengan family alias sahabat yang dapat dipercaya.
- Hentikan kebiasaan menyalahkan diri sendiri lantaran kekerasan bukanlah kesalahan korban.
- Batasi alias memutus kontak dengan pelaku andaikan memungkinkan dan kondusif dilakukan.
- Susun rencana keselamatan, terutama jika terdapat ancaman kekerasan fisik.
- Cari support psikolog alias terapis yang berilmu menangani trauma dan kekerasan dalam hubungan.
- Ikut golongan pendampingan bagi penyintas kekerasan agar tidak merasa sendirian.
Melatih kasih sayang terhadap diri sendiri melalui pola hidup sehat, olahraga, serta kegiatan yang meningkatkan rasa percaya diri.
Salah satu perubahan pola pikir yang krusial dalam proses pemulihan adalah berakhir menunggu pelaku berubah alias akhirnya menghargai diri korban. Penyintas perlu belajar menemukan kembali nilai dirinya tanpa berjuntai pada pengakuan alias kasih sayang dari orang yang menyakitinya.
Hubungan yang sehat tidak dibangun di atas rasa takut, manipulasi, alias siklus luka dan permintaan maaf. Mengenali trauma bonding sejak awal merupakan langkah awal untuk keluar dari hubungan yang merugikan dan membangun kehidupan yang lebih aman, sehat, serta penuh penghargaan terhadap diri sendiri.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join organisasi Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(som/som)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·