Tren Quiet Vacationing Muncul, Karyawan Liburan Diam-diam Tanpa Bilang Atasan

May 20, 2026 08:40 PM - 10 jam yang lalu 498

Tahukah Bunda jika muncul tren quiet vacationing di bumi kerja? Di mana tenaga kerja diam-diam liburan tanpa beritahu atasan. 

Fenomena baru di bumi kerja yang dikenal sebagai quiet vacationing semakin banyak dilakukan oleh para pekerja. Istilah ini merujuk pada kebiasaan tenaga kerja yang diam-diam pergi berpiknik tanpa mengusulkan libur resmi sembari tetap menciptakan kesan seolah-olah mereka sedang aktif bekerja secara online.

Praktik ini umumnya dilakukan oleh pekerja jarak jauh alias hybrid yang mempunyai elastisitas tinggi. Mereka tetap membalas email apalagi datang dalam rapat virtual padahal sebenarnya tengah menikmati waktu liburan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT


Mengapa perihal itu perlu dirahasiakan? Mengutip The Week, berikut info selengkapnya seputar tren quiet vacationing.

Serba-serbi tren quiet vacationing

Survei yang dilakukan Resume Builder menunjukkan bahwa sekitar 41 persen tenaga kerja telah melakukan quiet vacationing sepanjang 2025. Angka ini menunjukkan bahwa tren tersebut bukan lagi kejadian kecil, melainkan kebiasaan yang cukup umum diberbagai sektor pekerjaan.

Dari jumlah tersebut, sebanyak 3 persen hanya melakukannya satu kali. Sementara itu, 48 persen mengaku pernah mengambil dua hingga tiga kali liburan diam-diam, dan 28 persen melakukannya empat hingga lima kali.

Sekitar 11 persen dari responden apalagi mengambil enam hingga tujuh hari libur rahasia. Ada pun 4 persen mengaku telah melakukannya selama 10 hari alias lebih.

Cara tenaga kerja menyembunyikan liburan

Untuk menjaga agar pemimpin tidak curiga, banyak pekerja menggunakan beragam trik teknologi. Mereka menjadwalkan e-mail untuk terkirim otomatis, mengaktifkan jawaban pesan tertentu, hingga menggunakan perangkat agar status di aplikasi komunikasi tetap terlihat aktif.

Dampak tren quiet vacationing 

Meningkatnya tren ini tidak lepas dari perubahan pola kerja sejak maraknya sistem kerja jarak jauh. Batas antara waktu kerja dan pribadi menjadi semakin kabur sehingga banyak orang merasa tetap dapat menyelesaikan pekerjaan dari mana saja, termasuk saat bepergian.

Namun pendekatan tersebut dinilai kurang efektif. Karyawan tidak mendapatkan waktu rehat yang betul-betul memulihkan tenaga, sementara produktivitas juga tidak optimal lantaran perhatian terbagi antara pekerjaan dan kegiatan liburan.

Pakar menilai quiet vacationing merupakan sinyal adanya persoalan yang lebih dalam di lingkungan kerja. Banyak pekerja merasa tidak kondusif alias tak didukung ketika mau mengambil libur secara terbuka.

Mengutip Forbes, kejadian ini bukan sekadar soal orang yang berupaya diam-diam. Ini menunjukkan bahwa banyak pekerja tidak merasa cukup kondusif alias cukup didukung untuk mengambil rehat yang layak.

Sebagian pekerja akhirnya mencari jalan pintas, seperti menggerakkan mouse agar status tetap aktif, mematikan kamera saat rapat, dan hanya membalas e-mail secukupnya untuk terlihat sibuk.

Alasan tenaga kerja melakukan quiet vacationing

Berikut argumen tenaga kerja melakukan quiet vacationing.

1. Takut dianggap malas

Salah satu argumen utama munculnya tren ini kekhawatiran tenaga kerja bakal dinilai tidak produktif. Banyak pekerja takut dianggap malas jika mengambil cuti, terutama di lingkungan kerja yang menilai dedikasi berasas seberapa sering seseorang terlihat online.

Semua ini bermulai dari rasa takut untuk tampak seperti sedang bermalas-malasan. Tekanan tersebut membikin sebagian pekerja merasa lebih nyaman menyembunyikan liburan mereka daripada mengusulkan libur secara resmi.

2. Jatah libur terbatas

Selain tekanan budaya kerja, jumlah libur berbayar yang terbatas juga menjadi aspek pendorong. Sebagian tenaga kerja memilih menyimpan jatah libur mereka untuk kebutuhan mendesak sehingga memanfaatkan elastisitas kerja jarak jauh untuk tetap 'bekerja' sembari berlibur.

Sayangnya, keputusan ini bisa berbalik merugikan. Risiko yang muncul antara lain keterlambatan penyelesaian tugas, penumpukan pekerjaan setelah kembali, hingga akibat dari perusahaan jika tindakan tersebut diketahui.

Para mahir menilai perusahaan perlu lebih serius menetapkan pemisah yang sehat antara pekerjaan dan waktu istirahat. Karyawan yang mempunyai kesempatan untuk betul-betul beristirahat condong kembali bekerja dengan energi, kreativitas, dan ketahanan yang lebih baik.

Jika perusahaan mau tenaga kerja datang dengan penuh semangat, kreatif, dan tangguh, mereka kudu berakhir memberi penghargaan pada burnout dan mulai menghargai pemulihan. Orang yang cukup beristirahat bakal bekerja lebih baik. Sesederhana itu.

Kalau Bunda, apa pernah melakukan quiet vacationing?

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join organisasi Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(som/som)

Selengkapnya