Wahyu Wiwoho berbagi pandangan soal overparenting, tantangan menjadi ayah, dan langkah mendorong anak berdikari tanpa terlalu banyak kombinasi tangan.
Banyak orang mengenal Wahyu Wiwoho melalui kiprah profesionalnya selama puluhan tahun di bumi broadcasting dan komunikasi, dan hingga sekarang tetap aktif sebagai Master of Ceremony (MC), Moderator, Fasilitator, Pembicara di beragam training dan seminar, juga seorang Entrepreneur.
Namun lebih dari itu, Wahyu yang berumur 44 tahun adalah seorang suami dari Astrid Listuhayu, dan ayah dari tiga orang anak, Chaitra M. Wiwoho (17), Shenoa K. Wiwoho (12), dan Anaqi M. Wiwoho (7). Saat interview dengan Mommies Daily, Wahyu berbagi banyak perihal soal pengasuhan, termasuk tantangan, biggest concern, dan kekhawatiran terbesarnya sebagai seorang ayah dari tiga anak, serta langkah mengatasinya. Wahyu juga membagikan tips dalam berkomunikasi ke anak pra-remaja dan remaja yang menarik diketahui, termasuk pandangannya tentang akibat overparenting terhadap kemandirian anak.

BACA JUGA: Kuis Gaya Parenting: Gentle, Strict, alias Chaotic Good?
Apa Issue seputar pengasuhan alias family yang jadi biggest concern?
Gue concern banget soal overparenting. Contohnya, di sekolah anak kedua, ada permintaan dari sejumlah orang tua siswa saat anak naik kelas, gurunya juga ikut “naik kelas”. I’m against that idea, rasanya gak perlu kombinasi tangan orang tua sampai ke ruang kelas. Justru anak perlu belajar penyesuaian dan agility, jadi terlatih dan punya keahlian untuk menghadapi kondisi yang berbeda-beda.
Case lain, terjadi sama anak gue yang baru kuliah. Ternyata ada WhatsApp Group orang tua murid, yang obrolannya gak hanya tentang persiapan MABA, tapi juga membahas hal-hal yang harusnya bisa diselesaikan anak secara mandiri, misalnya soal minuman anak alias apakah anak perlu pakai tabir surya untuk kegiatan di kampus. Bahkan ada orang tua yang sampai masuk ruangan kampus, untuk nungguin alias foto-foto kegiatan anak.
Saat mahasiswa mau demo, banyak juga orang tua yang protes dan melarang anaknya ikut, sementara gue justru encourage anak, agar dia belajar caranya handling situasi dan peka dengan kondisi sekitar, dimulai dari demo yang skalanya kecil.
Ada satu kitab How to Raise an Adult: Break Free of the Overparenting Trap and Prepare Your Kid for Success by Julie Lythcott-Haims, yang membahas kejadian overparenting. Menariknya, kitab ini ditulis oleh mantan Dean of Freshmen Stanford berasas pengalaman pribadinya, lantaran banyak mahasiswanya yang susah berdikari dan kudu selalu dibantu orang tua.
Tentunya ini jadi reminder krusial buat gue dan Astrid dalam membesarkan anak, bahwa pengawasan itu perlu, tapi gak perlu juga berlebihan, yang malah bisa membahayakan dan menghalang keahlian anak.

Apa kekhawatiran terbesar sebagai Ayah, dan gimana langkah mengatasinya?
Ketinggalan banyak pembaruan tentang membesarkan anak, dan dalam menjalankan peran sebagai ayah dan suami, dengan pola yang relevan, dan sesuai dengan kondisi sekarang. Inginnya juga bisa datang utuh di setiap kesempatan dan kegiatan anak-anak.
Untuk menjaga agar tetap update, gue sering bertanya sama Astrid dan guru-guru di sekolah anak-anak, misalnya tentang dinamika anak di sekolah, agar gak salah ambil tindakan alias kesimpulan.
Siapa support system terbaik yang bikin Anda bisa menjalankan peran sebagai seorang profesional, suami dan ayah dari tiga anak?
Pastinya istri gue, Astrid dan anak-anak, juga orang tua gue, dalam perjalanan “long life learning” sebagai orang tua, yang bakal seumur hidup dijalani.
I always looked up to my parents, mempelajari pola pikir, dan langkah mereka, sekaligus observasi apakah applicable alias gak untuk gue terapkan ke anak-anak.
Pola asuh apa dari orang tua yang mau diteruskan, dan yang gak mau diteruskan ke anak?
Gue bukan jenis orang yang highlighting kesalahan orang tua, lantaran gue percaya semua perihal ada sisi positif dan negatifnya. Contoh, Bapak gue sibuk seperti kebanyakan ayah di jamannya, jarang ngobrol sama anak. Tapi, di kembali perilaku itu, pasti ada argumen dan aspek baiknya, misalnya jadi ada batas orang tua dan anak, yang membikin anak lebih respect juga.
Jadi, langkah pengasuhan orang tua gue, yang sering disebut “gaya VOC” alias colonial gue turunkan ke anak, tapi tentunya dengan modifikasi, agar lebih relevan dengan perkembangan era dan kebutuhan anak.
Anak era sekarang ‘kan sering disebut bermental lemah, alias gak tahan banting, gue berambisi anak-anak gue gak seperti itu dan bisa lebih resiliens dengan modifikasi parenting yang gue dan Astrid terapkan.
BACA JUGA: Gentle Parenting alias Strict Parenting? Psikolog Ungkap Kelebihan dan Kekurangannya
Wahyu mau dilihat anak-anak sebagai sosok ayah dan manusia yang bagaimana?
Bisa datang sebagai ayah dan ibu, serta di saat yang sama, bisa ngobrol sama anak sebagai teman, yang cukup susah menjalankan beragam peran tersebut. Karena anak pertama dan kedua gue perempuan, gue berambisi mereka tetap nyaman dan nyambung jika cerita sama ayahnya, walaupun berbeda gender.
Gue dan istri juga punya kebiasaan menjemput dan mengantar anak sekolah, lantaran di saat itulah terciptalah momen ngobrol yang berbobot dan gak bisa digantikan di rumah. Begitu anak keluar sekolah, masuk mobil anak tetap “fresh” untuk diajak ngobrol, gali info, tanya-tanya seputar dirinya, teman-temannya dan pembaruan kehidupan mereka.
Apa tantangan terbesar jadi ayah dari tiga orang anak yang usia dan fasenya berbeda, anak-anak, pra-remaja dan remaja?

Emang seru dan menantang banget, sih! Ternyata, fase transisi dari anak-anak ke pra-remaja, remaja, dan dewasa muda itu gak sama buat tiap anak.
Perlu banget liat personality traits dari masing-masing anak, lantaran mereka itu perseorangan yang berbeda dan itu perlu gue pelajari sebagai seorang ayah. Otomatis, jika lebih mengerti karakter tiap anak, bakal lebih mudah juga untuk pendekatannya.
Pelajaran alias reminder apa yang paling berbobot sejak jadi ayah?
Belajar dan ingat untuk bertanggungjawab, apapun kebutuhan, issue dan tantangan family yang perlu dihadapi dan diselesaikan. Gak bisa egois, hanya ingat diri sendiri, lantaran apapun yang gue putuskan dan lakukan, perlu mempertimbangkan keluarga, istri dan anak-anak.
Skill dan pengetahuan krusial apa yang perlu dimiliki seorang ayah?
Sebenarnya banyak banget, ya, tapi jika yang paling krusial buat gue adalah being flexible. Bisa menjalankan peran yang berbeda-beda, bisa masuk ke bumi anak, bisa jadi orang tua, jadi kepala keluarga, bisa juga di posisi anak-anak, dan juga mengerti bumi anak-anak perempuan.
Karena perspektif pandang, spektrum, imajinasi, emosi anak bisa beda banget sama orang dewasa, dan sebagai orang tua, perlu banget keahlian menempatkan diri di perspektif pandang anak.
Punya pesan apa buat para ayah yang juga sibuk alias punya multiperan?
Luangkan waktu. Ini yang gue rasakan sejak punya anak, 18 tahun lalu. Gue ingat waktu anak pertama tetap mini dan lagi sibuk-sibuknya di bumi media dengan jam kerja yang panjang, sampai kunci pintu lantaran kelelahan dan butuh istirahat, padahal di saat yang sama anak gue lagi butuh banget main dan hubungan sama ayahnya.
Ternyata, makin ke sini makin sadar jika perihal itu gak bisa dilakukan dan secapek-capeknya kita, anak-anak lebih butuh kita sebagai orang tua mereka.
Apa tips mengatur waktu agar hidup tetap (agak) balance?
Tantangan terbesar seputar mengatur waktu yang gue rasakan adalah gimana caranya bisa setara sama ketiga anak, yang beda banget kebutuhannya. Jadi mengusahakan untuk memenuhi kebutuhannya tanpa memprioritaskan salah satu anak.
Cara gue, hubungan dengan anak yang besar dan mini durasinya sama, contohnya satu jam, tapi jenis interaksinya yang beda. Misalnya sama anak yang besar bisa nonton bareng alias duduk samping-sampingan main HP untuk jalin bonding, sementara dengan yang mini bisa main bareng.
Sebagai seorang Communication Specialist, apa tips berkomunikasi ke anak pra-remaja dan remaja jenis Wahyu?

1. Banyak mendengar
Orang tua perlu bersabar untuk mendengar cerita dan keluhan anak. Ini juga bisa jadi contoh baik buat anak untuk belajar “active listening”, lantaran komunikasi itu bukan hanya pengetahuan berbicara, tapi juga pengetahuan mendengar.
2. Pelajari langkah komunikasi dan “love language” anak
Tiap anak punya kebutuhan dan langkah berbeda, jadi perlu menggunakan pendekatan berbeda agar komunikasi ke tiap anak lebih lancar. Contohnya, anak gue ada yang lebih suka cerita naratif, sementara anak lainnya lebih prefer melalui sentuhan alias aksi, tanpa kata-kata.
3. Minimalisasi Generation Gap
Kenalkan dan ngobrol sama anak tentang beragam kebiasaan yang melekat pada generasi orang tuanya, dan kita juga perlu kenal tren di generasi anak-anak, jadi ada pemahaman berbareng yang bisa mencegah anak terjebak pada rumor lintas generasi di luar rumah, sekolah dan bumi kerja nantinya.
Anak juga jadi belajar menerima perbedaan, menghargai proses, fleksibel, adaptif dan mengerti kebiasaan, karakter, kepribadian, kelemahan dan kelebihan yang melekat di setiap generasi, yang bisa mempermudah proses berinteraksi dan berkomunikasi mereka dengan orang lain.
BACA JUGA: 10 Rekomendasi Buku Parenting dan Keluarga yang Bikin Lebih Paham Jadi Orang Tua
Dari cerita Wahyu, menjadi orang tua bukan berfaedah kudu selalu turun tangan menyelesaikan semua perihal untuk anak. Justru, salah satu bagian krusial dalam pengasuhan adalah memberi ruang agar anak belajar mandiri, beradaptasi, dan menghadapi beragam situasi dengan kemampuannya sendiri.
Kekhawatiran soal overparenting memang wajar, apalagi sebagai orang tua kita tentu mau melindungi anak dari kesulitan dan kesalahan. Namun seperti yang diingatkan Wahyu, pengawasan tetap perlu, hanya jangan sampai berlebihan dan overparenting sehingga menghalang anak untuk tumbuh menjadi pribadi yang mandiri, fleksibel, dan bisa menghadapi dunia.