Waspada! Zat Kimia yang Masuk Lewat ASI Diduga Ganggu Hormon Bayi sejak Dini

Jul 02, 2026 09:10 AM - 1 bulan yang lalu 32276

ASI menjadi nutrisi terbaik untuk bayi sejak lahir ya, Bunda. Namun, ketika Bunda yang menyusui mengonsumsi asupan yang mengandung kimiawi tentunya bisa berpengaruh pada ASI. Penelitian terbaru mengungkap bahwa kandungan kimia yang termakan bayi dalam ASI bisa sebabkan gangguan hormon di awal kehidupan.

Sebagai standar emas untuk nutrisi bayi, sesuai dengan rekomendasi WHO, pemberian ASI eksklusif memang disarankan selama enam bulan pertama dan dilanjutkan hingga anak berumur dua tahun. Tak berbeda jauh, di Amerika sendiri berasas The Dietary Guidelines direkomendasikan bagi wanita Amerika bahwa pemberian ASI secara eksklusif perlu dilakukan selama enam bulan pertama kehidupan jika memungkinkan.

Meski faedah ASI memang sangat baik, sebuah temuan mengejutkan dari para peneliti membikin para ibu menyusui perlu lebih waspada, Bun. Para peneliti dari dua studi baru yang dilakukan menemukan bahwa campuran kimia yang berpotensi rawan dalam sampel dari ratusan ribu menimbulkan kekhawatiran bahwa bahan kimia tersebut dapat mengganggu hormon bayi selama tahap perkembangan yang kritis.


Dalam studi pertama, tim peneliti Italia menganalisis ASI dan urine dari 336 ibu dan bayi mereka, yang dikumpulkan pada satu bulan, tiga bulan, dan enam bulan setelah kelahiran.

Hasilnya, ada lebih dari 50 unsur yang diuji peneliti dan disinyalir berpotensi rawan serta menemukan banyak yang mengandung jejak bahan kimia pengganggu endokrin, alias EDC, yang dapat mengganggu langkah kerja hormon dalam tubuh, seperti dikutip dari laman Nypost.

Pada temuan tersebut, bisphenol A alias BPA, bahan kimia yang digunakan dalam wadah makanan plastik, kertas struk, dan produk sehari-hari lainnya, terdeteksi dalam 51,2 persen sampel ASI satu bulan setelah kelahiran, sedikit menurun menjadi 49,8 persen pada enam bulan pasca persalinan.

Di antara bayi, sekira satu dari tiga mempunyai BPA dalam urine mereka tak lama setelah lahir, dan kemudian meningkat menjadi nyaris dua pertiga pada saat mereka berumur enam bulan.

Zat kimia serupa yang disebut Bisphenol S, yang sering digunakan sebagai pengganti BPA dalam plastik, juga ditemukan pada ibu dan bayi, dengan kadar yang meningkat seiring waktu.

Kemudian, unsur kimia yang mengenai dengan knalpot kendaraan dan pembakaran bahan bakar, yang dikenal sebagai hidrokarbon aromatik polisiklik, jarang ditemukan dalam ASI tetapi secara konsisten terdeteksi dalam urine bayi.

Ada juga unsur rawan lainnya ialah paraben yang merupakan pengawet yang digunakan dalam sampo, losion, dan kosmetik, juga umum terdeteksi, dengan kadar pada bayi meningkat seiring bertambahnya usia. Zat lainnya, seperti phthalates, yang digunakan untuk membikin plastik lebih lunak dan lebih fleksibel, ditemukan di lebih dari 90 persen sampel ASI yang diambil satu bulan setelah kelahiran dan tetap umum pada usia enam bulan, dengan kadar dalam urine bayi meningkat tajam dari waktu ke waktu.

Dari temuan studi yang ada, mereka telah mengaitkan bahan kimia ini dengan kemungkinan masalah kesehatan pada bayi, termasuk gangguan hormon, perubahan pertumbuhan dan berat badan, serta potensi pengaruh pada perkembangan otak dan metabolisme jangka panjang.

Dr. Maria Elisabeth Street, penulis studi, mengatakan bahwa ASI merupakan sumber nutrisi optimal untuk setiap anak dan kudu dilindungi lantaran merupakan pembawa kontaminan lingkungan.

"Masa bayi merupakan periode kritis paparan lantaran efeknya diperbesar pada usia ini dengan kerusakan yang baru terlihat setelah bertahun-tahun,"katanya.

Dalam studi lainnya, para peneliti di Seattle juga memeriksa ASI dari 50 ibu baru dan menemukan sekira 92 persen di antaranya mengandung setidaknya satu bahan kimia pengganggu endokrin.

Sampel yang sama tersebut sebelumnya telah terbukti mengandung PFAS yang dikenal sebagai 'bahan kimia abadi' lantaran tidak mudah terurai dalam tubuh alias lingkungan serta penghambat api, yang keduanya juga diketahui mengganggu hormon.

Meskipun beberapa bahan kimia berada di bawah periode pemisah keamanan Organisasi Kesehatan Dunia, penulis studi mencatat bahwa bahan kimia tersebut tetap berada pada tingkat yang telah dikaitkan oleh penelitian sebelumnya dengan kemungkinan pengaruh kesehatan negatif.

“Temuan ini menunjukkan bahwa bayi dan ibu mereka terpapar bahan kimia pengganggu hormon yang digunakan dalam produk sehari-hari, termasuk plastik, selama tahap perkembangan yang kritis,” kata Dr. Ryan Babadi, kepala sains untuk Toxic-Free Future, yang berkontribusi pada penelitian tersebut.

Ditambahkan Dr Ryan bahwa paparan ini menyoroti perlunya perlindungan yang lebih kuat agar para family di luar sana tidak berada dalam ancaman hanya dengan memberi makan bayi mereka.

Para penulis dari kedua studi tersebut menekankan bahwa temuan mereka bukan dimaksudkan untuk menghalangi praktik tersebut, yang memberikan nutrisi ideal bagi bayi dan dapat membantu melindungi ibu dan bayi dari beragam penyakit jangka pendek dan jangka panjang.

Sebaliknya, mereka mengatakan dalam penelitian mereka dan menyoroti kebutuhan yang lebih luas untuk mengurangi kontaminasi lingkungan dan membatasi paparan zat-zat yang berpotensi berbisa ini.

“Kehadiran bahan kimia ini dalam ASI menunjukkan bahwa kita perlu melakukan lebih banyak untuk melindungi kesehatan masyarakat,” kata Babadi.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join organisasi Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(pri/pri)

Selengkapnya