15 Dongeng Romantis Sebelum Tidur yang Mengajarkan Anak Kasih Sayang dan Empati

Jun 17, 2026 07:30 PM - 1 bulan yang lalu 50341

Dongeng sebelum tidur telah lama menjadi bagian krusial dalam kehidupan anak-anak dan juga berfaedah sebagai sarana untuk membangun khayalan serta nilai-nilai kehidupan. Dalam suasana malam yang tenang, cerita yang disampaikan dengan lembut bisa menghadirkan rasa kondusif sekaligus kedekatan emosional antara Si Kecil dan Bunda.

Dari kebiasaan sederhana ini, pemahaman tentang bumi mulai tumbuh secara perlahan. Seiring berjalannya waktu, dongeng tidak hanya berfaedah sebagai pengantar tidur, tetapi juga menjadi jembatan untuk mengenalkan beragam nilai moral yang penting.

Di dalamnya tersimpan pesan-pesan lembut yang membantu anak memahami hubungan antar manusia dengan langkah yang lebih hangat dan mudah diterima. Melalui alur cerita yang menyentuh, anak diajak untuk mengenali emosi diri sendiri sekaligus orang lain.


Salah satu nilai yang paling sering muncul dalam dongeng adalah kasih sayang, yang menjadi dasar dari banyak hubungan dalam kehidupan. Rasa ini tidak hanya digambarkan sebagai emosi lembut, tetapi juga sebagai tindakan yang penuh perhatian dan kepedulian.

Ketika anak mulai memahami kasih sayang melalui cerita, mereka perlahan belajar bahwa kebaikan dapat diwujudkan dalam hal-hal sederhana yang bermakna. Selain kasih sayang, empati juga menjadi bagian krusial yang secara alami tumbuh melalui dongeng sebelum tidur.

Dalam proses tersebut, anak diajak untuk memandang bumi dari perspektif pandang yang berbeda sehingga mereka bisa merasakan apa yang dirasakan oleh orang lain. Saat dibacakan dongeng, Si Kecil juga dapat membentuk kepekaan emosional yang bakal berfaedah dalam hubungan sosial mereka di masa depan, Bunda.

15 Dongeng romantis sebelum tidur yang mengajarkan anak tentang kasih sayang dan empati

Dikutip dari Dongeng Dunia dan Aktivitas Anak Cerdas oleh Tim Sunrise Picture, Bunda dapat membacakan kisah dongeng romantis sebelum tidur untuk mengajarkan Si Kecil tentang kasih sayang dan empati. Simak selengkapnya.

1. Mencari Janggut Harimau

Ada seorang petapa tua bijak yang banyak dimintai nasihat. Suatu hari, datang seorang wanita yang mau mengubah sifat suaminya yang pendiam dan tidak peduli. Petapa tua lampau menyuruh wanita itu mencari janggut harimau.

Meski sangat ketakutan, wanita itu mencoba mendekati seekor harimau galak di hutan. Dengan tekad kuat dan penuh kesabaran, dia terus berupaya menjinakkan harimau agar bisa mendapatkan janggutnya. Setiap hari dia memberinya makanan dan kasih sayang. Setelah berbulan-bulan, akhirnya harimau itu menjadi dekat dan jinak padanya. Wanita itu apalagi bisa mengelus-elus kepala harimau dan mencabut janggut di wajahnya.

Wanita itu kemudian memberikan janggut harimau itu kepada sang Petapa. Namun, sang Petapa malah memasukkan janggut harimau itu ke dalam tungku api. "Kau sudah tak memerlukannya lagi," ucap sang Petapa. "Kalau harimau yang galak saja sudah kau jinakkan, tentu bakal lebih mudah bagimu untuk meluluhkan hati suamimu. Sekarang. layani dan perlakukan suamimu dengan penuh kesabaran dan kasih sayang, sebagaimana kau memperlakukan harimau itu."

Wanita itu lampau menuruti apa yang dikatakan pertapa. Kini, suaminya pun menjadi sayang dan penuh perhatian padanya.

Pesan moral: Kesabaran dan kasih sayang salah satu kunci keselarasan hidup. 

2. Burung Hantu Menikahi Permaisuri

Ada seekor burung hantu cerdas yang tinggal berbareng seekor gajah di sebuah hutan. Suatu hari, sang Gajah tersesat di tengah rimba yang banyak dihuni raksasa. Gajah itu pun ditangkap dan diserahkan kepada Raja Raksasa. "Kebetulan sekali. Tadi malam saya bermimpi makan gajah dan sekarang mimpiku bakal jadi kenyataan," kata Raja Raksasa senang.

Wah, tentu saja sang Gajah ketakutan mendengar ucapan Raja Raksasa. Namun, tiba-tiba Burung Hantu yang cerdas datang hendak menolongnya. "Sebentar Raja Raksasa," cegah si Burung Hantu. "Semalam saya juga bermimpi menikah dengan permaisuri Raja Raksasa. Sekarang mimpiku juga bakal jadi kenyataan."

Tentu saja Raja Raksasa tidak mau kehilangan istrinya. Akhirnya Raja Raksasa memutuskan, "Mimpi hanyalah kembang tidur. Tak kudu diikuti. Aku tak bakal menyantap gajah dan kau pun tidak bakal menikah dengan permaisuriku. Bagaimana?"

Burung Hantu pun menyetujui usul Raja Raksasa. Akhirnya sang Gajah pun bisa bebas dan kembali hidup di rimba berbareng si Burung Hantu. "Kau memang cerdik, Burung Hantu. Terima kasih ya," ucap Gajah dengan gembira.

Pesan moral: Kecerdikan bakal membantu keluar dari kesulitan.

Dikutip dari buku Dongeng 365 Hari oleh Emmy Soekresno, Bunda dapat membacakan kisah dongeng romantis sebelum tidur untuk mengajarkan Si Kecil tentang kasih sayang dan empati. Simak selengkapnya.

3. Adik Mendapatkan Hadiah Sangat Banyak

Seorang abang merajuk pada ayahnya lantaran memandang adiknya yang baru lahir mendapatkan banyak bingkisan sedangkan dirinya tidak. Adiknya mendapat bingkisan dari tetangga, kerabat, dan handai tolan.

Lalu, abang bertanya pada ayahnya. Mengapa dirinya tidak mendapatkan hadiah? Ayahnya yang mendengar pertanyaan abang hanya tersenyum kemudian berbicara bahwa abang telah menerima hadiahnya saat tetap mini seperti adiknya. Namun, abang tidak mau kalah dengan adiknya. Ia telah belajar membaca, menghafal banyak surah Al-Qur'an dan bersikap mandiri, tetapi tidak diberi hadiah.

Ayah kemudian berbicara bahwa bingkisan itu merupakan ekspresi kasih sayang orang-orang terhadap adik barunya yang baru lahir. Abang pun boleh memberikan bingkisan kepada adiknya sebagai corak kasih sayang. Lalu, ayah berjanji bakal memberikan bingkisan kepada abang dan adiknya. Abang pun mulai mengerti makna bingkisan dan beriktikad mencari bingkisan untuk adik barunya.

Pesan moral: Membiasakan untuk memberi hadiah. Sebab itu menimbulkan kasih sayang dan menghapus permusuhan.

4. Singa dan Tikus

Suatu hari singa sedang enak-enak tidur. Ia merasa sangat mengantuk setelah menyantap seekor kijang besar sendirian. Sedang asyik-asyiknya tidur, seekor tikus mini bermain-main di kandangnya. Karena merasa terganggu, singa terbangun dan dengan sigap dia menangkap tikus yang telah mengganggu tidurnya.

Singa marah lantaran tidurnya terganggu, dia siap-siap hendak menyantap tikus. Tikus mini itu memohon agar jangan sampai dimakan. Ia berjanji bakal membalas kebaikan singa jika melepaskannya. Singa merasa geli mendengar apa yang dikatakan tikus. Ia berpikir, mana mungkin tikus mini itu bisa menolongnya. Singa merasa tidak bakal butuh pertolongan apa pun dari tikus.

Tapi, lantaran tetap kenyang dan mengantuk, akhirnya singa melepaskan tikus.
Beberapa hari berselang, rupanya singa terkena jebakan pemburu. Ia terkena jaring yang dipasang oleh pemburu. Singa meraung meminta Pertolongan. Saat itu, tikus sedang lewat. Ia mendengar teriakan singa. Tikus Pun segera mendekati arah suara. Ketika dilihatnya singa sedang terperangkap, dia segera menggerogoti jaring hingga akhirnya singa bisa lolos. Singa berterima kasih pada tikus yang telah membantunya lepas dari perangkap pemburu.

Pesan moral: Saat menolong kawan yang terpenting adalah niatnya bukan seberapa besarnya pertolongan kita.

5. Walet dan Biji Rami

Seekor walet terbang buru-buru agar segera sampai pada kelompoknya yang lain. Ia mau mengabarkan bahwa saat ini petani sedang menanam biji rami. Oleh lantaran itu, mereka kudu segera menyantap biji rami tersebut sebelum biji tersebut membahayakan mereka nantinya. Teman-teman walet tidak mengindahkan peringatan tersebut. Mereka berpikir tetap ada hari besok untuk menghabiskan biji tersebut. Sementara, sebagian yang lain tak acuh dan tak percaya bakal peringatan dari si walet.

Hari terus berganti, biji rami itu semakin tumbuh besar. Walet makin cemas dengan keadaan tersebut. Ia membujuk keluarganya untuk pindah dari daerah itu untuk menyelamatkan diri. Kini, biji rami sudah mulai berbuah. Petani mulai mengambil buah rami, dia mulai membikin jaring. Setelah jaring selesai, dia segera memasang jaring itu untuk menangkap burung yang banyak di sekitar rumahnya.

Esok paginya, banyak sekali burung yang terjebak di jaring yang dibuat oleh petani. Burung-burung itu pun menyesal telah mengabaikan peringatan yang diberikan oleh walet. Kini, mereka terancam kehilangan kebebasan lantaran bakal dijual petani.

Pesan moral: Kalau kalian membiarkan bibit kejahatan, bibit tersebut bakal tumbuh untuk menghancurkan.

6. Siapa yang Akan Pasang Belnya?

Sudah menjadi norma alam bahwa tikus adalah musuh alami bagi kucing. Mereka sering menjadi santapan kucing. Mereka mau keadaan ini berubah. Maka, mereka berpikir gimana menemukan langkah untuk mengetahui kehadiran kucing. Hal ini agar mereka setidaknya punya kesempatan untuk kabur.

Mereka pun melaksanakan musyawarah besar penduduk tikus. Lama berembuk telah berlangsung, tapi belum ada satu pun rencana yang dianggap cukup baik. Tiba-tiba, seekor tikus muda berdiri menyampaikan idenya. Ia menawarkan agar menggantungkan lonceng ke leher kucing sehingga jika kucing datang mereka bakal tahu lantaran mendengar bunyi lonceng tersebut.

Semua tikus sepakat dengan rencana tersebut. Mereka menganggap buahpikiran itu cukup sederhana. Maka, riuhlah mereka lantaran sukacita menemukan langkah menanggulangi kucing. Namun, di sela kegembiraan tersebut seekor tikus menyela, "Rencana itu mungkin cukup bagus, tapi siapa di antara kita yang mau memasangkan lonceng tersebut pada kucing?" Mendengar pertanyaan ini, para tikus saling berpandangan bingung. Benar, memangnya siapa di antara mereka yang mau jadi sukarelawan untuk memasangkan lonceng pada kucing?

Pesan moral: Memang krusial untuk mengatakan bahwa sesuatu kudu dilakukan, tapi yang lebih krusial lagi adalah memikirkan siapa yang bakal melakukannya.

Mengutip dari buku 60 Dongeng Dunia Pengantar Tidur. Kasih Sayang dan Kejujuran oleh Gilang Permadi, Bunda dapat membacakan kisah dongeng romantis sebelum tidur untuk mengajarkan Si Kecil tentang kasih sayang dan empati. Simak selengkapnya.

7. Anak Itik Buruk Rupa

Itik betina yang sedang mengerami sarangnya tidak mengetahui salah satu telurnya berbeda.

"Ciap! Ciap!" anak-anak itik yang kocak keluar dari cangkang telur. Terkecuali sebutir telur yang ukurannya paling besar. Telur itu menetas setelah anak-anak itik tumbuh agak besar dan lincah..

Induk itik terkejut! Anak bungsunya sangat berbeda dengan anak-anak lainnya. Bulu-bulunya kusut dan jelek. Warnanya juga kelabu, tidak putih bersih seperti bulu anak-anak itik lainnya. Mereka memanggilnya, Itik Buruk Rupa.

Induk itik tidak suka dengan si itik jelek rupa. Itik jelek rupa sangat sedih lantaran bentuknya berbeda dengan saudara-saudaranya. Dan semua hewan yang tinggal di sekitar waduk itu pun mengucilkannya. Diam-diam, dia pergi meninggalkan induk itik dan saudara-saudaranya.

Si itik jelek rupa berjumpa seekor anjing milik seorang pemburu itik. Anjing itu tidak mau memakannya, dan memilih pergi meninggalkannya.

"Anjing itu pun tidak mau memakanku hanya lantaran tubuhku sangat jelek," ratap itik si jelek rupa sembari terus berjalan.

Tiba di sebuah ladang, dia berjumpa dengan seekor kucing dan seekor ayam jantan milik petani.

"Kamu ini hewan sejenis apa? Mengapa rupamu sangat jelek?" tanya si kucing mengejek.

"Ya, betul!" ujar ayam jantan. Itik jelek rupa bertambah sedih. la terus berlindung di sebuah waduk yang sunyi selama musim dingin.

Ketika musim panas tiba, Matahari bercahaya hangat. Sekelompok angsa yang tampan dan elok singgah dan berenang di waduk mini tempat si itik jelek rupa bersembunyi.

Kelompok angsa itu sangat ramah dan bersahabat.

"Bulu kalian bagus sekali. Aku sangat kagum dan iri pada kalian," kata si itik jelek rupa jujur. Angsa-angsa itu tertawa geli mendengar pujian si itik jelek rupa.

"Kau lebih elok dari kami. Lihatlah bayanganmu di air waduk itu!"

Si itik jelek rupa sangat terkejut! la tidak percaya jika dia mempunyai bulu-bulu yang sangat bagus dan cantik. Oh, rupanya dia seekor angsa dan bukan seekor itik. la sangat senang lantaran sekarang dia mempunyai family yang sama dengannya.

Pesan moral: Tidak boleh menilai alias merendahkan seseorang hanya dari penampilan luarnya. Sering kali, sesuatu yang tampak berbeda belum tentu buruk, bisa jadi itu justru tanda bahwa dia spesial dan mempunyai jati diri yang berbeda.

8. Kesetiaan Seorang Istri

Prabu Asvapati adalah raja Kerajaan Madraka yang terkenal arif dan bijaksana. la dikarunia putri tunggal yang sangat elok berjulukan Savitri. Sudah banyak pangeran dan bangsawan yang melamarnya, namun semua ditolaknya.

"Savitri, kau kudu pergi dari istana untuk mencari jodohmu," titah Prabu Asvapati sedih.

Savitri mengembara mencari calon suaminya ditemani oleh beberapa pengawal.

Mereka tiba di perbatasan kerajaan Salva. Savitri berjumpa Satyavan, pemuda tampan yang baik dan sopan. Savitri dan Satyvan saling jatuh cinta.

Satyvan sebenarnya adalah putra mahkota raja Dyumatsena, Kerajaan Salva. Mereka dibuang ke rimba lantaran tahta Prabu Dyumatsena dirampas musuh. Prabu Dyumatsena menjadi cacat, dia diasingkan dan menjadi seorang resi pertapa di rimba perbatasan Kerajaan Madraka dan Salva.

Resi Dyumatsena merestui hubungan putranya dengan Savitri. Savitri lampau mengenalkan Satyavan kepada ayahanda di istana Madraka.

Pada awalnya Prabu Asvapati menyetujui pilihan putrinya itu. Namun, Dewa Batara Narada tidak setuju. la turun dari kahyangan mendatangi Prabu Asvapati.

"Asvapati, umur Satyavan sisa satu tahun." Prabu Asvapati segera menyuruh Savitri untuk mencari calon suami lainnya, namun Savitri menolak usul itu. Akhirnya dia tetap menikahkan Savitri dengan Satyavan.

Savitri dan Satyavan memilih tinggal berbareng Resi Dyumatsena di hutan. Mereka hidup bahagia, namun Savitri selalu resah dan resah mengingat ucapan Dewa Batara Narada. Selama setahun, Savitri giat berpuasa dan memuja Dewa kematian, ialah Batara Yama.

Setahun berlalu, Batara Yama datang mengambil nyawa Setyavan. Dan menaruhnya di jala sutra yang selalu dibawanya.

Savitri terus mengikuti kemana pun Batara Yama melangkah. la tidak peduli dengan tubuh dan kakinya yang penuh luka tergores duri dan ranting semak belukar.

Batara Yama tersentuh memandang kesetiaan Savitri.

"Berhentilah mengikutiku, Savitri. Aku bakal meluluskan satu permintaanmu, asal jangan kau minta Setyavan dihidupkan lagi." Savitri kemudian meminta penglihatan mertuanya dipulihkan.

"Baiklah, saya bakal menyembuhkan kedua mata Resi Dyumatsena," kata Batara Yama.

Batara Yama juga mengembalikan Kerajaan Salva dengan angan Savitri tidak mengikutinya lagi, namun Savitri tetap mengikuti Batara Yama. la terus menangis dan meratapi nyawa Setyavan. Batara Yama tersentuh lampau memberi satu permintaan lagi kepada Savitri.

"Wahai, Batara Yama. Izinkan saya hidup setahun lagi dengan suamiku. Aku merasa belum cukup berkhidmat kepada suamiku," pinta Savitri. Dewa Batara Yama langsung mengabulkan permintaan Savitri. Savitri pun bersujud mengucapkan terimakasih kepada Batara Yama.

Tanpa disadari Batara Yama, dia terjebak dengan permintaan Savitri. Waktu setahun bagi para Dewa sama artinya dengan waktu 100 tahun bagi manusia.

Akhirnya, Savitri dan Setyavan hidup berbahagia selamanya dan dikaruniai banyak keturunan. Saat Resi Dyumatsena wafat, Setyavan menjadi raja di Kerajaan Salva.

Pesan moral: Kesetiaan, keteguhan hati, dan cinta yang tulus dapat membawa kekuatan yang luar biasa.

9. Asal Mula Rasi Bintang Eridanus

Dewa Appolo adalah Dewa Perang yang gagah perkasa. Dewa Zeus, pemimpin para Dewa, memberi Dewa Appolo kereta perang dari emas yang ditarik dua ekor kuda putih jantan yang kekar dan kuat. Kedua roda keretanya mengeluarkan percikan api. Tak ada seorang Dewa pun bisa mengendalikan kedua ekor kuda penarik kereta itu.

Dewa Appolo menikah dengan seorang gadis yang tinggal di Bumi. Mereka dikarunia anak laki-laki tampan yang diberi nama Eridanus. Sayang sekali, istrinya meninggal ketika Eridanus tetap bayi.

Dewa Appolo mendidik Eridanus dengan kasih sayang yang sangat melimpah. Semua kemauan Eridanus selalu dituruti Dewa Appolo. Eridanus tumbuh menjadi pemuda yang cengeng, sombong, dan manja.

Eridanus sesumbar kepada teman-temannya bahwa dirinya tak kalah dahsyat dari ayahnya.

"Buktikan jika kau bisa berkeliling bumi dengan kereta perang Ayahmu!" ejek salah seorang kawan Eridanus.

Eridanus membujuk Ayahnya agar mau meminjamkan kereta perangnya.

"Aku cemas kau kelak celaka lantaran tak bisa mengendalikan dua ekor kuda itu," kata Dewa Appolo cemas.

"Ayah, saya berjanji meminjamnya hanya sekali. Aku bakal diejek orang-orang dan dicap sebagai anak Dewa Appolo yang suka berbohong."

Akhirnya, dengan berat hati Dewa Appolo meminjamkan kereta perang miliknya. Dengan sombong, Eridanus memamerkan kereta perang itu di hadapan teman-temannya.

Tiba-tiba, kedua ekor kuda putih itu mengamuk dan berlari cepat. Kuda-kuda itu terus berlari dan tidak bisa dihentikan. Roda kereta perang itu membakar apa saja yang dia lewati. Banyak orang yang meninggal di Bumi.

Dewa Zeus menjadi sangat marah. la mengirim petirnya untuk menghentikan kereta perang itu.

Blaaaar...!!! Kereta perang Dewa Appolo hancur berkeping-keping. Eridanus dan kedua ekor kuda itu juga mati.

Dewa Appolo sangat berduka. la menangis sepanjang waktu meratapi kepergian putra kesayangannya. Butiran-butiran air mata Dewa Appolo itu berubah menjadi bintang-bintang. Kumpulan bintang itu yang sekarang dikenal rakyat Yunani sebagai Rasi Bintang Eridanus.

Pesan moral: Kesombongan, kurangnya pengalaman, dan kemauan untuk pamer tanpa keahlian yang cukup dapat membawa akibat yang sangat buruk.

Mengutip dari buku Kumpulan Terbaik Dongeng dan Mantra oleh Pembangun Karakter Mulia, Bunda dapat membacakan kisah dongeng romantis sebelum tidur untuk mengajarkan Si Kecil tentang kasih sayang dan empati. Simak selengkapnya.

10. Kisah Lima Butir Telur

Ibu Ayam sedang bahagia. Sebentar lagi dia bakal mempunyai lima ekor anak. Setiap hari, Ibu Ayam menjaga kehangatan telur-telurnya sembari bercerita tentang beragam macam kisah petualangan. Ibu Ayam berharap, suatu hari kelak anak-anaknya bakal menjadi ayam yang pemberani dan hebat.

Suatu hari, saat Ibu Ayam sedang pergi, lima butir telur itu bergerak-gerak. Mereka berbincang satu sama lain.

"Aku sudah tidak sabar tumbuh besar," kata salah satu telur.

"Iya benar. Aku sangat mau keluar dari cangkang ini," sahut telur yang lain.

"Aku mau berjumpa musang yang diceritakan Ibu, lampau mematuknya! la sudah membikin semua ayam ketakutan!" sahut telur yang lainnya lagi.

"Hei, itu berbahaya!" telur yang paling mini berkata.

"Kenapa? Kamu takut?" tanya telur yang pertama berbicara.

"Jangan takut saudaraku, kita kan berlima. Jika berasosiasi kita pasti bisa mengalahkan Musang yang jahat. Bukankah setiap hari Ibu berpesan seperti itu?" Salah satu telur menenangkan saudaranya.

"Tapi.. Tapi.." Belum sempat telur yang ketakutan melanjutkan, Ibu mereka tiba-tiba datang. Kelima telur itu pun kembali tenang. Ibu Ayam tersenyum memandangi telur-telurnya.

"Anak-anakku, kalian di dalam sudah besar. Besok pagi kalian bakal menetas dan menikmati indahnya dunia. Jadilah anak-anak ibu yang pemberani dan hebat, ya. Ibu kudu pergi sementara waktu. Jaga diri kalian baik-baik," kata Ibu Ayam lampau mengelus cangkang telur satu persatu.

Mau ke mana Ibu Ayam, ya? Entahlah, yang pasti kata-kata sang ibu membikin salah satu telurnya semakin ketakutan.

Keesokan harinya, telur pertama mulai menetas disusul oleh tiga telur yang lainnya.

"Wah, senangnya! Akhirnya saya bisa memandang dunia! Benar kata ibu, bumi memang betul-betul indah!" serunya.

"Ciap ciap ciap!" begitu seru tiga anak ayam yang lainnya dalam bahasa ayam, yang artinya setuju.

"Hei, lihat. Masih ada satu kerabat kita yang belum menetas. Ayo kita bantu dia," kata salah satu anak ayam.

"Bagaimana caranya?" tanya anak ayam yang lain.

"Kita patuk saja cangkangnya," jawab anak ayam yang paling besar.

"Jangan!" seru bunyi dari dalam cangkang.

"Kenapa?" tanya saudaranya penasaran.

"Aku tetap belum siap. Aku mau menunggu ibu," kata si telur.

"Tapi, udara di dalam cangkang sudah habis, saudaraku. Kau butuh udara untuk bernapas," kata saudaranya yang lain.

"Tapi, saya sangat takut. Dunia begitu menyeramkan. Ada musang, ada malam, dan kita kudu mencari cacing di hutan. Aku lebih senang di dalam sini, hangat dan aman," jawab si telur terakhir.

"Lalu gimana caranya Anda bernapas? Tanpa udara Anda bisa mati," kata saudaranya.

"Tapi, saya takut. Aku menunggu ibu saja," si telur terakhir tetap pada pendiriannya.

Saudara-saudaranya saling berpandangan. Mereka bingung gimana membujuk si ayam bungsu agar mau keluar dari cangkangnya. Jika tidak segera keluar, si bungsu bisa meninggal dan ibu mereka bakal sedih.

Tiba-tiba...

"Tolong, Aku digigit Musang!" seru salah satu anak ayam.

"Oh tidak! Ayo kita lawan!" seru anak ayam yang lain.

Bunyi ciap-ciap dan gerabak-gerubuk memenuhi kandang ayam. Si telur terakhir semakin ketakutan. Dia makin tidak berani keluar dari cangkangnya. Di dalam cangkang, dia membayangkan wajah musang yang mengerikan dengan gigi-gigi tajamnya. Dia pun iba pada saudara-saudaranya yang sudah terlanjur menetas yang sekarang kudu berantem melawan musang.

"Oh, tidak! Kami kekurangan tenaga! Kami tidak bisa melawan musang hanya berempat saja!

Kami butuh satu kawan lagi untuk mematuk matanya!" salah satu anak ayam berseru.

Bunyi gerabak-gerubuk tetap riuh. Telur terakhir mulai goyah. Dia sedang dibutuhkan oleh saudara-saudaranya. Mana mungkin dia berlindung dan mencari perlindungan sendiri?

"Tolong! Tolong kamil Patuk matanya dan musang pasti bakal kita kalahkan!" seru salah satu anak ayam lagi.

"Siapa yang bisa mematuk matanya? Aku sedang mematuki kakinya!" seru anak ayam yang lain.

"Aku juga sedang sibuk mematuki ekornya!" anak ayam yang lain menimpali.

Tiba-tiba, bunyi krak krak mulai terdengar. Telur terakhir akhirnya menetas. Anak ayam terakhir keluar dari cangkangnya. Wajahnya marah. Dia sudah siap mematuk mata musang yang sudah menyakiti saudara-saudaranya.

Tetapi "Lho? Mana musangnya?" tanya anak ayam terakhir.

"Tidak ada musang, saudaraku," kata anak ayam yang paling besar.

Keempat anak ayam lampau berlari menghampiri saudaranya yang baru menetas.

"Selamat datang di dunia. Bagaimana rasanya? Udaranya segar, bukan?"

"I iya..... lalu... lampau kalian tadi.." Anak ayam terakhir tetap kebingungan.

Saudara-saudaranya tertawa. Mereka merangkul saudaranya yang baru menetas itu.

"Ternyata Anda bukan anak ayam yang penakut, kan? Kamu berani menetas untuk menolong kami melawan musang," kata salah satu anak ayam

Anak ayam yang baru menetas itu tersipu malu. Dia memeluk saudara-saudaranya dan mengucapkan terima kasih. Sekarang dia tahu, rupanya dia juga sama beraninya dengan saudara-saudaranya yang lain dan berjanji tidak bakal jadi ayam penakut lagi.

Pesan moral: Jadilah anak yang pemberani. Hadapi apa pun yang ada di depanmu dengan gagah, niscaya rasa takut bakal berangsur-angsur pergi menjauh.

Dikutip dari buku 5 Menit Mendongeng Tentang Binatang oleh Vanda Yulianti, Bunda dapat membacakan kisah dongeng romantis sebelum tidur untuk mengajarkan Si Kecil tentang kasih sayang dan empati. Simak selengkapnya.

11. Pilli Kus-kus Pemalu

Hari menjelang sore, di mana semua hewan di Hutan Gemintang mulai masuk ke sarangnya masing-masing. Sore seperti saat ini adalah waktu bagi para hewan malam muncul untuk melakukan kegiatannya masing-masing.

"Hoaaaam..., nikmatnya tidur siangku hari ini!" geliat Kuko kelelawar.

"Duuh, saya susah tidur! Ci... cit..., anak-anak burung Kucica terasa mengganggu!" keluh Kelo, sahabat Kuko.

"Ayo, senam dulu biar segar!" ajak Lowo penuh semangat.

"Ho... ho..., halo semua! Selamat petang," sapa Pak Oli kuskus yang ramah.

"Haaai, Kuko, Kelo, Lowo. Terbang ke mana malam ini? Bu Wuli tidak kalah ramah menyapa para kelelawar itu.

"Kami bakal menuju ke pematang sawah di utara, Pak Oli, Bu Wuli," jawab para kelelawar kompak.

"Kalian sendiri bakal berjalan-jalan ke mana? Ini kan hari Minggu, sekolah libur! Pasti Pili sudah bersiap untuk tamasya, ya?" ucap Lowo dengan riang.

Mendadak, wajah Pak Oli dan Bu Wuli menjadi muram. "Duuh, dari siang kami bingung membujuk Pili untuk keluar. Dia begitu pemalu dan tidak mau berteman," ucap Bu Wuli lirih.

"lya, gimana ya, agar Pili tidak pemalu seperti sekarang? Sebentar lagi dia tumbuh menjadi kuskus jantan dewasa, kudu punya keberanian untuk melindungi keluarga," Pak Oli menghela napas.

Kuko, Kelo, dan Lowo menyimak cerita family kuskus itu. Mereka Juga tahu, Pili begitu pemalu dan penakut. "Aha...! Bagaimana jika kita minta saran dari Pak Hanhan burung hantu yang bisak?" Kuko memberikan ide.

Pak Oli dan Bu Wuli mengangguk setuju. Tidak lama tampak kelima hewan itu beriringan menuju tempat tinggal Pak Hanhan.

"Halo..., halo...! Ada apakah gerangan Pak Oli, Bu Wuli, Kuko, Kelo, dan Lowo berjamu ke sarangku?" sapa Pak Hanhan ramah.

Dengan singkat, Pak Oli menceritakan tentang sifat Pili yang begitu pemalu. Pak Hanhan mengangguk-angguk mendengarkan. Kemudian sembari tersenyum bijak, Pak Hanhan menjelaskan dengan perlahan. Kali ini, giliran Pak Oli dan Bu Wuli yang mengangguk-angguk tanda setuju.

"Terima kasih, Pak Hanhan, kami bakal menjalankan saranmu," ucap Bu Wuli sembari berpamitan untuk kembali pulang.

Esoknya, diam-diam Bu Wuli memerhatikan apa yang menjadi kegemaran dan kegemaran Pili. Ooo, rupanya Pili senang menggambar! Banyak sekali karya Pili tersebar di atas meja belajar yang ada di kamarnya. Hasil gambar Pili bagus sekali.

"Pili, Ibu boleh masuk ke kamarmu?" Bu Wuli mengetuk perlahan pintu bilik Pili.

"Tentu... Ibu," jawab Pili.

Bu Pili membawakan makanan kesukaan Pili, meletakkan di meja belajar, lampau memandang gambar karya Pili.

"Wah, bagusnya gambarmu, Nak," puši Bu Wuli.

Pili merebut kertas gambarnya perlahan. Ucapnya, "Ah, belum bagus, Bu. Aku malu....."

"Kapan-kapan ajari Ibu menggambar, ya? Boleh?" tanya Bu Wuli penuh harap.

Mata Pili tampak berbinar mendengar permintaan ibunya.

"Wah, benarkah Ibu mau belajar menggambar?" Pili kembali bertanya.

Tak lama, dari dalam bilik terdengar tawa riang antara Bu Wuli dan Pili sembari asik belajar menggambar.

Pak Oli mendengar dari kembali pintu, dan tersenyum senang. Rencana kedua bakal dijalankan.

Hari berikutnya, Kuko, Kelo, dan Lowo berjamu ke rumah Pak Oli. Mereka membawa poster lomba menggambar berkelompok yang diadakan oleh kerajaan Raja Hutan.

Pemenangnya bakal mendapatkan tiket wisata berjamu ke Hutan Impian rimba yang bagus dan mempunyai banyak permainan seru. Ketiga kelelawar itu bermaksud membujuk Pili untuk membikin golongan gambar berbareng hewan lainnya.

"Kenapa aku?" tanya Pili lirih, berdiri di belakang punggung Pak Oli.

"Ya, lantaran kami mendengar dari Bu Wuli, bahwa gambarmu sangat bagus dan Anda pandai mengajar menggambar," jawab Lowo riang.

"Wah... Pili, ini kesempatan yang bagus untuk Anda dan teman-teman lain. Kamu bisa mengajarkan langkah menggambar. Lalu, kalian bisa bersama-sama membikin karya gambar yang bagus!" Pak Oli memberi semangat.

Perlahan Pili mengangkat wajahnya. Menatap canggung pada semua.

"Mau ya, Pili? Kamu pasti bisa!" Bu Wuli tidak mau kalah untuk memberikan semangat.

"Ya, Pili!!! Kalau kita menang, kita bisa bermain berbareng di Hutan Impian. Wuih, pasti menyenangkan!" ajak Kuko.

"Lalu..., jika tidak menang?" Pili kembali ragu.

"Ya, tidak apa-apa. Yang krusial kita sudah mencoba dan berusaha, kan?" Kelo mencoba menenangkan.

"Betuuul...! Yang paling asik dari kegiatan ini adalah berjumpa teman-teman baru yang menyenangkan!" Bu Wuli bertepuk senang.

Pili memandang pada Pak Oli dan Bu Wuli berulang kali. Matanya seolah meminta kepercayaan dari ayah dan ibunya. Pak Oli dan Bu Wuli pun mengangguk setuju pada Pili.

Pili tersenyum.

Sudah berhari-hari Pili dan teman-temannya sibuk berlatih menggambar. Pili yang di awal tampak tetap ragu, perlahan mulai berani mengajarkan menggambar pada hewan-hewan lain. Semua tampak antusias dan gembira. Tawa Pili sesekali terdengar, begitu menyenangkan. Pak Oli dan Bu Wuli merasa senang memandang perubahan sikap Pili.

"Ayo..., anak-anak jangan lupa istirahat. Ini makanan dan minuman segar untuk kalian, ya. Bu Wuli sibuk menyiapkan makanan untuk mereka.

Kelompok menggambar yang dipimpin Pili memenangkan hadiah! Dan, golongan itu pun bersiap menuju ke Hutan Impian yang mereka impikan. Pili tidak dapat menyembunyikan rasa bahagianya. Senyumnya terus mengembang.

"Terima kasih Ibu dan Ayah. Tanpa support semangat dari Ibu dan Ayah, saya tidak mungkin bisa seperti saat ini," Pili memeluk orangtuanya.

"Ini semua bukan lantaran kami tapi lantaran Anda berani menerima tantangan. Hebat kamu, anakku," Pak Oli memeluk Pili erat.

"Kita sudah sampai di Hutan Impian. Kalian hati-hati, ya! Raihlah mimpimu setinggi-tingginya!" pesan Bu Wuli.

Dari kejauhan, Pak Hanhan tersenyum dan melambaikan tangan pada Pili.

"Keberanian adalah kekuatan yang bakal mengiringi impian, gumam Pak Hanhan, lampau kembali terbang rendah ke sarangnya yang hangat.

"Tapi...," Dudo mau memihak diri.

"Tapi apa, Dudo? Yang Anda lakukan itu tidak baik dan tidak sopan. Jika Anda mau merasakan kenyamanan maka buatlah orang di sekelilingmu merasa nyaman," pesan Gogo gagak.

Dudo terdiam dan merenungkan sikapnya. Terbayang semua sikapnya yang lancang jika berada di rumah temannya, tanpa memikirkan emosi si teman. Sekarang Dudo paham, bahwa sangat tidak menyenangkan jika ada yang menggunakan miliknya tanpa izin sebelumnya.

Dudo mengangguk-anggukkan kepalanya, dan sadar untuk mengubah semua sikapnya yang tidak sopan.

"Gogo! Ayo masuk, bakal ku masak makanan kesukaanmu!" ajak Dudo penuh semangat, "Dan saya berjanji bakal mengubah sikapku yang tidak baik, Gogo!"

"Bervansilah pada dirimu sendiri, Dudo!" cetus Gogo seraya terbang menuju ke dalam rumah Dudo.

Di dalam rumah, Dudo menyambut semua tamunya dan meminta maaf atas semua sikapnya selama ini. Semua tertawa senang dan mengeluarkan makanan yang rupanya diam-diam mereka siapkan untuk dinikmati berbareng di rumah Dudo.

Semua senang, Dudo pun merasa tenang lantaran berada di tengah teman-teman yang luar biasa menyenangkan.

Sejak itu, Dudo dikenal dengan panggilan Dudo si Sopan.

Pesan moral: Keberanian, dukungan, rasa percaya diri, serta sikap sopan dan menghargai orang lain adalah kunci untuk meraih kebahagiaan dan hubungan yang baik dengan sesama.

12. Ketika Hujan Tercurah Deras

Musim penghujan telah tiba. Setiap hari tak henti-henti air bah turun dari langit. Para penunggu Hutan Gemintang memilih berdiam diri di dalam rumah. Mereka sudah mempersiapkan persediaan makanan jauh-jauh hari sebelum musim hujan datang.

Di dalam rumah, ada yang mengisi waktu dengan tidur berselimut, merajut baju hangat, membikin kue, melukis, bermain kartu, membaca buku, dan banyak lagi kegiatan mengisi waktu. Semua tampak tenang di rumah masing-masing.

Betulkah semua hewan sedang nyaman di rumahnya masing-masing?

Ternyata, di tepi sungai yang meluap lantaran hujan, beberapa family berang-berang tampak kedinginan mencari tempat berlindung. Rumah mereka yang dibangun di atas sungai hanyut lantaran begitu derasnya luapan air sungai mengalir.

Anak-anak dan bayi-bayi berang-berang tampak ketakutan, kedinginan, dan kelaparan. Para Ayah berang-berang berupaya mencari Jalan menuju ke dalam Hutan Gemintang.

"Pak Beri, kita ikuti barisan pohon pinus ini! Hanya ini yang bisa menjadi petunjuk masuk ke arah Hutan Gemintang!" teriak Pak Bori berang-berang memberi saran.

Pak Beri setuju, lampau para berang-berang jantan itu memimpin family mereka untuk terus melangkah masuk ke hutan. Kilat dan gemuruh petir semakin membikin anak-anak dan bayi berang-berang ketakutan. Mereka mulai menangis terisak.

"Ayo..., jangan menyerah, jangan takut! Kita bakal selamat!" Ibu Beri memberi semangat pada mereka.

Sepasang mata mengawasi rombongan itu dari dalam lubang di sebuah pohon cemara. Rupanya Kiku tupai sedang bekerja mengawasi keadaan sekeliling hutan.

"Aku kudu segera memberi berita pada penduduk Hutan Gemintang!" ucap Kiku cepat. Tak lama, tampak Kiku melesat melompat dengan lincah di antara cabang pohon menembus derasnya hujan yang tak kunjung reda.

Rombongan berang-berang beristirahat di bawah sebuah batu besar yang membentuk cekung menyerupai gua-hingga mereka bisa masuk ke dalamnya.

"Berapa lama lagi kita sampai di Hutan Gemintang, Ayah?" tanya Bora, anak tertua Pak Beri.

"Tidak lama lagi, Nak!" jawab Pak Beri pelan.

"Mora demam, Ayah," ucap Ibu Beri dengan resah sembari memeluk Mora-bayinya. Pak Beri mulai cemas.

"Bagaimana ini...." bisik Pak Beri.

Pak Bori menenangkan Pak Beri, "Tenang..., kita pasti bakal selamat sampai ke tujuan. Tunggu sejenak hingga angin besar berhenti. Setelah itu kita lanjutkan perjalanan."

Tiba-tiba petir terdengar kuat menggelegar. Semua terkejut. Seberkas sinar menyinari mulut gua batu itu, anak-anak bertambah takut. Pak Beri dan Pak Bori menghadang sinar itu.

"Heeei, apa itu? Siapa kalian?" teriak Pak Bori keras.

Tampak beberapa sosok masuk ke dalam gua.

"Tenang, Pak Bori. Kami bakal menolong kalian!" ucap sebuah bunyi yang berkawan di telinga family berang-berang.

"Pak Hanhan?" tanya Pak Beri.

Tampaklah Pak Hanhan dan rombongan burung hantu membawa senter besar. Beserta rombongan singa mereka masuk untuk menolong family berang-berang. Mereka sudah membawa tandu untuk para Ibu, anak-anak, dan bayi.

Suasana di rumah besar milik Pak Aum Singa tampak ramai dan hangat. Keluarga berang-berang sudah tenang mengungsi dengan kondusif di rumah itu.

"Terima kasih, Pak Hanhan, Pak Aum, dan semua penduduk Hutan Gemintang. Tanpa support kalian, entah apa yang terjadi pada kami," ucap Pak Bori terharu.

"Ini semua berkah kesigapan Kiku tupai, tanpa buletin dari Kiku, kami pun tidak tahu keadaan kalian, Pak Hanhan tersenyum.

Kiku hanya tersipu malu. Pak Aum mempersilakan semua untuk menyantap sup dan susu hangat untuk memulihkan tubuh.

"Kita semua bersaudara, kudu selalu siap menolong. Ayo, nikmati sup buatan Ibu Aum! ajak Pak Aum.

"Ya, tinggallah sementara waktu di sini sampai cuaca kembali baik," ucap Bu Aum ramah.

Setelah beberapa hari, cuaca kembali cerah. Matahari mulai bersinar. Keluarga berang-berang berpamitan untuk kembali ke sungai, dan membangun rumah baru mereka.

"Sampai sumpa lagi, sahabat baik kami! Mampirlah ke rumah kami jika sedang berada di tepi sungai! Kiku, kami tunggu kehadiranmu! Pak Beri dan Pak Bori melambaikan tangan.

"Indahnya persahabatan, bisik Ibu Bori.

Pesan moral: Kepedulian, kerja sama, dan persahabatan adalah kunci untuk menghadapi kesulitan dan menciptakan kehidupan yang harmonis.

Mengutip dari kitab 101 Dongeng Sebelum Tidur oleh Redy Kuswanto, Bunda dapat membacakan kisah dongeng untuk mengajarkan kasih sayang dan empati pada Si Kecil. Simak selengkapnya.

13. Ayam dan Ikan Tongkol

Raja aja bangsa ayam berjulukan Kukuru dan raja bangsa ikan tongkol berjulukan Halili berkawan karib dan sering bermain bersama. Kukuru suka membujuk Halili ke daratan. Begitu pula dengan Halili, dia sering membujuk Kukuru bermain ke laut.

Suatu hari, Kukuru membujuk Halili ikut pesta dansa di kampung nelayan. "Yuk, ikutan pesta dansa. Di sana banyak makanan lezat dan pagelaran tari," ajak Kukuru.

Halili pun tertarik dengan rayuan sahabatnya. "Baiklah, saya bakal ikut. Pasti menyenangkan ikut pesta dansa," sahut Halili.

Keesokan harinya, ketika senja menjelang, mereka sudah tiba di tepi pantai. Semua ikan tongkol dan ayam pergi berbareng menuju pesta. Halili berpesan kepada Kukuru agar memberi tahu jika waktu fajar telah tiba. Jika tidak, bangsa manusia bakal menyantap mereka.

Pesta pun berjalan dengan meriah. Mereka menikmati suasana pesta. Karena kekenyangan, mereka pun tertidur lelap hingga melewati waktu fajar. Semua ikan tongkol ditangkapi oleh nelayan di pagi hari.

Halili merasa jengkel lantaran Kukuru yang tidak menepati janji. Ia mengutuk bangsa ayam menjadi buta di malam hari. Ia juga berjanji bakal menyantap semua ayam yang datang ke laut.

Persahabatan pun menjadi permusuhan. Mungkin itulah sebabnya kenapa nelayan sangat mudah memancing tongkol dengan umpan bulu ayam.

Pesan moral: Tepatilah janji lantaran ingkar janji bakal merusak persahabatan. 

14. Beruang Kecil Mau Berbagi

Beruang Kecil bersuka ria. Hari ini, Bibi Beruang mengundangnya untuk memanen apel. Sebagai ucapan terima kasih, Bibi Beruang memberinya sekeranjang apel ranum.

"Terima kasih, Bibi," ucap Beruang Kecil.

"Sama-sama. Terima kasih sudah membantu," sahut Bibi Beruang.

Beruang Kecil melangkah pulang dengan hati girang. Ia membayangkan apel panggang oles madu yang lezat. "Du bi du bi dam," Beruang Kecil terus bersenandung.

Tiba-tiba, "Hiks...hiks...," ada bunyi tangisan dari kembali semak-semak. Ternyata, itu tangisan Ibu Rusa!

"Ibu Rusa, kenapa menangis?" tanya Beruang Kecil.

"Kakiku luka, terjerat perangkap para pemburu. Sekarang, saya tak bisa mencari makan untuk anak-anakku," sahut Ibu Rusa.

Dari kembali semak-semak, muncul tiga anak rusa dengan wajah kelaparan.

"Jadi, Ibu Rusa menangis lantaran kesakitan?" tanya Beruang Kecil lagi. Ibu Rusa menggeleng.

"Bukan. Aku menangis lantaran anak-anakku kelaparan. Aku tak mungkin menyuruh mereka mencari makanan sendiri. Mereka tetap terlalu kecil," tangis Ibu Rusa semakin keras.

Beruang Kecil memandang wajah ketiga anak rusa itu, lampau melirik ke keranjang apelnya.

"Berikan...tidak...berikan...tidak....," hatinya bimbang. Ia iba pada family rusa itu, tapi dia juga mau makan apel panggang oles madu!

Namun, Beruang Kecil akhirnya berpikir, family rusa itu lebih memerlukan apel-apel ini. "Aku pun tetap punya makanan lain di rumah," ucapnya dalam hati.

"Ini, Bu. Apel-apel ini untuk anak-anak rusa saja," Beruang Kecil menyodorkan keranjang apelnya.

"Terima kasih, Beruang Kecil. Apel-apel ini sangat berfaedah bagi kami.

Kami sungguh berterima kasih atas kebaikanmu," Ibu Rusa tak henti-hentinya mengucapkan terima kasih.

Beruang Kecil senang, meski ini artinya dia tak bisa makan apel panggang oles madu. Baginya, membantu makhluk lain yang sedang kesusahan, jauh lebih menyenangkan.

Pesan moral: Menolong orang yang lebih memerlukan adalah sesuatu yang baik. Ikhlas membantu bagi yang lebih memerlukan adalah perbuatan yang disukai oleh orang. 

15. Putri Ular dari Simalungun

Dahulu, di area Simalungun, berdiri sebuah kerajaan yang makmur. Rajanya terkenal arif dan bijaksana. Sang Raja mempunyai seorang putri yang banget cantik.

Kecantikan sang Putri didengar pula oleh seorang Raja Muda. Si Raja Muda yang tampan itu pun melamar sang Putri. Ternyata pinangan itu diterima atas persetujuan Raja dan Permaisuri.

"Jagalah diri selalu. Jangan sampai pernikahanmu gagal," pesan sang Raja.

Setiap pagi sang Putri pergi mandi ditemani dayang-dayang. Ia berendam di sebuah kolam di belakang istana. Usai berendam, sang Putri duduk di atas batu. Ia membayangkan sungguh bahagianya saat pernikahan nanti.

Tiba-tiba angin bertiup kencang. Sepotong ranting kering jatuh tepat mengenai ujung hidung sang Putri. Betapa terkejutnya sang Putri saat memandang wajahnya di cermin. Hidungnya yang mancung sekarang menjadi pesek. Wajahnya tidak elok seperti semula.

Ia sangat sedih. Raja Muda itu bakal mencari calon istri yang lebih cantik. Begitu pikiran yang memenuhi kepalanya.

Sang Putri sungguh tertekan. Hatinya pun semakin bingung. Ia tidak mau membikin malu dan kecewa kedua orang tuanya. Namun, dia tidak dapat melakukan apa-apa lagi. Sang Putri lampau berdoa, "Ya Tuhan! Hukumlah hamba-Mu yang telah membikin malu kedua orang tuaku!"

Baru saja angan itu terucap, tiba-tiba petir menyambar-nyambar. Kemudian, tubuh sang Putri ditumbuhi sisik.

Ketika sisik mencapai dada, sang Putri memerintahkan dayang untuk memberi tahu ayah dan ibunya di istana. Permaisuri dan Raja tidak memandang sang Putri lagi. Yang tampak hanya seekor ular raksasa. Tak lama kemudian, ular itu masuk ke semak belukar.

Pesan moral: Bersyukurlah dan cintailah diri kita sendiri apa adanya.

Itulah dongeng romantis sebelum tidur untuk mengajarkan anak tentang kasih sayang dan empati. Semoga berfaedah untuk pengantar tidur Si Kecil, Bunda.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join organisasi Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(rap/rap)

Selengkapnya