4 Emosi yang Sering Sulit Diungkapkan Anak, Begini Cara Membantunya

Portal Kesehatan Ibu dan Anak oleh Waktu baca 6 menit 508x dilihat
4 Emosi yang Sering Sulit Diungkapkan Anak, Begini Cara Membantunya

Bagikan Postingan

Tidak semua anak mudah mengungkapkan emosi mereka ke orang tuanya, Bunda. Ada beberapa emosi yang kerap susah disampaikan anak dengan kata-kata, sehingga orang tua perlu lebih peka terhadap tanda-tandanya.

Perlu diketahui, belajar mengidentifikasi dan mengekspresikan emosi sama pentingnya dengan pelajaran akademis yang bakal anak pelajari di sekolah. Tujuan emosi adalah untuk membantu anak memahami apa yang terjadi di dalam dan di sekitar dirinya.

Nah, mengajari anak-anak untuk menyebut dan membicarakan emosi membantu mereka memahami dan mengelola emosi tersebut. Memvalidasi emosi anak juga dapat membangun kepercayaan dan mengajarkan mereka bahwa semua emosi adalah normal dan sifatnya sementara.


Lantas, emosi apa saja yang sering susah diungkapkan anak dan gimana langkah membantunya? Simak penjelasannya berikut ini!

Emosi yang susah diungkapkan oleh anak

Melansir dari laman Parents, berikut 4 emosi yang susah diungkapkan oleh anak:

1. Kemarahan

Kemarahan tidak kudu menjadi emosi negatif, Bunda. Membicarakan emosi ini dapat membantu anak-anak memperoleh pemahaman yang lebih baik tentang langkah mengelolanya.

Bagi anak-anak, kemarahan sering muncul ketika sesuatu tidak melangkah sesuai kemauan mereka, seperti ketika kawan mengambil mainan. Respons melawan alias lari menjadi aktif, dan lantaran mereka belum belajar mengatur emosi, mereka mungkin melampiaskannya dengan memukul, berteriak, alias mengamuk.

"Kemarahan mungkin tampak tidak rasional, tetapi bagi seorang anak yang belum belajar gimana mengatur emosi, itu adalah reaksi alami yang langsung terhadap suatu kesalahan yang dirasakannya," kata psikolog klinis berlisensi di Long Island, New York, Jaclyn Shlisky, PsyD.

Nah, alih-alih bereaksi hanya dengan hukuman, Bunda sebaiknya membicarakan emosi tersebut dengan anak. Bicarakanlah saat itu juga agar mereka dapat belajar menyebut emosi tersebut.

Berikut beberapa perihal yang dapat Bunda lakukan untuk membantu anak memahami emosi marahnya:

  • Identifikasi emosi anak

Katakan, "Sepertinya Anda betul-betul marah", dan tirulah ekspresi wajah marah agar mereka dapat menghubungkan kata tersebut dengan perasaan. Penting untuk tidak menggunakan kata-kata yang tegas seperti "Saya mengerti" dan lebih memilih kata-kata seperti "Sepertinya" alias "Tampaknya".

  • Jelaskan perasaannya

Mintalah anak berlatih mengatakan sesuatu seperti, "Aku betul-betul tidak suka ketika Anda mengambil mainan dari tanganku". Anak memerlukan support untuk mengidentifikasi gimana emosi mereka lantaran mereka tidak dapat mengkomunikasikannya sendiri.

  • Permudah segalanya

Salah satu langkah yang berfaedah untuk mengajarkan emosi kepada anak-anak adalah dengan menunjukkannya pada orang lain. Ini tidak hanya meningkatkan kosakata emosi, tetapi juga mengajarkan empati, ialah keahlian untuk menempatkan diri pada posisi orang lain.

2. Kesedihan

Perasaan kehilangan, kesedihan, alias kekecewaan adalah perihal yang sangat umum bagi anak-anak. Kesedihan dapat terjadi ketika seorang anak takut, merindukan seseorang, merasa dikucilkan, alias sedang mengalami sesuatu yang membikin stres.

Kesedihan sering kali berkembang akibat kekecewaan. Anak-anak kesulitan mengatur emosi mereka ketika merasa kecewa, yang menyebabkan mereka mengalami kesedihan.

Berikut beberapa langkah yang bisa Bunda ambil ketika anak mengalami kesedihan:

  • Identifikasi emosi tersebut

Anak-anak memerlukan perangkat untuk dapat mengatakan, "Saya merasa sedih karena...". Jika tidak, mereka bakal belajar bahwa emosi mereka dapat ditekan dan mereka tidak bakal belajar gimana menyebut argumen sebenarnya dari kesedihan tersebut.

  • Jelaskan perasaannya

Misalnya anak Anda kehilangan boneka kesayangannya dan merasa sedih, jangan terburu-buru mengalihkan perhatiannya alias menyuruhnya diam. Sebaliknya, duduklah bersamanya, berikan pelukan, kenyamanan, alias sekadar waktu tenang untuk menangis hingga meluapkan perasaannya.

Orang tua juga perlu menunjukkan bahwa emosi bukanlah sesuatu yang perlu mereka coba tutupi alias membikin mereka malu.

  • Permudah segalanya

Hindari kesalahan dengan menyuruh anak untuk "mengungkapkan perasaan" ketika mereka kesal. Meskipun tampak membantu, perihal itu tidak selalu merupakan angan yang realistis, terutama ketika anak tetap belajar menghubungkan sensasi bentuk di tubuh mereka dengan bahasa emosional.

Jika anak tidak mempunyai kata-kata untuk menggambarkan apa yang mereka rasakan, mereka dapat menunjuk ekspresi yang sesuai dengan emosi tersebut dengan menggunakan emoji alias sesuatu yang disukai.

3. Ketakutan

Meskipun anak-anak tidak dilahirkan dengan rasa takut, emosi itu dapat muncul dari kekhawatiran dan kekhawatiran. Beberapa ketakutan adalah perihal yang wajar dalam perkembangan anak, seperti takut pada orang asing, kegelapan , dan terpisah dari orang tua mereka.

"Ketika anak-anak mini merasa takut, itu melibatkan beberapa tingkat persepsi tentang bahaya," ujar Gleicher.

Simak langkah membantu anak mengelola rasa takut ini berikut:

  • Identifikasi emosi anak

Ada beberapa ketakutan yang tidak selalu bisa kita lindungi anak-anak, seperti peristiwa dunia alias buletin utama yang menakutkan. Pada saat-saat seperti itu, krusial untuk memvalidasi kekhawatiran anak tentang situasi tersebut, daripada meremehkan emosi mereka dengan mengatakan bahwa semuanya bakal baik-baik saja.

"Bersikaplah tenang dan lugas saat melahirkan agar anak merasa aman," ujar Shlisky.

  • Jelaskan perasaannya

Bunda juga bisa menunjukkan empati dengan mengatakan, "Saya juga kadang merasa seperti itu", dan mendorong anak untuk bertanya apa pun tentang perihal tersebut. Jika Bunda sebenarnya tidak tahu jawabannya, sebaiknya katakan bahwa Bunda bakal mencari langkah untuk mempelajari lebih lanjut dan bakal memberi tahu mereka jawabannya nanti.

"Terkadang anak-anak kita perlu memberi tahu kita sesuatu hanya lantaran perihal itu terlalu berat untuk mereka tanggung sendiri," kata Shlisky.

  • Permudah segalanya

Bagi anak-anak yang lebih mini yang kesulitan menjelaskan akar ketakutan, bercerita, memeragakan situasi, alias membaca kitab tentang situasi yang sangat menakutkan dapat membantu. Para mahir merekomendasikan buku-buku seperti The Color Monster dan Wemberly Worried untuk membantu memulai percakapan tersebut.

4. Kecemburuan

Kecemburuan adalah emosi yang mudah dirasakan dan sering diungkapkan. Tetapi, konsep kecemburuan susah dijelaskan ke anak, Bunda. Meskipun sering digambarkan sebagai emosi alias pikiran tentang rasa tidak kondusif alias cemas atas kurangnya keamanan, kecemburuan juga bisa berupa emosi tidak mampu, tidak berdaya, alias dendam.

Perasaan iri sering berakar pada kebutuhan perseorangan yang tidak terpenuhi. Hal itu dapat berkembang dari kurangnya kepercayaan dan seringkali menyebabkan rasa tidak aman," kata psikolog Francyne Zeltser, PsyD.

Berikut beberapa langkah yang dapat Bunda lakukan untuk membantu anak mengelola emosi ini:

  • Identifikasi perasaan

Cobalah untuk mengalihkan konsentrasi dari barang-barang materi ke kekayaan non-moneter yang diberikan keluarga. Misalnya, Bunda dapat menghabiskan lebih banyak waktu dengan anak-anak. Tunjukkan hal-hal positif sehingga kita dapat mengubah narasi dari emosi tidak bisa menjadi emosi percaya diri.

  • Permudah segalanya

Ketika rasa berprasangka muncul, bakal sangat membantu jika Bunda mempersiapkan anak untuk sukses sejak dini. Jika kita tahu bakal ada peristiwa yang berpotensi memicu rasa cemburu, maka beri tahu mereka terlebih dahulu. Jika anak sudah mulai merasa cemburu, krusial untuk mengakui emosi mereka.

"Orang tua perlu memvalidasi emosi dan mengakui emosi anak," ujar Zeltser.

Demikian empat jenis emosi yang dapat dirasakan anak dan langkah orang tua membantu mengelolanya. Semoga info ini berfaedah ya, Bunda.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join organisasi Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(ank/rap)

Artikel Lainnya Portal Kesehatan Ibu dan Anak
↑
Close Right Ads
Close Left Ads