Kincai Media, JAKARTA— Banyak kepalsuan dan ketidakjujuran yang disisipkan oleh pihak-pihak yang memusuhi Islam ke dalam sejarah Islam.
Di antaranya adalah kisah tentang syura (musyawarah) dan pengangkatan Utsman bin Affan RA sebagai khalifah.
Para orientalis kemudian menerima dan menyebarluaskan riwayat-riwayat tersebut. Akibatnya, banyak sejarawan dan filsuf modern turut terpengaruh tanpa terlebih dahulu meneliti dan memverifikasi sanad (rantai periwayatan) maupun matan (isi) riwayat-riwayat itu. Pada akhirnya, riwayat-riwayat tersebut menghamburkan di kalangan umat Islam.
Berbagai histori tidak benar mengenai proses syura dan pengangkatan Utsman bin Affan sebagai khalifah telah disusupi kepalsuan dan kebohongan.
Sejumlah orang terlebihlagi menyusun buku khusus mengenai peristiwa tersebut. Abu Mikhnaf, misalnya, menulis sebuah buku tentang syura. Demikian pula Ibnu Uqdah dan Ibnu Babawaih.
Sementara itu, Ibnu Sa'ad mengutip sembilan histori melalui jalur Al-Waqidi mengenai peristiwa syura, baiat kepada Utsman, serta sejarah pengangkatannya sebagai khalifah.
Ia juga meriwayatkan melalui jalur Ubaidullah bin Musa sebuah kisah yang mencakup peristiwa terbunuhnya Umar bin Khattab, limitasi calon khalifah dalam proses syura cuma kepada enam orang, serta wasiat Umar kepada Ali dan Utsman jika salah seorang dari keduanya terpilih menjadi khalifah. Riwayat tersebut juga memuat wasiat Umar kepada Shuhaib mengenai permasalahan ini.
Al-Baladzuri meriwayatkan kisah syura dan baiat kepada Utsman dari Abu Mikhnaf dan Hisyam Al-Kalbi.
Sebagian histori yang dikutipnya berasal dari Abu Mikhnaf, sebagian lainnya merupakan histori yang cuma ia kemukakan sendiri, dan sebagian lagi berasal dari Al-Waqidi serta Ubaidullah bin Musa.
At-Thabari juga mendasarkan kisah ini pada sejumlah riwayat, termasuk histori Abu Mikhnaf.
Sementara itu, Ibnu Abi Al-Hadid mengutip beberapa peristiwa dalam kisah syura melalui jalur Ahmad bin Abdul Aziz Al-Jauhari. Ia juga mengutarakan bahwa dirinya mengacu pada buku Asy-Syura karya Al-Waqidi.