Perkembangan kepintaran buatan alias Artificial Intelligence (AI) sekarang kian bergerak cepat. Supaya tak kebablasan, orang tua perlu tahu langkah membicarakan AI dengan anak.
Ya, sebelumnya platform AI kudu dicari secara khusus. Namun sekarang beragam fitur AI sudah terintegrasi dalam mesin pencari, media sosial, apalagi ada di aplikasi yang sering digunakan anak.
Oleh karena itu, pembatasaan screen time saja sudah tak lagi cukup. Bunda perlu membangun komunikasi terbuka agar anak memahami manfaat, risiko, serta batas dalam menggunakan AI.
Diharapkan perihal ini juga bisa menjadi bekal bagi anak, agar seiring bertambah usia mereka dapat memanfaatkan teknologi secara bertanggung jawab.
Kata master tentang akibat AI pada anak
Peneliti teknologi dan AI dari University of Pittsburgh, Elise Silva, mengawasi pentingnya orang tua berbincang secara terbuka dengan anak tentang perihal ini.
"Menurut saya, tidak membicarakan AI kepada anak sama seperti memberikan mereka kunci mobil tanpa petunjuk langkah menggunakannya," ujar Silva, seperti dikutip dari CBS News.
Silva mengatakan bahwa orang tua tidak kudu menjadi mahir teknologi untuk dapat berbincang mengenai AI.
Bunda bisa memulai obrolan santuy dengan pertanyaan seperti, "Apa yang Anda ketahui tentang teknologi ini? Apakah teman-temanmu menggunakannya? Untuk apa mereka memakainya?".
Sampaikan bahwa AI bukanlah sesuatu yang berkarakter pasti. AI tidak memberikan kebenaran, tapi menghasilkan apa yang menurut sistem merupakan perkiraan terbaik mengenai respons berikutnya.
Ketika anak menggunakan platform AI, maka tanpa sadar dia sedang 'menukar' informasi pribadinya. Menurut Silva, informasi tersebut bisa saja digunakan oleh perusahaan untuk terus melatih model AI mereka sekaligus mengembangkan produknya.
Cara membicarakan AI dengan anak
Lalu apa saja tips-tips yang bisa dilakukan Bunda sebagai langkah membicarakan AI dengan anak? Berikut ulasannya:
1. Jelaskan bahwa AI bukanlah teman
Dikutip dari Huffington Post, salah satu topik obrolan yang perlu disampaikan orang tua adalah bahwa AI tidak selalu bisa diandalkan. Meskipun AI terlihat cerdas, tapi ini bukan manusia, apalagi teman.
Orang tua dapat menetapkan patokan yang tegas di rumah. Misalnya, AI tidak boleh dijadikan tempat mencari support emosional alias kawan berbagi rahasia.
AI bisa saja memberikan saran yang tidak aman, mendorong anak menyimpan rahasia, mengirimkan pesan yang tidak pantas, apalagi menggantikan komunikasi dengan orang-orang di bumi nyata.
Jika perlu, bicarakan perihal ini secara terbuka dan tanyakan apakah anak pernah meminta saran kepada AI tentang masalah pribadi.
Gunakan kesempatan tersebut untuk menjelaskan bahwa chatbot bukanlah kawan dan tidak boleh menggantikan percakapan dengan family alias orang-orang yang dipercaya.
2. Berhati-hati menggunakan foto di AI
Kasus manipulasi foto dengan support AI sekarang semakin meningkat, termasuk di lingkungan sekolah. AI bisa menghasilkan foto, video, maupun rekaman bunyi tiruan yang tampak sangat nyata.
Konten seperti ini dapat digunakan untuk perundungan, pelecehan, pemerasan, hingga penipuan.
Ajarkan kepada anak bahwa mereka tidak boleh mengedit foto orang lain tanpa izin, tidak mudah percaya terhadap apa yang dilihat di internet, serta tidak ikut menyebarkan maupun berinteraksi dengan konten semacam itu.
3. AI tidak boleh menggantikan proses belajar
Menggunakan AI saat mengerjakan pekerjaan rumah mungkin terasa sangat membantu. Namun andaikan dilanjutkan dan digunakan secara berlebihan, proses berpikir anak bisa tergantikan.
Selain itu, AI juga dapat memberikan jawaban yang terdengar meyakinkan, tetapi sebenarnya keliru. Karena itu, ajarkan anak menggunakan AI sebagai pendukung proses belajar, bukan sebagai pengganti.
AI dapat dimanfaatkan untuk mencari buahpikiran alias membantu memahami materi yang belum dipahami. Dengan demikian, proses berpikir utama tetap kudu dilakukan oleh anak sendiri.
4. Izinkan anak screen time di ruang bersama
Sebisa mungkin, usahakan penggunaan gadget oleh anak dilakukan di ruang bersama, bukan secara tertutup alias sendirian.
Bunda juga dapat menonaktifkan fitur autoplay untuk mengurangi kebiasaan video menggulir tanpa henti, mengunci pembelian dalam aplikasi, serta meninjau pengaturan fitur percakapan (chat) berbareng anak.
5. Ajarkan anak untuk selalu memeriksa kebenaran info dari AI
Anak perlu memahami bahwa AI bukanlah sumber info yang selalu benar. Meskipun jawaban yang diberikan terdengar meyakinkan, AI dapat menghasilkan info yang keliru.
Biasakan anak untuk tidak langsung mempercayai setiap jawaban dari AI. Dorong mereka untuk memeriksa kembali info tersebut melalui sumber yang terpercaya, seperti buku, situs resmi pemerintah alias lembaga pendidikan, maupun dengan bertanya kepada pembimbing alias orang tua.
Bunda juga bisa membujuk anak melakukan latihan sederhana. Misalnya, mintalah AI menjawab suatu pertanyaan, kemudian bandingkan jawabannya dengan info dari ensiklopedia, kitab pelajaran, alias situs resmi.
Dengan langkah ini, anak bakal belajar bahwa AI merupakan perangkat bantu yang bermanfaat, tetapi tetap memerlukan keahlian berpikir kritis sebelum dibagikan kepada orang lain.
Waspadai tanda-tanda yang perlu diperhatikan
Gadget dan teknologi memang menjadi bagian dari kehidupan saat ini. Anak-anak apalagi bakal terus berinteraksi dengan teknologi hingga dewasa, baik dalam kehidupan sehari-hari maupun bumi kerja.
Namun demikian, ada beberapa tanda yang perlu diwaspadai lantaran bisa menunjukkan bahwa penggunaan teknologi alias AI mulai berakibat kurang baik, antara lain:
- Sering bermain ponsel, termasuk menggunakan media sosial, hingga larut malam
- Menjadi lebih tertutup mengenai penggunaan ponsel
- Menyembunyikan layar ponsel saat ada orang lain di dekatnya
- Mengalami perubahan suasana hati alias perilaku setelah menggunakan internet
- Menjadi semakin terobsesi dengan penampilan fisik
- Mulai menunjukkan pandangan yang sangat ekstrem
Apabila anak mulai menjauh dari pertemanan di bumi nyata dan lebih memilih berjuntai pada AI saat menghadapi masalah, ini sudah waktunya Bunda untuk segera membuka ruang komunikasi.
Ajukan pertanyaan mengenai AI, gimana pendapat anak tentang teknologi tersebut, serta konten apa saja yang mereka temui.
Dengarkan terlebih dulu cerita anak sebelum memberikan nasihat. Percakapan singkat tetapi dilakukan secara rutin biasanya lebih efektif, dibandingkan obrolan yang terlalu panjang dan 'berat'.
Itulah penjelasan tentang cara-cara membicarakan AI dengan anak. Jadikan pembahasan mengenai AI sebagai topik yang wajar dibicarakan di rumah ya, Bunda. Dengan begitu, anak bakal merasa nyaman untuk bercerita.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join organisasi Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(fir/fir)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·