Cara Mengenali Orang Egois Dari 9 Ucapan Yang Sering Mereka Katakan Saat Ngobrol

Aug 14, 2026 11:06 AM - 14 jam yang lalu 277

Bunda mungkin pernah berhadapan dengan seseorang yang terlihat baik dan menyenangkan, tetapi tanpa sadar selalu mementingkan dirinya sendiri. Sifat egois seperti ini terkadang tidak mudah dikenali lantaran bisa tersembunyi di kembali langkah bicara sehari-hari.

Namun, ucapan tertentu dapat menjadi petunjuk untuk mengenali orang yang condong hanya memikirkan dirinya sendiri. Terlebih jika kalimat tersebut terus diucapkan dalam situasi yang sama dan membikin Bunda merasa tidak dihargai.

Dengan mengenali ucapan yang sering mereka gunakan, Bunda bisa lebih bijak menjaga jarak dan tidak ikut terseret daya negatifnya.


9 Ucapan yang sering dikatakan orang egois saat ngobrol

Dilansir Your Tango, orang yang menggunakan beberapa kalimat ini dalam percakapan santai, mereka mungkin punya sifat egois secara mental dan emosional.

1. “Aku hanya bicara jujur”

Meskipun jujur sering dikaitkan dengan kebaikan, ada saat-saat ketika kalimat seperti ini dapat menunjukkan sifat original seseorang. Kata-kata menyakitkan dengan kedok kejujuran tetap menyakitkan untuk didengar.

Lebih mudah bagi mereka untuk lolos dengan perilaku egois ketika menunjuk jari pada orang lain. Menggunakan kejujuran sebagai penutup untuk keegoisan mereka membikin orang percaya bahwa mereka mempunyai kepentingan terbaik, meskipun itu jauh dari kebenaran.

2. “Aku tidak bakal melakukan itu”

Bunda tentu pernah mengalami saat-saat ketika seseorang memberikan pendapatnya apalagi jika itu tidak beralasan. Ini bisa menjadi sistem yang dipikirkan dengan matang.

Menempatkan diri terlebih dulu dapat membikin mereka terlalu menghakimi dan memandang hal-hal sebagai langkah mereka. Ketika dapat mengendalikan Bunda, mereka mendapatkan apa yang mereka inginkan, yang memberi makan kebutuhan egoisnya. 

Memainkan perilaku ini sebagai saran yang berfaedah memungkinkan mereka untuk menyembunyikan niat yang sebenarnya, ialah hanya untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan.

Ideologi yang berpusat pada diri sendiri jarang bakal menguntungkan siapa pun selain orang yang manipulatif. Jika mereka dapat membujuk untuk tidak mengambil keputusan dengan membikin orang lain merasa bersalah alias salah, mereka telah melakukan pekerjaannya.

3. “Aku melakukan segalanya untukmu”

Membuat seseorang merasa bersalah (guilt-tripping) bisa menjadi masalah serius dalam hubungan, baik hubungan romantis maupun pertemanan.

Seseorang yang sering mengungkit kebaikan alias bantuannya kepada kita bisa saja tidak betul-betul tulus.

Ketika mereka membikin Bunda merasa bersalah atas semua perihal yang sudah mereka lakukan, bisa jadi mereka sebenarnya mengharapkan sesuatu sebagai hadiah alias mau mempunyai kendali atas Bunda.

4. “Aku tidak berurusan dengan ini”

Sering kali, orang yang menggunakan kalimat seperti ini sebenarnya sedang berupaya menyembunyikan sesuatu. Mengalihkan pembicaraan menjadi langkah paling mudah untuk menghindari tekanan dan bisa menjadi corak pertahanan diri.

Mereka mungkin berambisi Bunda berakhir membahas masalah tersebut dan mengakhiri percakapan, sehingga mereka tidak perlu menghadapi kesalahan sendiri alias membuka diri untuk memberikan support emosional.

5. “Kamu selalu salah”

Beberapa orang mungkin lebih konsentrasi pada diri sendiri dan gimana perlakuan orang-orang di sekitarnya memengaruhi emosi mereka.

Menyalahkan orang lain membikin mereka merasa lebih unggul dan semakin percaya bahwa dirinya selalu benar, sementara orang lain yang salah.

Orang seperti ini sering mengira bahwa semua orang di sekitarnya selalu salah. Mereka condong memandang segala sesuatu hanya dari dua sisi, betul alias salah, dan menganggap orang lain semestinya berpikir seperti dirinya. Ketika ada yang mempunyai pendapat berbeda, mereka menganggapnya sebagai sesuatu yang keliru.

6. “Aku tidak punya daya untuk itu”

Ada kalanya seseorang sedang menghadapi banyak perihal dalam hidupnya sehingga tidak mempunyai tenaga untuk membantu alias mendengarkan orang lain.

Hal tersebut wajar dan semestinya tetap dihargai. Namun, sebagian orang bisa menggunakan argumen seperti “Aku nggak punya energi” untuk menghindari tanggungjawab datang bagi orang lain.

Bagi orang yang egois, menghabiskan waktu untuk dirinya sendiri terasa lebih penting, sementara membantu orang lain dianggap sebagai beban alias gangguan.

7. “Kamu selalu membikin semua tentang kamu”

Orang yang egois biasanya tidak suka jika perhatian tertuju pada orang lain. Mereka mau mengendalikan percakapan agar pembahasannya kembali berpusat pada diri mereka.

Ketika Bunda mencoba bercerita tentang kehidupan alias masalah sendiri, mereka bisa bersikap melindungi lantaran merasa perhatian yang didapatkan berkurang. Membuat Bunda merasa bersalah menjadi langkah untuk mengalihkan perhatian kembali kepada mereka.

Orang yang seperti ini sebenarnya sering melakukan perihal yang justru mereka tuduhkan kepada orang lain.

Mereka tidak betul-betul mau mendengarkan cerita, pendapat, alias emosi Bunda, tetapi selalu mau didengarkan ketika membicarakan dirinya sendiri.

8. “Kamu tidak peduli”

Penting untuk menyadari bahwa orang seperti ini sering merasa masalah yang mereka hadapi jauh lebih berat dibandingkan orang lain di sekitarnya.

Ketika menceritakan kesulitannya, mereka biasanya berambisi mendapatkan simpati. Mereka mau Bunda memberikan perhatian dan meyakinkan bahwa emosi mereka memang valid.

Jika tidak merespons seperti yang mereka harapkan, Bunda apalagi bisa dianggap sebagai orang yang jahat, meskipun sebenarnya sudah berupaya memberikan dukungan.

9. “Terserah”

Orang seperti ini biasanya menginginkan perhatian sesuai dengan keinginannya. Ketika Bunda mengatakan sesuatu lampau mereka menjawab, “Terserah,” itu bisa menjadi tanda bahwa mereka tidak mendapatkan respons yang diharapkan. Akibatnya, Bunda merasa bersalah dan bingung, yang justru bisa menjadi tujuan mereka.

Mereka juga bisa menggunakan ucapan seperti ini untuk mengabaikan masalah alias emosi orang lain.

Mereka mungkin tidak mau ikut memikirkan masalah orang lain dan memilih menghindari pembicaraan tersebut. Dengan mengatakan “Terserah”, mereka berupaya mengakhiri pembicaraan alias mengalihkan fokusnya.

Nah, itulah beberapa ucapan yang sering dikatakan orang egois saat ngobrol. Semoga bermanfaat, ya, Bunda.

Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join organisasi Kincai Media Squad. Daftar dan klik di SINI. Gratis!

(asa/som)

Selengkapnya