Saat emosi memuncak, seseorang sering kali mengucapkan kata-kata tanpa berpikir panjang. Padahal, pilihan kalimat yang kurang tepat dapat memperkeruh suasana dan membikin perdebatan semakin susah diselesaikan.
Dalam situasi penuh tekanan, setiap orang tentu punya langkah berbeda untuk meresponsnya. Ada yang melawan, menghindar, diam, alias justru mengalah demi menghentikan pertengkaran. Respons tersebut kerap dipengaruhi oleh kondisi emosi saat itu.
Oleh lantaran itu, memahami kalimat yang sebaiknya dihindari saat berdebat sangatlah penting. Dengan memilih kata yang tepat, bentrok dapat mereda sehingga komunikasi melangkah baik.
5 Kalimat yang dapat memperkeruh pertengkaran
Berikut beberapa kalimat yang sebaiknya Bunda hindari untuk mencegah terjadinya perdebatan sengit saat diskusi.
1. “Kamu selalu…”
Penulis kitab Think Faster, Talk Smarter: How to Speak Successfully When You're Put on the Spot, Matt Abrahaman, menjelaskan bahwa Bunda perlu menyadari tanda-tanda pertengkaran muncul saat diskusi. Dilansir CNBC, dia menjelaskan salah satu indikasi utama yang memicu pertengkaran adalah penggunaan bahasa yang menuduh.
Kalimat dengan kata “selalu” alias “tidak pernah” adalah pemicu besar dan membikin susah untuk konsentrasi pada potensi relevansi dari apa yang dikatakan lantaran pendengar condong memikirkan pengecualian daripada saat-saat perihal itu terjadi.
2. “Ini lantaran kamu”
Ungkapan seperti “ini lantaran kamu” alias “ini bukan salahku” sering dianggap sebagai corak pengalihan tanggung jawab.
Orang yang menyampaikan kalimat tersebut sama sekali tidak bertanggung jawab atas tindakan alias kata-katanya.
Hal ini menciptakan dinamika yang mengarah pada saling menyalahkan, alih-alih menyelesaikan situasi bersama. Ini mencegah orang untuk memandang perspektif satu sama lain dan menghargai emosi orang lain.
3. “Kamu tidak mendengarkanku”
Kalimat ini juga sebaiknya dihindari saat berdebat lantaran terdengar seperti tuduhan dan penilaian terhadap musuh bicara, Bunda.
Kalimat “kamu tidak mendengarkanku” dapat membikin seseorang merasa disalahkan alias diserang sehingga memicu sikap defensif, alih-alih mendorong mereka untuk betul-betul mendengarkan.
4. “Aku tidak percaya”
Meskipun diucapkan lantaran frustrasi, kata-kata ini bisa sangat menyakitkan bagi musuh bicara. Kata-kata itu dapat membikin orang lain merasa ditolak dan kurang bersedia untuk berupaya mencari solusi.
5. "Tenanglah"
Sementara itu mengutip Parade, psikolog lain mengungkapkan bahwa frasa yang paling sigap memperparah pertengkaran adalah "Tenanglah." Hal ini terjadi lantaran frasa tersebut memicu pengabaian emosional, Bunda. Akibatnya musuh bicara merasa tidak dihargai.
Ungkapan ini dinilai tidak menunjukkan empati, terasa menghina, dan terdengar merendahkan. Ini adalah salah satu kata pemicu bentrok terbesar dalam hubungan.
Cara mencegah pertengkaran dengan cerdas
Mengasah keahlian penyelesaian bentrok dapat membantu Bunda menjaga hubungan tetap baik, memperdalam ikatan, dan apalagi meraih kesuksesan di tempat kerja. Berikut beberapa langkah mencegah pertengkaran dengan pandai yang Bunda ikuti:
1. Mengendalikan emosi saat mulai meningkat
Bunda tidak dapat berkedudukan menurunkan ketegangan dalam sebuah argumen sebelum meningkat ke tingkat kemarahan, saling menyalahkan, dan penghinaan.
2. Berusaha memahami perspektif orang lain
Ketika menghadapi argumen, biasanya tujuannya adalah untuk didengar dan dilihat. Namun, terkadang perihal itu menghalangi Bunda untuk mengesampingkan agenda sendiri dan konsentrasi pada pikiran dan emosi orang lain.
Ada baiknya konsentrasi pada apa yang dikatakan orang lain sebelum mengkhawatirkan apakah Bunda sendiri dilihat dan didengar.
Cobalah untuk betul-betul memahami perspektif pandang orang lain dan kenapa mereka merasa seperti itu.
3. Fokus pada masalah saat ini
Perdebatan sering kali dimanfaatkan untuk mengungkit kesalahan masa lalu, tetapi itu bukan waktu yang tepat.
Mengungkit bentrok lama sering kali menambah ketegangan yang tidak perlu dan membikin orang merasa diserang. Dengan memusatkan obrolan pada masalah saat ini, bakal lebih mudah untuk mencari solusi.
4. Klarifikasi pemahaman sebelum memberikan tanggapan
Perdebatan sering bermulai dari kesalahpahaman sederhana. Klarifikasi dapat menghentikan eskalasi sejak dini.
Jika kandas memahami inti dan kekhawatiran perspektif orang lain, mudah untuk teralihkan oleh perdebatan tentang perincian yang tidak penting.
Klarifikasi apa yang mereka sampaikan juga menunjukkan bahwa Bunda peduli dengan apa yang mereka katakan dan mau memahaminya.
5. Sampaikan buahpikiran sebagai saran bukan serangan
Sederhananya, perihal itu mengurangi ketegangan, dan mungkin Bunda juga bisa mencapai tujuan sebagai hasilnya. Adopsi sikap rendah hati dan kolaboratif untuk beranjak dari perdebatan ke penyelesaian konflik.
Demikian beberapa kalimat yang sebaiknya dihindari agar tidak memperkeruh pertengkaran. Semoga bermanfaat, ya, Bunda.
Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join organisasi Kincai Media Squad. Daftar dan klik di SINI. Gratis!
(asa/som)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·