5 Kesalahan Diet Ibu Menyusui yang Bikin Berat Badan Sulit Turun

Jun 17, 2026 09:40 AM - 1 bulan yang lalu 50833

Menurunkan berat badan setelah melahirkan sering kali tidak semudah yang dibayangkan. Banyak ibu menyusui sudah berupaya mengatur pola makan, mengurangi camilan, apalagi rutin berolahraga, tetapi nomor di timbangan seolah tidak bergerak.

Jika Bunda sedang mengalami perihal yang sama, jangan langsung menyalahkan diri sendiri. Faktanya, ada beragam aspek biologis dan perubahan tubuh setelah melahirkan yang dapat membikin proses menurunkan berat badan setelah melahirkan menjadi lebih lambat dibandingkan sebelum hamil.

5 Kesalahan diet ibu menyusui yang bikin berat badan susah turun

Mulai dari hormon menyusui, pola makan yang terlalu ketat, hingga kekurangan nutrisi tertentu, semuanya bisa memengaruhi keahlian tubuh membakar lemak. Berikut lima kesalahan diet ibu menyusui menurunkan berat badan susah turun. 


1. Tubuh sedang melindungi produksi ASI

Salah satu argumen terbesar kenapa berat badan susah turun saat menyusui adalah lantaran tubuh memang dirancang untuk menjaga produksi ASI tetap optimal. Selama masa menyusui, hormon prolaktin dan oksitosin bekerja untuk membantu pembentukan dan pengeluaran ASI. Namun, prolaktin juga memberi sinyal pada tubuh untuk mempertahankan sebagian persediaan lemak sebagai sumber daya selama proses menyusui.

Artinya, jika Bunda tetap mempunyai beberapa kilogram berat badan yang belum turun setelah melahirkan, bukan berfaedah program diet gagal. Bisa jadi tubuh sedang menjalankan kegunaan biologisnya untuk memastikan kebutuhan nutrisi Si Kecil tetap terpenuhi.

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa banyak wanita secara alami menyimpan sekitar 2 hingga 5 kilogram lemak tambahan selama masa menyusui. Cadangan ini berfaedah sebagai sumber kalori dan masam lemak esensial yang diperlukan untuk memproduksi ASI. Karena itu, tidak sedikit ibu yang baru mulai mengalami penurunan berat badan lebih signifikan ketika gelombang menyusui berkurang alias saat memasuki masa penyapihan.

2. Kurang makan alias terlalu membatasi karbohidrat

Saat mau segera menghilangkan berat badan setelah melahirkan, banyak ibu tergoda untuk mengurangi kalori secara drastis alias apalagi menghindari karbohidrat. Padahal, langkah ini justru bisa menghalang ibu menurunkan berat badan setelah melahirkan. 

Selain itu, ada dua akibat utama jika ibu terlalu sedikit asupan daya dapat menimbulkan dua akibat utama. 

Tubuh mempunyai prioritas utama, ialah memastikan bayi tetap mendapatkan ASI yang cukup. Ketika tubuh mendeteksi kekurangan kalori dalam jangka waktu tertentu, tubuh bakal berupaya mempertahankan produksi ASI dengan langkah memperlambat proses pembakaran lemak. Dengan kata lain, tubuh lebih memilih menyimpan persediaan daya daripada mengambil akibat mengurangi pasokan ASI untuk bayi.

  • Metabolisme menjadi lebih lambat

Mengonsumsi makanan jauh di bawah kebutuhan daya harian secara terus-menerus dapat memengaruhi hormon tiroid yang berkedudukan dalam mengatur metabolisme. Akibatnya, jumlah kalori yang dibakar tubuh saat beristirahat menjadi lebih sedikit, sehingga Bunda menurunkan berat badan setelah melahirkan justru semakin susah terjadi.

3. Mengalami stres kronis

Menjadi ibu baru adalah pengalaman yang membahagiakan, tetapi juga bisa sangat melelahkan. Kurang tidur, mengurus bayi sepanjang hari, menyelesaikan pekerjaan rumah dan beragam tanggung jawab lainnya dapat membikin tingkat stres meningkat tanpa disadari.

Ketika stres berjalan terus-menerus, tubuh menghasilkan hormon kortisol dalam jumlah lebih tinggi. Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat menyebabkan: 

  • Tubuh lebih condong menyimpan lemak, terutama di area perut.
  • Nafsu makan meningkat, terutama terhadap makanan tinggi gula dan lemak.
  • Kualitas tidur menurun.
  • Metabolisme menjadi kurang efisien.
  • Tubuh lebih susah menggunakan persediaan lemak sebagai sumber energi.

Jika Bunda merasa susah menurunkan berat badan setelah melahirkan, sering menginginkan makanan manis alias berlemak dan berat badan bertambah terutama di bagian perut, bisa jadi stres kronis menjadi salah satu penyebabnya.

4. Gula darah tidak stabil dan terjadi resistensi insulin

Kebiasaan melewatkan waktu makan alias terlalu sering mengonsumsi makanan manis dapat menyebabkan kadar gula darah naik turun dengan cepat. Kondisi ini membikin hormon insulin terus meningkat. Padahal, ketika kadar insulin tinggi dalam waktu lama, tubuh condong lebih mudah menyimpan lemak dibandingkan membakarnya.

Setelah melahirkan, sensitivitas insulin juga dapat menurun sementara akibat perubahan hormon, kurang tidur, dan stres. Akibatnya, makanan tinggi karbohidrat yang mungkin tidak menimbulkan masalah sebelum mengandung sekarang dapat menyebabkan lonjakan gula darah yang lebih tinggi, diikuti penurunan yang cepat. Siklus ini sering memicu:

  • Rasa lapar yang datang lebih cepat
  • Keinginan mengonsumsi makanan manis
  • Tubuh mudah lelah
  • Sulit berkonsentrasi
  • Berat badan yang susah turun

5. Kekurangan mikronutrien yang mendukung metabolisme

Banyak ibu konsentrasi menghitung kalori, tetapi lupa memperhatikan kualitas nutrisi yang dikonsumsi. Padahal selama hamil, melahirkan, dan menyusui, tubuh menggunakan banyak vitamin serta mineral untuk mendukung tumbuh kembang bayi. Akibatnya, persediaan nutrisi ibu bisa berkurang secara bertahap.

Kondisi ini sering disebut sebagai postpartum nutrient depletion alias penurunan persediaan nutrisi setelah melahirkan. Ketika persediaan nutrisi krusial mulai menipis, beragam kegunaan tubuh dapat terpengaruh, termasuk metabolisme tubuh, produksi hormon tiroid, tingkat daya harian, pemulihan pascapersalinan dan keahlian tubuh membakar lemak. 

Akibatnya, berat badan setelah melahirkan bisa menjadi lebih susah turun meskipun Bunda merasa sudah menjaga pola makan dengan baik.

Mikronutrien yang sering jadi penyebab:

1. Zat besi (iron)

Kekurangan unsur besi cukup umum terjadi setelah melahirkan, terutama jika ibu mengalami perdarahan saat persalinan. Kadar unsur besi yang rendah dapat menyebabkan tubuh mudah lelah, pusing, susah berkonsentrasi, metabolisme melambat sampai kegiatan bentuk berkurang lantaran daya rendah.

2. Yodium dan selenium

Kedua mineral ini sangat krusial untuk produksi hormon tiroid. Jika asupan yodium dan selenium tidak mencukupi, kegunaan kelenjar tiroid dapat terganggu sehingga pembakaran daya melambat, berat badan susah turun, tubuh terasa lemas dan sensitif terhadap dingin.

3. Vitamin D dan vitamin B kompleks

Vitamin D dan vitamin B berkedudukan krusial dalam menjaga keseimbangan hormon, mendukung kesehatan mental dan suasana hati, membantu metabolisme daya dan mendukung proses pembakaran lemak

Kekurangan vitamin-vitamin ini dapat membikin tubuh terasa kurang berkekuatan dan memperlambat proses menurunkan berat badan.

Jadi intinya kenapa berat badan setelah melahirkan susah turun bukan berfaedah Bunda kurang disiplin menjalani diet. Tapi, tubuh sedang mengalami banyak perubahan yang bermaksud menjaga kesehatan ibu sekaligus memastikan kebutuhan nutrisi bayi tetap terpenuhi.

Daripada konsentrasi pada diet ketat, cobalah Bunda menerapkan pola makan bergizi seimbang, tidur yang cukup, mengelola stres, dan tetap aktif bergerak setiap hari. Dengan pendekatan yang lebih sehat dan realistis, berat badan biasanya bakal turun secara berjenjang tanpa mengganggu produksi ASI.

Semoga info di atas bermanfaat, ya Bunda. 

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join organisasi Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(pri/pri)

Selengkapnya