Jakarta -
Masa menyusui adalah momen penuh kedekatan antara Bunda dan Si Kecil. Namun di kembali kehangatan itu, tidak sedikit ibu menyusui (busui) yang diliputi rasa cemas mulai dari produksi ASI hingga kondisi kesehatan bayi.
Menurut penelitian dari Loma Linda University Health, banyak ibu mengalami kesulitan saat mulai menyusui dan itu adalah perihal yang sangat wajar
5 Kondisi bikin ibu menyusui cemas
Kekhawatiran ini bisa diatasi dengan pemahaman yang tepat. Yuk, kenali 5 kondisi yang paling sering bikin busui cemas!
1. ASI terasa sedikit alias tidak keluar
Ini adalah kekhawatiran nomor satu bagi banyak ibu. Padahal, menurut World Health Organization, sebagian besar ibu sebenarnya bisa memproduksi ASI yang cukup untuk bayinya. Produksi ASI bekerja berasas prinsip supply and demand semakin sering bayi menyusu, semakin banyak ASI yang diproduksi.
Tanda ASI cukup:
- Bayi buang air mini minimal 6 kali sehari (setelah usia 5 hari), dengan warna urine bening alias kuning pucat
- Berat badan bayi naik secara berjenjang setelah sempat turun di awal (kembali normal dalam 10–14 hari)
- Bayi terlihat puas dan tenang setelah menyusu, tidak terus-menerus rewel
- Menyusu cukup sering, sekitar 8–12 kali dalam 24 jam
- Terdengar bunyi menelan saat menyusu
- Payudara terasa lebih lembut setelah menyusui
- Bayi tampak aktif, responsif, dan tidur cukup
Jika Bunda merasa ASI sedikit, coba tingkatkan gelombang menyusui dan pastikan perlekatan (latch) sudah benar.
2. Bayi sering menyusu (cluster feeding)
Banyak busui panik saat bayi terus mau menyusu, apalagi setiap jam. Padahal ini disebut cluster feeding, kondisi normal terutama pada bayi baru lahir alias saat mengalami growth spurt. Ini bukan berfaedah ASI kurang, melainkan langkah bayi meningkatkan produksi ASI.
Menurut Ikatan Dokter Anak Indonesia, fase ini biasanya terjadi di usia 2–3 minggu dan 6 minggu. Semakin sering bayi menyusu, tubuh ibu bakal merespons dengan memproduksi ASI lebih banyak (prinsip supply and demand).
Jadi, jika Si Kecil tiba-tiba jadi lebih 'nempel' dan sering minta menyusu di usia tersebut, Bunda tidak perlu panik ya. Tetap susui sesering mungkin dan pastikan Bunda juga cukup makan serta istirahat
3. Payudara nyeri alias puting lecet
Rasa sakit saat menyusui sering membikin Bunda stres apalagi mau berhenti. Di minggu-minggu pertama, rasa tidak nyaman ringan tetap tergolong normal. Namun, nyeri yang tajam, berkepanjangan, alias sampai luka bukan perihal yang boleh dianggap sepele.
Selain itu, penyebab paling umum adalah pelekatan yang kurang tepat. Selain itu, kondisi seperti mastitis juga bisa terjadi jika ada penyumbatan saluran ASI. Menurut beragam studi laktasi, penyebab paling umum adalah posisi perlekatan (latch) yang kurang tepat. Saat bayi tidak menempel dengan benar, puting bakal tertarik dan tertekan, sehingga menimbulkan rasa sakit.
Menurut American Academy of Pediatrics, posisi dan pelekatan yang betul bisa mencegah sebagian besar masalah ini. Artinya, banyak keluhan seperti puting lecet, nyeri saat menyusui, hingga bayi tidak menyusu optimal sebenarnya bisa dihindari jika teknik menyusui sudah tepat sejak awal.
Jika pelekatan kurang tepat, biasanya Bunda bakal merasakan sakit, dan bayi pun tidak mendapatkan ASI secara maksimal. Jadi, krusial banget untuk memastikan posisi menyusui sudah betul ya, Bun.
4. Bayi rewel setelah menyusu
Bunda mungkin bertanya-tanya, “Kenapa ya bayi tetap menangis padahal sudah menyusu?”
Belum tentu lantaran ASI kurang, Bunda. Bisa jadi karena:
- Bayi mau digendong
- Perut kembung
- Mengantuk tapi susah tidur
Penelitian dalam jurnal Pediatri menunjukkan bahwa tangisan bayi sering kali bukan hanya soal lapar, tapi juga kebutuhan emosional. Menurut beragam studi laktasi termasuk dari Loma Linda University Health, rewel setelah menyusu tidak selalu berfaedah ASI kurang. Ada banyak aspek lain yang bisa jadi penyebabnya.
5. Takut ASI tidak bergizi
Sebagian Bunda cemas apakah ASI yang diberikan sudah cukup nutrisi, apalagi jika pola makan sedang kurang optimal.
Faktanya, tubuh ibu secara alami memprioritaskan kualitas ASI. Bahkan saat asupan nutrisi ibu kurang, ASI tetap mengandung unsur krusial untuk bayi. Namun, Bunda tetap disarankan menjaga pola makan seimbang dan cukup cairan agar tubuh tetap sehat dan produksi ASI optimal.
Wajar saja jika Bunda mencemaskan beragam kondisi di atas, tapi tak perlu terlalu cemas dan cukup berupaya yang terbaik ya. Karena Bunda yang senang bakal membikin bayi juga bakal bahagia. Semangat mengASIhi ya Bunda!
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join organisasi Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(pri/pri)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·