Obesitas Anak Remaja Bisa Mengubah Otak Yang Berkaitan Dengan Emosi Dan Daya Ingat

Apr 23, 2026 05:10 PM - 4 jam yang lalu 216

Obesitas merupakan gangguan kesehatan kronis yang tetap sering disepelekan, baik pada orang dewasa maupun anak-anak. Padahal, selain berakibat pada tubuh, penyakit ini juga dapat memengaruhi perkembangan otak serta keahlian kognitif terutama pada anak remaja.

Berdasarkan informasi dari News Medical, nomor obesitas pada anak remaja meningkat lebih dari empat kali lipat secara dunia sejak tahun 1990 hingga 2022. Pada remaja wanita naik dari 1,7 persen menjadi 6,9 persen, sedangkan pada remaja laki-laki, dari 2,1 persen menjadi 9,3 persen.

Kenaikan nomor obesitas ini turut memicu beragam akibat kesehatan, mulai dari penyakit kardiovaskular hingga diabetes, dan kanker. Tak hanya itu, lonjakan kasus obesitas yang signifikan ini dikhawatirkan dapat menghalang tumbuh kembang anak di masa remaja, Bunda

Benar saja, sejumlah penelitian terbaru menunjukkan bahwa obesitas dapat meningkatkan akibat gangguan perkembangan otak dan emosi sejak usia 13-14 tahun. Hal ini tentu menjadi perhatian bagi orang tua, karena masa remaja merupakan fase yang sangat berbobot dalam tumbuh kembang anak.

Studi tentang kaitan obesitas anak dengan perkembangan otak

Dalam Kongres Obesitas Eropa (ECO 2025), sebuah penelitian mengungkap bahwa obesitas, khususnya obesitas perut, dapat menyebabkan pembesaran pada beberapa bagian otak. Perubahan ini diketahui tampak jelas pada hipokampus dan amigdala, Bunda.

Kedua bagian otak tersebut berkedudukan krusial dalam mengasah daya ingat dan pengendalian emosi seseorang. Oleh lantaran itu, para mahir mengingatkan bahwa perubahan yang tidak normal patut diwaspadai karena bakal mengganggu kegunaan kognitif dan emosional seorang anak, Bunda.

"Temuan kami menunjukkan bahwa obesitas perut, dapat mengganggu pembelajaran, daya ingat, dan pengendalian emosi remaja. Saya cemas tentang gimana perubahan-perubahan ini, yang terjadi pada usia 13 alias 14 tahun, dapat memengaruhi mereka di kemudian hari," kata peneliti utama, Dr. Augusto César F. De Moraes.

Temuan serupa juga diungkap dalam penelitian yang dilakukan oleh Universitas Yale. Studi mereka menunjukkan bahwa anak-anak dengan berat badan berlebih, condong mengalami perubahan pada struktur dan kegunaan otak, seperti menipisnya lapisan luar otak dan kurang optimalnya konektivitas antarbagian otak.

Kondisi-kondisi tersebut dapat berakibat pada keahlian berpikir, pengambilan keputusan, hingga prestasi akademik seorang anak. Menurut para ahli, perubahan tersebut dapat dialami anak sejak mereka berumur 9 hingga 10 tahun, Bunda.

Hasil studi mengenai bagian otak yang mengalami perubahan

Untuk memahami akibat obesitas pada perkembangan otak anak, Dr. De Moraes berbareng tim peneliti dari beragam negara, menganalisis informasi dari 3.320 peserta di studi ABCD (Adolescent Brain Cognitive Development). Mereka mengawasi perkembangan otak dan kesehatan para peserta selama beberapa tahun.

Para peserta dalam penelitian ini rata-rata berumur 9,9 tahun, Bunda. Mereka dikategorikan berasas kondisi berat badan dan lingkar pinggang. Namun sayangnya, sekitar 34,6 persen peserta termasuk dalam kategori obesitas perut.

Melalui pemindaian MRI, para peneliti menemukan bahwa anak dengan obesitas perut mempunyai ukuran hipokampus dan amigdala yang lebih besar dari kawan sebayanya. Hipokampus yang ditemukan lebih besar sekitar 6,6 persen, sementara amigdala lebih besar sekitar 4,3 persen.

Selain itu, bagian otak lain seperti talamus dan kaudatus juga mengalami peningkatan ukuran, meski tidak sebesar hipokampus dan amigdala. Temuan ini membuktikan bahwa obesitas bisa memengaruhi lebih dari satu bagian otak pada anak, Bunda.

Bagaimana pengaruh bagian otak yang tidak normal terhadap tumbuh kembang anak

Berikut beberapa akibat yang dapat terjadi akibat obesitas yang memengaruhi perubahan struktur otak pada anak, menurut para ahli:

  • Penurunan kegunaan otak: Selain memengaruhi struktur otak seperti hipokampus, amigdala, talamus, dan kaudatus, obesitas juga dapat menurunkan kegunaan otak. Menurut para ahli, penurunan kegunaan kognitif otak juga dapat berakibat pada menurunnya prestasi akademik Si Kecil, Bunda.
  • Konektivitas otak tidak optimal: Pada anak yang obesitas, konektivitas jaringan otak yang berkedudukan dalam mengambil keputusan dan kontrol kognitif condong lebih rendah. Kondisi ini dapat memengaruhi keahlian anak dalam berpikir, memahami, dan mengontrol perilaku.
  • Dampak jangka panjang: Obesitas tidak hanya memberikan akibat jangka pendek, Bunda. Dalam jangka panjang, kondisi ini dikhawatirkan dapat meningkatkan akibat gangguan memori, apalagi memungkinkan anak terkena demensia saat beranjak dewasa.

Meski demikian, para mahir di beragam studi menegaskan bahwa hubungan antara obesitas dan kesehatan otak tetap kudu diteliti. Hingga saat ini, belum dapat dipastikan apakah obesitas menjadi penyebab utama alias justru saling berkaitan.

Para mahir sepakat bahwa membentuk kebiasaan hidup sehat sejak awal merupakan langkah yang begitu penting. Selain untuk menjaga kesehatan fisik, upaya ini juga dapat mendukung perkembangan otak anak secara optimal.

Demikian penjelasan mengenai gimana obesitas pada anak remaja dapat memengaruhi perkembangan otaknya. Semoga info ini bermanfaat, Bunda.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join organisasi Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(rap/rap)

Selengkapnya