Jakarta -
Penyakit Jantung Bawaan (PJB) merupakankelainan struktur jantung yang sudah ada sejak bayi lahir. Kondisi ini merupakan salah satu kelainan bawaan tersering dan dapat terjadi pada siapa saja, apalagi pada kehamilan yang tampak normal, Bunda.
Seperti diketahui, jantung merupakan organ vital yang memegang peran krusial bagi tumbuh kembang Si Kecil. Struktur jantung yang normal sangat dibutuhkan untuk menjaga peredaran darah agar kebutuhan oksigen dan nutrisi tubuh anak tetap tercukupi.
Namun, menilik informasi dari Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), sekitar 7 sampai 8 dari 1000 bayi lahir dengan kondisi penyakit jantung bawaan pada bayi. Hal ini menjadikan PJB bayi sebagai kasus kelainan yang paling sering ditemukan, Bunda.
Bicara soal ini, banyak orang tua yang merasa khawatir, apakah PJB pada bayi bisa sembuh seiring berjalannya waktu? Lalu, apa saja indikasi PJB yang bisa dikenali sejak awal agar penanganannya tidak terlambat?
Penyebab Penyakit Jantung Bawaan (PJB)
Hingga saat ini, penyebab PJB bayi belum diketahui secara pasti, Bunda. Namun, beragam penelitian menunjukkan adanya sejumlah aspek yang dapat meningkatkan akibat terjadinya kelainan jantung bawaan pada janin.
Dikutip dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI dan Mayo Clinic, penyebab tersebut di antaranya meliputi:
1. Riwayat family dan genetik
Meskipun kasusnya tidak terlalu sering, riwayat family yang mempunyai kelainan jantung bawaan tetap bisa meningkatkan akibat bayi mengalami kondisi yang sama.
2. Paparan asap rokok saat hamil
Paparan asap rokok selama kehamilan dapat berakibat jelek bagi janin. Bukan tanpa alasan, perihal ini lantaran rokok mengandung beragam unsur rawan yang dapat mengganggu proses pembentukan organ, termasuk jantung bayi.
3. Konsumsi obat di trimester pertama
Beberapa jenis obat yang dikonsumsi pada trimester pertama kehamilan dapat berpengaruh pada perkembangan janin. Ada obat yang mempunyai pengaruh teratogenik, ialah dapat mengganggu proses pembentukan dan perkembangan organ janin.
Contohnya seperti masam retinoid yang sering digunakan untuk mengatasi jerawat, beberapa obat anti tegang serta obat untuk mengatasi kecemasan.
4. Kondisi kesehatan Bunda
Kesehatan Bunda selama kehamilan juga krusial dalam perkembangan janin. Beberapa penyakit seperti jangkitan virus (misalnya rubella) alias gangguan metabolisme tertentu dapat meningkatkan akibat terjadinya kelainan jantung pada Si Kecil.
5. Diabetes
Kadar gula darah yang tidak terkontrol sebelum dan selama kehamilan bisa meningkatkan akibat PJB pada bayi. Namun, jika kadar gula darah terkontrol dengan baik, akibat ini bisa berkurang. Sementara itu, glukosuria gestasional umumnya tidak terlalu meningkatkan akibat kelainan jantung pada bayi.
Faktor akibat penyakit jantung bawaan
Dilansir dari Kemenkes RI, gangguan yang terjadi pada setiap tahap proses perkembangan jantung dapat menimbulkan akibat yang berbeda, tergantung pada waktu terjadinya dan jenis gangguannya.
Secara umum, aspek akibat ini dibagi menjadi dua, ialah aspek intrinsik dan ekstrinsik:
1. Faktor ekstrinsik
Faktor ekstrinsik adalah aspek dari luar yang bisa mengganggu perkembangan embrio selama kehamilan. Gangguan ini terjadi lantaran paparan unsur rawan alias kurangnya nutrisi yang dibutuhkan janin.
Beberapa unsur berbisa yang disebut teratogen dapat memicu kelainan, salah satunya thalidomide yang dikenal dapat memengaruhi perkembangan jantung. Selain itu, kelebihan masam retinoat dari vitamin A juga bisa mengganggu proses pembentukan organ jika jumlahnya tidak seimbang, Bunda.
Paparan alkohol dalam jumlah tinggi selama kehamilan juga meningkatkan akibat PJB bayi. Selain itu, beberapa obat seperti antikejang dan antidepresan juga berakibat pada perkembangan janin jika tidak digunakan dengan hati-hati.
2. Faktor intrinsik
Selanjutnya, aspek intrinsik berasal dari kondisi dalam tubuh Bunda yang dapat memengaruhi perkembangan janin selama kehamilan. Penyakit seperti glukosuria dapat meningkatkan akibat kelainan jantung bawaan, terlebih jika terjadi sebelum alias di awal kehamilan.
Selain itu, gangguan metabolisme seperti Fenilketonuria alias Phenylketonuria (PKU) juga berakibat pada perkembangan organ janin, termasuk jantung. Namun, akibat ini bisa berkurang jika kondisi tersebut ditangani dengan pola makan yang tepat sejak sebelum kehamilan.
Infeksi selama kehamilan juga bisa menyebabkan gangguan serius pada janin, Bunda. Bahkan, demam tinggi di awal kehamilan pun diketahui meningkatkan akibat terjadinya kelainan jantung pada bayi.
Jenis penyakit jantung bawaan
Meskipun terdapat banyak jenis PJB, secara umum kondisi ini dapat dibagi menjadi tiga kategori seperti:
Penyakit jantung bawaan dengan kelainan di katup
Pada kondisi ini, katup jantung yang berfaedah mengatur arah aliran darah bisa tidak menutup dengan sempurna alias justru mengalami kebocoran. Akibatnya, aliran darah menjadi tidak lancar dan kerja jantung dalam memompa darah ke tubuh pun terganggu.
Penyakit jantung bawaan dengan kelainan di tembok jantung
Kelainan ini terjadi ketika tembok pemisah antara sisi kiri dan kanan, serta bagian atas dan bawah jantung, tidak terbentuk dengan sempurna. Kondisi ini menyebabkan aliran darah menjadi tidak normal, apalagi bisa kembali ke jantung alias menumpuk, sehingga membikin jantung bekerja lebih keras.
Penyakit jantung bawaan dengan kelainan di pembuluh darah
Pada kondisi ini, pembuluh darah seperti arteri dan vena yang membawa darah dari dan ke jantung tidak bekerja sebagaimana mestinya. Hal ini menyebabkan aliran darah tersendat alias tidak lancar, sehingga berisiko menimbulkan beragam masalah kesehatan.
Gejala PJB (Penyakit Jantung Bawaan) pada bayi
Penyakit jantung bawaan yang tergolong serius biasanya sudah dapat terdeteksi sejak bayi lahir alias dalam beberapa bulan pertama kehidupannya. Dilansir dari Mayo Clinic, indikasi PJB dapat meliputi:
- Warna bibir, lidah, alias kuku tampak pucat keabu-abuan alias kebiruan. Perubahan warna ini bisa terlihat lebih jelas alias samar, tergantung warna kulit bayi.
- Napas bayi menjadi lebih sigap dari biasanya.
- Terjadi pembengkakan pada beberapa bagian tubuh, seperti kaki, perut, alias area sekitar mata.
- Bayi tampak sesak saat menyusu, sehingga berat badannya susah bertambah dengan baik.
Selain itu, PJB yang tergolong lebih ringan biasanya baru terdeteksi saat anak sudah lebih besar. Gejala penyakit jantung bawaan pada anak yang lebih besar meliputi:
- Mudah merasa sesak napas saat berolahraga alias melakukan kegiatan fisik.
- Cepat capek meski hanya melakukan kegiatan ringan.
- Bisa mengalami pingsan saat sedang beraktivitas alias berolahraga.
- Terjadi pembengkakan pada tangan, pergelangan kaki, alias bagian kaki.
Apakah penyakit jantung bawaan pada anak bisa sembuh?
Ilustrasi/Foto: Getty Images/paulaphoto
Mengutip dari laman IDAI, beberapa jenis PJB tergolong ringan dan bisa menutup dengan sendirinya seiring tumbuh kembang anak. Namun, ada juga jenis yang lebih berat sehingga memerlukan penanganan medis sejak dini, apalagi segera setelah bayi lahir.
Penyakit jantung bawaan pada anak memang termasuk kondisi yang serius, tetapi tetap bisa ditangani dengan baik jika terdeteksi lebih awal. Karena itu, orang tua kudu segera memeriksakan anak ke master jika muncul tanda-tanda yang mencurigakan.
Diagnosis penyakit jantung bawaan
Diagnosis penyakit jantung bawaan pada anak perlu dilakukan sedini mungkin agar penanganannya bisa tepat dan tidak menimbulkan komplikasi serius, seperti kandas jantung, gangguan tumbuh kembang, hingga akibat kematian.
Seiring kemajuan teknologi medis, banyak anak dengan penyakit jantung bawaan pada anak sekarang mempunyai kesempatan untuk tumbuh sehat dan menjalani kegiatan seperti biasa.
PJB bayi biasanya dapat dicurigai melalui pemeriksaan fisik, misalnya dengan ditemukannya bunyi jantung yang tidak normal. Untuk memastikan diagnosis, master biasanya bakal melakukan pemeriksaan lanjutan seperti ekokardiografi.
Pengobatan penyakit jantung bawaan
Dilansir dari Kemenkes RI, pengobatan PJB bakal disesuaikan dengan penyebab serta tingkat keparahan kondisi yang dialami. Penanganan yang diberikan seperti:
1. Obat-obatan
Penggunaan obat dapat membantu mengontrol kondisi PJB, seperti diuretik untuk mengurangi kelebihan cairan dalam tubuh. Selain itu, ada juga obat seperti ACE inhibitor untuk meringankan kerja jantung serta beta-blocker untuk mengatur degub jantung.
2. Tindakan medis atau operasi
Pada beberapa kondisi, diperlukan tindakan medis seperti operasi jantung untuk memperbaiki kelainan bawaan. Selain itu, pemasangan perangkat pacu jantung hingga transplantasi jantung bisa menjadi pilihan pada kasus yang lebih berat.
3. Perubahan style hidup
Penanganan juga melibatkan pola hidup sehat, seperti pemberian nutrisi pada anak yang tepat dan pemantauan berat badan secara rutin. Anak juga mungkin perlu membatasi kegiatan bentuk sesuai rekomendasi master serta menjalani kontrol rutin ke master ahli jantung anak.
Itulah penjelasan tentang mengenal penyakit jantung bawaan pada bayi yang krusial untuk Bunda pahami sejak dini. Semoga informasinya dapat membantu, ya
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join organisasi Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(ndf/fir)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·