7 Cerita Dongeng Anak Kecil Sebelum Tidur Yang Mengajarkan Sikap Baik

May 11, 2026 06:40 PM - 1 jam yang lalu 58

Jakarta -

Membacakan dongeng sebelum anak tidur menjadi salah satu kegiatan baik yang bisa dilakukan orang tua berbareng Si Kecil. Di sela waktu sebelum istirahat, momen ini jadi waktu yang tepat untuk santuy sembari bercerita.

Kalau dibiasakan, Bunda dan Ayah bisa menyisihkan sedikit waktu setiap malamnya untuk membacakan cerita dongeng minimal satu alias dua cerita. Banyak penelitian membuktikan bahwa membacakan dongeng sebelum tidur dapat memberikan banyak manfaat.

Salah satu penelitian dari National Institutes of Health (NIH) menyebut bahwa membaca dongeng di tempat tidur sebelum tidur bisa membantu meningkatkan kualitas tidur anak.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT


Karena itu, Bunda bisa mulai memilih cerita dongeng yang bukan hanya berisikan kisah yang menarik saja, tetapi juga menanamkan sikap baik kepada Si Kecil.

Cerita dongeng anak mini sebelum tidur yang mengajarkan sikap baik

Dilansir dari kitab Kumpulan Dongeng untuk Anak karya Stella Ernes, berikut ini beberapa cerita dongeng anak mini sebelum tidur yang mengajarkan sikap baik.

1. Akal Cerdik Kelinci

Rubah yang sombong dan jahat mau berkuasa di sebuah hutan. Ia lampau menganggap dirinya menjadi raja para binatang. Tidak ada satu pun yang berani melawan Rubah. Ia pasti marah jika ada yang menuruti aturannya.

Di tepi hutan, di dalam sebuah lubang pohon yang hangat, Kelinci tinggal sendiri. Suatu hari dia keluar dari lubang untuk mencari kol. Ia melompat ke sana ke mari sampai menemukan sebuah ladang kol. Namun, ketika Kelinci bersiap memetik kol kesukaannya, berdirilah Rubah jahat di depannya.

"Berani betul kau masuk dan mau mencuri kol di ladang ini!" ucap Rubah geram.

"Aku tidak suka dengan perbuatanmu. Aku bakal melukaimu sekarang juga!".

Kelinci sangat ketakutan. Ia berpikir cepat, mencari langkah agar bisa terlepas dari kekejaman Rubah.

"Siapa bilang? Ini ladang milik Peri Sungai, sahabatku," kata Kelinci. Ia berupaya keras agar suaranya tidak bergetar lantaran rasa takut.

"Aku baru bakal menemuinya. Namun, saya butuh support agar sigap berjumpa dengannya. Maukah kau mengantarku? Sahabatku pasti bakal senang dan memberimu banyak sekali hadiah," kata Kelinci.

Rubah tertarik dengan iming-iming hadiah. Ia pun mempersilakan Kelinci naik ke punggungnya. Kelinci lampau memacu Rubah seperti seekor kuda. Semua hewan rimba yang memandang tertawa melihatnya.

Sesampainya di tepi sungai, Rubah meminta bingkisan yang dijanjikan.

"Tunggulah. Sahabatku sangat pemalu. Aku bakal mencarinya. Sementara itu, celupkan ekormu ke air. Ia bakal menggantungkan banyak bingkisan untukmu. Jangan berdiri sebelum ekormu berat dengan hadiah-hadiah," kata Kelinci sembari berlalu.

Rubah duduk di tepi sungai, lampau mencelupkan ekornya ke sungai.

"Bbbrrr... dingin sekali!" seru Rubah.

"Tunggu saja, kelak Anda pasti bakal dapatkan hadiahnya!" kata Kelinci mengingatkan. Ia meninggalkan Rubah sendirian.

Rubah sabar menunggu bingkisan yang bakal digantungkan pada ekornya. Pagi menjelang siang, siang berganti sore, sampai akhirnya malam yang dingin menghampiri.

Rubah tetap tetap duduk di tepi sungai. Ia merasa bingkisan yang digantung di ekornya belum cukup banyak. Saat tengah malam, udara bertambah dingin dan air sungai mulai membeku. Saat itulah Rubah merasa sudah waktunya pergi menikmati hadiahnya lantaran ekornya terasa banget berat sekarang.

Namun, apa yang terjadi? Ekornya membeku! Ia tidak bisa menarik ekornya dari air sungai. Rubah tak berani bergerak. Ia takut kehilangan ekor dan bingkisan yang dipikirnya tergantung di ekornya.

"Tolong akuuu!" Rubah berteriak ketakutan.

"Cepat, tolong akuuu!" teriak Rubah berkali-kali.

Kelinci iba mendengar teriakan Rubah. Ia segera memanggil para hewan untuk menolong Rubah. Mereka datang menghampiri Rubah, tetapi hanya memandanginya saja. Mereka cemas Rubah bakal melakukan jahat lagi jika sukses ditolong.

"Tolong aku! Aku berjanji tak bakal melukai kalian," pinta Rubah dengan wajah memelas.

Pesan moral:

Kita perlu berpikir sigap dan pandai saat menghadapi situasi rawan agar bisa menemukan jalan keluar dari masalah. Selain itu, sifat sombong dan jahat pada akhirnya hanya bakal merugikan diri sendiri.

2. Burung Unta yang Malas

Dahulu, semua burung dapat terbang, termasuk burung unta. Suatu ketika, bulan mempunyai telur emas raksasa. Telur emas itu menetas menjadi ribuan ayam-ayam emas. Begitu menetas, ayam-ayam emas berceceran ke seluruh penjuru langit. Dari bumi, ayam-ayam itu terlihat seperti bintang.

Matahari mau mengadakan pesta bagi ayam-ayam emas itu. Maka, dia menulis surat pada Bulan, yang menjadi ibu mereka, untuk mengabarkan perihal ini. Matahari meminta tolong kepada Burung Pipit untuk membawa surat itu kepada Bulan.

"Tolong berikan surat ini kepada Bulan. Pesta bakal diadakan minggu depan," kata Matahari kepada Burung Pipit.

"Baik, Matahari. Akan kusampaikan surat ini kepada Bulan secepatnya," jawab Burung Pipit.

Perjalanan menuju bulan sangat jauh dan sulit. Suatu ketika, sayap Burung Pipit terluka sehingga dia tidak dapat terbang. Burung Pipit bingung, surat itu kudu segera disampaikan. Saat itulah dia memandang Burung Unta dan meminta bantuannya.

"Burung Unta, tolong gantikan saya menyampaikan surat ini pada Bulan. Sayapku terluka dan saya tidak bisa terbang," pinta Burung Pipit.

Burung Unta melihatnya dengan pandangan yang tidak suka. Ia sedang bermalas-malasan dan tak mau diganggu.

"Aku besar dan berat. Tidak dapat kubayangkan kudu terbang sejauh itu. Bisa-bisa sayapku juga terluka," tolaknya.

Burung Pipit terus memohon, sampai akhirnya Burung Unta mau menolongnya asalkan Burung Pipit ikut dalam perjalanan itu. Namun, Burung Unta tetap tidak mau terbang. Mereka melanjutkan perjalanan dengan melangkah kaki. Tentu saja perjalanan jadi lama sekali. Apalagi Burung Unta melangkah dengan sangat perlahan, lantaran dia tidak senang dengan perjalanan ini.

Akhirnya surat sukses disampaikan ke Bulan, tetapi kegiatan pesta sudah selesai. Tentu saja Bulan tidak menghadiri kegiatan itu. Matahari jadi jengkel dan marah. Apalagi setelah dia tahu argumen surat itu terlambat sampai.

"Kalau kau sangat malas terbang, apa gunanya sayap di tubuhmu?" tanya Matahari pada Burung Unta dengan kesal.

Begitulah, sejak saat itu tidak ada burung unta yang bisa terbang.

Pesan moral:

Kita tidak boleh bersikap malas saat diminta membantu orang lain, apalagi jika tugas itu kudu segera diselesaikan. Sikap malas dan tidak peduli dapat merugikan orang lain dan akhirnya kita bakal menyesal di kemudian hari.

3. Rubah Betina Berbohong

Di sebuah hutan, hiduplah Rubah Betina yang cantik. Bulunya yang lembut berwarna kemerahan. Ekornya panjang dan lebat. Tatapan matanya sangat memikat. Tingkah lakunya juga anggun. Semua hewan di rimba mengagumi kecantikannya.

Rubah Betina merasa dirinya sangat terkenal dan diingini semua binatang. Ia selalu diundang ke setiap pesta. Ia berdandan layaknya putri bangsawan dengan busana bagus dan perhiasan mewah. Berjalan tegak, dagu diangkat, dan langkah kakinya diatur dengan anggun.

"Aku adalah hewan tercantik di rimba ini. Aku juga pintar. Aku mau tahu, apakah ada yang bisa menandingiku?" katanya sombong. Ia selalu bertanya perihal yang sama setiap ada kesempatan mengobrol dengan hewan lain.

Suatu hari Kucing terkagum-kagum memandang Rubah Betina. Langkahnya terhenti seketika.

"Hei, Anda terlihat begitu luar biasa. Bagaimana Anda bisa terlihat begitu sempurna, Rubah? Aku sangat mau seperti dirimu," kata Kucing dengan mata penuh kekaguman.

Mendengar itu, rasa bangga dan sombong memenuhi hati Rubah Betina.

"Tentu saja, begitulah diriku. Aku cantik, pintar, dan anggun. Sedangkan kamu, apa saja skill yang Anda miliki?" tanya Rubah Betina pada Kucing dengan pandangan mencemooh.

"Oh, saya hanya... Um... Aku hanya punya satu keahlian," jawab Kucing.

Hanya satu? Yah, kuharap saja itu skill yang mengagumkan. Memangnya skill apa yang Anda miliki?" tanya Rubah Betina sembari tertawa mengejek.

"Aku hanya bisa melompat ke atas pohon saat Serigala mengawasiku".

"Ya ampun! Melompat ke pohon? Keahlianmu hanya melompat ke pohon untuk menghindari Serigala? Aku punya banyak sekali langkah untuk menghindari Serigala. Bukan hanya menghindari, tapi juga untuk membujuknya untuk tidak menangkapku," kata Rubah makin sombong.

"Oh, begitu? Bagaimana caranya?" tanya Kucing mau tahu.

"Ayo, ikut aku! Akan kuberi tahu langkah menjebaknya," lanjut Rubah Betina sembari tertawa mengejek.

Kucing mengikuti langkah Rubah Betina. Selama melangkah Rubah Betina memamerkan cerita kehebatannya. Karena terlalu sibuk bercerita, Rubah tidak menyadari jika ada sekelompok Serigala yang mengintai.

"Gggrr....." bunyi sekelompok Serigala terdengar dari kembali semak-semak.

Menyadari keadaan yang berbahaya, Kucing segera melompat ke pohon tinggi. Sangat sigap dan tanpa suara. Bahkan sekelompok Serigala itu tidak menyadari aktivitas Kucing.

"Hei, mari keluarkan salah satu langkah untuk kabur," bisik Kucing pada Rubah Betina dari atas pohon. Ia berambisi bisa memandang salah satu langkah pandai Rubah Betina.

Kucing tak mau membahayakan diri. Keahliannya hanya melompat ke pohon secepat mungkin. Tak dibandingkan dengan Rubah Betina yang punya begitu banyak skill saja.

Namun, apa yang terjadi? Rubah Betina tidak dapat melakukan apa pun. Ia tak bersuara tak bergerak dan tampak sangat panik. Semua cerita kehebatan Rubah Betina tak terbukti.

Pesan moral:

Kita tidak boleh sombong dan mendusta tentang keahlian diri sendiri, lantaran pada akhirnya kebenaran bakal terlihat juga. Sikap jujur dan rendah hati lebih krusial daripada terlihat dahsyat di depan orang lain.

4. Berlian Tikus dan Katak

Tikus dan Katak bersahabat. Mereka tinggal berbareng di sebuah batang pohon. Mereka tidur sepanjang hari, lampau bangun saat bintang pertama mulai berpijar di langit malam. Biasanya mereka bakal duduk berdua di tepi sungai, memandang bintang-bintang bermunculan sembari bercerita tentang dongeng-dongeng indah.

Suatu hari di bulan purnama, mereka bercerita sembari menikmati bulan bercahaya terang dan bintang-bintang bertaburan. Karena terlalu banyak bercerita, Katak merasa haus. Perlahan dia mencelupkan daun untuk mengambil air di sungai. Saat itulah dia memandang sesuatu yang luar biasa.

"Tikus, lihat! Kita ini kaya! Ada banyak permata yang berkilau di air," seru Katak memanggil Tikus.

Tikus kagum melihatnya. Berdua, mereka mengagumi titik-titik permata di sungai. Sampai suatu saat Katak mengantuk dan pergi tidur. Tinggallah Tikus di tepi sungai, sendirian mengagumi permata di air. Lama-kelamaan Tikus pun mengantuk dan tanpa sadar tertidur pulas. Ia terbangun lantaran teriakan Katak.

"Berlian kita hilang! Kamu pasti mencurinya!" tuding Katak kepada Tikus.

Dengan kaget Tikus memandang ke air. Benar saja, ada yang mencuri berlian-berlian mereka! Mereka terus bentrok tentang permata yang lenyap dari pagi hingga sore. Tikus menuduh Katak mengambilnya saat dia tertidur. Sebaliknya, Katak mengatakan pasti Tikus menyembunyikannya lantaran Katak pergi tidur lebih dulu.

Akhirnya, saat bulan sudah tinggi dan bintang-bintang bermunculan, mereka bermufakat jika persahabatan ini sudah selesai. Kedua mantan sahabat pergi ke arah berlawanan tanpa menoleh.

Ah, umpama saja salah satu dari mereka haus setelah bertengkar, pasti mereka bisa memandang jika berlian-berlian mereka sudah kembali ke sungai.

Pesan moral:

Kita tidak boleh mudah berprasangka dan menuduh orang lain tanpa adanya bukti. Selain itu, kesalahpahaman sering membikin kita kehilangan sesuatu yang sebenarnya berbobot di depan mata.

5. Naga Pemusik

Raja Panda sering mengadakan pesta. Ia suka berbagi kebahagiaan dengan rakyatnya. Siapa pun boleh datang ke istana. Semua menikmati hidangan lezat, menari, dan menyanyi bersama. Raja juga meminta para pemain musik menghibur tamu-tamunya.

Namun, sore itu pesta berjalan tidak biasa. Saat semua sedang menari dan menyanyi bersama, ada seekor naga datang menyapa.

"Awas! Ada naga!" seru salah satu tamu.

Semua yang datang di pesta berlarian menyelamatkan diri. Mereka takut kepada Naga. Suasana pesta menjadi kacau. Raja Panda juga ikut menyelamatkan diri dan diikuti oleh semua penunggu istana. Naga lampau meninggalkan tempat pesta dengan sedih.

Esok paginya, Raja Panda tampak bingung merenung di singgasananya. Raja Panda bergumam, "Naga itu tinggal di negeriku sekarang. Bayangkan, dia mempunyai sepuluh kepala dan dua puluh mata yang menyeramkan! Rakyatku pasti ketakutan."

"Bagaimana jika dia kelaparan lampau merusak negeriku? Apa yang kudu kulakukan?" tambahnya dengan muram.

Begitulah, sepanjang hari Raja Panda hanya duduk di singgasananya. Ia membayangkan hal-hal menakutkan yang mungkin dilakukan Naga. Biasanya Raja Panda mendengarkan musik yang dimainkan oleh para pemain musik saat makan siang. Namun, siang itu suasana tampak sepi.

Raja memanggil Kepala Pemusik dengan bunyi kesal.

"Kepala Pemusik! Mengapa sunyi sekali? Ke mana para pemain musik istana?" tanya Raja Panda.

"Yang Mulia, maafkan Hamba. Seluruh personil musikus mengundurkan diri. Mereka takut bunyi musik yang dimainkan terdengar oleh Naga. Mereka takut Naga datang lampau melukai mereka."

"Hmmm... Benar juga. Kemarin sore Naga datang saat musik dimainkan," kata Raja Panda.

"Namun, kenapa Naga tak mengamuk saat kita bubar? Naga malah sedih lampau pergi," lanjut Raja Panda.

Mendengar itu, Kepala Pemusik malah senang. Naga dengan sepuluh kepala sepertinya suka musik! Ia lampau punya buahpikiran cemerlang untuk mengatasi ketakutan seluruh masyarakat negeri.

Kepala Pemusik segera pamit kepada Raja sembari membawa beragam perangkat musik. Ia lampau pergi ke gua yang dijadikan tempat tinggal oleh Naga. Ia berbincang sejenak kepada Naga, kemudian membagikan sepuluh perangkat musik untuk masing-masing kepala. Ada drum, bass, gitar, harmonika, seruling, dan perangkat musik lainnya.

Ia lampau mengayunkan tongkat ajaib yang biasa dipakainya untuk memimpin pagelaran musik. Setiap kepala naga mulai memainkan perangkat musik dengan merdu. Kepala Pemusik lampau membujuk Naga ke istana untuk berjumpa dengan Raja.

Raja menganggap musik yang dimainkan Naga di antara sepuluh kepala sangat indah. Ia pun mengadakan pesta untuk menyambut Naga menjadi masyarakat di negerinya. Naga tak kalah gembira. Sepanjang malam dia bermain musik. Semua pun menari dengan riang, termasuk Raja Panda.

Kepala Pemusik pun senang. Kini dia tidak perlu repot-repot mencari pemain musikus pengganti. Cukup dengan satu Naga, sebuah pagelaran musik bisa terlaksana.

Pesan moral:

Kita tidak boleh langsung takut dan berprasangka jelek terhadap sesuatu yang belum kita kenal, lantaran bisa jadi perihal itu tidak seburuk yang kita bayangkan.

Selain itu, Bunda dan Ayah juga bisa membacakan cerita dongeng lainnya yang tak kalah menarik dan mengajarkan sikap baik, sebagaimana dirangkum dari kitab Kumpulan Cerita Dongeng untuk Anak Usia Dini oleh Ardiansyah Anan.

6. Si Kancil dan Pasukan Semut Periang

Dongeng Si KancilDongeng Si Kancil/Foto: HaiBunda/Dwi Rachmi

Suatu hari di rimba yang lebat, hiduplah beragam jenis hewan, di sana ada begitu banyak hewan yang berkawan baik. Ada Kancil, semut, monyet, bebek, ayam dan banyak lagi. Mereka selalu bermain berbareng dan mencari makan bersama. Tapi ada seekor hewan yang selalu jail dengan teman-temannya.

Hewan tersebut adalah Si Kancil, dia selalu saja menyembunyikan makanan milik teman-temannya. Si Kancil senang memandang teman-temannya sedih dan kebingungan mencari makanan mereka. Kancil bakal lari dan berlindung di bawah jembatan rimba itu. Kancil juga suka mencuri makanan milik teman-temannya.

Teman-teman Kancil tidak mengetahui perbuatan Si Kancil, sampai suatu hari Si Sapi memandang Kancil yang sedang membawa makanan milik Pak Kelinci, Kancil mengantongi lima buah wortel. Sapi yang memandang Si Kancil kemudian menegurnya.

"Kenapa makanan milik Pak Kelinci ada di tanganmu Kancil?".

Si Kancil terkejut dan menjatuhkan wortel-wortel tersebut, kakinya gemetaran dan mau segera berlari.

"Aku baru saja mau membantu Pak Kelinci untuk membawakan wortel miliknya," kata Si Kancil dengan kaki yang tetap gemetaran.

Si Kancil mau segera berlari, tapi badan Sapi yang besar menghalangi jalan di bawah jembatan itu.

"Jadi selama ini makanan kami selalu kau curi dan sembunyikan di sini ya, Si Kancil yang jail!" kata Si Sapi. Si Kancil yang jail hanya tersenyum ketika Si Sapi marah. Sapi semakin marah dan bakal menyebarkan bahwa selama ini makanan mereka disembunyikan oleh Si Kancil yang jail. Akhirnya seluruh rimba mengetahui bahwa makanan mereka selalu disembunyikan oleh Kancil yang jail. Hewan-hewan lain pun tidak mau lagi berkawan dengan Si Kancil yang jail.

Si Kancil sekarang tidak punya kawan dan makanan yang lezat yang dia curi, Si Kancil hanya duduk di pinggir jembatan tempat dia biasa bersembunyi. Si Kancil sedih lantaran tidak mempunyai teman. Ia selalu memperhatikan tempat penyimpanan makanan hasil rampasan tersebut.

Si Kancil memandang ada sekelompok semut yang sedang berjejer. Semut-semut tersebut terlihat senang dan menyanyi riang sembari berpelukan ketika memandang semut yang lain. Kancil terharu memandang keramahan dan keceriaan mereka. Ketua pasukan semut tersebut memandang ada Si Kancil, ketua pasukan semut tersebut pun menyapa Si Kancil tanpa rasa takut dan marah.

"Kenapa Anda berduka wahai Kancil yang malang?" kata ketua pasukan semut itu.

"Aku sedih lantaran hewan di rimba ini sudah tidak mau lagi berkawan denganku. Padahal saya mencuri makanan mereka lantaran mau bermain petak umpet dengan mereka," kata Si Kancil dengan emosi sedih dan bersalah.

"Sudah tidak usah berduka lagi Kancil, Anda kudu mau berubah menjadi Kancil yang baik hati dan pandai seperti Kancil yang lain. Kita bakal bantu Anda minta maaf dengan hewan-hewan lain di rimba ini. Mereka pasti mau memaafkanmu," kata ketua pasukan semut.

"Iya, saya janji bakal berubah menjadi Kancil yang baik hati dan pandai seperti ayahku. Terima kasih ketua pasukan semut," kata Si Kancil dengan wajah yang berseri-seri.

"Ayo teman-teman kita bantu Si Kancil ini meminta maaf kepada hewan-hewan di rimba ini," kata ketua pasukan semut dengan serempak.

Mereka pun menyebar untuk menunjukkan hewan lain dengan menyanyi riang. Pasukan semut tidak pernah sedih dan selalu saling menyayangi.

Setelah mereka berkumpul di pohon beringin, akhirnya ketua pasukan semut pun berbincang di depan semua hewan. Ketua pasukan semut berbincang dengan gagah berani.

"Bapak-bapak dan ibu-ibu hewan di seluruh rimba ini, saya ketua pasukan semut bakal membujuk kalian semua untuk kembali berkawan dengan si Kancil. Dia mau meminta maaf pada kalian," kata ketua pasukan semut dengan lantang.

"Teman-teman semuanya, maafkan saya lantaran telah mencuri dan menyembunyikan makanan milik kalian. Saya berjanji tidak bakal mencuri dan jail lagi. Saya bakal membantu kalian dan melakukan baik dengan kalian. Maafkan saya teman-teman. Saya bakal jadi Kancil yang pandai dan baik hati seperti ayah saya," kata Si Kancil sembari menangis.

"Kami memaafkanmu Kancil yang jail. Eh maksudku, Kancil yang cerdas dan baik hati," kata Singa, si Raja Hutan.

Mereka semua akhirnya berbaikan dan berkawan lagi. Si Kancil berterima kasih kepada pasukan semut yang riang dan membantunya meminta maaf. Mereka semua menyanyi dan berkawan baik.

Pesan moral:

Sebagai makhluk hidup, kita tidak boleh melakukan jahat alias mengambil milik orang lain lantaran pada akhirnya bakal membikin kita dijauhi dan kehilangan teman.

7. Anak Monyet yang Malang

Di sebuah rimba yang jauh dari hiruk pikuk kota, tinggallah seekor ibu monyet dengan anaknya. Ibu monyet tidak mempunyai tangan kanan. Oleh lantaran itu, ibu monyet tak bisa memanjat. Pernah suatu ketika ibu monyet berupaya memanjat menggunakan sebelah tangan, namun usahanya selalu gagal. Ia selalu terjatuh dan terjatuh lagi.

Tak bisa memanjat, tak lantas membikin ibu monyet putus asa. Ia selalu mempunyai banyak langkah agar sukses mendapatkan makanan untuk diri sendiri juga anaknya yang tetap kecil.

Terkadang, ibu monyet menapak dengan sangat hati-hati dari cabang satu ke cabang lainnya, terkadang pula ibu monyet melompat-lompat mini hingga tangan kirinya sukses mencapai ranting yang terdapat banyak buah. Tentunya perihal itu dilakukan pada pohon yang tidak terlalu tinggi. Hal itu dilakukan ibu monyet selama bertahun-tahun dan tanpa terasa sekarang sang anak monyet telah semakin besar. Ia telah pandai memanjat pohon sendiri dan mencari makanannya sendiri. Ibu monyet pun bangga memandang anaknya sekarang tumbuh dengan sehat.

"Mau ke mana, nak?" tanya ibu monyet di suatu pagi.

Anak monyet mendengus. Ia mulai jenuh selalu ditanya hendak ke mana. "Yang pasti mau mencari makanan bu, memangnya mau ke mana lagi."

"Jangan terlalu jauh, kelak tersesat." Ibu monyet memperingatkan.

"Tidak bakal tersesat ibu. Kalaupun kelak lupa jalan pulang, saya bisa memanjat pohon yang paling tinggi untuk menemukan gubuk mini ini," jawab anak monyet kasar. Ibu monyet terdiam. Memang betul gubuk tempat mereka berlindung sangatlah kecil. Namun bukankah itu sudah cukup untuk mereka tinggal berdua?

"Toh, kelak juga saya bakal bagi hasil pencarian buah pisangnya dengan ibu," sambung anak monyet.

Perlahan senyum ibu monyet mulai terlihat. Perasaannya menghangat. Ia senang jika anaknya tetap mengingat ibunya.

"Tidak perlu repot nak, ibu bisa mencari sendiri, yang terpenting Anda pulang dengan selamat ibu sudah senang," katanya.

"Halah, ibu pasti senang jika kubawakan makanan. Ibu tidak punya tangan, pasti repot untuk mencari buah-buahan yang paling segar. Kebiasaan ibu hanya mengambil buah yang sudah jatuh."

"Buah yang baru saja jatuh dari pohonnya nak," koreksi ibu monyet.

Anak monyet pun terdiam. Ibu monyet terkenang sesuatu, dia meminta sang anak menunggu sejenak selagi dirinya mengambil sesuatu dari dalam gubuk.

"Ini!" Ibu monyet menyerahkan segenggam biji jagung pada anaknya. "Gunakan ini agar Anda tidak tersesat!" perintah ibu monyet.

Anak monyet mengambil malas-malasan dan tak lama pun dia berangkat tanpa mengucapkan lagi sepatah alias dua patah kata sebagai salam perpisahan sementara.

Tepat di langkahnya yang ke-20, dia memandang kawanan anak monyet tengah bermain. Berlarian, memanjat dari satu pohon ke pohon lainnya. Si anak monyet tiba-tiba mempunyai kemauan untuk berasosiasi berbareng mereka. Anak monyet pun lupa bakal tujuan awalnya mencari buah-buahan yang segar, terutama buah pisang. Tak hanya itu, anak monyet juga lupa menabur biji-biji jagung di jalan yang dia lalui sesuai perintah ibunya.

Rupanya, kecepatan anak monyet memanjat tak sehebat dan setangkas para kawanan itu. Si anak monyet telah tertinggal jauh, apalagi sekawanan monyet itu pun sekarang tak terlihat. Anak monyet kecewa. Ia menggaruk kepalanya dengan kesal.

Krukkkk, krukkk...

Bunyi itu berasal dari perut anak monyet yang mulai merasakan lapar. Pantas saja, anak monyet telah memanjat sedemikian jauhnya. Ketika dia berbalik, alangkah terkejutnya anak monyet ketika di belakangnya terdapat seekor harimau yang sedang mengeratkan gigi-gigi tajamnya. Terdengar erangan dari harimau itu.

Anak monyet mulai panik. Sebelumnya dia tak pernah berhadapan dengan makhluk galak seorang diri. Ketakutan mulai menyelimuti, tubuh anak monyet bergetar hebat. Alih-alih mendapatkan makanan, yang ada anak monyet menjadi santapan harimau hutan.

Harimau telah bersiap menerkamnya, spontan anak monyet melompat ke cabang tertinggi dan mulai melompat dari pohon satu ke pohon lainnya. Pontang-panting dia melarikan diri, di bawah pohon sana harimau tetap setia mengikuti. Jika anak monyet nantinya terjatuh, sudah pasti harimau langsung menerkamnya.

Di tengah ketakutan itu, anak monyet tiba-tiba terkenang sang ibu. Jika ada ibunya, dia tak bakal setakut ini. Meskipun Ibu monyet tak mempunyai tangan kanan, tetapi dia cerdas. Pasti ibu monyet mempunyai banyak logika untuk mengelabui harimau kelaparan tadi. Seiring dengan pikirannya tentang sang ibu, anak monyet mempunyai buahpikiran untuk berbalik saja dan memutuskan untuk pulang. Harimau pasti bakal bingung jika dia tiba-tiba berbalik arah.

Biji-biji jagung yang menjadi bekal dari sang ibu terjatuh. Anak monyet berakhir di cabang pohon tertinggi. Ia memandang ke kanan dan ke kiri. Hutan yang ini berbeda dari rimba tempatnya tinggal. Entahlah, apa mungkin anak monyet terlalu jauh meninggalkan rumahnya alias dia telah keluar dari hutannya dan menuju rimba lain, anak monyet pun bingung. Ketika memandang ke bawah, seekor harimau rupanya telah hilang. Ia mendesau lega, namun kelegaan itu tak berjalan lama ketika menyadari dirinya tersesat dan tak tahu arah jalan pulang.

Ia menyesal tak menghiraukan perintah ibunya. Padahal maksud sang ibu memintanya menabur biji-biji jagung itu sepanjang jalan adalah agar anak monyet mudah menemukan jalan pulang. Anak monyet baru menyadari jika tempat ternyamannya adalah berada di dekat ibunya.

Pesan moral:

Kita kudu selalu mendengarkan nasihat orang tua lantaran mereka memberi pengarahan yang baik untuk kita. Selain itu, sikap asal-asalan dapat membikin seseorang tersesat dan menyesal di kemudian hari.

Itulah kumpulan cerita dongeng anak mini sebelum tidur yang mengajarkan sikap baik. Bunda sudah memilih mau membacakan cerita tentang apa?

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join organisasi Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(ndf/fir)

Selengkapnya