Jakarta -
Bunda mungkin pernah merasa bosan ketika seseorang terus mengulang cerita yang sama, terlebihlagi kisah yang sudah didengar berkali-kali.
Meski terdengar sepele, kebiasaan tersebut rupanya dapat mencerminkan sisi tertentu dari kepribadian seseorang.
Bagi sebagian orang, mengulang cerita bukan sekadar mau didengarkan kembali. Ada kenangan, emosi, maupun pengalaman tertentu yang statis terasa berarti sehingga membikin mereka bahagia membagikannya kepada orang lain.
Kebiasaan ini juga bisa menjadi metode untuk membangun kedekatan dengan orang sekitar. Dari cerita yang terus dibagikan, seseorang dapat memberitahu hal yang dianggap krusial dalam hidupnya sekaligus menjaga hubungan dengan orang-orang yang mendengarkan.
7 Ciri kepribadian orang yang gemar mengulang cerita
Dirangkum Your Tango, jika sering mengulang cerita yang sama berkali-kali, kemungkinan Bunda memiliki beberapa ciri khas kepribadian berikut:
1. Sedikit kurang percaya diri
Orang sering mengulang cerita karena beragam alasan, tetapi salah satunya mungkin untuk mendapatkan pengakuan.
Hal ini terutama berjalan ketika cerita tersebut melibatkan kesulitan maupun masalah yang belum terselesaikan.
Bagi sebagian orang, menceritakan balik insiden tersebut adalah metode untuk mendapatkan kepercayaan diri dalam pemahaman mereka tentang apa yang terjadi maupun sepertiapa mereka menanggapi cobaan emosional.
Mereka membutuhkan pengulangan untuk merasa lebih percaya dengan reaksinya, dan dengan setiap cerita kembali, mereka mendapatkan sedikit lebih banyak kepercayaan diri, terutama ketika mendapat pengesahan dari orang yang diceritakan.
2. Suka dengan nostalgia
Kenangan elok sering kali membikin kita merasa nyaman. Menceritakan kisah-kisah masa kecil di sekolah berbareng teman-teman masa kecil seperti membungkus diri dengan selimut hangat.
Penelitian terlebihlagi memberitahu bahwa para penjaga kenangan ini seperti lem yang menyatukan dan menghubungkan orang-orang melalui masa kemudian yang sama. Mengingat balik saat-saat ceria dan menenangkan membawa keteraturan pada kekacauan, terutama ketika kita merasa sedih.
Hal itu memperbaiki kondisi hati dan menginspirasi kita untuk membantu orang lain. Yang terpenting adalah hal itu membikin kita mau eksis di dekat orang-orang yang kita cintai.
3. Rajin dan gemar membantu
Terkadang, ketika seseorang mengulang sebuah cerita, mereka mencoba mengajarkan balik pelajaran yang mereka peroleh dari pengalaman tersebut.
Profesor Adam Galinsky dari Columbia Business School menerangkan bahwa Bunda mau mengulanginya berulang-ulang, hal itu menciptakan rasa kelancaran, yang menaikkan pemahaman dan kebenaran, nilai, serta validitas.
Dengan mengulang sebuah cerita berulang kali, pendengar terus menyerap detail-detailnya dan terlebihlagi mungkin menangkap sesuatu yang terlewatkan pada beberapa kali pertama.
4. Berempati dan sensitif
Orang yang empatik dan sensitif merasakan sesuatu secara mendalam. Jika sesuatu telah memengaruhi mereka, baik maupun buruk, mereka perlu mengingat balik cerita dan emosi tersebut untuk mengatasinya.
Orang yang sangat sensitif juga rapuh mengalami apa yang oleh para ahli disebut memori tujuan. Sederhananya, mereka lupa kepada siapa mereka pernah menceritakan kisah sebelumnya.
Manusia pada umumnya mengalami kesulitan dengan memori tujuan, tetapi orang yang sangat sensitif dan empatik, terutama ketika mengalami emosi yang meningkat, lebih kesulitan lagi.
5. Bisa merasa kesepian
Jika semakin tua, bisa terbiasa mengulanginya karena bumi mereka tiba-tiba menjadi sedikit lebih kecil.
Terkadang hal itu bisa terasa kesepian. Ketika hidup menjadi sedikit kurang sibuk dan hiruk pikuk, cerita-cerita durasi menjadi lebih berharga, sehingga lebih sering diceritakan.
Ini adalah metode untuk menghubungkan masa kemudian dengan masa kini. Ini adalah metode agar mereka statis relevan ketika hidup terkadang terasa seperti berlalu begitu saja.
6. Mudah bosan
Mereka berbagi momen-momen menyenangkan dalam hidupnya, dan ketika hidup terasa sedikit membosankan, mereka mengeluarkan kenangan terbaiknya untuk menghadirkan balik sedikit kebahagiaan.
Mereka mau berkontribusi secara bijak dalam percakapan tanpa berbohong, jadi mereka mengulang cerita yang sudah didengar beberapa kali karena tahu itu cerita yang bagus.
7. Bijaksana
Mengulang cerita dapat menjadi metode untuk merenungkan sesuatu. Penulis Antonio Rossini dan Christos Stubakos menerangkan dalam bukunya, Repeating Words, Retelling Stories: Repetetion, Variation, and Serial Significance in Literature, bahwa pengulangan tidak cuma berguna untuk menguatkan suatu konsep, tetapi juga untuk menciptakan arti baru.
Dengan mengulang sebuah cerita, mereka dapat menganalisisnya lebih lanjut, memahami konteksnya lebih dalam, dan mungkin mengoreksi orang lain dan dirinya sendiri di sepanjang prosesnya.
Ini adalah proses memecahkan masalah secara langsung. Ini hanyalah metode berpikir dan berbagi yang kolaboratif.
Nah, itulah beberapa ciri khas kepribadian orang yang gemar mengulang cerita. Semoga bermanfaat, ya, Bunda.
Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join kelompok Kincai Media Squad. Daftar dan klik di SINI. Gratis!
(asa/pri)