Mengucapkan 'maaf' merupakan corak tanggung jawab ketika kita melakukan kesalahan. Hal itu menjadi lumrah ketika kita mau menunjukkan kesopanan kepada orang yang dirugikan, Bunda.
Namun, gimana jika seseorang selalu mengatakan "maaf", apalagi untuk hal-hal yang bukan kesalahannya?
Dalam psikologi, kebiasaan sering mengatakan "maaf" dapat berangkaian dengan langkah seseorang memandang dirinya sendiri. Tak hanya itu, kebiasaan tersebut juga dapat menunjukkan langkah seseorang merespons konflik.
Bagi beberapa orang, kebiasaan sering mengucapkan 'maaf' bisa sangat mengganggu. Pada banyak kasus, ucapan ini bisa membikin komunikasi menjadi canggung.
Lantas, seperti apa karakter kepribadian orang yang terlalu sering berbicara "maaf"? Simak penjelasannya berikut ini.
7 Ciri kepribadian orang terlalu sering bilang "Maaf"
Dikutip dari Psychology Today, orang yang terlalu sering meminta maaf sering merasa menjadi beban alias percaya bahwa mereka tidak layak mendapatkan ruang alias perhatian.
Berikut beberapa argumen umum di kembali perilaku ini:
1. Termasuk people pleaser dan kekhawatiran sosial
Jika sering minta maaf, Bunda mungkin sangat peduli tentang gimana pandangan orang lain dan menghindari bentrok dengan segala cara.
Bunda meminta maaf untuk mencegah konfrontasi alias memang bersikap rendah hati dan bertanggung jawab. Meminta maaf memberikan rasa kendali dalam situasi yang tidak nyaman.
2. Rendah diri
Bunda mungkin percaya bahwa tidak layak mendapatkan cinta alias dukungan. Meminta maaf menjadi langkah untuk mengecilkan diri sendiri, untuk menghindari membebani orang lain. Bunda meragukan nilai diri dan merasa perlu untuk membenarkan keberadaan.
3. Perfeksionisme
Banyak orang suka menetapkan standar yang mustahil untuk diri sendiri. Ketika kandas memenuhi standar tersebut, orang merasa telah kandas dan kudu meminta maaf, apalagi ketika sebenarnya tidak ada yang salah.
Pola pikir ini juga dapat meluas hingga mengambil tanggung jawab atas kesalahan orang lain.
4. Tumbuh dengan tekanan
Sebuah penelitian menemukan bahwa ketika tidak mungkin untuk menjadi penyayang, kompetitif, dan disukai tanpa usaha, sekaligus, kebanyakan orang tidak menyalahkan ekspektasi tersebut.
Mereka malah menyalahkan diri sendiri. Rasa bersalah itu tidak lenyap seiring bertambahnya usia. Itu hanya muncul kemudian, dalam corak ucapan "Maaf" yang refleksif.
5. Mampu membaca suasana sebelum orang lain sadar
Orang yang terlalu sering meminta maaf condong sangat peka terhadap suasana hati orang lain.
Sebuah studi tentang kepribadian dan empati menunjukkan bahwa kepekaan ini mengenai erat dengan keramahan, salah satu dari lima sifat utama yang digunakan psikolog untuk memetakan kepribadian.
Itu adalah hidayah yang tulus. Masalahnya adalah rasa bersalah menyelinap masuk dengan cepat, apalagi ketika Bunda sama sekali tidak melakukan kesalahan.
6. Harga diri berjuntai pada orang lain
Kebiasaan minta maaf terus-menerus sering dikaitkan dengan kebutuhan bakal pengesahan dari luar, emosi terpendam bahwa nilai diri berjuntai pada disukai oleh semua orang.
Para peneliti kesehatan mental menunjukkan bahwa pola ini biasanya berakar sejak dini, di rumah-rumah di mana kasih sayang terasa bersyarat, sesuatu yang kudu diperoleh melalui perilaku baik.
7. Mudah bergaul
Sifat mudah berbaur sering kali mendapat reputasi buruk, tetapi sebenarnya itu bukan kelemahan. Justru inilah yang membikin Bunda hangat, kooperatif, dan betul-betul pandai membangun hubungan.
Masalah mulai muncul ketika sifat mudah berbaur yang tinggi berpasangan dengan ketegasan yang rendah alias kecemasan.
Saat itulah perihal itu berubah menjadi apa yang disebut para peneliti sebagai ‘akomodasi kompulsif’, ialah terus-menerus minta maaf, menjelaskan secara berlebihan, dan mengecilkan diri hanya untuk menghindari gesekan.
Nah, itulah beberapa karakter kepribadian orang yang sering bilang “maaf”. Semoga bermanfaat, ya, Bunda.
Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join organisasi Kincai Media Squad. Daftar dan klik di SINI. Gratis!
(ank/pri)