Jakarta -
Menyusui memberikan banyak faedah bagi bayi, mulai dari memenuhi kebutuhan nutrisi hingga mendukung sistem kekebalan tubuh.
Namun, gimana dengan kesehatan gigi? Benarkah anak yang menyusu ASI punya gigi lebih sehat dibandingkan anak yang tidak mendapatkan ASI?
Menyusu ASI punya gigi lebih sehat, benarkah?
Mengutip laman Medscape, berasas tinjauan sistematis mengenai akibat Early Childhood Caries (ECC) alias karies anak usia dini, anak yang menyusu ASI punya gigi lebih sehat pada tahun pertama kerhidupannya.
ASI memberikan perlindungan alami terhadap karies selama 12 bulan pertama. Bahkan, pemberian ASI yang dilanjutkan hingga anak berumur 12–24 bulan belum menunjukkan akibat negatif yang signifikan terhadap akibat karies.
Namun, kondisi ini dapat berubah ketika Si Kecil memasuki usia di atas 24 bulan (2 tahun). Risiko karies gigi dapat meningkat jika anak tetap menyusu di atas usia 2 tahun lantaran beberapa faktor:
1. Pola makan berubah
Anak usia 2 tahun ke atas sudah mulai mengenal beragam makanan pendamping dan camilan manis.
2. Kandungan mineral ASI
Seiring bertambahnya usia anak dan lama menyusui, kandungan mineral pelindung gigi di dalam ASI secara alami mulai menurun.
3. Menyusu malam hari
Frekuensi menyusu yang tinggi pada malam hari saat anak tertidur dapat meningkatkan akibat karies, karena produksi air liur yang berfaedah melindung gigi berkurang drastis saat tidur.
Bagaimana pengaruh ASI terhadap akibat gigi berlubang?
Karies gigi terjadi ketika kuman di dalam plak memetabolisme karbohidrat dan menghasilkan asam. Paparan masam berulang dapat menyebabkan mineral pada email gigi larut sehingga lama-kelamaan terbentuk lesi karies.
Karena ASI juga mengandung laktosa, ialah gula alami dalam susu, muncul pertanyaan apakah laktosa dapat menyebabkan gigi berlubang.
Namun, laktosa mempunyai potensi kariogenik yang lebih rendah dibandingkan sukrosa. Selain itu, komponen dalam susu dan produk olahan susu dapat memberikan sejumlah pengaruh yang mendukung kesehatan gigi.
Sebuah scoping review yang menganalisis mengenai susu dan produk olahan susu pada anak-anak dan remaja menemukan bahwa susu serta produk olahan susu tanpa tambahan gula mempunyai karakter non-kariogenik dan berpotensi membantu kesehatan gigi anak-anak dan remaja.
Beberapa aspek yang diduga berkedudukan dalam membantu mencegah gigi berlubang pada anak-anak dan remaja antara lain:
1. Kalsium dan fosfat membantu remineralisasi
Susu mengandung kalsium dan fosfat yang merupakan mineral krusial untuk pembentukan serta pemeliharaan struktur gigi. Keduanya dapat membantu proses remineralisasi email, ialah proses pengembalian mineral ke permukaan gigi setelah mengalami kehilangan mineral akibat paparan asam.
2. Kasein dapat memberikan perlindungan pada permukaan gigi
Susu mengandung protein, terutama kasein. Protein ini dapat membentuk lapisan pada permukaan gigi sehingga membantu mengurangi kerentanan email terhadap serangan asam. Penelitian mengenai susu dan produk olahan susu juga menunjukkan bahwa kasein mempunyai karakter yang dapat mendukung perlindungan email gigi.
3. Air liur membantu menetralkan asam
Air liur mempunyai peran krusial dalam menjaga kesehatan gigi. Selain membantu membersihkan rongga mulut, air liur juga membantu menetralkan masam dan menyediakan mineral yang dibutuhkan dalam proses remineralisasi.
Namun, pengaruh perlindungan air liur tersebut tidak bekerja optimal ketika seseorang sedang tidur. Karena itu, pola konsumsi makanan alias minuman pada malam hari menjadi salah satu aspek yang perlu diperhatikan dalam kesehatan gigi anak.
Sehingga, menjaga kebersihan gigi anak setiap hari dengan menyikat gigi secara teratur memakai pasta gigi berfluorida tetap menjadi kunci utama kesehatan gigi Si Kecil, apa pun jenis susu yang dikonsumsinya.
Jadi kesimpulannya apakah anak yang menyusu ASI punya gigi lebih sehat? jawabannya tidak sesederhana itu, Bunda. Bukti ilmiah menunjukkan bahwa menyusui pada masa awal kehidupan tidak meningkatkan akibat karies dan apalagi dapat memberikan pengaruh perlindungan terhadap ECC pada periode tertentu.
Namun, hubungan tersebut dapat berubah ketika menyusui berjalan lebih lama, terutama setelah usia 24 bulan dan ketika disertai kebiasaan menyusu pada malam hari. Karena itu, lebih tepat mengatakan bahwa anak yang menyusu ASI tidak otomatis mempunyai gigi lebih sehat, tetapi menyusui juga bukan berfaedah menyebabkan gigi anak rusak.
Kesehatan gigi anak sangat dipengaruhi oleh kombinasi beragam faktor. Kebersihan gigi, konsumsi gula, gelombang makan dan minum, penggunaan fluorida, kondisi gigi, serta kebiasaan menyusu semuanya perlu diperhatikan.
Semoga informasinya berfaedah ya, Bunda.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join organisasi Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(pri/pri)