7 Contoh Cerita Anak Islami Tentang Akhlak Yang Menginspirasi Untuk Si Kecil Belajar Kebaikan

May 21, 2026 06:50 PM - 8 jam yang lalu 438

Jakarta -

Mengajarkan kebaikan pada anak bisa dilakukan melalui beberapa cara, salah satunya ialah dengan membacakan cerita anak islami. Lakukan secara rutin agar manfaatnya lebih besar, Bunda.

Kisah-kisah islami tentang adab yang penuh pesan kebaikan dapat membantu Si Kecil memahami pentingnya bersikap jujur, sopan, dan sabar sejak dini.

Dikutip dari kitab Terampil Mendongeng oleh Kusumo Priyono, mendongeng jika dilakukan dengan pendekatan yang sangat berkawan bakal mendorong terbukanya alam pemikiran anak.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT


Hal ini sejalan dengan pertumbuhan jiwa, sehingga mereka bakal mendapat sesuatu yang sangat berbobot bagi dirinya dan dapat memilih mana yang baik dan mana yang buruk.

Contoh cerita anak islami tentang akhlak

Berikut beberapa pilihan contoh cerita islami tentang adab baik yang bisa Bunda bacakan untuk anak. Setiap cerita menghadirkan pelajaran berbobot yang bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari:

1. Keutamaan Shalawat

Cerita ini dikutip dari buku 365 Kisah Teladan Islam oleh Ariany Syurfah:

Dikisahkan ketika sedang melakukan thawaf, Sufyan Ats Tsauri memandang seorang laki-laki yang ketika mengangkat alias meletakkan kakinya selalu membaca shalawat.

Ia kemudian menegur laki-laki itu, 'Hai, apakah Anda telah meninggalkan referensi tasbih (Subhanallah) dan tahlil (La Ilaaha Illallah) sehingga Anda hanya membaca shalawat? Apakah Anda mempunyai keterangan tentang perihal itu?".

Laki-laki itu kemudian menjelaskan sesuatu kepada Sofyan. Konon, ketika dia pergi haji berbareng ayahnya, tiba-tiba ayahnya jatuh sakit hingga meninggal dunia.

Namun, laki-laki itu sangat terkejut lantaran tiba-tiba wajah ayahnya berubah sangat hitam.

Ia sangat sedih sekali. Ia pun segera menutupinya dengan sebuah kain. Tak lama kemudian, dia tertidur.

Dalam tidurnya, dia bermimpi ada seorang yang sangat bagus rupanya, sangat bersih pakaiannya, dan wangi baunya mendekati jenazah ayahnya.

Orang itu mengusap wajah ayahnya. Seketika itu juga wajah ayahnya kembali menjadi putih. Lalu dia bertanya padanya, "Siapakah Anda?".

Orang itu menjawab, "Aku adalah Muhammad SAW yang membawa Al-Qur'an. Semasa hidupnya, ayahmu banyak melakukan dosa dan menuruti hawa nafsunya. Namun, ayahmu banyak membaca shalawat untukku. Dalam keadaan demikian, ayahmu meminta bantuanku. Aku pun segera datang menolongnya."

Tak lama kemudian, laki-laki itu terbangun dari tidurnya. Ia sangat terkejut ketika mendapati wajah ayahnya kembali menjadi putih seperti yang dilihatnya dalam mimpi.

Orang yang banyak membaca shalawat bakal mendapatkan pertolongan dari Allah SWT dan Rasulullah SAW.

2. Pahala Melangkah ke Masjid

Diriwayatkan dalam salah satu sabda Nabi Muhammad SAW, "Barangsiapa yang pada waktu pagi alias sore pergi ke masjid, Allah menyediakan makanan yang lezat di surga setiap dia pergi pada waktu pagi alias sore."

Pada saat ada beberapa tempat di sekitar masjid yang tetap kosong (belum ditempati), suku Bani Salmah bermaksud untuk pindah di dekat masjid. Mereka mau pindah di dekat masjid agar dapat melakukan ibadah di sana.

Ketika buletin ini sampai kepada Nabi SAW, beliau berbicara kepada mereka, "Aku mendengar bahwa kalian bakal pindah ke dekat masjid."

Mereka kemudian menjawab, "Benar, ya, Nabi."

Nabi kemudian bersabda, "Wahai, Bani Salamah. Tetaplah di rumahku lantaran bekas-bekas langkahmu itu tercatat sebagai kebaikan kebaikan."

Mendengar penjelasan dari Nabi, Bani Salmah kemudian berkata, "Kalau begitu, kami tidak jadi pindah."

Dalam sabdanya yang lain, Nabi mengatakan, "Sesungguhnya orang yang paling besar pahalanya di dalam shalat adalah orang yang paling jauh jarak perjalanannya dari tempat shalat. Dan orang yang menunggu shalat untuk berjamaah berbareng pemimpin itu lebih besar pahalanya dari pada orang yang shalat sendiri kemudian tidur."

Semakin jauh langkah kita menuju masjid, semakin besar pahala yang bakal diperoleh.

3. Orang yang Berpengetahuan Luas

Cerita berikut ini dikutip dari 70 Cerita Asyik & Menarik dengan Makna Hadits oleh Ahmad Saifudin:

Imam Muhammad bin Ali bin Husain sering diejek oleh orang, namun dia tetap bersabar. Padahal, dia orang yang berilmu luas sehingga mendapat gelar al-Baqir.

Gelar itu diplesetkan oleh orang dengan perkataan al-baqar yang berfaedah sapi. Namun Imam Muhammad bin Ali tetap sabar dan ramah.

Orang tersebut merasa kandas membikin Imam Muhammad jengkel. Lalu dia memberi panggilan baru, "Kamu itu anak seorang tukang masak, anak seorang wanita berkulit hitam yang mulutnya berbau busuk."

Iman Muhammad bin Ali menjawab, "Seandainya Anda benar, saya doakan semoga wanita itu diampuni oleh Allah SWT. Dan jika Anda bohong, saya doakan semoga Allah SWT mengampunimu."

Imam Muhamad tetap bersabar dan tersenyum ramah. Lama-lama, orang tersebut luluh dengan sikap lemah lembut dan sabar yang dimiliki oleh Imam Muhammad. Ia pun bertobat.

4. Waktu Tak Bisa Berhenti

Khalifah Umar bin Abdul Aziz punya kebiasaan yang baik. Jika telah menyelesaikan suatu pekerjaan, dia tidak bersantai-santai, tapi bergegas menyelesaikan pekerjaan yang lain.

Suatu hari, dia mempunyai pekerjaan yang menumpuk. Wajahnya tampak capek sekali.

"Wahai Khalifah, sebaiknya Anda beristirahat dulu. Pekerjaan itu dilanjutkan besok saja," ucap seorang sahabat.

"Pekerjaan satu hari saja membuatku lelah, apalagi pekerjaan yang semestinya dilakukan dalam dua hari digabung menjadi satu hari," jawab Khalifah Umar.

Ada lagi seorang yang sangat menghargai waktu. Ia adalah Amir bin Abdul Qais, salah seorang tabi'in dari Basrah. Ia dikenal sebagai sosok yang lantang dalam memberikan ceramah. Ia juga sangat fasih melantunkan ayat-ayat Al-Quran.

Suatu hari, dia melewati orang-orang pemalas. Mereka menghabiskan waktu untuk mengobrol tentang suatu yang tidak penting.

"Wahai Amir, bersantailah sejenak, duduk berbareng kami," sapa salah seorang di antara mereka.

"Jika kalian dapat menghentikan berjalannya waktu, saya bakal berasosiasi dan berbual berbareng kalian," jawab Amir.

5. Kejujuran Abdul Qadir

Selanjutnya, cerita tentang adab ini dikutip dari kitab 100 Kisah Islami Pilihan untuk Anak-anak oleh Salman Iskandar.

Saat berumur 18 tahun, Syaikh Abdul Qadir meminta izin kepada ibunya merantau ke Bagdad untuk menuntut ilmu. Ibunya tidak menghalangi cita-cita mulia Abdul Qadir meskipun dia cemas melepaskan anaknya sendirian menempuh perjalanan beratus-ratus kilometer.

Sebelum pergi, ibunya berpesan kepada Abdul Qadir agar berbicara jujur dalam keadaan apa pun. Lalu, ibunya membekali duit 40 dirham dan dijahit di dalam busana Abdul Qadir. Setelah itu, ibunya melepas Abdul Qadir pergi berbareng kafilah jual beli yang kebetulan hendak menuju Kota Bagdad.

Namun, dalam perjalanan, mereka dihadang dan diserang oleh 60 orang penyamun. Semua peralatan dagangan kafilah dirampas. Para penyamun itu sama sekali tidak mengusik Abdul Qadir lantaran mereka menyangka dia tidak mempunyai apa pun, selain busana yang melekat di tubuhnya.

Salah seorang penyamun bertanya pada Abdul Qadir, "Hai Anak Muda! Apa yang ada pada dirimu?".

Abdul Qadir menjawab dengan sejujurnya bahwa dia mempunyai duit 40 dirham di dalam pakaiannya. Penyamun itu heran dan tidak memercayainya. Akhirnya, dia melaporkan kepada pemimpinnya. Lalu, busana Abdul Qadir dipotong dan dirobek isinya. Para penyamun terkejut. Mereka mendapati 40 dirham sebagaimana dikatakan Abdul Qadir.

Pemimpin penyamun itu pun langsung bertanya pada Abdul Qadir, "Kenapa engkau berbicara jujur, padahal engkau mengetahui bahwa 40 dirham uangmu itu bakal kami rampas?"

"Aku telah berjanji kepada ibuku bahwa saya tidak bakal pernah berbicara bohong meski apapun yang terjadi. Karena dengan berbohong, orang tidak bakal lagi memercayaiku. Padahal, kepergianku ke Bagdad untuk mencari pengetahuan kepada orang awam. Aku mau orang-orang selalu memercayaiku."

Ketika mendengar Abdul Qadir mengatakan argumen kejujurannya, pemimpin penyamun tersadar. Dia pun menangis, menginsafi kesalahannya. Dia berjanji tidak bakal merampok lagi. Penyamun itu bertobat di hadapan Abdul Qadir, yang diikuti oleh para pengikutnya.

6. Umar bin Khattab yang Tegas

Cerita ini dikisahkan dalam buku 150 kisah Umar bin Khattab oleh Ahmad Abdul al-Thahtawi.

Umar bin Khattab merupakan salah satu sahabat mulia Rasul. Masa kekhalifahannya berjalan selama 10 tahun.

Beliau tercatat dalam sejarah sebagai seorang khalifah yang menjadi kekuatan besar baru di daerah Timur Tengah. 

Beliau menaklukkan Kekaisaran Sasaniyah, apalagi sukses mengambil alih kepemimpinan dua pertiga daerah Kekaisaran Romawi Timur.

Masa kekhalifahan Umar bin Khattab menjadi masa terbaik sepanjang sejarah pribadi yang tegas dan keras, pasca wafatnya Rasul dan Abu Bakar. 

Umar bin Khattab mempunyai pribadi yang tegas dan keras, apalagi sempat dikhawatirkan umat Islam ketika beliau menggantikan Abu Bakar sebagai khalifah.

Diriwayatkan dari Said ibnu al-Musayyib, Umar naik ke atas mimbar Rasul dan berpidato. 

Dia berkata, “Wahai sekalian manusia, telah sampai kepadaku bahwa kalian merasa takut kepadaku, maka dengarkanlah apa yang kukatakan.”

Ada keistimewaan Umar bin Khattab yang diutarakan Rasul. Abu Hurairah berkata, “Pada umat terdahulu ada orang-orang yang diberi ilham. Jika ada pada seseorang dari umatku, maka dia adalah Umar." 

Selanjutnya, ketika sedang berada di dalam surga. Saat itu ada seorang wanita yang sedang berwudu di samping sebuah istana. Aku bertanya (kepada para Malaikat): ‘Milik siapa istana ini?’ Mereka menjawab: ‘Istana ini milik Umar’.

7. Gadis Penjual Susu yang Jujur

Cerita ini dikutip dari kitab 365 Kisah Teladan Islam oleh Ariany Syurfah:

Dikisahkan pada era pemerintahan Khalifah Umar bin Khattab. Ada Seorang ibu dan putrinya yang sehari-hari bekerja sebagai penjual susu.

Pada suatu malam, sang ibu berbicara kepada putrinya, "Campurkan susu murni ini dengan air agar jumlahnya lebih banyak. Kita bakal untung banyak juga."

Dengan wajah kaget, sang putri berkata, "Jangan, Bu! Khalifah Umar melarang perihal itu."

Sang ibu lampau menjawab, "Khalifah tidak bakal memandang kita."

Mendengar jawaban sang ibu, secara spontan sang putri berkata, "Ibu, khalifah memang tidak melihatnya, tapi Allah pasti memandang perbuatan kita."

Tanpa sepengetahuan mereka, khalifah Umar yang sedang berkeliling mendengar percakapan mereka.

Khalifah Umar memuji adab gadis itu. Beliau berbicara dalam hati, "Subhaanallah, sungguh mulia adab gadis itu."

Jadi, berlakulah jujur di dalam kehidupan sehari-hari. Allah SWT senantiasa mengetahui perbuatan kita.

Itulah contoh-contoh cerita anak islami tentang adab yang bisa menginspirasi untuk Si Kecil belajar kebaikan. Semoga berfaedah ya, Bunda.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join organisasi Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(fir/fir)

Selengkapnya