7 Kalimat Orang Tua Zaman Dulu yang Ternyata Buruk untuk Perkembangan Anak

Jun 20, 2026 08:40 PM - 1 bulan yang lalu 46445

Perubahan langkah orang tua dalam mendidik anak kerap menjadi bahan obrolan yang menarik untuk diikuti, terlebih bagi Bunda yang mengikuti perkembangan parenting masa kini.

Setiap generasi memang mempunyai pola asuh yang berbeda sesuai zamannya. Namun, perbedaan itu tak jarang memunculkan kebiasaan lama yang tetap terbawa sampai sekarang.

Seorang psikolog berlisensi dari Thriveworks, Dr. Crystal Saidi, Psy.D., menjelaskan bahwa pola pengasuhan semestinya ikut berkembang. Menurutnya, bahasa yang digunakan orang tua punya pengaruh terhadap emosi anak.


"Pola pengasuhan kudu berkembang seiring dengan budaya, norma masyarakat, dan perkembangan psikologis," ujar Saidi, menilik dari laman Parade.

"Saat ini, kita lebih memahami dari sebelumnya bahwa bahasa membentuk gimana anak-anak merasakan rasa kondusif dan keterhubungan. Kita kudu beradaptasi dan lebih memperhatikan kata-kata yang kita gunakan dengan anak-anak," katanya.

Saidi juga menuturkan bahwa setiap generasi tumbuh dengan kebiasaan yang berbeda, termasuk Baby Boomer yang lahir setelah Perang Dunia II. Cara mereka dibesarkan lebih konsentrasi pada ketahanan dan kerja keras.

Karena perbedaan itu, ungkapan lama dalam pengasuhan tetap digunakan sampai sekarang, meski sudah dianggap kurang tepat. Melihat perihal ini, Saidi memaparkan kalimat orang tua era dulu yang rupanya berakibat kurang baik bagi perkembangan anak.

Kalimat orang tua era dulu yang rupanya jelek untuk perkembangan anak

Psikolog Saidi membagikan sejumlah ungkapan orang tua era dulu yang rupanya dapat berakibat kurang baik bagi perkembangan anak. Berikut penjelasannya yang dikutip dari Parade.

1. "Karena Bunda bilang begitu"

Salah satu ungkapan yang digunakan orang tua era dulu adalah kalimat untuk menutup pertanyaan anak tanpa memberi argumen yang jelas. Ungkapan seperti ini sudah terbiasa diucapkan dari generasi ke generasi.

Saidi menjelaskan bahwa ungkapan tersebut dipakai agar orang tua lebih mudah mengarahkan anak di rumah. Tujuannya agar patokan bisa melangkah dengan baik.

"Ungkapan ini digunakan untuk menegakkan otoritas, terutama di rumah tangga di mana kepatuhan mengenai dengan ketertiban," jelasnya.

Namun, langkah seperti ini sekarang dianggap kurang sesuai dengan pendekatan pengasuhan saat ini. Anak-anak lebih memerlukan penjelasan agar mereka tahu argumen di kembali patokan yang diberikan.

"Namun, saat ini ungkapan itu bisa terasa meremehkan. Generasi muda menghargai penjelasan lantaran itu membangun kepercayaan, bukan pembangkangan," katanya.

2. "Kamu baik-baik saja"

Saidi menjelaskan bahwa orang tua era dulu menggunakan ungkapan tersebut agar lebih kuat dan tidak bereaksi berlebihan terhadap suatu keadaan.

"Orang tua era dulu sering menggunakan perihal ini untuk mendorong ketahanan dan mencegah anak-anak bereaksi berlebihan," kata Saidi.

Namun, kebiasaan seperti ini bisa saja membikin anak merasa tidak divalidasi, Bunda. Bahkan, anak bisa jadi meragukan apa yang mereka rasakan sendiri.

"Meskipun niatnya baik, perihal itu secara tidak sengaja dapat mengabaikan ketidaknyamanan emosional alias bentuk dan membikin anak-anak meragukan sinyal internal mereka sendiri," ujar Saidi.

3. "Orang lain mempunyai nasib yang lebih buruk"

Maksud sebenarnya dari ungkapan ini sering kali tidak tersampaikan dengan baik dalam percakapan sehari-hari. Saidi mengatakan bahwa kalimat ini digunakan untuk membantu anak memandang keadaan dari perspektif pandang lain.

"Ungkapan ini digunakan untuk mendorong rasa syukur dan perspektif, terutama di era ekonomi yang tidak stabil," ungkapnya.

Namun, dia menjelaskan bahwa ungkapan ini dapat membikin emosi anak tidak diakui. Anak merasa seolah-olah rasa sakitnya boleh dirasakan jika ada orang lain yang mengalami perihal lebih berat.

"Namun, secara emosional, ungkapan ini meremehkan rasa sakit yang sebenarnya, dengan menyiratkan bahwa rasa sakit hanya sah jika itu adalah jenis rasa sakit terburuk yang mungkin terjadi," jelas Saidi.

4. "Berhentilah menangis"

Menangis adalah reaksi alami manusia saat merasakan sedih, kecewa, alias lelah, Bunda. Namun, banyak orang tua dulu yang meminta anak untuk segera berakhir menangis dalam beragam situasi.

Hal ini kemudian menjadi kebiasaan yang terbawa dari satu generasi ke generasi berikutnya. Sehingga, ungkapan tersebut tetap kerap terdengar sampai sekarang.

Saidi menuturkan bahwa saat seseorang bisa mengendalikan dan menahan emosinya sendiri itu dianggap sebagai corak kedewasaan.

"Pada generasi sebelumnya, pengendalian dan pengekangan emosi dipandang sebagai kedewasaan," kata Saidi.

"Anak-anak didorong untuk 'menjadi lebih tegar', dan menangis dianggap sebagai kelemahan. Saat ini, ungkapan ini dapat terasa memalukan bagi anak-anak dan mengajarkan mereka bahwa emosi mereka tidak dapat diterima," ujarnya.

5. "Jangan terlalu sensitif"

Selanjutnya, Saidi mengatakan bahwa orang tua era dulu menggunakan kalimat ini untuk membentuk ketangguhan emosi pada anak. Ungkapan ini ada lantaran pengalaman hidup di masa pascaperang.

Banyak dari mereka yang kemudian menerapkannya kembali pada anak-anak sendiri. Terlebih dengan masa bentrok seperti perang Vietnam yang tetap membekas, sehingga langkah pandang itu turut terbawa dalam pengasuhan.

6. "Begitulah kehidupan"

Dalam keseharian, ungkapan ini seolah menegaskan bahwa tidak semua perihal bisa melangkah sesuai dengan harapan. Maka dari itu, anak hanya diminta untuk menerima dan memperkuat dengan keadaan yang terjadi.

Namun, Saidi menegaskan bahwa meski sikap untuk memperkuat itu penting, penggunaan ungkapan ini bisa berakibat kurang baik. Anak kurang terbiasa mengatur emosi dan mencari solusi dari masalah yang dihadapi.

"Meskipun ketahanan itu berharga, pola pikir ini dapat menghalang pemrosesan emosi dan pemecahan masalah jika terlalu sering digunakan," tuturnya.

7. "Jangan sampai Bunda bikin Anda menangis"

Ada ungkapan lama yang mungkin tetap sesekali terdengar saat orang tua sedang emosi kepada anak. Salah satunya adalah "Jangan sampai Bunda bikin Anda menangis," alias "Nanti Bunda bikin Anda nangis,".

Psikolog Saidi menjelaskan bahwa ungkapan tersebut berasal dari model disiplin yang berakar pada rasa takut dan kepatuhan, Bunda.

"Ungkapan ini berasal dari model disiplin yang berakar pada rasa takut dan kepatuhan," katanya.

Ia menambahkan bahwa kalimat seperti ini dapat meninggalkan kesan kurang baik pada anak hingga dewasa. Mereka dapat tumbuh dengan ingatan bahwa mengekspresikan emosi bukanlah perihal yang baik.

"Ungkapan ini dapat terus melekat pada anak-anak dewasa sebagai pengingat bahwa mengekspresikan emosi dulunya terasa tidak aman," ujar Saidi.

Itulah beberapa kalimat orang tua era dulu yang rupanya dapat berakibat kurang baik bagi perkembangan anak.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join organisasi Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(ndf/fir)

Selengkapnya