Kenali 9 kesalahan single parent dalam mengasuh anak yang sering tidak disadari, mulai dari terlalu keras pada diri sendiri hingga menjadikan anak sebagai kawan curhat.
Menjadi orang tua tunggal bukan berfaedah seseorang tidak bisa memberikan pengasuhan yang baik untuk anak. Justru, banyak single parent yang berupaya melakukan semuanya sendiri agar kebutuhan anak tetap terpenuhi.
Menurut American Psychological Association (APA), kehidupan dalam family single parent memang dapat membawa tekanan tersendiri karena orang tua kudu membagi perhatian antara mengasuh anak, pekerjaan, urusan rumah tangga, hingga kondisi finansial.
Jadi, jika pernah merasa, “Kok akhir-akhir ini langkah saya menghadapi anak berubah, ya?” jangan buru-buru merasa menjadi orang tua yang buruk. Bisa jadi, Anda sedang kelelahan.
Baca juga: 10 Cara Menjelaskan Perceraian kepada Anak: Pertanyaan dan Jawabannya
Lalu, apa saja kesalahan yang sering tidak disadari oleh single parent?

Foto: Stephen Harlan/Unsplash
1. Berusaha menjadi “dua orang tua” sekaligus
Karena hanya ada satu orang tua yang menjalankan sebagian besar tanggung jawab sehari-hari, single parent bisa merasa kudu memenuhi semua kebutuhan anak seorang diri.
Akibatnya, muncul pola pikir: “Saya kudu bisa semuanya.”
Padahal, anak tidak memerlukan satu orang tua yang sempurna. Anak memerlukan orang tua yang hadir, konsisten, dan yang dia rasakan kondusif untuk menjadi dirinya sendiri.
Jadi, meminta support bukan berfaedah kandas sebagai orang tua.
2. Terlalu keras pada diri sendiri dan akhirnya terlalu keras pada anak
Ketika semua tanggung jawab ada di pundak sendiri, kesalahan mini bisa terasa seperti kegagalan besar.
Anak mendapatkan nilai yang kurang bagus, bilik berantakan, terlambat sekolah, alias lupa melakukan sesuatu, lampau respons orang tua menjadi lebih emosional daripada yang sebenarnya diinginkan.
Orang tua tetap perlu menetapkan pemisah dan aturan, tetapi melakukannya dengan komunikasi yang tenang, penuh perhatian, dan tanpa mempermalukan alias menakut-nakuti anak.
Sebelum bereaksi, coba berakhir sejenak dan tanyakan pada diri sendiri:
“Saya sedang marah lantaran perilaku anak, alias lantaran saya sebenarnya sedang sangat lelah?”
Jawabannya bisa membantu menentukan respons yang lebih tepat.
Baca juga: Selain Selingkuh, Ternyata Ini 10 Penyebab Perceraian Utama
3. Menjadikan anak sebagai “teman curhat” utama
Anak memang bisa menjadi orang yang paling dekat dengan orang tua. Tetapi kedekatan bukan berfaedah anak kudu mengetahui semua masalah orang dewasa.
Misalnya, menceritakan bentrok dengan mantan pasangan secara detail, membicarakan masalah keuangan, alias mengatakan sungguh kesepiannya orang tua setelah berpisah.
Anak mungkin terlihat mengerti dan apalagi memberikan respons yang menenangkan.
Namun, tetap krusial untuk mengingat bahwa dia adalah anak, bukan pasangan pengganti alias tempat orang tua mendapatkan support emosional utama.
Boleh mengatakan:
“Mama lagi sedih hari ini. Mama butuh waktu sejenak untuk menenangkan diri.”
Tetapi berbeda dengan:
“Mama hanya punya kamu. Kalau bukan kamu, Mama kudu cerita ke siapa?”
Kalimat kedua secara tidak langsung dapat membikin anak merasa bertanggung jawab atas kondisi emosional orang tuanya.
4. Terlalu protektif lantaran takut anak terluka
Foto: Jordan Whitt/Unsplash
Setelah melewati perceraian, kehilangan pasangan, alias perubahan besar dalam keluarga, wajar jika orang tua menjadi lebih cemas terhadap anak.
Ada kemauan untuk memastikan anak tidak mengalami kesulitan lagi.
Namun, rasa takut tersebut kadang membikin orang tua menjadi terlalu protektif.
Anak tidak boleh bermain lantaran takut terjadi sesuatu. Tidak boleh mengambil keputusan sendiri lantaran takut salah. Bahkan, setiap masalah anak langsung diselesaikan oleh orang tua.
Padahal, anak tetap perlu belajar menghadapi masalah, membikin keputusan sesuai usianya, dan merasakan akibat yang wajar.
Baca juga: Pasangan Selingkuh, Maafkan alias Bercerai? Ini Jawaban Pakar!
5. Membiarkan anak “terlalu sigap dewasa”
Kebalikannya juga bisa terjadi.
Karena tahu orang tuanya kudu bekerja alias mengurus banyak perihal sendirian, anak akhirnya diminta lebih berdikari dari yang seharusnya.
“Kamu kan sudah besar.”
“Mama kerja, jadi Anda kudu ngerti.”
“Jangan bikin Mama tambah pusing.”
Memang krusial untuk mengajarkan kemandirian. Namun, berdikari berbeda dengan kudu memikul beban orang dewasa.
Anak tetap memerlukan kesempatan untuk bermain, melakukan kesalahan, meminta bantuan, dan mendapatkan perhatian.
Jangan sampai lantaran anak terlihat “kuat”, orang tua lupa bahwa dia tetap memerlukan ruang untuk menjadi anak-anak.
6. Terlalu memanjakan anak lantaran rasa bersalah
Foto: Brittani Burns/Unsplash
Ada juga single parent yang justru bergerak ke arah sebaliknya.
Karena merasa anak kehilangan sosok ayah alias ibu, waktu berbareng berkurang, alias kehidupan family berubah, orang tua kemudian berupaya “mengganti” semuanya dengan memberikan apa pun yang anak inginkan.
Lebih banyak hadiah.
Lebih banyak duit saku.
Lebih banyak kebebasan.
Lebih sedikit aturan.
UNICEF menjelaskan bahwa anak memerlukan hubungan yang hangat sekaligus struktur. Rutinitas dan ekspektasi yang jelas dapat membantu anak merasa aman, terutama ketika family sedang menghadapi perubahan alias stres.
Jadi, memberikan pemisah bukan berfaedah kurang menyayangi anak.
7. Membicarakan alias menjelekkan mantan pasangan di depan anak
Ini menjadi tantangan tersendiri, terutama jika hubungan dengan mantan pasangan tetap menyisakan konflik. Namun, sebisa mungkin hindari menjadikan anak sebagai pihak yang kudu memilih.
Misalnya:
“Ayah memang nggak pernah peduli sama kamu.”
atau
“Kalau bukan lantaran Ayah, hidup kita pasti lebih baik.”
APA mencatat bahwa bentrok yang terus berjalan antara orang tua merupakan salah satu tekanan yang dapat dihadapi family single parent dan dapat berakibat pada anak.
Baca juga: 10 Penyebab Hubungan dengan Mantan Pasangan Memburuk Setelah Bercerai
8. Menganggap semua perubahan perilaku anak sebagai “kenakalan”

Foto: Rifki Kurniawan/Unsplash
Setelah perubahan besar dalam keluarga, anak bisa menunjukkan respons emosional yang berbeda-beda.
Ada yang menjadi lebih pendiam. Ada yang mudah marah. Ada yang lebih clingy. Ada juga yang justru terlihat baik-baik saja.
Menurut UNICEF, perubahan besar seperti perpisahan orang tua dapat menjadi salah satu sumber stres bagi anak. Anak juga tidak selalu mempunyai keahlian untuk menjelaskan apa yang sedang dirasakan.
9. Lupa bahwa kondisi emosional orang tua juga memengaruhi anak
Ini bukan berfaedah orang tua kudu selalu senang di depan anak. Justru, anak boleh memandang bahwa orang tuanya bisa sedih, kecewa, lelah, apalagi menangis. Yang krusial adalah gimana emosi tersebut dikelola.
Jadi, self-care bagi single parent bukan sekadar pergi ke salon alias menikmati waktu sendirian.
Tidur cukup, meminta bantuan, berbincang dengan orang yang dipercaya, alias mencari support ahli ketika sudah kewalahan juga termasuk corak merawat diri.
Baca juga: 5 Cara Mengurus Perceraian Sendiri Tanpa Pengacara
Jadi, gimana pengasuhan single parent yang sehat?
Pastikan anak mendapatkan beberapa perihal mendasar: merasa dicintai, didengar, aman, mempunyai pemisah yang jelas, dan tidak dibebani masalah yang semestinya menjadi tanggung jawab orang dewasa.
Sebuah penelitian yang dipublikasikan melalui PubMed apalagi menemukan bahwa dalam konteks ibu yang menjadi single parent by choice, status sebagai single parent itu sendiri tidak secara otomatis menyebabkan masalah psikologis pada anak. Faktor seperti parenting stress dan kesulitan finansial justru lebih berangkaian dengan masalah penyesuaian anak.
Artinya, yang perlu diperhatikan bukan semata-mata apakah anak dibesarkan oleh satu alias dua orang tua.
Tetapi bagaimana kualitas hubungan, dukungan, komunikasi, dan lingkungan yang diterima anak.
Cover: Hutomo Abrianto/Unsplash

