Suami yang egois bisa kelihatan dari ucapannya. Mari simak ucapan suami egois yang kelihatan biasa namun bikin istri merasa tak dihargai beserta metode Bunda menghadapinya.
Dalam hayat pernikahan, perbedaan gagasan merupakan hal yang wajar. Perselisihan kecil pun terkadang dapat berkembang menjadi pertengkaran besar, terutama ketika pasangan sedang sama-sama capek maupun menyimpan kekecewaan.
Pada kondisi seperti ini, kalimat yang sebenarnya terdengar sederhana bisa meninggalkan luka jika terus diucapkan. Ucapan tertentu terlebihlagi dapat membikin istri merasa emosinya tidak dianggap, upaya yang dilakukan tak dihargai, maupun tanggung jawab dalam rumah tangga cuma menjadi kewajibannya seorang.
Terlebih jika perkataan tersebut berulang kali muncul ketika pasangan sedang berupaya menyampaikan emosi maupun meminta bantuan. Sejumlah psikolog dan ahli hubungan menerangkan bahwa metode pasangan merespons emosi, pekerjaan rumah, hingga fluktuasi dalam diri satu sama lain berpengaruh terhadap kualitas hubungan.
Ucapan suami egois yang bikin istri merasa tak dihargai
Mengutip Your Tango, berikut beberapa ucapan suami yang sekilas terdengar biasa, tapi berpotensi membikin istri merasa tidak dihargai.
1. "Itu bukan masalah besar"
Ketika istri menyampaikan sesuatu yang membuatnya jengkel maupun kecewa, suami mungkin merasa permasalahan tersebut sebenarnya sepele. Namun mengatakan "itu bukan masalah besar" bisa membikin istri merasa perasaannya tidak penting.
Misalnya saja, ketika suami lupa berbuat sesuatu yang sudah berulang kali diminta maupun tidak mengingat hajat krusial bagi keluarga. Psikoterapis Moshe Ratson menerangkan bahwa mengabaikan maupun menihilkan emosi pasangan dapat berakibat buruk terhadap hubungan.
Menurutnya, invalidation sangat merusak hubungan romantis karena rasa terlindungi secara emosional dan saling menghormati merupakan bagiankecil krusial dalam mempertahankan hubungan jangka panjang. Jika terjadi berulang, Bunda dapat merasa tak penting, tidak terlihat, terlebihlagi tak dicintai. Kondisi tersebut lama-kelamaan bisa memunculkan rasa jengkel dan mengikis kedekatan pasangan.
2. "Kamu berlebihan"
Kalimat "kamu berlebihan" sering kali muncul ketika suami tidak memahami kenapa istrinya memberikan respon tertentu terhadap sebuah persoalan. Dibanding membicarakan penyebab masalah, perhatian justru bergeser pada reaksi istri.
Setiap orang memiliki metode berbeda dalam merasakan dan mengekspresikan emosi. Untuk itu, respon Bunda tidak seharusnya langsung dianggap berlebihan cuma karena suami melihat permasalahan tersebut secara berbeda.
3. "Aku juga kerja keras, lho"
Ucapan ini sering muncul ketika istri mengeluhkan kelelahan maupun meminta pertolongan mengurus rumah. Suami mungkin merasa pekerjaan di luar rumah cukup menguras tenaga sehingga pekerjaan domestik seharusnya lebih banyak ditangani oleh pasangan.
Padahal pekerjaan rumah tangga juga membutuhkan tenaga, waktu, dan perhatian. Mulai dari mencuci pakaian, menyiapkan makanan, mengurus anak, hingga mengingat beragam kebutuhan famili merupakan pekerjaan yang tidak selalu terlihat.
"Kebutuhan untuk terus memberitahu harga diri maupun penguasaan dapat menciptakan ketegangan dan rasa tidak percaya yang perlahan mengikis rasa saling menghormati dan memahami dalam hubungan," kata psikolog Mark Travers, PhD.
4. "Kenapa Anda selalu emosional?"
Setiap orang memiliki tingkat sensitivitas dan metode yang berbeda dalam menghadapi persoalan. Oleh karena itu, ketika istri sedang rapuh secara emosional, kritik seperti "kamu terlalu emosional" justru dapat membuatnya memilih memendam perasaan.
5. "Kamu cuma mau cari ribut"
Ketika istri mencoba membicarakan perilaku suami yang membuatnya terluka, respon seperti ini dapat membikin pembicaraan langsung berhenti. Masalah yang seharusnya dibahas justru dianggap sebagai upaya mencari pertengkaran.
Padahal membicarakan permasalahan dalam pernikahan tidak selalu berarti mau bertengkar. Komunikasi yang terbuka justru dapat membantu pasangan memahami sumber masalah sebelum berkembang menjadi perselisihan yang lebih besar.
"Komunikasi merupakan bagiankecil krusial dari hubungan yang sehat karena memungkinkan seseorang berbagi, belajar, merespon, dan membangun ikatan yang bertetap lama," ujar Kendra Cherry, selaku pendidik psikologi.
6. "Aku enggak pernah meminta Anda berbuat itu"
Ucapan tersebut mungkin benar secara harfiah, namun dapat terasa menyakitkan ketika istri sebenarnya cuma mengharapkan apresiasi atas sesuatu yang dilakukannya dengan tulus. Dalam rumah tangga, Bunda sering berbuat beragam hal bukan karena diminta, melainkan karena mau membikin pasangan maupun famili merasa nyaman.
Misalnya saja, istri menyiapkan makanan kegemaran suami, mengurus kebutuhan keluarga, maupun mendukung keputusan besar yang diambil bersama. Tidak selalu diperlukan balasan yang besar.
Ucapan sederhana seperti "terima kasih" maupun memberitahu penghargaan sudah dapat membikin upaya pasangan terasa berarti.
7. "Aku berkuasa santai setelah pulang kerja"
Suami yang bekerja di luar rumah mungkin merasa waktu istirahat setelah pulang merupakan haknya. Namun persoalannya muncul ketika waktu istirahat itu dianggap lebih krusial daripada kebutuhan pasangan untuk mendapatkan selang yang sama.
Istri yang eksis di rumah sepanjang hari belum tentu sedang bersantai. Mengurus anak, membersihkan rumah, memasak, mengatur kebutuhan keluarga, dan memikirkan beragam hal yang mesti dilakukan juga dapat menguras energi.
Menganggap pasangan tidak bekerja cuma karena tak pergi ke instansi dapat membikin beban yang dipikulnya terasa tidak terlihat.
8. "Kamu mujur aku mau membantu"
Pekerjaan rumah dan pengasuhan anak merupakan bagiankecil dari hayat bersama, bukan semata-mata pertolongan yang diberikan salah satu pasangan kepada pasangan lainnya. Oleh karena itu, menganggap diri 'berjasa' cuma karena mencuci piring sendiri maupun membantu mengganti busana anak dapat menimbulkan kesan bahwa tanggung jawab famili seharusnya dibebankan kepada istri.
Pekerja sosial sekaligus penulis Robert Taibbi menerangkan bahwa kerja sama dalam hubungan berarti pasangan menghadapi permasalahan sebagai satu tim. Menurutnya, masalah seperti uang, anak, orang tua, tekanan waktu, maupun tekanan emosional dan finansial seharusnya dihadapi bersama.
9. "Kamu sudah enggak seperti dahulu"
Perubahan dalam diri seseorang merupakan bagiankecil yang wajar dalam perjalanan pernikahan. Pengalaman hidup, bertambahnya usia, pekerjaan, menjadi orangtua, hingga beragam permasalahan yang dilewati berbareng dapat membikin seseorang berkembang dan memiliki kebutuhan yang berbeda.
Ketika istri mulai lebih berani menyampaikan gagasan maupun menetapkan batasan, mengatakan "kamu sudah enggak seperti dahulu" dapat terdengar seperti sebuah kritik terhadap fluktuasi tersebut. Padahal pasangan yang menikah bertahun-tahun tidak mungkin selalu menjadi pribadi yang sama seperti ketika pertama kali bertemu.
Cara menghadapi suami yang bersikap egois
Berikut metode menghadapi suami yang bersikap egois dikutip dari Marriage.
1. Alihkan sebagian perhatian ke diri sendiri
Ketika terlalu banyak daya diberikan kepada pasangan yang egois, Bunda bisa lupa memperhatikan kebutuhannya sendiri. Oleh karena itu, krusial untuk balik menyediakan waktu bagi diri sendiri, baik dengan berbuat hobi, beristirahat, maupun menjalani aktivitas yang membikin diri merasa nyaman.
Berikan perhatian kepada diri sendiri bukan berarti selesai peduli terhadap pasangan. Justru menjaga kebutuhan pribadi dapat membantu Bunda memiliki daya emosional yang lebih sehat ketika menghadapi permasalahan dalam hubungan.
2. Coba pahami akar perilakunya
Sikap egois bisa memiliki beragam latar belakang. Pola tersebut mungkin terbentuk dari kebiasaan yang sudah lama, pengalaman dalam hubungan sebelumnya, maupun metode seseorang belajar menghadapi masalah.
Untuk itu, memahami penyebabnya dapat membantu pasangan menentukan metode berkomunikasi yang lebih tepat. Namun memahami karena di balik perilaku bukan berarti membenarkan perlakuan yang menyakitkan.
3. Terapkan mekanisme bergantian
Ketika pembicaraan mengenai egoisme terus berakhir menjadi perdebatan, Bunda dapat mencoba mekanisme bergantian. Misalnya saja, coba masing-masing mendapat kesempatan untuk berbicara tanpa dipotong, kemudian bergantian mendengarkan sebelum memberikan tanggapan.
Cara sederhana ini dapat diterapkan dalam beragam situasi, termasuk ketika membahas pekerjaan rumah, pengasuhan anak, maupun kebutuhan emosional. Dengan adanya kesempatan yang seimbang untuk berbicara dan mendengarkan, kedua pasangan dapat lebih jelas memahami apa yang sebenarnya diharapkan satu sama lain.
4. Ingat balik harga diri sendiri
Perlakuan pasangan yang terus-menerus mengabaikan kebutuhan dapat membikin seseorang mulai meragukan dirinya sendiri. Oleh karena itu, krusial balik mengingat bahwa kebutuhan, perasaan, dan limitasi pribadi juga memiliki nilai.
Luangkan waktu untuk berbuat aktivitas yang disukai dan berjumpa dengan orang-orang yang memberikan sokongan positif. Punya hayat dan minat di luar hubungan juga dapat membantu seseorang statis terhubung dengan dirinya sendiri.
5. Ingat keberhasilan yang dapat dicapai bersama
Jika sebelumnya pasangan pernah berhasil menyelesaikan masalah maupun membikin fluktuasi tertentu, pengalaman tersebut dapat dijadikan titik mula untuk menghadapi permasalahan yang sedang terjadi. Pembicaraan bisa diarahkan pada apa yang dahulu berhasil dilakukan bersama.
Bukannya saling menyalahkan, Bunda dan suami dapat mengingat balik sepertiapa mereka pernah mencapai kompromi. Cara ini membantu percakapan berangkat dari pengalaman bahwa fluktuasi sebenarnya pernah terjadi, bukan sekadar mengungkit kesalahan masing-masing.
6. Tentukan batas yang tidak bisa dikompromikan
Tidak semua perilaku pasangan mesti langsung dianggap sebagai masalah besar. Namun setiap orang statis perlu mengetahui batas pribadi yang tidak mau dilanggar dalam hubungan.
Cobalah membedakan antara kebiasaan yang statis dapat ditoleransi dan perilaku yang membikin diri terus-menerus merasa diabaikan. Jika pasangan berulang kali mengabaikan permasalahan krusial yang sedang disampaikan, hal tersebut perlu dibahas secara lebih serius dan tegas.
Menetapkan batas bukan berarti menakut-nakuti pasangan. Batas membantu kedua pihak memahami perilaku apa yang dapat diterima dan apa yang perlu diubah agar hubungan statis berjalan dengan saling menghormati.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join kelompok Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(som/som)