Kincai Media , JAKARTA -- Pribadi Rasulullah Muhammad SAW merangkum banyak adab mulia. Ibnu Qayyim menyatakan, Nabi SAW memadukan takwa kepada Allah dan sifat-sifat luhur.
Ketakwaan dapat memperbaiki hubungan antara seorang hamba dan Allah Ta'ala. Adapun adab mulia dapat memperbaiki hubungannya dengan sesama makhluk. Jadi, takwa kepada Allah SWT bakal melahirkan cinta seseorang kepada-Nya, sedangkan adab yang baik dapat menarik cinta manusia kepada diri insan tersebut.
Hisyam bin Amir pernah bertanya kepada ummul mukminin 'Aisyah tentang adab Rasulullah SAW. Putri Abu Bakar ash-Shiddiq itu menjawab, "Akhlak Nabi SAW adalah Alquran" (HR Muslim).
Sungguh, jawaban 'Aisyah ini singkat, tetapi sarat makna. Ia menyifati Rasulullah SAW dengan satu sifat yang dapat mewakili seluruh sifat yang ada. Memang tepat, adab Nabi SAW adalah Alquran.
Allah SWT berfirman, yang artinya, "...Alquran ini memberi petunjuk ke (jalan) yang paling lurus..." (QS al-Israa': 9).
"(Yang) memberi petunjuk kepada (jalan) yang paling lurus..." (QS al-Jinn: 2).
Akhlak Nabi SAW adalah Alquran--kitab suci yang disifati dengan firman Allah, "...tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa." (QS al-Baqarah: 2).
Pada masa permulaan dakwah Islam, Nabi Muhammad SAW tidak hanya membangun sisi tauhid, tetapi juga membangun sendi dan pilar adab mulia. Abu Hurairah meriwayatkan bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda, "Sungguh, saya diutus untuk menyempurnakan adab mulia" (HR Baihaqi dan Al-Hakim).
Anas berkata, "Sungguh, Rasulullah SAW betul-betul manusia dengan adab paling mulia" (HR Bukhari-Muslim).
Anas juga berkata, "Selama 10 tahun saya berkhidmat kepada beliau (Rasulullah), saya tidak pernah mendengar beliau mengucapkan kata "Ah" (untuk mengeluh), sebagaimana beliau tidak pernah mempertanyakan apa yang kau kerjakan, 'Mengapa Anda mengerjakan ini? alias 'Bukankah semestinya Anda mengerjakan seperti ini?" (HR Bukhari-Muslim).
English (US) ·
Indonesian (ID) ·