Kincai Media ,JAKARTA -- Jauh sebelum Islam hadir, kedudukan wanita di beragam peradaban bumi berada pada posisi yang memprihatinkan. Di sejumlah masyarakat kuno, wanita dipandang sebagai milik laki-laki, dapat diperjualbelikan, apalagi kehilangan hak-hak dasar sebagai manusia. Kehadiran Islam kemudian membawa perubahan besar dengan mengangkat martabat wanita dan menempatkan mereka sebagai sosok yang kudu dihormati serta dimuliakan.
Menurut catatan sejarah, sebelum kehadiran kepercayaan Islam, di bumi terdapat dua peradaban besar, ialah peradaban Yunani dan Romawi. Dunia juga mengenal dua kepercayaan besar, Yahudi dan Nasrani, kedua-duanya termasuk kepercayaan langit.
Masyarakat Yunani yang terkenal dengan pemikiran filsafatnya tidak banyak berbincang tentang kewenangan dan tanggungjawab wanita. Di kalangan elit ialah raja-raja dan kaum bangsawan, kaum wanita ditempatkan (disekap) di dalam istana-istana.
Sedangkan di kalangan lapisan bawah, nasib kaum wanita sangat menyedihkan. Mereka boleh diperjualbelikan di pasar, dan yang sudah berumah tangga sepenuhnya menjadi milik suaminya serta absolut kudu tunduk di bawah kekuasaan suami. Mereka tidak mempunyai hak-hak sipil, kewenangan waris pun tidak mereka punyai.
HMH Al-Hamid Al-Husaini dalam kitab Rumah Tangga Nabi Muhammad SAW menerangkan bahwa pada masa puncak peradaban Yunani, kaum wanita mempunyai kebebasan semata-mata untuk dapat memenuhi kebutuhan dan selera syahwat serta kemewahan kaum lelaki. Hubungan seksual bebas tidak dipandang melanggar kesusilaan. Tempat-tempat perzinahan menjadi pusat-pusat kegiatan politik dan sastra alias seni. Patung-patung bugil bulat yang banyak bertebaran di negeri-negeri Barat merupakan bukti yang menunjukkan sisa-sisa pandangan mereka.
English (US) ·
Indonesian (ID) ·