Ilustrasi sujud.
Kincai Media, JAKARTA-Di antara seluruh aktivitas dalam shalat, sujud menempati posisi yang paling istimewa. Saat seorang hamba berdiri, dia sedang beribadah.
Saat rukuk, dia sedang mengagungkan Allah SAW. Namun ketika sujud, dia berada pada puncak ketundukan dan penghambaan kepada Tuhannya.
Sujud adalah simbol kehinaan manusia di hadapan Sang Pencipta. Dahi yang menjadi lambang kemuliaan dan kehormatan manusia justru ditempelkan ke tanah. Akan tetapi, di situlah letak keagungannya.
Semakin rendah seorang hamba merendahkan dirinya di hadapan Allah, semakin tinggi Allah mengangkat derajatnya.
Tidak mengherankan jika Rasulullah SAW menjadikan banyaknya sujud sebagai salah satu jalan utama menuju surga dan kedekatan dengan beliau di akhirat.
Kisah ini bermulai dari seorang sahabat sederhana berjulukan Rabi'ah bin Ka'ab Al-Aslami RA. Ia bukan orang kaya, bukan pemilik kekuasaan, dan bukan tokoh yang mempunyai pengaruh besar di tengah masyarakat.
Ia hanyalah seorang sahabat yang hidup dalam kesederhanaan dan mengabdikan dirinya untuk melayani Rasulullah SAW.
Rabi'ah bercerita bahwa dia sering bermalam di dekat Rasulullah SAW. Ia menyiapkan air untuk wudhu dan membantu beragam keperluan beliau.
Suatu hari Rasulullah SAW berbicara kepadanya, "Mintalah." Sebuah kesempatan yang sangat langka.