Amankah Bunda Tidur Pisah Ranjang dengan Bayi di Kamar saat Menyusui?

Portal Kesehatan Ibu dan Anak oleh Waktu baca 5 menit 517x dilihat
Amankah Bunda Tidur Pisah Ranjang dengan Bayi di Kamar saat Menyusui?

Bagikan Postingan

Jakarta -

Tidur di tempat tidur berbeda dari bayi bukan berfaedah Bunda tidak bisa tetap memberikan ASI. Dengan pengaturan yang tepat, Bunda tetap dapat menyusui langsung maupun memberikan ASI perah.

Namun, ada satu perihal krusial yang perlu diperhatikan, terutama jika Si Kecil tetap bayi baru lahir. American Academy of Pediatrics (AAP) merekomendasikan bayi tidur sekamar dengan orang tua, tetapi di tempat tidur yang terpisah, terutama setidaknya selama 6 bulan pertama.

Pengaturan ini disebut room-sharing without bed-sharing. Menurut AAP, tidur sekamar dengan bayi dapat membantu orang tua lebih mudah menyusui, menenangkan, dan memantau bayi sekaligus menurunkan akibat kematian mengenai tidur. 


Bolehkah Bunda tidur pisah ranjang dengan bayi?

Bisa saja dalam kondisi tertentu, tetapi perlu mempertimbangkan usia dan kondisi bayi. Untuk bayi terutama pada 6 bulan pertama, AAP lebih merekomendasikan room-sharing, ialah bayi tidur di bilik yang sama dengan orang tua tetapi di tempat tidur terpisah.

Sementara dari sisi menyusui, Bunda yang tidak selalu menyusui langsung tetap dapat memberikan ASI melalui ASI perah. Yang perlu diperhatikan adalah menjaga pemberian ASI sesuai kebutuhan bayi dan mempertahankan stimulasi tetek melalui menyusui alias memerah.

Jadi, tidur terpisah tidak otomatis membikin Bunda kudu berakhir menyusui. Kuncinya adalah menemukan pola yang tetap memenuhi kebutuhan Si Kecil sekaligus memberikan Bunda kesempatan untuk beristirahat.

Tips lancar menyusui jika Bunda tidur pisah ranjang dengan bayi

Jadi, jika Bunda mau tidur terpisah lantaran argumen tertentu, sebaiknya pertimbangkan usia dan kondisi bayi terlebih dahulu.

1. Tetap ikuti kebutuhan menyusu bayi

Bayi baru lahir biasanya belum mempunyai pola tidur malam yang panjang. Mereka perlu menyusu secara berkala untuk mendapatkan asupan yang cukup.

Karena itu, jangan sengaja membikin bayi tidur lebih lama hanya agar Bunda bisa mendapatkan waktu rehat lebih panjang, terutama jika bayi tetap mini alias pertambahan berat badannya belum optimal.

Jika bayi terbangun dan menunjukkan tanda lapar, segera berikan ASI. Bila Bunda tidak berada di bilik bayi, pasangan alias pengasuh dapat membantu membawa bayi kepada Bunda.

2. Bila tidak menyusui langsung, tetap perah ASI

Nah, ini krusial untuk Bunda yang tidur di bilik berbeda. Jika satu sesi menyusui langsung dilewati, Bunda dapat memerah ASI pada waktu yang kurang lebih sama. Prinsipnya, tetek yang dikosongkan secara rutin membantu memberikan sinyal kepada tubuh untuk terus memproduksi ASI.

Penelitian tentang fisiologi laktasi menunjukkan bahwa pengeluaran ASI secara teratur berkedudukan krusial dalam mempertahankan produksi. Karena itu, ketika bayi menyusu lebih jarang, memerah ASI dapat membantu mempertahankan stimulasi payudara.

Bunda tidak kudu terpaku pada jam yang sama persis setiap malam. Yang lebih krusial adalah menyesuaikan gelombang menyusui alias memerah dengan kebutuhan bayi dan kondisi produksi ASI Bunda.

3. Siapkan ASI perah untuk malam hari

Kalau Bunda mau mendapatkan waktu tidur yang lebih panjang, ASI perah bisa menjadi salah satu solusinya.

Misalnya, pasangan dapat memberikan ASI perah ketika bayi terbangun pada malam hari, sementara Bunda tetap memerah ASI pada waktu yang sudah disepakati.

Dengan begitu, pasangan juga bisa ikut mengambil peran dalam merawat Si Kecil, tanpa kudu mengganti ASI dengan susu formula jika Bunda memang mau memberikan ASI eksklusif.

4. Jangan melewatkan sesi memerah terlalu lama

Bunda mungkin tergoda untuk berkata, "Mumpung bayi tidur, saya juga mau tidur saja."

Boleh banget memanfaatkan waktu bayi tidur untuk beristirahat. Namun, jika terlalu sering melewatkan sesi menyusui alias memerah, terutama pada masa awal menyusui, produksi ASI bisa ikut terdampak pada sebagian ibu.

Jadi, Bunda bisa mencari titik tengah antara kebutuhan rehat dan kebutuhan mempertahankan produksi ASI.

5. Pertimbangkan tidur sekamar, terutama pada 6 bulan pertama

AAP merekomendasikan bayi tidur di bilik yang sama dengan orang tua, tetapi di permukaan tidur yang berbeda, seperti boks alias bassinet. Rekomendasi tersebut terutama bertindak setidaknya selama 6 bulan pertama kehidupan. 

Berdasarkan tinjauan bukti yang digunakan AAP, room-sharing without bed-sharing dapat menurunkan akibat sudden infant death syndrome (SIDS) hingga sekitar 50% dibandingkan kondisi tidur tertentu yang tidak melibatkan room-sharing. 

Artinya, jika argumen Bunda mau tidur terpisah adalah agar tidak terganggu ketika bayi bergerak alias menyusu, sebenarnya ada pilihan lain: bayi tetap berada di bilik yang sama, tetapi tidur di tempat tidurnya sendiri.

6. Pastikan tempat tidur bayi aman

Di mana pun bayi tidur, jangan lupa prinsip safe sleep. AAP merekomendasikan bayi tidur telentang, di permukaan yang rata dan kokoh, tanpa bantal, selimut longgar, boneka, bumper, alias barang lembut lain di area tidurnya. 

Bunda juga sebaiknya menghindari menyusui sembari duduk di sofa alias bangku lembek ketika sangat mengantuk. AAP menyebut sofa dan bangku berlengan sebagai tempat yang sangat berisiko jika orang tua tertidur saat menyusui. 

7. Bagikan tugas malam dengan pasangan

Menyusui memang dilakukan oleh Bunda, tetapi bukan berfaedah seluruh pekerjaan malam kudu Bunda lakukan sendirian.

Pasangan bisa membantu mengambil bayi, mengganti popok, membawa bayi kembali ke tempat tidur, mencuci dan menyiapkan perangkat pompa, alias memberikan ASI perah.

Dengan pembagian tugas seperti ini, Bunda tetap bisa mendapatkan waktu rehat tanpa kudu mengurangi kesempatan bayi mendapatkan ASI.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join organisasi Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(pri/pri)

Artikel Lainnya Portal Kesehatan Ibu dan Anak
↑
Close Right Ads
Close Left Ads