Anak Ingin Gap Year? Jangan Langsung Menolak, Ini Faktanya

Insight Bunda Masa Kini Aug 23, 2026 08:30 PM 60

Anak mau gap year setelah SMA? Jangan langsung menolak, Mommies. Kenali manfaat, risiko, alasan, dan langkah membikin rencana gap year sebelum kuliah.

Mommies, gimana jika suatu hari anak pulang sekolah lampau bilang, “Aku mau gap year dulu sebelum kuliah”?

Buat sebagian orang tua, kalimat ini mungkin langsung bikin sirine berbunyi. “Kenapa kudu gap year? Teman-temannya sudah kuliah.” alias “Nanti malah keterusan gak kuliah, gimana?”

Wajar jika Mommies khawatir. Apalagi setelah bertahun-tahun mendampingi anak sekolah, rasanya setelah lulus SMA semestinya ada satu tujuan yang jelas: masuk kuliah, memilih jurusan, lampau lanjut ke tahap berikutnya.

Tapi ternyata, gap year gak selalu berfaedah anak malas alias gak punya masa depan. Dalam kondisi tertentu, jarak sebelum kuliah justru bisa menjadi kesempatan bagi anak untuk mengenali minat, mempersiapkan diri, memperbaiki strategi belajar, alias memikirkan pilihan pendidikan dengan lebih matang.

Yang penting, masa jarak sebelum kuliah bukan berfaedah “libur setahun”. Ada perbedaan besar antara mengambil jarak dengan tujuan yang jelas dan sekadar menunda kuliah tanpa rencana.

BACA JUGA: 12 Kegiatan Gap Year yang Bisa Dilakukan Sebelum Kuliah

Apa Itu Gap Year?

Secara sederhana, gap year adalah periode jarak yang diambil seseorang setelah menyelesaikan pendidikan menengah sebelum melanjutkan ke perguruan tinggi. Selama periode tersebut, anak bisa melakukan beragam kegiatan seperti mengikuti kursus, bekerja, magang, menjadi relawan, belajar bahasa, mengikuti program tertentu, alias mempersiapkan diri untuk masuk perguruan tinggi.

Masa jarak pendidikan ini juga gak kudu selalu berfaedah pergi ke luar negeri alias traveling berbulan-bulan seperti yang sering terlihat di media sosial. Anak bisa saja tetap tinggal di rumah dan menjalani kegiatan yang memang relevan dengan tujuan pendidikan alias pengembangan dirinya.

Jadi, jika anak mengatakan mau mengambil jarak sebelum kuliah, pertanyaan pertama yang sebaiknya muncul mungkin bukan “Kenapa?”, tetapi “Kamu mau melakukan apa selama gap year?”

Dari jawabannya, Mommies bisa mulai mengetahui apakah anak memang sedang mempertimbangkan pilihan dengan serius alias sebenarnya sedang mau menghindari sesuatu.

Jangan Langsung Menganggap Gap Year Berarti Anak Gak Serius Kuliah

Kekhawatiran orang tua soal gap year sebenarnya cukup masuk akal. Takut anak kehilangan motivasi, terlalu nyaman di rumah, alias akhirnya gak jadi kuliah sama sekali adalah perihal yang mungkin terlintas.

Namun, penelitian tentang gap year menunjukkan bahwa hasilnya gak sesederhana “gap year = buruk” alias “gap year = pasti bagus”.

Salah satu penelitian mengenai mahasiswa yang mengambil gap year menemukan bahwa mahasiswa yang menunda masuk perguruan tinggi justru mempunyai nilai universitas yang lebih tinggi dibandingkan mereka yang langsung kuliah. Penelitian tersebut juga menemukan untung nilai lebih terlihat pada golongan mahasiswa dengan performa akademik sebelumnya lebih rendah. Penelitian ini memang terbit pada 2007, jadi hasilnya sebaiknya dibaca sebagai salah satu bukti, bukan konklusi bahwa masa jarak pasti meningkatkan prestasi akademik.

Sementara itu, penelitian lain yang membandingkan jalur setelah SMA menemukan bahwa dampak gap year terhadap perkembangan psikologis dan pencapaian gak selalu sama pada setiap kelompok. Artinya, mengambil jarak bukan otomatis memberikan hasil yang lebih baik daripada langsung kuliah.

Artinya, yang perlu dilihat bukan sekadar apakah anak mengambil gap year alias tidak, tetapi apa yang dilakukan selama periode tersebut.

Alasan Anak Ingin Mengambil Gap Year!

Foto: Magnific

1. Anak Belum Yakin dengan Jurusan Kuliahnya

Ini salah satu argumen yang cukup masuk logika untuk dipertimbangkan.

Bayangkan anak memilih bidang hanya lantaran teman-temannya masuk ke sana, mengikuti kemauan orang tua, alias lantaran merasa bidang tersebut sedang populer. Lalu, baru beberapa bulan kuliah, dia menyadari bahwa bagian tersebut rupanya gak sesuai dengan dirinya.

Bukan gak mungkin akhirnya anak mau pindah jurusan, berakhir kuliah, alias menjalani kuliah dengan separuh hati.

Padahal, penelitian yang diterbitkan pada Learning and Individual Differences pada 2024 menemukan bahwa proses memilih program studi yang lebih matang dan adanya kecocokan antara minat mahasiswa dengan program yang dipilih berangkaian dengan kepuasan, prestasi akademik, dan keberlanjutan studi.

Jadi, jika anak mau menggunakan masa jarak ini untuk mengeksplorasi bidang dan karier, Mommies justru bisa membujuk dia membikin rencana yang konkret.

Misalnya, jika anak tertarik dengan psikologi, jangan hanya berakhir di tahap “kayaknya saya suka psikologi”. Ia bisa mulai mengikuti kelas pengantar, membaca buku, mencari info tentang bagian kerja lulusan psikologi, mengikuti webinar, alias berbincang dengan mahasiswa dan ahli di bagian tersebut.

Dengan begitu, gap year menjadi masa eksplorasi, bukan sekadar penundaan.

2. Anak Ingin Mempersiapkan Diri untuk Seleksi Masuk Kuliah

Ada juga anak yang sebenarnya sudah tahu mau kuliah di mana dan mengambil bidang apa, tetapi belum sukses masuk melalui jalur yang diinginkan.

Daripada menganggap kegagalan tersebut sebagai akhir dunia, mada jarak bisa menjadi kesempatan untuk mengevaluasi strategi.

Anak bisa memandang kembali hasil belajar sebelumnya, mengidentifikasi bagian yang tetap lemah, lampau membikin agenda belajar yang lebih realistis. Mommies juga bisa membantu dengan memastikan targetnya jelas dan bukan sekadar, “Tahun depan kudu lolos.”

Untuk konteks Indonesia, patokan penerimaan mahasiswa baru juga perlu diperhatikan lantaran status lulusan dan tahun kelulusan bisa berpengaruh terhadap jalur seleksi yang dapat diikuti. Untuk UTBK-SNBT 2026, misalnya, peserta bisa berasal dari lulusan 2024, 2025, dan 2026, dengan ketentuan yang berlaku. Lulusan Paket C juga mempunyai ketentuan usia tertentu.

Jadi sebelum anak memutuskan gap year unik untuk mencoba seleksi masuk PTN lagi, cek dulu patokan SNPMB pada tahun yang bakal diikuti. Jangan sampai sudah menyusun rencana setahun penuh, tetapi rupanya jalur yang ditargetkan mempunyai persyaratan yang berbeda.

3. Anak Ingin Mencoba Dunia Kerja

“Kalau gap year, saya mau kerja dulu.”

Kalimat ini juga gak selalu berfaedah anak sudah gak tertarik kuliah.

Bagi sebagian anak, bekerja justru bisa menjadi langkah untuk belajar tentang tanggung jawab, mengatur uang, berkomunikasi dengan orang lain, dan mengenal bumi kerja secara langsung.

Tentu, Mommies tetap perlu memandang jenis pekerjaannya. Kalau memungkinkan, pilih pekerjaan yang kondusif dan memberikan pengalaman yang bisa membantu perkembangan anak.

Anak juga bisa membikin sasaran sederhana, misalnya berapa lama bekerja, keahlian apa yang mau dipelajari, berapa duit yang mau ditabung, dan apa hubungannya pengalaman tersebut dengan rencana kuliah alias karier.

Jadi bukan sekadar “kerja dulu lantaran belum mau kuliah”, tetapi “aku mau menggunakan beberapa bulan ini untuk mendapatkan pengalaman kerja.”

4. Anak Ingin Mengembangkan Skill yang Belum Didapat di Sekolah

Gap year juga bisa digunakan untuk mempelajari sesuatu yang mungkin gak cukup didapatkan di bangku sekolah.

Misalnya, anak tertarik belajar coding, kreasi grafis, bahasa asing, public speaking, fotografi, memasak, alias keahlian lain yang mau dia kembangkan.

Yang menarik, penelitian pendidikan juga semakin banyak memandang pentingnya keahlian di luar nilai akademik, termasuk keahlian mengatur diri, menentukan tujuan, dan membangun kebiasaan belajar.

Sebuah studi open access yang diterbitkan di Higher Education pada 2024, misalnya, menemukan bahwa mahasiswa menghadapi tantangan dalam membangun kebiasaan belajar berdikari ketika beranjak ke kehidupan perguruan tinggi. Tujuan yang jelas dan keahlian mengatur diri menjadi bagian krusial dalam proses tersebut.

Karena itu, jika gap year membikin anak belajar mengatur jadwal, menentukan target, dan bertanggung jawab terhadap pilihannya sendiri, pengalaman tersebut bisa menjadi bekal yang berfaedah ketika dia akhirnya masuk kuliah.

5. Anak Butuh Waktu untuk Menentukan Arah

BACA JUGA: 6 Program Magang Berbayar untuk Anak SMA, Dapat Pengalaman Sekaligus Uang Saku

Ada anak yang lulus SMA dengan sudah punya lima pilihan jurusan.

Ada juga yang ketika ditanya, “Mau kuliah bidang apa?”, jawabannya cuma, “Gak tahu.”

Dan honestly, gak semua anak punya jawaban ketika berumur 17 alias 18 tahun.

Mommies mungkin sudah punya gambaran tentang masa depan anak, tetapi anaklah yang nantinya bakal menjalani kuliah dan pekerjaan tersebut. Karena itu, memberikan ruang untuk mengeksplorasi pilihan bisa lebih membantu daripada memaksa anak segera mengambil keputusan hanya lantaran takut tertinggal.

Yang perlu diperhatikan adalah jangan sampai gap year menjadi argumen untuk terus menunda keputusan. Anak tetap perlu punya timeline, target, dan pertimbangan berkala.

Tapi Gap Year Juga Punya Risiko, Mommies

Nah, ini bagian yang juga penting.

Artikel tentang gap year jangan sampai membikin Mommies berpikir bahwa mengambil jarak setahun otomatis bakal membikin anak lebih matang, lebih pintar, alias lebih sukses.

Tidak ada agunan seperti itu.

Gap year bisa berfaedah jika diisi dengan kegiatan yang terarah. Sebaliknya, jika anak gak punya rutinitas, gak mempunyai target, dan menghabiskan sebagian besar waktu hanya untuk bermain alias scrolling tanpa tujuan, satu tahun bisa berlalu begitu saja.

Belum lagi ada akibat anak merasa semakin susah kembali ke rutinitas belajar setelah terlalu lama berhenti.

Karena itu, Mommies dan anak perlu membicarakan hal-hal yang cukup praktis sejak awal: kegiatan sehari-hari, sasaran pendidikan, biaya, lama gap year, serta kapan dan gimana anak bakal kembali mendaftar kuliah.

Jadi, Haruskah Mommies Mengizinkan Anak Gap Year?

Foto: Pexels

Jawabannya tidak bisa sekadar “iya” alias “tidak”.

Coba lihat dulu argumen anak.

Kalau anak mau gap year lantaran memang punya rencana untuk mengeksplorasi jurusan, mengikuti program, bekerja, mengembangkan skill, alias mempersiapkan seleksi masuk perguruan tinggi, Mommies bisa mempertimbangkannya bersama.

Sebaliknya, jika anak mau gap year hanya lantaran takut menghadapi bumi kuliah, gak mau belajar lagi, alias mau menghindari keputusan yang sulit, mungkin justru itu yang perlu dibicarakan lebih dalam.

Mommies bisa mengusulkan pertanyaan sederhana seperti:

“Apa yang mau Anda capai selama gap year?”

“Kalau setahun sudah selesai, Anda mau berada di mana?”

“Kegiatan apa yang bakal Anda lakukan setiap minggu?”

“Bagaimana kita tahu jika rencana ini berhasil?”

Dari sini, obrolannya bisa berubah dari debat “boleh alias gak boleh gap year” menjadi obrolan tentang masa depan anak.

BACA JUGA: 8 Kesalahan dalam Memilih Jurusan Kuliah yang Sering Dianggap Sepele

Gap Year Bukan Berarti Anak Ketinggalan

Di usia remaja akhir, mungkin anak sering merasa semua orang sedang berlari.

Ada kawan yang sudah diterima kuliah, yang mulai ikut ospek, hingga sudah punya kehidupan kampus. Sementara dirinya tetap berada di titik yang sama.

Mommies juga mungkin ikut merasa panik.

Tapi perjalanan pendidikan anak gak kudu selalu terlihat sama dengan teman-temannya. Yang lebih krusial adalah apakah anak punya kesempatan untuk membikin keputusan yang cukup matang dan memahami konsekuensinya.

Penelitian tentang pilihan studi pada mahasiswa juga menunjukkan pentingnya eksplorasi dan kecocokan antara minat dengan program pendidikan yang dipilih.

Jadi, jika anak datang dan mengatakan mau gap year, mungkin gak perlu langsung menjawab, “Gak boleh!”

Dengarkan dulu alasannya.

Tanyakan rencananya.

Bantu dia menghitung konsekuensinya.

Dan jika akhirnya Mommies dan anak sepakat bahwa gap year memang pilihan yang tepat, pastikan satu tahun tersebut betul-betul punya tujuan.

Karena gap year yang terencana bukan berfaedah anak berakhir melangkah. Bisa jadi, dia justru sedang mengambil jarak agar langkah berikutnya gak salah arah.

Pada akhirnya, yang Mommies perlukan bukan keputusan untuk langsung mengizinkan alias menolak gap year, tetapi percakapan yang membikin anak belajar bertanggung jawab atas pilihannya sendiri. Kalau setelah berbincang rupanya rencananya masuk akal, buat sasaran bersama, tentukan timeline, dan sepakati kapan perlu mengevaluasi kembali rencana tersebut.

Sebab, kuliah bukan perlombaan siapa yang paling sigap sampai. Yang penting, ketika akhirnya anak melangkah, dia tahu kenapa memilih jalan itu dan ke mana mau pergi.

BACA JUGA: Mau Anak Lebih Siap Kuliah dan Kerja? Ajarkan Cara Membuat LinkedIn Sejak Remaja

Cover: Pexels

Selengkapnya
Anak Ingin Gap Year? Jangan Langsung Menolak, Ini Faktanya
InMotion Shared Hosting
CloudWays Cloud Hosting