Anak Laki-laki Suka Main Game? Simak Manfaat Dan Risikonya Menurut Ahli

Jun 17, 2026 05:20 PM - 3 hari yang lalu 4726

Kepopuleran video game membikin orang tua semakin mengkhawatirkan dampaknya terhadap pertumbuhan anak mereka, terutama anak laki-laki. Bahkan, tidak jarang orang tua merasa ragu dengan keputusan memberikan video game kepada anaknya.

Saat ini tak dipungkiri lagi bahwa video game atau permainan online semakin masif dan menargetkan anak-anak. Berbagai macam pilihan permainan tersedia, mulai dari yang cuma-cuma hingga yang berbayar.

Tak jarang, anak lebih suka menghabiskan waktu untuk bermain permainan online daripada bersosialisasi langsung dengan teman-teman sebayanya. Itulah yang membikin para orang tua terutama Bunda menjadi overthinking dengan pertumbuhan anaknya.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT


Bagi orang tua, mungkin saja dengan adanya kegiatan yang dilakukan oleh anak, Bunda alias Ayah bisa melakukan kegiatan lain, seperti menyelesaikan tugas-tugas rumah alias sekadar bersantai. Meski begitu, orang tua tetap kudu mengawasi perilakunya.

Tak sedikit mungkin kita mendengar banyak desas-desus pro dan kontra mengenai akibat video game pada anak-anak. Berikut ini Bubun telah merangkum beberapa pendapat dari master yang bisa menjadi bahan pertimbangan orang tua dalam mengizinkan anak bermain video game.

Manfaat bermain video game pada pertumbuhan anak menurut para pakar

Sejumlah master dan penelitian mengungkapkan bukti bahwa bermain video game tidak selamanya berakibat buruk. Terdapat beberapa faedah yang sudah dianalisis secara ilmiah dan bisa dimanfaatkan oleh para orang tua. Berikut penjelasannya dilansir dari laman Parents. 

Video game dapat membantu bersosialisasi dan meningkatkan keahlian kognitif anak

Seorang psikiater anak dan remaja, Zishan Khan, MD, mengatakan bahwa video game mempunyai akibat baik untuk anak bersosialisasi, meskipun tidak secara langsung. Anak-anak yang bermain permainan online biasanya mereka mempunyai teman-teman online yang diperoleh dari dalam game.

Dilansir dari laman SCRD, anak laki-laki yang condong mempunyai keterbatasan dalam bersosialisasi secara langsung bakal memilih bermain game untuk memenuhi kebutuhan sosial mereka. Menurut Lars Wichstrøm, game online mudah diakses dan hubungan yang dilakukan tidak serumit hubungan tatap muka.

Selain itu, video game yang berbasis sandbox alias bumi terbuka, seperti Minecraft, dapat melatih produktivitas dan pemecahan masalah. Dokter Khan sepakat bahwa permainan tersebut dapat meningkatkan perkembangan kognitif anak serta kerja sama tim.

Pakar lain dari Plushie Dreadfuls, American McGee, juga menyampaikan analisisnya bahwa dengan pendampingan yang baik dari orang tua, anak laki-laki yang doyan bermain video game bakal lebih unggul dalam menyelesaikan persoalan di bidang-bidang tertentu.

“Permainan online sangat bagus untuk mempertajam keahlian ini dan kami telah mengawasi bahwa anak kami unggul dalam bidang-bidang ini dibandingkan dengan teman-temannya yang tidak bermain game,” tutur McGee.

Video game dapat membuka ruang komunikasi yang terbuka dan sehat berbareng anak

Dengan beragam macam pengaruh samping bermain video game, maka sangat wajar bagi orang tua untuk mengkhawatirkan dan menanyakan kepada anak mengenai paparan konten dalam game tersebut.

Ini membuka ruang komunikasi yang sehat dan terbuka antara orang tua dan anak. Terlebih, orang tau kudu memahami dan mengetahui apa saja permainan yang dimainkan oleh sang anak. Jika ditemukan konteks yang tak pantas, orang tua bisa menegurnya dan menasihatinya.

Selain itu, orang tua juga perlu melakukan penjadwalan dan pembatasan mengenai lama anak bermain video game. Perlu diingat, semua langkah kudu dilakukan dengan komunikasi yang sehat agar kedua belah pihak mempunyai rasa tanggung jawab serta bermain video game menjadi lebih kondusif dan nyaman.

Video game dapat membikin anak lebih disiplin dengan pembatasan

Sejalan dengan saran tersebut, setidaknya orang tua perlu memberikan spare waktu yang seimbang antara kebutuhan anak yang lain dengan permainan video game. Misalnya, Bunda bisa menerapkan 30 menit belajar dan 20 menit bermain video game pada anak.

Pakar pengasuhan anak dari Play, Alanna Gallo, menyetujui langkah tersebut dengan menyertakan pertimbangan mengenai usia anak. Menurutnya, usia anak yang tepat untuk mengenal video game adalah di atas 10 tahun, itupun orang tua tetap kudu membatasinya.

Peran orang tua sangat krusial dalam keterlibatan anak untuk memilih permainan, terutama pada anak yang baru pertama kali mengenal video game. Selain itu, orang tua tak lupa untuk selalu menyelingi anak bermain dan bersosialisasi secara langsung.

Jadi, dapat dikatakan bahwa video game mempunyai banyak faedah untuk perkembangan dan pertumbuhan anak laki-laki. Namun, peran orang tua sangat perlu untuk menyeimbangi agar anak tetap berada di jalannya dan terhindar dari pengaruh paparan yang yang kurang pantas.

Namun, master juga tidak melupakan pengaruh negatif yang sangat mungkin terjadi. Berikut beberapa ancaman dari video game yang kudu diketahui dan dipertimbangkan orang tua dalam memberikan lampu hijau kepada anak dalam bermain video game.

Video game bisa membikin anak kecanduan

Dampak negatif ini sebenarnya sudah lama terdengar di telinga kita, Bunda. Pakar juga menyampaikan bahwa kemungkinan anak untuk mengalami kecanduan sangat besar, karena video game memang dirancang untuk memacu adrenalin penggunanya.

Selain itu, beberapa game juga menyediakan fitur top-up untuk melengkapi beragam macam equipment di dalam game, seperti kostum, motif senjata, ataupun berlangganan fitur eksklusif lainnya. Nah, ini yang menyebabkan anak menjadi lebih adiktif untuk mengeluarkan uang.

Tak jarang, dorongan tersebut mengarahkan anak untuk melakukan kurang layak kepada orang tuanya. Sudah banyak bukti nyata mengenai anak yang meminjam kartu angsuran orang tua untuk melakukan top-up hingga nominal yang begitu besar, alias apalagi menghabiskan duit jajannya demi membeli koleksi skin terbaru.

“Video game dirancang untuk menjadi sangat adiktif dan sering berakibat negatif pada perilaku anak, seperti pengaturan emosi, fokus, dan kontrol impuls,” jelas Gallo.

Video game bisa memancing predator anak

Seperti yang telah disampaikan, anak-anak bisa menjalin sosialisasi dengan siapapun di dalam game. Meski fitur pertemanan mempunyai akibat positif, tak menutup kemungkinan fitur ini juga dimanfaatkan oleh orang jahat yang menargetkan anak-anak.

Misalnya, pada platform game online yang ramai dimainkan oleh anak-anak dan juga orang dewasa, kesempatan terjadinya predator anak sangat besar. Meski platform telah mengatur keamanan dengan persyaratan yang ketat, pengguna tetap bisa mengelabuinya.

Kita tidak bisa mengontrol obrolan yang terjadi dalam game. Mungkin saja obrolan tersebut bisa mengarah ke ujaran kebencian, seksual, dan apalagi pelecehan. Karena itu, krusial bagi orang tua untuk mengawasi anak dan mempelajari fitur-fitur keamanan tersebut.

Dampak negatif ini bisa menimbulkan trauma yang mendalam bagi anak-anak dan memengaruhi kondisi psikologis anak di masa mendatang. Bila tidak diawasi dengan benar, kita tidak bakal pernah tahu kapan ancaman dan pelecehan tersebut datang.

Video game bisa meningkatkan dorongan kekerasan

Beberapa penelitian mengawasi bahwa dorongan kekerasan sebenarnya tidak timbul ketika anak bermain sendiri. Lebih besar kemungkinannya ketika anak memandang teman-teman alias pengguna lain yang melakukan kekerasan di dalam game, terutama game action.

Sejatinya, anak-anak tetap mudah terpengaruh, Bunda. Namun, tak semua anak memilih untuk mengikuti dorongan tersebut, kebanyakan dari mereka justru menghindarinya lantaran pesan, nasihat, dan kontrol orang tua yang melarangnya bermain game jenis tersebut.

Ahli menyarankan, lebih baik orang tua menghindari untuk mengizinkan anak bermain video game berbasis kekerasan, jika anak belum cukup umur. Orang tua dapat menggantikannya dengan video game dengan pedoman pendidikan alias pengetahuan.

Demikian info yang bisa disampaikan. Semoga info ini memberikan pengetahuan kepada orang tua mengenai gimana video game bisa mengubah pertumbuhan anak laki-laki, sekarang ataupun di masa yang bakal datang.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join organisasi Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(rap/rap)

Selengkapnya