Anak Membantu Pekerjaan Rumah, Ini 4 Manfaatnya untuk Masa Depan

Insight Bunda Masa Kini oleh Waktu baca 6 menit 514x dilihat
Anak Membantu Pekerjaan Rumah, Ini 4 Manfaatnya untuk Masa Depan

Bagikan Postingan

Manfaat anak membantu pekerjaan rumah bukan sekadar meringankan tugas orang tua. Simak 4 manfaatnya untuk melatih kemandirian, karakter, dan keahlian anak.

“Anak kan sudah capek belajar seharian di sekolah, masa di rumah tetap kudu ikut beres-beres juga?”

“Anak tetap mini tapi ikut bantu pekerjaan di rumah? Ah, kelak jadi makin repot alias malah disangka orang tua yang tega.”

Mommies dan Daddies pernah berada di posisi dilematis ini? Merasa iba alias cemas membebani anak adalah perihal yang sangat wajar bagi orang tua. Namun, manfaat anak membantu pekerjaan rumah rupanya tidak hanya soal membikin rumah lebih sigap rapi. Kegiatan sederhana ini juga bisa menjadi bagian dari proses anak belajar mandiri, bertanggung jawab, dan bekerja sama dengan personil keluarga.

Bukan sekadar membantu pekerjaan orang tua, terlibat dalam tugas rumah tangga dapat membantu mengembangkan beragam keahlian anak. Mulai dari keahlian merencanakan sesuatu, mengasah koordinasi tubuh, membangun rasa percaya diri, hingga belajar memahami bahwa setiap personil family mempunyai peran.

BACA JUGA: Tanggung Jawab Anak Sesuai Usia: Daftar Tugas di Rumah dari Balita hingga Remaja

Lantas, apa saja faedah anak membantu pekerjaan rumah yang bisa didapatkan? Berikut empat di antaranya.

1. Membantu Mengasah Fungsi Eksekutif dan Kemampuan Berpikir Kritis Anak

Foto: Magnific

Pekerjaan sederhana seperti merapikan tempat tidur rupanya melibatkan beragam kemampuan. Saat anak merapikan kasur, melipat selimut, hingga menyapu kamar, mereka belajar menyelesaikan tugas melalui beberapa tahapan.

Ada beberapa keahlian yang bisa terlatih melalui kegiatan tersebut, seperti:

Memori kerja dan perencanaan. Anak perlu mengingat urutan pekerjaan yang kudu dilakukan dari awal hingga selesai. Misalnya, merapikan bantal terlebih dahulu, melipat selimut, lampau memastikan tempat tidur kembali rapi.

Pengendalian diri (self-control). Anak belajar menyelesaikan tugas meski mungkin ada perihal lain yang lebih menarik untuk dilakukan. Mereka juga belajar menahan diri agar tidak mudah terdistraksi sebelum pekerjaannya selesai.

Berpikir kritis dan kreatif. Ketika menemukan kendala, misalnya sprei tersangkut alias ada noda yang susah dibersihkan, anak belajar mencari langkah untuk menyelesaikan masalah tersebut.

Dengan demikian, pekerjaan rumah bukan hanya kegiatan untuk membikin rumah lebih bersih, tetapi juga kesempatan bagi anak untuk berlatih menyelesaikan masalah dalam situasi sehari-hari.

2. Melatih Motorik Kasar dan Motorik Halus Anak

Aktivitas rumah tangga juga bisa menjadi sarana stimulasi bentuk yang alami. Berbagai tugas sederhana membikin anak menggunakan tubuh dan tangannya untuk melakukan aktivitas yang memerlukan koordinasi.

Untuk melatih motorik kasar, anak bisa dilibatkan dalam kegiatan seperti mengangkat keranjang busana yang sesuai dengan keahlian mereka, mengepel, alias menyiram tanaman. Aktivitas tersebut melibatkan otot-otot besar sekaligus melatih keseimbangan dan koordinasi tubuh.

Sementara itu, motorik halus dapat terstimulasi melalui kegiatan seperti melipat pakaian, menyikat bagian tertentu yang susah dijangkau, alias mengancingkan sarung bantal. Gerakan yang melibatkan jemari dan koordinasi tangan-mata ini juga dapat membantu anak mengembangkan ketelitian.

Tentu saja, tugas yang diberikan perlu disesuaikan dengan usia, kemampuan, serta keamanan anak. Orang tua tidak perlu memberikan pekerjaan yang terlalu susah hanya demi membikin anak “terbiasa” membantu.

BACA JUGA: 10 Cara Mengajarkan Life Skills pada Anak Lewat Aktivitas Sederhana di Rumah

3. Membangun Kemandirian, Resiliensi, dan Rasa Percaya Diri Anak

Ketika anak diberikan tanggung jawab sederhana dan melakukannya secara konsisten, mereka belajar bahwa ada hal-hal yang dapat dilakukan sendiri tanpa selalu berjuntai kepada orang tua.

Anak juga belajar menghadapi tantangan kecil. Misalnya, saat merasa malas, pekerjaan terasa sulit, alias hasilnya belum sesuai harapan, mereka mempunyai kesempatan untuk belajar mencoba lagi dan mencari langkah yang berbeda.

Dari sinilah rasa berkekuatan alias self-efficacy dapat tumbuh. Ketika sukses menyelesaikan sebuah tugas, anak bisa merasakan kepuasan dan kebanggaan lantaran menyadari, “Aku rupanya bisa melakukannya.”

Melakukan tugas yang sama secara berulang juga membantu membangun kedisiplinan dan rasa tanggung jawab. Anak perlahan memahami bahwa menjadi bagian dari family berfaedah mempunyai peran dan tanggung jawab yang perlu dilakukan bersama.

4. Mengajarkan Anak untuk Berkolaborasi dalam Keluarga

Foto: Magnific

Pekerjaan rumah dapat menjadi kesempatan bagi anak untuk memahami bahwa rumah bukan hanya tempat yang kudu dirapikan oleh orang tua. Setiap personil family dapat berkontribusi sesuai usia dan kemampuannya.

Saat mengerjakan tugas rumah bersama, anak belajar berbagi peran dan berkomunikasi dengan personil keluarga. Mereka juga dapat memahami bahwa pekerjaan yang terlihat sederhana, seperti mencuci piring, melipat pakaian, alias menyapu rumah, memerlukan waktu dan tenaga.

Pengalaman tersebut dapat membantu anak belajar menghargai upaya orang lain. Mereka juga berkesempatan mengembangkan empati lantaran mulai memahami bahwa menjaga rumah tetap nyaman merupakan tanggung jawab bersama.

BACA JUGA: 25+ Aktivitas Anak 1 Tahun untuk Stimulasi Tumbuh Kembang di Rumah

Pekerjaan Rumah Apa yang Bisa Dilakukan Anak Sesuai Usia?

Tugas rumah tangga yang diberikan kepada anak tentu perlu disesuaikan dengan usia dan keahlian mereka. Anak usia prasekolah, misalnya, dapat mulai dilibatkan dalam tugas sederhana seperti merapikan mainan, memasukkan busana kotor ke keranjang, alias membantu membereskan peralatan setelah digunakan.

Anak yang lebih besar bisa mendapatkan tanggung jawab yang lebih kompleks, seperti melipat pakaian, membantu menyiapkan meja makan, menyapu, alias merapikan bilik sendiri. Yang terpenting, orang tua perlu mempertimbangkan keahlian anak dan memastikan tugas tersebut kondusif untuk dilakukan.

Tidak perlu memberikan terlalu banyak tugas sekaligus. Mulailah dari pekerjaan sederhana dan biarkan anak terbiasa dengan tanggung jawab tersebut sebelum menambahkan tugas lainnya.

Jangan Tuntut Hasilnya Sempurna

Mommies dan Daddies, untuk mendapatkan beragam manfaat anak membantu pekerjaan rumah, ada satu perihal krusial yang perlu diingat: tujuan utama melibatkan anak dalam pekerjaan rumah bukanlah mendapatkan hasil yang sempurna alias rumah yang langsung bersih mengilap.

Yang lebih krusial adalah proses belajar dan pembentukan karakter anak.

Karena itu, orang tua perlu menghargai setiap upaya mini yang dilakukan anak dan tetap menerima ketika hasilnya belum serapi yang diharapkan. Jika anak baru belajar melipat pakaian, misalnya, hasilnya mungkin belum sama rapi seperti ketika orang dewasa yang mengerjakannya.

Alih-alih langsung mengambil alih alias mengkritik hasilnya, orang tua dapat memberikan apresiasi atas upaya anak dan perlahan mengajarkan langkah yang lebih baik.

Pada akhirnya, melibatkan anak dalam pekerjaan rumah bukan tentang membikin mereka menjadi “tenaga bantuan” di rumah. Ini adalah kesempatan bagi anak untuk belajar bahwa dirinya mampu, dibutuhkan, dan menjadi bagian krusial dari keluarga.

Biarkan anak merasa bangga lantaran sudah berkontribusi, meski kontribusinya tetap kecil. Sebab, dari tugas-tugas sederhana yang dilakukan setiap hari, anak bisa belajar tentang kemandirian, tanggung jawab, kerja sama, dan menghargai orang lain—bekal yang bakal mereka bawa jauh lebih lama daripada sekadar rumah yang rapi.

BACA JUGA: Checklist Rumah Aman untuk Balita: 11 Hal yang Perlu Mommies Cek di Rumah

Cover: Magnific

Artikel Lainnya Insight Bunda Masa Kini
↑
Close Right Ads
Close Left Ads