Anak Mulai Berkata Kasar? Begini Cara Menyikapinya Menurut Harvard

Jul 27, 2026 01:35 PM - 2 minggu yang lalu 2325

Apakah belakangan ini Bunda mendengar Si Kecil mulai suka berbicara kasar? Jika ya, Bunda perlu tahu langkah menyikapinya tanpa memperburuk keadaan.

Orang tua mungkin bakal langsung menutup mulut anak dan apalagi memarahinya. Tak jarang anak justru bakal merasa bingung, Bunda.

Hal ini lantaran mereka tidak diberikan penjelasan yang tepat mengenai apa salah dari ucapan tersebut.


Dikutip dari Harvard Health Publishing, saat mengucapkan kata-kata kasar, anak mungkin sebenarnya belum memahami maknanya. 

"Orang tua tidak bisa sepenuhnya mencegah anak terpapar kata-kata seperti itu," kata Jacqueline Sperling, PhD, psikolog klinis di Harvard Medical School.

Sebuah penelitian yang diterbitkan oleh University of Illinois Press pada tahun 2013 juga menemukan bahwa pada usia 8 tahun, anak-anak telah mengenal sekitar 54 kata yang tergolong tabu.

Pada usia tersebut, kata-kata yang paling sering mereka gunakan biasanya berupa julukan seperti 'bodoh'.

Namun, ketika menginjak usia 11 hingga 12 tahun, penggunaan kata-kata tersebut mulai bergeser menjadi umpatan yang lebih umum digunakan oleh orang dewasa.

Alasan anak mengucapkan kata-kata kasar

Seiring bertambahnya kosakata, anak mulai memahami bahwa telaah dan kata-kata tertentu juga mempunyai kekuatan tersendiri. 

Berikut beberapa argumen yang dapat mendorong anak mulai berbicara kasar seperti dikutip beragam sumber:

1. Rasa mau tahu

Pada usia ini, anak-anak mempunyai rasa mau tahu yang sangat besar terhadap beragam kata baru, termasuk kata-kata yang sebenarnya tidak layak diucapkan.

2. Meniru

Faktanya, banyak anak belum memahami makna kata kasar yang mereka tiru. Mereka hanya mengulang apa yang mereka dengar dari orang lain (bahkan orang tua), televisi, alias media lainnya.

3. Belum bisa menyaring ucapan

Sebelum usia sekitar 5 alias 6 tahun, anak tetap kesulitan mengendalikan apa yang mau mereka ucapkan. 

Akibatnya, ketika mendengar kata kasar alias terkenang bakal kata tersebut, mereka condong langsung mengucapkannya tanpa berpikir panjang.

4. Reaksi orang tua

Ekspresi terkejut dari orang tua saat mendengar anak mengucapkan kata kasar justru bisa menjadi dorongan bagi anak untuk mengulanginya lagi.

"Pertama kali anak mengucapkan kata kasar, sebenarnya mereka belum memahami apa yang sedang mereka katakan," ujar Alyson Schafer, penulis buku Honey, I Wrecked the Kids.

"Namun, ketika mereka memandang reaksi yang sangat besar dari orang tua, mereka bakal berpikir, 'Wah, saya tidak tahu makna kata itu, tapi rupanya kata ini betul-betul membikin Bunda alias Ayah bereaksi,'" ungkap Schafer, dikutip dari Today's Parent.

Akibatnya, anak bisa terus mengucapkan kata tersebut berulang kali sebagai langkah untuk menguji batasan, menunjukkan kemandiriannya, sekaligus merasakan bahwa dia mempunyai kendali alias pengaruh terhadap situasi di sekitarnya.

5. Mencari perhatian orang sekitar

Seperti disebutkan sebelumnya, anak yang usianya lebih mini mungkin mengucapkan kata kasar untuk menguji batas alias memandang reaksi orang dewasa.

Sementara itu, anak yang lebih besar terkadang melakukannya untuk menarik perhatian alias terlihat keren di depan teman-temannya.

Waspada anak meniru kebiasaan orang lain 

"Meniru merupakan bagian krusial dari proses perkembangan anak," kata Sperling.

Anak mengawasi dan mendengar apa yang diucapkan seseorang di sekitarnya, termasuk ketika orang tersebut sedang marah alias kaget kemudian berbicara kasar.

Sebagian perilaku ini berasal dari kemauan meniru kerabat alias orang tua, sebagian lagi lantaran mau mendapatkan perhatian alias memandang gimana reaksi orang lain.

Respons ketika orang lain marah alias malah tertawa secara hatikecil mendorong anak untuk mengulanginya. Karena itu, Sperling menyarankan agar orang tua berupaya tetap bersikap netral pada awalnya.

Selain itu, rumah juga merupakan tempat yang membikin anak merasa kondusif untuk meluapkan emosinya. Itulah sebabnya tidak sedikit anak yang mengalami ledakan emosi ketika pulang dari sekolah.

Menurut Dr. Eugene Beresin, guru besar psikiatri di Harvard Medical School, setelah seharian mengikuti beragam patokan di sekolah, anak memerlukan kesempatan untuk melepaskan ketegangan yang mereka rasakan.

Bagaimana langkah menyikapi anak saat berbicara kasar?

Psikolog Ungkap 3 Kalimat yang Harus Diucapkan Orang Tua saat Anak Marah & KecewaIlustrasi/Foto: Getty Images/iStockphoto/PRImageFactory

Ketika mendengar anak mengucapkan kata kasar, berikut beberapa langkah yang dapat dilakukan:

1. Beri jarak sebelum bereaksi

Hal pertama yang bisa Bunda lakukan saat anak mengucapkan kata kasar, ialah memberi jarak sebelum bereaksi.  "Jangan langsung memberikan perhatian berlebihan terhadap perilaku yang tidak diinginkan tersebut," ujar Sperling.

2. Tanyakan alasannya

Selanjutnya, orang tua bisa bertanya pada anak tentang apa yang mereka rasakan saat mengucapkan kata itu.

Dari jawaban anak, Bunda mungkin mengetahui bahwa dia sedang marah, kecewa, alias frustrasi. Orang tua juga jadi tahu apakah anak sebenarnya tahu makna kata kasar tersebut alias tidak.

3. Ajak anak untuk belajar mengenal emosi

Orang tua juga bisa membujuk anak memikirkan langkah lain untuk mengungkapkan emosinya. 
Termasuk saat anak sedang marah, diskusikan berbareng tentang kata-kata apa yang layak diucapkan? Bagaimana jika anak sedang berada di sekolah alias di rumah teman?

"Orang tua bisa membantu anak agar bisa selektif dalam mengekspresikan diri. Bekali anak dengan pilihan kata dan perilaku yang sesuai di beragam situasi," jelas Beresin.

4. Jelaskan perilaku yang dapat diterima

Jika kata kasar tersebut ditujukan kepada orang lain, sampaikan dengan tegas bahwa perilaku tersebut tidak dapat diterima.

"Sampaikan pada anak bahwa itu juga merupakan corak penyerangan orang lain. Kita tidak menyakiti orang lain, baik melalui kata-kata maupun secara fisik. Hal itu tidak boleh dilakukan," ujar Beresin.

Jelaskan pula bahwa setiap orang bisa melakukan kesalahan dan perlu meminta maaf ketika perihal itu terjadi.

5. Bangun empati anak

Cobalah mengusulkan pertanyaan-pertanyaan untuk membangun empati anak, misalnya tanyakan menurut mereka gimana emosi orang itu ketika mendengar kata tersebut? Apakah bakal sedih? Pertanyaan-pertanyaan ini membantu anak mengembangkan empati.

Ketika anak menunjukkan empati, berikan pujian. Sperling menekankan pentingnya memperkuat perilaku positif yang mau terus dikembangkan.

6. Berikan penjelasan yang konkret

"Anak-anak yang lebih mini belum memahami makna yang rumit. Namun, mereka memahami konsep sederhana seperti baik alias buruk, ya alias tidak, betul alias salah," kata Beresin.

Gunakan pula contoh patokan sekolah yang sudah mereka pahami untuk memperkuat pemahaman tentang konteks, seperti tidak boleh menyerobot antrean.

7. Tetapkan patokan yang tegas

Dikutip dari What to Expect, rumah merupakan area yang menjadi bagian orang tua untuk mengaturnya.

Secara tegas, Bunda dapat menetapkan patokan bahwa tidak boleh ada kata-kata kasar di rumah, dan patokan tersebut bertindak bagi semua personil keluarga, termasuk orang dewasa.

Pentingnya membangun lingkungan yang sehat untuk anak

Selain mengurangi kebiasaan berbicara kasar, membuka obrolan tentang kata kasar ini juga membangun lingkungan yang sehat untuk anak.

Mereka bisa belajar mengenali perasaan, mengungkapkan emosi dengan sehat, serta mengembangkan keahlian sosial dan emosional.

"Kemampuan ini sering kali kurang mendapat perhatian, padahal sangat menentukan keberhasilan seseorang di masa depan," ujar Beresin.

Itulah penjelasan tentang langkah menyikapi saat anak mulai berbicara kasar. Hal yang tak kalah penting, orang tua juga perlu memberi teladan dalam menggunakan bahasa yang baik, serta bersedia meminta maaf jika melakukan kesalahan.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join organisasi Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(fir/fir)

Selengkapnya