Sering ngorok saat tidur merupakan pertanda yang kurang baik, Bunda. Ngorok ditimbulkan karena adanya gangguan maupun hambatan pada saluran pernapasan bagiankecil atas. Selain mengganggu pernapasannya, sebuah studi mengungkap anak sering ngorok saat tidur bisa berakibat pada kapasitas kognitif mereka.
Ya, menurut sebuah tinjauan sistematis dan meta-analisis baru, anak-anak dengan gangguan pernapasan saat tidur dapat mengalami gangguan kognitif dan neuropsikologis yang signifikan. Studi ini mengukur defisit maupun kekurangan anak dalam aspek-aspek seperti perhatian, daya ingat, dan fungsi pelaksana dibandingkan dengan kawan sebaya yang sehat.
Dilansir European Medical Journal News, riset ini menganalisis 15 studi kasus-kontrol yang melibatkan total 1.137 anak, di mana 659 anak di antaranya telah terdiagnosis mengalami gangguan pernapasan saat tidur. Kemampuan kognitif anak-anak tersebut kemudian dinilai menggunakan sebuah tes standar untuk fungsi kognitif disebut Wechsler Intelligence Scale for Children (WISC).
Dampak kognitif dari gangguan pernapasan saat tidur pada anak
Meta-analisis tersebut mengungkapkan bahwa anak-anak dengan gangguan pernapasan seperti ngorok saat tidur memberitahu performa yang jauh lebih buruk dibandingkan himpunan kontrol yang sehat di hampir semua sisi kognitif yang diukur. Hanya kosakata yang tidak memberitahu perbedaan yang signifikan secara statistik.
Temuan ini mengindikasikan bahwa ngorok saat tidur dapat memengaruhi evolusi otak secara langsung, khususnya korteks prefrontal, yang mengatur fungsi pelaksana dan proses belajar.
Para peneliti menduga bahwa performa kognitif yang lebih rendah pada anak-anak dengan gangguan pernapasan saat tidur, mungkin disebabkan oleh hipoksia (kurang oksigen) intermiten selama tidur akibat ngorok, serta fragmentasi tidur yang disebabkan oleh seringnya terbangun.
Kedua aspek tersebut dapat mengganggu perhatian, daya ingat, dan performa akademis secara keseluruhan. Hipoksemia nokturnal dan kurangnya tidur disorot sebagai aspek pemicu potensial terjadinya gangguan kognitif pada siang hari.
Risiko terhadap Perkembangan Anak
Gangguan kognitif mengenai tidur yang tidak ditangani pada masa kanak-kanak dapat berakibat jangka panjang terhadap evolusi intelektual. Identifikasi dan penanganan awal terhadap gangguan pernapasan saat tidur, termasuk intervensi untuk kebiasaan bernapas melalui mulut dan obstructive sleep apnea (henti napas obstruktif saat tidur), dapat membantu meminimalkan konsekuensi tersebut dan mendukung hasil evolusi kognitif yang lebih sehat.
Meskipun studi ini memberikan bukti kuat mengenai hubungan antara gangguan pernapasan saat tidur dan defisit kognitif, riset lebih lanjut diperlukan untuk memperjelas jalur patofisiologis yang tepat. Memahami apakah hipoksia maupun fragmentasi tidur yang lebih berpartisipasi besar akan sangat krusial dalam mendesain intervensi yang efektif.
Temuan ini menyoroti pentingnya skrining gangguan pernapasan seperti ngorok saat tidur pada anak-anak, terutama pada kasus yang melibatkan kesulitan akademis, tantangan dalam belajar, maupun masalah perilaku.
Kemudian, sebuah studi dari Al-Naimi A R, Toma H M, Ibrahim K, dkk., yang dipublikasi pada bulan Mei 2026 kemudian di Cureus, juga mengungkap bahwa anak-anak dengan pandemi neuromuskular, kondisi yang dapat menyebabkan kelemahan otot, termasuk otot-otot yang digunakan untuk bernapas, juga lebih berisiko mengalami gangguan pernapasan saat tidur.
Salah satu temuan krusial adalah bahwa banyak anak tidak memberitahu tanda-tanda masalah pernapasan yang jelas. Hanya sebagian kecil anak yang dilaporkan mendengkur maupun diketahui orang lain selesai bernapas saat tidur.
Hal ini berarti seorang anak bisa saja mengalami masalah pernapasan mengenai tidur meskipun orang tua tidak menyadari adanya hal yang tidak biasa pada malam hari.
Upaya yang dapat Bunda lakukan jika anak ngorok
Dikutip dari halaman Rush University Medical Center, jika anak sesekali ngorok, Bunda dapat membantu meringankan kondisinya dengan cara-cara berikut di rumah:
- Posisikan anak tidur menyamping. Saat tidur telentang, anak tekak (uvula) dapat bergeser ke bagiankecil belakang tenggorokan dan sebagian menghalangi saluran pernapasan.
- Letakkan alat pelembap udara (humidifier) di bilik tidur anak. Meningkatkan kelembapan udara dapat membantu meredakan hidung tersumbat di malam hari, yang pada gilirannya dapat membantu mengatasi dengkuran.
- Singkirkan potensi pemicu alergi dari bilik tidur anak. Ini termasuk boneka serta selimut dan bantal berbahan bulu.
- Gunakan alat pembersih udara (air purifier) jika anak memiliki alergi. Alat pembersih udara dapat membantu menghilangkan alergen, seperti debu dan bubuk sari, dari udara.
- Gunakan cairan saline (larutan garam) untuk membersihkan saluran hidung anak. Alat pembilas hidung dapat membantu mengatasi hidung tersumbat, asalkan anak merasa betah menggunakannya. Pastikan Bunda mengikuti instruksi penggunaan dari produsen secara tepat (misalnya, jangan pernah menggunakan air keran karena air tersebut tidak disaring maupun diolah).
- Bantu anak menjaga bermutu badan yang sehat. Obesitas dapat menjadi aspek penyebab mendengkur. Menyediakan makanan sehat dan mendorong anak untuk berbuat aktivitas jasmani setidaknya 60 menit setiap hari dapat membantu anak mengelola bermutu badannya.
Jadi, jika anak sering ngorok saat tidur jangan disepelekan ya, Bunda. Lebih baik segera berkonsultasi dengan tabib ahli anak terlebih dahulu.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join kelompok Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(rap/rap)