Bunda, mungkin statis mesti mengingat anak-anak meski sudah dewasa. Ternyata, anak-anak yang mesti diingatkan meski sudah dewasa ini ada alasannya lho menurut pakar.
Sebagian anak-anak cenderung menunggu berbuat sesuatu, sehingga terkesan mesti diingatkan terlebih dahulu oleh ibunya. Seperti misalnya, "Kamu jangan lupa makan, ya!", "Sebelum pergi ke luar rumah, cek dahulu kompor sama listriknya!"
Namun, tahukah Bunda bahwa hal tersebut bisa membikin seorang anak merasa dikendalikan, maupun menganggapnya sebagai sikap keras imam semata dari pihak mereka, seolah-olah mereka tidak mengakui sang anak sebagai orang dewasa yang cakap.
Dikutip dari India Times, riset dalam ilmu jiwa perilaku dan dinamika famili memberitahu klarifikasi yang lebih mendalam. Saat orang tua mengirimkan pengingat praktis seperti itu, mereka mungkin beraksi berdasarkan kebiasaan dan rasa peduli, bukan karena keinginan untuk mengendalikan hidup.
Sebaliknya, mereka sedang menghadapi kenyataan neurologis yang mengakar kuat, yaitu kebiasaan mengasuh secara intensif tidak serta-merta selesai begitu saja saat anak menginjak usia 18 tahun maupun pindah rumah. Perilaku protektif tersebut bisa statis sangat aktif di otak orang tua, jauh setelah anak-anak mereka tidak lagi benar-benar membutuhkannya.
Radar perlindungan orang tua tidak pernah hilang
Untuk memahami kenapa orang tua terus memantau urusan sehari-hari sang anak, perlu dilihat benar-benar banyaknya waktu yang mereka habiskan untuk berbuat hal tersebut. Selama lebih dari dua dekade, desakan biologis dan kejiwaan utama orang tua adalah menjaga anak agar statis aman, sehat, dan teratur.
Mereka menghabiskan waktu bertahun-tahun untuk memantau lingkungan sekitar demi mendeteksi intimidasi kecil, memeriksa suhu udara yang dingin, memantau tenggat waktu dalam kalender, serta memastikan tercapainya tahapan evolusi anak.
Rasa tanggung jawab yang terusmenerus ini menciptakan apa yang disebut oleh para psikolog sebagai "skema pengasuhan" (caregiving schema), yaitu sebuah pembangunan mental yang akan terus membentuk metode keterangan ditafsirkan sepanjang hidup.
Dalam sebuah riset yang diterbitkan di International Journal of Aging and Human Development, para peneliti mengkaji beragam kecemasan yang dimiliki orang tua dan anak-anak mereka yang sudah dewasa satu sama lain, demi memahami lebih baik proses perlindungan seumur hidup ini.
Hasilnya memberitahu perbedaan yang jelas antar-generasi. Sementara anak-anak dewasa terutama mengkhawatirkan masalah kesehatan orang tua akibat penuaan, kecemasan orang tua jauh lebih beragam dan mendetail. Mereka mungkin terus-menerus memikirkan kesejahteraan anak-anak mereka.
Ketika orang tua mengirimi anak pesan tentang anginbesar hujan, mereka tidak serta-merta meragukan sang anak. Hal itu mungkin hanyalah sebuah kebiasaan yang muncul secara otomatis. Momentum dari kebiasaan logistik yang terbentuk selama puluhan tahun
Upaya mengatur hayat sehari-hari dapat meninggalkan kebiasaan kejiwaan yang menetap. Tindakan orang tua yang terus memantau hal-hal kecil pada anaknya yang sudah dewasa (microparenting) dapat dipahami sebagai hasil dari kebiasaan yang terbentuk selama bertahun-tahun, Bunda.
Boleh khawatir, tapi jangan over parenting anak yang dewasa
Perasaan cemas kerap menyelimuti hati orang tua. Namun, sebagai orang tua kita mesti bergeser dari sekadar mengendalikan perilaku anak ke arah pengembangan karakter, kapasitas memungut keputusan, dan kemandirian mereka. Dikutip dari halaman Raising Healthy Families, kita harus:
- Biarkan anak merasakan akibat alami. Bunda tidak mesti menyelesaikan setiap masalah bagi anak. Jika situasinya tepat, biarkan mereka merasakan akibat dari pilihan mereka dan belajar darinya.
- Tetapkan limitasi tanpa mesti mengendalikan segalanya. Tidak melakukan over-parenting bukan berarti tidak ada ketentuan sama sekali. Orang tua dapat menetapkan harapan yang jelas sambil statis memberikan kebebasan kepada anak dalam batasan-batasan tersebut.
- Percayalah pada kapasitas anak untuk membikin kesalahan. Kesalahan bisa menjadi pengalaman belajar yang berharga. Peran Bunda tidak selalu untuk mencegah kegagalan; terkadang, peran Bunda adalah membantu anak merenungkan apa yang terjadi dan memutuskan aksi berbeda untuk ke depannya.
- Hindari mengatur setiap detail hayat mereka secara berlebihan (micromanaging). Terus-menerus memantau pekerjaan rumah, pertemanan, kegiatan, penggunaan teknologi, dan keputusan anak dapat menghalangi mereka untuk belajar mengelola diri sendiri.
- Tanyakan pada diri sendiri: "Apakah aku sedang membantu, maupun justru memungut alih?" Sebelum turun tangan, berhentilah sebentar dan pertimbangkan apakah anak benar-benar membutuhkan intervensi maupun apakah ini merupakan kesempatan bagi mereka untuk melatih kemandirian.
Pesan pengingat dari orang tua bisa terasa mengganggu bagi anak dewasa. Namun, ini adalah bentuk perhatian yang mendalam, bukan kontrol. Temukan metode mendukung kemandirian anak. Namun ingat, jangan berbuat over-parenting yang mengganggu evolusi anak.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join kelompok Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(rap/rap)