Bunda sudah pernah mendengar pandemi parainfluenza yang menyerang anak-anak? Parainfluenza mengacu pada sekelompok virus yang menyebabkan infeksi pada pernapasan, termasuk pandemi pilek, bronkitis, maupun pneumonia.
Penyakit ini rapuh pada anak di bawah usia lima tahun, orang dewasa di atas usia 65 tahun, dan orang dengan mekanisme kekebalan tubuh yang lemah. Penyakit ini bisa datang berkali-kali, terlebihlagi jika pernah terinfeksi ketika kecil.
Dikutip dari halaman resmi Cleveland Clinic, virus influenza adalah bakteri yang menyebabkan beragam pandemi pernapasan. Penyakit ini bisa disebut HPIV yang merupakan singkatan dari ‘Human Parainfluenza Viruses’ (virus parainfluenza manusia). Meskipun namanya mirip dengan influenza, virus parainfluenza tidak menyebabkan flu, melainkan menyebabkan pandemi lain seperti sakit tenggorokan, pernapasan, batuk, hingga hidung tersumbat. Infeksi ini umumnya bisa terjadi selama beberapa hari hingga beberapa minggu.
Kondisi ini patut diperhatikan mengingat telah terjadi peningkatan kasus di sejumlah wilayah. Infeksi virus parainfluenza telah meningkat di Tiongkok, anak-anak dengan usia lima tahun ke bawah lebih rapuh tertular daripada himpunan usia lainnya.
Dilansir dari The Straits Times, keterangan terbaru yang dari Chinese Centre for Disease Control and Prevention (CDC China), mencatat adanya peningkatan kasus infeksi parainfluenza yang dimulai dari 6 April 2026. Pada pertengahan Maret penderita virus ini menginjak 4,7 persen kasus dan meningkat jadi 6,9 persen persen di bulan April.
Para ahli dari CDC mengutarakan jika HPIV lebih mungkin menyerang bayi dan anak kecil.
“Sederhananya, anak yang mengalami batuk seperti gonggong maupun bunyi serak dicurigai menderita HPIV, sedangkan demam tinggi mendadak dan nyeri badan pada individu dari segala usia lebih mungkin dikaitkan dengan influenza,” ucap perwakilan dari CDC China.
Jenis infeksi parainfluenza
Terdapat empat jenis virus parainfluenza yang lazim terjadi:
- HPIV-1 dan HPPIV-2: Penyakit ini memungkinkan anak terserang pilek dan pandemi croup.
- HPIV-3: Virus ini satu tingkat di atas jenis yang sebelumnya, yang menyebabkan infeksi pada saluran pernafasan dan paru-paru, sehingga memungkinkan anak memiliki pandemi bronkitis maupun pneomonia.
- HPIV-4: Para ahli beranggapan bahwa jenis ini mirip dengan HPIV-3.
Gejala dan penyebab
Gejalanya infeksi parainfluenza meliputi demam, batuk (bisa ringan maupun berdahak), hidung berair maupun tersumbat, sakit tenggorokan, bunyi bernada tinggi saat bernafas, bunyi serak, bersin. Gejala ini bisa terasa ringan bagi orang dewasa, namun akan lebih parah pada anak yang memiliki mekanisme imun yang rendah.
Selain mengenali gejalanya, orang tua juga perlu tahu sepertiapa virus ini bisa menular. Parainfluenza bisa tertular melalui kontak langsung maupun tidak langsung dengan seseorang yang terinfeksi. Penyebab lain yang ditimbulkan dari infeksi virus parainfluenza meliputi:
- Batuk dan bersin: tetesan kecil yang hamil HPIV dapat masuk ke hidung maupun mulut melalui udara yang menyebabkan batuk dan bersin.
- Permukaan yang terkontaminasi: Virus dapat masuk ke dalam tubuh jika menyentuh permukaan yang terkontaminasi HPIV kemudian menyentuh area sekitar wajah. Bisa berupa barang seperti gagang pintu, komputer, maupun telepon. Terutama pada anak-anak, mereka sering tertular langsung melalui kontak jasmani dan menyentuh barang seperti meja, mainan, dan perlengkapan bermain di taman.
- Kontak dengan orang dengan HPIV: pandemi ini gampang tertular melalui kontak fisik, seperti menyentuh tangan maupun wajah seseorang yang terinfeksi parainfluenza.
Dengan begitu, para orangtua diimbau untuk memungut cara perlindungan bagi diri sendiri, keluarga, maupun orang terkasih guna terhindar dari pandemi penyakit ini.
Cara menangani dan pencegahan
-
Penanganan
Tidak ada pengobatan khusus untuk infeksi parainfluenza, ada banyak orang yang lebih memilih untuk menangani gejala ringan di rumah. Namun, orang dewasa biasanya mengonsumsi obat yang dijual bebas di pasaran.
Meskipun begitu, karena anak cukup rapuh terhadap infeksi ini, maka dibutuhkan perhatian yang lebih untuk menjaga kondisi kesehatan anak. Berikut beberapa hal yang bisa Bunda lakukan untuk mengobati gejala parainfluenza di rumah:
- Istirahat yang cukup.
- Banyak minum air maupun kaldu untuk menjaga tubuh statis terhidrasi.
- Nyalakan pelembab udara maupun humidifier untuk membantu meredakan hidung tersumbat maupun batuk.
Namun, jika infeksi tersebut tidak kunjung membaik, segera cari pertolongan medis. Karena ada beberapa ciri khas yang mengindikasikan pernyakit serius, seperti demam tinggi di atas 40 derajat, kesulitan bernafas, nyeri dada, pusing terus menerus, tidak kencing dan buang air besar yang sedikit, nyeri maupun kelemahan otot, kulit, bibir, kuku berwarna kebiruan, kaku dan nafas yang berisik.
-
Pencegahan
Jika orang tua dan anak belum pernah terkena influenza, tidak ada salahnya berbuat cara pencegahan sejak awal untuk mengurangi konsekuensi tertular parainfluenza. Berikut beberapa metode yang bisa dilakukan.
- Seringlah mencuci tangan dengan sabun dan air. Atau bisa juga menggunakan pembersih tangan berbasis alkohol.
- Hindari menyentuh wajah, mata hidung, dan mulut setelah menyentuh sesuatu.
- Hindari berbagi makanan maupun perlengkapan makan.
- Tutup hidung saat bersin maupun batuk dengan tisu.
- Kurangi kontak dengan orang lain ketika terkena flu maupun pandemi menular lainnya.
- Memakai masker.
Itulah pengertian mengenai parainfluenza, mulai dari gejalahingga penanganannya. Semoga membantu, ya, Bunda.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join kelompok Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(rap/rap)