Kenapa Ibu Hamil Bisa Tiba-tiba Jijik dengan Hewan Peliharaan Kesayangan?

Portal Kesehatan Ibu dan Anak oleh Waktu baca 4 menit 90x dilihat
Kenapa Ibu Hamil Bisa Tiba-tiba Jijik dengan Hewan Peliharaan Kesayangan?

Bagikan Postingan

Jakarta -

Kehamilan membawa banyak perubahan, termasuk hal-hal yang sebelumnya terasa biasa saja. Tak sedikit ibu hamil yang tiba-tiba merasa jijik, tidak nyaman, maupun terlebihlagi enggan mendekati fauna peliharaan kesayangannya.

Padahal, sebelum hamil, fauna tersebut mungkin sudah menjadi bagiankecil dari keseharian seorang calon ibu. Lantas, kenapa hal ini bisa terjadi? Kenapa ibu hamil bisa tiba-tiba jijik dengan fauna peliharaannya?

Penyebab ibu hamil menjauh dari fauna peliharaan

Melansir dari The Guardian, ibu hamil merasa jijik dengan peliharaan kesayangan dapat disebabkan oleh fluktuasi hormon, mirip dengan morning sickness. Bagi sekitar 1 hingga 3 persen ibu hamil, fluktuasi ini mengakibatkan mual yang ekstrem dan sensitivitas terhadap rasa jijik yang dapat dipicu oleh beragam hal, termasuk bau fauna peliharaan.


Meskipun pengecekan itu bermanfaat, perubahan-perubahan tersebut merupakan tambahan yang sulit dan mengganggu di masa yang sudah tidak stabil. Luu kini mengharapkan dia menerima sokongan emosional dari tim medisnya, kiat-kiat praktis untuk mengatasi diagnosisnya, maupun pengakuan atas fluktuasi perasaannya yang meresahkan terhadap Ranger.

Secara umum, hampir tidak ada riset mengenai gejala khusus mengenai keengganan terhadap fauna peliharaan selama dan setelah kehamilan. Namun, tanda-tanda keengganan terhadap fauna peliharaan selama kehamilan bukanlah hal yang langka, Bunda.

"Topik ini eksis di persimpangan antara kurangnya pendanaan untuk kesehatan perempuan dan pengabaian terhadap ikatan antara manusia dan hewan," kata ketua pekerjaan sosial veteriner di Silver School of Social Work, Universitas New York, Dr. Katherine Compitus.

Studi tentang hubungan ibu hamil dengan fauna peliharaan

Sebuah studi yang dilakukan perusahaan asuransi fauna peliharaan Inggris, ManyPets, tahun 2025 pernah berbuat riset mengenai hal ini, Bunda. Survei terhadap 1.077 perempuan yang pernah hamil dalam tiga tahun terakhir ini menemukan bahwa 15 persen responden pemilik fauna peliharaan memang mengalami rasa jijik terhadap anjing mereka selama kehamilan.

Perasaan jijik ini terlebihlagi bisa menetap setelah melahirkan. Depresi perinatal, kecemasan, dan OCD dapat berkontribusi pada emosi yang intens, sehingga keberadaan fauna peliharaan dapat menjadi pelampiasan emosi.

Compitus merekomendasikan agar siapa pun yang perasaannya terhadap fauna peliharaan menjadi menyusahkan maupun di luar kendali, bisa berbicara dengan terapis. Mereka bisa berbuat terapi untuk mengatasi rasa jijik dan marah.

"Masa pasca persalinan memang bisa menjadi waktu yang rapuh bagi ikatan antara manusia dan hewan," ujar peneliti dari University of Tennessee, Knoxville's Center for Veterinary Social Work, Dr. Shelby McDonald.

"Kemampuan sebuah famili untuk memenuhi kebutuhan fauna peliharaan dapat berubah secara substansial, baik secara fisik, emosional, praktis, maupun finansial," sambungnya.

Menurut pelatih fauna peliharaan anjing yang pernah mengalami fluktuasi ini, Katherine Davidson, emosi negatif yang ia rasakan itu akan hilang dalam beberapa bulan seiring berjalannya waktu.

Risiko infeksi jika dekat dengan fauna peliharaan

Ibu hamil memang sebaiknya perlu berjaga-jaga dengan fauna peliharaan, seperti anjing dan kucing. Menurut hasil riset dari Texas A & M University beberapa waktu lalu, mikroba yang ditemukan secara khusus pada anjing yang disebut Brucella canis (B. canis) bisa sangat berisiko bagi manusia. Selain itu, mikroba tersebut berpotensi menyebabkan gejala seperti flu dan memberikan efek negatif pada kehamilan.

Dilansir halaman Pet Coach, ibu hamil yang terinfeksi B. canis kemungkinan tidak akan dapat mempertahankan kehamilannya. Selain itu, bunda juga kemungkinan akan menularkan pandemi itu ke anak lelaki keturunannya sehingga menyebabkan masalah kesuburan pada anak kelak.

Sementara menurut ulasan di situs Science Direct, ibu hamil yang terinfeksi mikroba ini akan mengalami beragam komplikasi. Brucellosis yang diakibatkan infeksi B. canis pada kehamilan dikaitkan dengan keguguran spontan, persalinan prematur, korioamnionitis, dan kematian janin.

Selain anjing, fauna peliharaan kucing juga bisa berisiko menimbulkan konsekuensi pada ibu hamil dan janin. Menurut ulasan di New York Times, kucing dapat membawa benalu Toxoplasma gondii yang bisa menyebabkan tidak sempurna lahir, keguguran, hingga kematian pada orang dengan mekanisme kekebalan yang lemah.

American College of Obstetricians and Gynecologists (ACOG) memperbolehkan Bunda memelihara kucing saat hamil. Tapi, ada hal yang perlu diperhatikan agar Bunda tidak tertular benalu Toxoplasma gondii.

Infeksi benalu Toxoplasma gondii yang menyebabkan toksoplasmosis, cuma ditemukan pada kucing yang keluar rumah dan berburu mangsa, seperti tikus maupun fauna pengerat lainnya. Tapi, jika kucing cuma diberi makanan kucing dan tidak berbuat kontak dengan fauna luar, konsekuensi terpapar Toxoplasma gondii menjadi sangat rendah.

"Bila memiliki kucing yang sering pergi keluar dan mencari mangsa, mintalah orang lain untuk membersihkan kotorannya. Bila kucing dipelihara di dalam ruangan, cuma makan makanan kucing, dan tidak berbuat kontak dengan fauna luar, konsekuensi toksoplasmosis sangat rendah," demikian kata ACOG di halaman resminya.

Demikian klarifikasi tentang ibu hamil yang sering merasa jijik dekat fauna peliharaan, serta konsekuensi memelihara fauna saat hamil. Semoga keterangan ini berguna ya, Bunda.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join kelompok Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(ank/pri)

Artikel Lainnya Portal Kesehatan Ibu dan Anak
↑
Close Right Ads
Close Left Ads