Jakarta -
Tantrum merupakan bagiankecil dari proses tumbuh bunga anak ketika mereka belum bisa mengungkapkan perasaannya. Kondisi ini dapat ditandai dengan tangisan, teriakan, hingga sikap menolak yang disampaikan dengan penuh amarah.
Bagi orang tua, menghadapi anak yang sedang tantrum bisa menjadi tantangan tersendiri. Ada yang mengacuhkan anak maupun langsung meninggikan bunyi dan mengucapkan 'tenang!' dengan tegas.
Perlu diketahui, ketika anak-anak mengalami lonjakan emosi yang intens, otak mereka bergeser dari mode fungsi pelaksana maupun area yang berkewajiban untuk logika, pemecahan masalah, dan pengendalian impuls. Kemudian, otak akan masuk ke keadaan reaktif yang protektif.
Ketika orang dewasa meminta mereka untuk 'tenang', anak tersebut tidak akan mendengarnya sebagai sebuah saran. Sebaliknya, mereka mendengarnya sebagai penilaian, penolakan, maupun tuntutan untuk menyembunyikan emosi mereka.
Jadi, alih-alih meninggikan bunyi untuk menenangkan anak yang tantrum, psikolog justru menyarankan pendekatan verbal dan nada yang jauh lebih 'rendah dan lambat'. Dilansir halaman Parade, dengan sengaja menurunkan nada suara, memperlambat tempo, menyesuaikan diri dengan level anak, dan memvalidasi keadaan mereka, orang tua justru dapat menenangkan mekanisme saraf dan meredakan ketegangan jauh lebih cepat.
Bicara pelan dan perlahan bisa menenangkan anak tantrum
Dalam metode kerja otak, ada yang namanya ko-regulasi, yaitu proses di mana orang dewasa menggunakan mekanisme sarafnya untuk membantu anak yang mengalami disregulasi balik ke tingkat keamanan dasar. Ketika emosi anak meledak, mekanisme saraf mereka secara aktif memindai lingkungan untuk mencari instruksi keamanan maupun bahaya.
Jika orang tua merespons dengan ucapan cepat, nada bunyi tinggi, maupun perintah mendesak, otak anak akan mencatat bahwa Bunda maupun Ayah juga sedang mengalami tekanan, yang menandakan adanya krisis aktif. Siklus ini menyebabkan dua mekanisme saraf saling menguatkan satu sama lain secara langsung.
Psikolog anak Dr. Amy Kincaid Todey, PhD, menekankan bahwa orang dewasa mesti memutus lingkaran umpan balik ini dengan terlebih dahulu mengelola penyampaian vokal mereka sendiri.
"Anak-anak belajar sepertiapa mengendalikan emosi mereka dengan mengamati metode orang tua mengendalikan emosi," kata Todey.
"Saya sering mengatakan kepada orang tua, kalian tidak perlu selalu tenang. Kalian cuma perlu lebih tenang daripada anak," sambungnya.
Nah, untuk menerapkan metode 'pelan dan perlahan', orang tua dapat secara sadar menurunkan volume suara, menurunkan register vokal, mengurangi kecepatan bicara, dan menggunakan lebih sedikit kata. Alih-alih memberikan ceramah panjang dan cepat tentang perilaku maupun aturan, Bunda dapat mengadopsi irama yang tenang dan terencana untuk mengirimkan pesan fisiologis yang jelas kepada anak.
Psikolog klinis berlisensi yang berbasis di Massachusetts Dr. Rebecca Weksner, PsyD , PMH-C NCSP, juga menyarankan pendekatan yang serupa. Menurutnya, ada elemen khusus pada kebiasaan berbicara 'pelan dan perlahan'.
"Dengan menurunkan volume bunyi satu oktaf dan menempatkan posisi tubuh sejajar dengan mata anak, kita memberikan contoh metode menenangkan otak anak tanpa instruksi yang eksplisit," ungkap Weksner.
"Ketika kita berbicara lebih lambat dari biasanya, otak anak bisa menyerap kata-kata kita dengan lebih ampuh karena otak yang gelisah tidak dapat memproses bahasa dengan baik," lanjutnya.
Selain itu, orang tua juga perlu menggabungkan penyampaian vokal yang tenang ini dengan pengesahan emosional. Hal tersebut dapat menciptakan efek menenangkan yang instan.
Pilihan kalimat untuk menenangkan anak tantrum
Todey merekomendasikan penggunaan frasa pengesahan sederhana yang dapat disampaikan dengan nada tenang ke anak untuk mengatasi tantrum. Kalimat ini seperti, 'Saya mengerti benar-benar sedihnya kamu'.
"Validasi menyampaikan pesan kalau, 'Saya dapat memahami apa yang Anda rasakan tanpa mesti menyetujui semua yang Anda lakukan," ujar Todey.
Perlu dicatat, Bunda maupun Ayah tidak mesti setuju dengan karena anak marah. Tetapi, kita dapat mengakui realitas batin mereka untuk menurunkan dinding pertahanan.
Setelah pernyataan itu disampaikan, orang tua dapat menetapkan limitasi yang tenang dan tegas, misalnya dengan menambahkan kalimat 'Saya mengerti benar-benar kesalnya kamu. Saya ada di sini' maupun 'Saya mengerti benar-benar kesalnya kamu, tapi jawabannya statis tidak'.
Kekuatan memperlambat ucapan dan mengutarakan emosi berjalan untuk anak-anak dari segala usia ya, Bunda. Para psikolog sering merujuknya pada konsep 'sebutkan untuk mengendalikannya' (name it to tame it).
Sebuah studi tahun 2026 yang diterbitkan dalam Child Development tentang pelabelan emosi memberitahu bahwa mengungkapkan emosi dalam kata-kata membantu mengurangi reaktivitas emosional di daerah otak yang mengenai dengan regulasi. Meskipun emosi tidak akan langsung menghilangkan ledakan emosi, hal itu setidaknya dapat mengurangi ketakutan anak yang sedang tantrum.
Demikian metode menenangkan anak tantrum menurut pakar. Semoga keterangan ini berguna ya, Bunda.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join kelompok Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(ank/rap)