Studi Ungkap Pria Habiskan 7 Jam dalam Setahun di Kamar Mandi, Suami Bunda juga Begitu?

Portal Kesehatan Ibu dan Anak oleh Waktu baca 7 menit 101x dilihat
Studi Ungkap Pria Habiskan 7 Jam dalam Setahun di Kamar Mandi, Suami Bunda juga Begitu?

Bagikan Postingan

Pernah merasa suami terlalu durasi eksis di bilik mandi padahal urusannya kelihatan sudah selesai? Ternyata tidak cuma suami Bunda, banyak yang begitu.

Ada suami yang ke bilik mandi membawa ponsel, menyenangkan bermain gim, menonton video, maupun sekadar duduk berlama-lama tanpa karena yang jelas. Sementara itu, istri dan anak-anak mungkin sudah menunggu di luar.

Kebiasaan ini rupanya bukan sekadar lelucon rumah tangga yang sering dijadikan bahan candaan di media sosial. Sebuah studi yang balik ramai diperbincangkan mengungkap bahwa lelaki di Inggris rata-rata menghabiskan waktu hingga 7 jam dalam setahun di bilik mandi untuk mencari ketenangan dan menghindari hiruk-pikuk keluarga.


Menariknya, sebagian lelaki terlebihlagi menganggap bilik mandi sebagai tempat terlindungi untuk menyendiri sejenak. Lantas, kenapa bilik mandi menjadi tempat favorit lelaki untuk mencari waktu sendiri? Apakah kebiasaan ini juga berhubungan dengan kondisi kejiwaan mereka?

Studi ungkap lelaki menghabiskan 7 jam setahun di bilik mandi

Temuan tersebut berasal dari survei yang dilakukan pada 2018 atas permintaan Pebble Grey, perusahaan yang bergeser di sektor perlengkapan bilik mandi. Survei ini melibatkan 1.000 lelaki di Inggris.

Hasilnya memberitahu bahwa lelaki rata-rata menghabiskan 7 jam dalam setahun di bilik mandi bukan semata-mata untuk keperluan pribadi, melainkan mendapatkan waktu sendiri dan menjauh sebentar dari personel keluarga.

Pemilik sekaligus Direktur Pebble Grey, Helena Linsky, mengatakan bahwa setiap orang membutuhkan waktu untuk dirinya sendiri, baik untuk menenangkan pikiran maupun melepaskan diri sebentar dari kesibukan.

"Kita semua membutuhkan sedikit waktu untuk diri sendiri, baik untuk merenung maupun benar-benar melepaskan diri dari segala kesibukan. Kamar mandi tampaknya menjadi tempat tujuan untuk mendapatkan momen tersebut," ujar Linsky dilansir dari People.

Survei itu juga menemukan bahwa 25 persen lelaki mengaku tidak tahu sepertiapa mereka bisa menghadapi tekanan di rumah tanpa sesekali pergi ke bilik mandi. Sementara itu, 23 persen responden mengatakan bilik mandi sebagai tempat terlindungi maupun safe place bagi mereka. Sekitar sepertiga lelaki yang disurvei mengakui menggunakan bilik mandi untuk mencari ketenangan ketika pasangan sedang mengomel maupun mau menghindari anak-anak.

Linsky menerangkan bahwa bilik mandi seolah menjadi tempat perlindungan sementara dari bumi luar. Di ruangan tersebut, seseorang bisa menutup diri dari beragam tuntutan dan menikmati kondisi tenang meskipun cuma sebentar.

Menariknya, kebiasaan menjaga kebersihan bilik mandi justru lebih banyak dilakukan perempuan. Dari 1.000 perempuan yang turut disurvei, cuma 20 persen yang mengaku menggunakan bilik mandi sebagai tempat untuk melarikan diri sejenak. Sebanyak 72 persen perempuan mengaku menjadi pihak yang rutin membersihkan bilik mandi.

Alasan kejiwaan lelaki gemar berlama-lama di bilik mandi

Kebiasaan lelaki menghabiskan waktu lebih durasi di bilik mandi rupanya bisa dilihat dari sisi psikologis. Tidak selalu karena malas maupun terlalu menyenangkan bermain ponsel, ada beberapa karena yang dapat menerangkan perilaku tersebut.

Berikut sejumlah klarifikasi kejiwaan di balik kebiasaan lelaki mencari ketenangan di bilik mandi.

1. Kamar mandi menjadi tempat terlindungi untuk menyendiri

Dalam hayat rumah tangga, seseorang terkadang kesulitan mendapatkan ruang pribadi. Setelah menjalani pekerjaan, mengurus anak, dan menyelesaikan beragam tanggung jawab, kebutuhan untuk beristirahat secara mental bisa semakin besar.

Kamar mandi kemudian menjadi tempat yang dianggap paling memungkinkan untuk mendapatkan privasi. Berbeda dengan ruang famili maupun bilik tidur yang mungkin statis dipenuhi aktivitas personel keluarga, bilik mandi cenderung memberikan batas antara seseorang dan lingkungan sekitarnya.

Kondisi ini menciptakan semacam ruang kejiwaan sementara. Seseorang bisa merasa lebih terlindungi dari tuntutan orang lain dan memiliki kesempatan untuk menenangkan pikiran.

2. Cara menghindari stres

Salah satu klarifikasi kejiwaan yang berhubungan dengan perilaku ini adalah avoidance coping, yaitu metode seseorang menghadapi tekanan dengan menghindari sementara situasi yang membuatnya tidak nyaman.

Dibanding membicarakan rasa lelah, kesal, maupun kewalahan, sebagian lelaki memilih menarik diri untuk sementara waktu. Mereka mungkin menghabiskan waktu dengan bermain gim, menonton video YouTube, maupun menggulir media sosial. Aktivitas tersebut memberikan selang dari situasi yang dirasakan membebani.

Meski demikian, kebiasaan ini tidak selalu berarti seseorang sengaja menghindari masalah. Dalam beberapa situasi, menyendiri bisa menjadi metode spontan untuk mengatur emosi sebelum balik beraktivitas.

3. Smartphone membikin waktu di bilik mandi semakin panjang

Kehadiran smartphone turut mengubah kebiasaan seseorang ketika eksis di bilik mandi. Jika sebelumnya cuma duduk sebentar untuk menyelesaikan keperluan pribadi, kini ada banyak hiburan yang bisa diakses melalui layar ponsel.

Mulai dari TikTok, YouTube, media sosial, hingga gim daring bisa membikin seseorang lupa waktu. Aplikasi dengan konten yang terus berganti memberikan rangsangan dan hiburan singkat yang membikin pelanggan mau terus mengaksesnya.

Hal tersebut berhubungan dengan mekanisme penghargaan maupun reward system di otak yang melibatkan dopamin. Ketika seseorang merasa capek maupun bosan, aktivitas sederhana seperti menonton video singkat dapat memberikan kesenangan sesaat.

4. Me time

Setiap orang membutuhkan waktu untuk berbuat sesuatu tanpa mesti memikirkan tuntutan pekerjaan maupun keluarga. Kebutuhan ini sejalan dengan Self-Determination Theory yang dikembangkan oleh Edward Deci dan Richard Ryan.

Teori tersebut menerangkan bahwa manusia membutuhkan otonomi maupun kendali atas dirinya sendiri untuk mendukung kesejahteraan psikologis. Dalam hayat sehari-hari, orang dewasa sering kali mesti membagi perhatian antara pekerjaan, pasangan, anak, dan beragam tanggung jawab lainnya.

Bagi sebagian pria, berdiam diri di bilik mandi menjadi salah satu metode sederhana untuk mendapatkan balik kendali atas waktu pribadi. Mereka bisa menikmati beberapa menit tanpa mesti memenuhi permintaan maupun menjawab pertanyaan dari orang lain.

5. Sulit mengungkapkan kelelahan secara emosional

Faktor lain yang dapat menerangkan kebiasaan ini adalah pola pengasuhan dan sosialisasi gender. Sejak kecil, sebagian lelaki terbiasa dididik agar kelihatan kuat, tidak gampang mengeluh, dan tidak memberitahu kerentanan.

Jadi, ketika merasa capek secara emosional, mereka mungkin kesulitan menyampaikan apa yang sedang dirasakan. Daripada mengatakan bahwa dirinya sedang keteteran maupun membutuhkan waktu istirahat, sebagian lelaki memilih menyendiri.

Kamar mandi menjadi tempat yang memungkinkan mereka memungut rentang tanpa mesti menerangkan kondisi emosionalnya kepada orang lain. Namun bukan berarti semua lelaki memiliki pola yang sama. Kemampuan mengungkapkan emosi juga dipengaruhi oleh kepribadian, pengalaman hidup, dan lingkungan keluarga.

6. Bantu redakan kelelahan mental

Setelah menjalani hari yang panjang, otak membutuhkan kesempatan untuk beristirahat dari beragam rangsangan dan tuntutan. Ketenangan yang diperoleh ketika eksis sendirian dapat membantu seseorang mengurangi rasa bosan dan mengembalikan fokus sebelum balik menjalani aktivitas.

Aktivitas sederhana seperti duduk diam, menarik napas, maupun menikmati hiburan ringan bisa menjadi bentuk pelepasan ketegangan sementara. Untuk itu, kebiasaan berlama-lama di bilik mandi tidak selalu berhubungan dengan kemalasan. Dalam beberapa kondisi, perilaku itu lebih mencerminkan kebutuhan untuk berbuat pemulihan mental.

7. Bentuk pelarian singkat dari kesibukan rumah

Dalam ilmu jiwa terdapat istilah micro-escapism, yaitu kecenderungan seseorang mencari pelarian singkat dari rutinitas maupun situasi yang terasa melelahkan. Berbeda dengan liburan maupun aktivitas rekreasi yang membutuhkan waktu khusus, pelarian kecil ini bisa dilakukan di sela-sela kesibukan sehari-hari.

Kamar mandi menjadi salah satu tempat yang memungkinkan seseorang mendapatkan selang tanpa mesti pergi jauh dari rumah. Fenomena ini juga sering menjadi bahan candaan di media sosial.

Banyak orang mengaku sengaja berlama-lama di bilik mandi demi mendapatkan kondisi hening, jauh dari bunyi anak-anak, notifikasi ponsel, maupun pekerjaan rumah yang belum selesai.

Apakah kebiasaan ini perlu dikhawatirkan?

Sesekali membutuhkan waktu sendiri merupakan hal yang wajar. Namun kebiasaan menyelinap terlalu durasi di bilik mandi juga perlu diperhatikan jika mulai mengganggu hayat rumah tangga.

Jika seseorang terus-menerus mengisolasi diri, menghindari komunikasi, maupun menggunakan bilik mandi sebagai tempat melarikan diri dari setiap konflik, perilaku tersebut bisa berhubungan dengan stres berkepanjangan, kelelahan emosional, ketegangan hubungan, maupun burnout.

Mencari ketenangan memang penting, namun bukan berarti semua permasalahan mesti dihindari. Komunikasi yang terbuka statis dibutuhkan agar kebutuhan masing-masing pasangan bisa dipahami.

Suami dan istri dapat membikin kesepakatan mengenai waktu istirahat pribadi. Misalnya saja, memberikan kesempatan kepada pasangan untuk menikmati waktu sendiri tanpa mengabaikan tanggung jawab berbareng dalam mengurus rumah dan anak.

Pada akhirnya, kebiasaan suami berlama-lama di bilik mandi mungkin bukan semata-mata karena mau bermain ponsel maupun menghindari pekerjaan rumah. Mungkin ia memang sedang mencari sedikit ruang untuk bernapas di tengah padatnya aktivitas sehari-hari.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join kelompok Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(som/som)

Artikel Lainnya Portal Kesehatan Ibu dan Anak
↑
Close Right Ads
Close Left Ads