Anjuran Menyantuni Anak Yatim Di Bulan Muharram

Jun 16, 2026 07:59 PM - 12 jam yang lalu 513
Anjuran Menyantuni Anak Yatim di Bulan MuharramAnjuran Menyantuni Anak Yatim di Bulan Muharram

Kincai Media – Salah satu rekomendasi yang dianjurkan di bulan Muharram adalah menyantuni anak yatim. Bulan Muharram merupakan bulan pertama dalam almanak Hijriah yang mempunyai kedudukan spesial dalam Islam.

Bulan ini termasuk salah satu dari empat bulan haram (al-asyhur al-hurum) yang dimuliakan Allah SWT. Karena keutamaannya tersebut, umat Islam dianjurkan memperbanyak kebaikan saleh, baik yang berkarakter ibadah perseorangan maupun sosial.

Di antara ibadah yang sering dikaitkan dengan bulan Muharram, khususnya pada hari Asyura (10 Muharram), adalah mengusap kepala anak yatim. Tradisi ini telah lama dikenal di tengah masyarakat Muslim sebagai simbol kepedulian dan kasih sayang terhadap anak-anak yang kehilangan sosok ayahnya.

Lantas, gimana sebenarnya makna rekomendasi mengusap kepala anak yatim pada bulan Muharram? Apakah ini maksudnya adalah menyantuni anak yatim?

Keutamaan Mengusap Kepala Anak Yatim

Dalam sejumlah kitab disebutkan riwayat mengenai keistimewaan mengusap kepala anak yatim pada hari Asyura. Di antaranya disebutkan dalam kitab Manāhij al-Imdād karya Syekh Muhammad Nawawi al-Bantani:

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَنْ صَامَ يَوْمَ عَاشُورَاءَ مِنَ الْمُحَرَّمِ أَعْطَاهُ اللهُ تَعَالَى ثَوَابَ عَشَرَةِ آلَافِ مَلَكٍ، وَمَنْ صَامَ يَوْمَ عَاشُورَاءَ مِنَ الْمُحَرَّمِ أُعْطِيَ ثَوَابَ عَشَرَةِ آلَافِ شَهِيدٍ، وَمَنْ مَسَحَ يَدَهُ عَلَى رَأْسِ يَتِيمٍ يَوْمَ عَاشُورَاءَ رَفَعَ اللهُ تَعَالَى لَهُ بِكُلِّ شَعْرَةٍ دَرَجَةً.

Artinya: “Dari Ibnu Abbas RA, Rasulullah SAW bersabda: ‘Barang siapa berpuasa pada hari Asyura di bulan Muharram, Allah bakal memberinya pahala sepuluh ribu malaikat. Barang siapa berpuasa pada hari Asyura di bulan Muharram, Allah bakal memberinya pahala sepuluh ribu syuhada. Dan peralatan siapa mengusap tangannya pada kepala anak yatim pada hari Asyura, Allah bakal mengangkat derajatnya pada setiap helai rambut yang diusap.’“

Riwayat ini sering dijadikan dasar oleh para ustadz untuk menganjurkan peningkatan kepedulian kepada anak yatim pada bulan Muharram, meskipun para mahir sabda berbeda pendapat mengenai kualitas sebagian riwayat yang menjelaskan keutamaan-keutamaan tersebut.

Makna Mengusap Kepala Anak Yatim

Para ustadz mempunyai dua pendekatan dalam memahami hadis-hadis yang berbincang tentang mengusap kepala anak yatim.

Pertama, dimaknai secara hakiki

Sebagian ustadz memahami sabda tersebut sesuai makna lahiriahnya, ialah betul-betul mengusap kepala anak yatim sebagai corak kasih sayang dan perhatian. Pendapat ini dijelaskan oleh Imam Ibnu Hajar al-Haitami dalam Al-Fatāwā al-Hadītsiyyah:

وَالْمُرَادُ مِنَ الْمَسْحِ فِي الْحَدِيثِ الثَّانِي حَقِيقَتُهُ كَمَا بَيَّنَهُ آخِرُ الْحَدِيثِ، وَهُوَ: «مَنْ مَسَحَ رَأْسَ يَتِيمٍ لَمْ يَمْسَحْهُ إِلَّا لِلَّهِ كَانَ لَهُ بِكُلِّ شَعْرَةٍ مَرَّتْ عَلَيْهَا يَدُهُ عَشْرُ حَسَنَاتٍ، وَمَنْ أَحْسَنَ إِلَى يَتِيمٍ أَوْ يَتِيمَةٍ عِنْدَهُ كُنْتُ أَنَا وَهُوَ فِي الْجَنَّةِ كَهَاتَيْنِ».

Kemudian Ibnu Hajar menjelaskan:

وَخُصَّ الرَّأْسُ بِذَلِكَ لِأَنَّ فِي الْمَسْحِ عَلَيْهِ تَعْظِيمًا لِصَاحِبِهِ، وَشَفَقَةً عَلَيْهِ، وَمَحَبَّةً لَهُ، وَجَبْرًا لِخَاطِرِهِ، وَهَذِهِ كُلُّهَا مَعَ الْيَتِيمِ تَقْتَضِي هَذَا الثَّوَابَ الْجَزِيلَ.

Artinya: “Yang dimaksud dengan mengusap dalam sabda tersebut adalah makna sebenarnya. Kepala disebut secara unik lantaran mengusapnya mengandung penghormatan kepada anak yatim, kasih sayang, cinta, dan penghiburan terhadap perasaannya. Semua nilai tersebut menjadi karena diperolehnya pahala yang besar.”

Menurut pendapat ini, mengusap kepala anak yatim bukan sekadar sentuhan fisik, tetapi merupakan simbol kasih sayang yang bisa menghibur dan menguatkan emosi mereka.

Kedua, dimaknai secara kinayah

Sebagian ustadz lainnya memahami ungkapan “mengusap kepala anak yatim” sebagai kinayah (ungkapan simbolik) yang menunjukkan rekomendasi melakukan baik kepada anak yatim secara umum.

Dengan demikian, maknanya tidak terbatas pada sentuhan kepala semata, tetapi mencakup seluruh corak kepedulian, seperti memberikan santunan, membantu biaya pendidikan, memenuhi kebutuhan hidup, memberikan perhatian psikologis, serta mendampingi mereka agar tumbuh dan berkembang dengan baik.

Spirit Muharram: Menghidupkan Kepedulian Sosial

Terlepas dari perbedaan penafsiran tersebut, para ustadz sepakat bahwa inti aliran yang hendak disampaikan adalah pentingnya memuliakan anak yatim. Islam tidak hanya mendorong umatnya untuk beragama secara personal, tetapi juga menumbuhkan solidaritas sosial kepada golongan yang memerlukan perhatian.

Dalam konteks saat ini, anak yatim tidak hanya memerlukan support materi, tetapi juga kasih sayang, pendampingan, dan kesempatan memperoleh pendidikan yang layak. Karena itu, menghidupkan sunnah mengusap kepala anak yatim hendaknya tidak berakhir pada aspek simbolik, melainkan diwujudkan dalam corak kepedulian yang nyata.

Muharram menjadi momentum yang tepat untuk meneguhkan kembali semangat berbagi dan menguatkan ikatan sosial. Sebab, sebagaimana diajarkan Rasulullah SAW, kemuliaan seorang Muslim tidak hanya diukur dari banyaknya ibadah yang dilakukan, tetapi juga dari sejauh mana dia bisa menghadirkan faedah bagi sesama, terutama mereka yang lemah dan memerlukan perlindungan.

Sertifikasi Halal

Selengkapnya