Setiap dari kita pasti pernah mengalami depresi, sedih, dan sebagainya. Islam adalah kepercayaan yang datang sebagai solusi atas seluruh persoalan kehidupan manusia. Tidak ada satu pun persoalan hidup yang luput dari perhatian Islam, baik urusan bumi maupun akhirat. Allah Ta’ala berfirman,
الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا
“Pada hari ini telah Kusempurnakan kepercayaan kalian, Kulengkapkan nikmat-Ku bagi kalian, dan Kuridai Islam sebagai kepercayaan atas kalian.” (QS. Al-Maidah: 3)
Di antara persoalan yang manusia hadapi adalah persoalan jiwa dan hati. Kegundahan, kegelisahan, kesedihan, apalagi depresi. Ini semua nyata. Ini semua bagian dari kehidupan yang tidak bisa diabaikan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَا يُصِيبُ الْمُسْلِمَ مِنْ نَصَبٍ وَلَا وَصَبٍ وَلَا هَمٍّ وَلَا حُزْنٍ وَلَا أَذًى وَلَا غَمٍّ حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا إِلَّا كَفَّرَ اللَّهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ
“Tidaklah seorang Muslim ditimpa kelelahan, penyakit, kekhawatiran, kesedihan, gangguan, maupun kegundahan, apalagi duri yang menusuknya, melainkan Allah bakal menghapuskan dosa-dosanya dengan karena itu.” (HR. Bukhari dan Muslim) [1]
Hadis ini sangatlah jelas. Islam sangat memahami bahwa manusia bakal mengalami kesedihan dan tekanan jiwa. Bukan hanya memahami, Islam apalagi menjadikan ujian tersebut sebagai sarana penghapus dosa. Islam bukan kepercayaan yang mengabaikan persoalan jiwa. Islam adalah kepercayaan yang paling memahami persoalan manusia dan memberikan solusi terbaik.
Kesedihan dan depresi adalah bagian dari kemanusiaan
Kesedihan bukanlah tanda kelemahan iman. Ini adalah bagian dari fitrah manusia yang Allah ciptakan dan akui dalam Al-Qur’an dan As-Sunah. Allah Ta’ala berfirman,
وَنَبْلُوكُم بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً
“Kami menguji Anda dengan keburukan dan kebaikan sebagai ujian.” (QS. Al-Anbiya: 35)
Para Nabi pun tidak luput dari kesedihan yang mendalam. Nabi Ya’qub ‘alaihi assalam begitu sedih atas kehilangan putranya Yusuf. Kesedihannya kekal dalam Al-Qur’an,
وَتَوَلَّىٰ عَنْهُمْ وَقَالَ يَا أَسَفَىٰ عَلَىٰ يُوسُفَ وَابْيَضَّتْ عَيْنَاهُ مِنَ الْحُزْنِ فَهُوَ كَظِيمٌ
“Dan dia beralih dari mereka seraya berkata, ‘Alangkah sedihku atas Yusuf,’ dan kedua matanya menjadi putih lantaran kesedihan, dan dia adalah orang yang menahan amarah.” (QS. Yusuf: 84)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun mengalami kesedihan mendalam saat putranya Ibrahim meninggal. Beliau bersabda,
إِنَّ الْعَيْنَ تَدْمَعُ وَالْقَلْبَ يَحْزَنُ وَلَا نَقُولُ إِلَّا مَا يَرْضَى رَبُّنَا
“Sesungguhnya mata ini menangis dan hati ini bersedih, namun kami tidak bakal mengucapkan sesuatu yang membikin Tuhan kami murka.” (HR. Bukhari) [2]
Jadi jelas. Seseorang yang mengalami depresi tidak perlu merasa bersalah alias menganggap dirinya beragama rendah. Kesedihan adalah pengalaman kemanusiaan yang nyata dan diakui oleh Islam.
Namun, perihal tersebut tidak menjadikan manusia boleh berkepanjangan dalam kesedihannya. Ia kudu mengusahakan untuk bangkit dari kesedihannya agar dia bisa kembali lebih bisa beraktifitas secara biasa dan kembali semangat. Ibnu Qayyim al-Jauziyah rahimahullah berbicara dalam kitabnya, Zad Al-Ma’ad,
الْهَمُّ وَالْحُزْنُ يُضَعِّفَانِ الْعَزْمَ، وَيُوهِنَانِ الْقَلْبَ، وَيَحُولَانِ بَيْنَ الْعَبْدِ وَبَيْنَ الِاجْتِهَادِ فِيمَا يَنْفَعُهُ
“Kekhawatiran dan kesedihan melemahkan tekad, melemahkan hati, dan menghalangi antara hamba dengan upaya sungguh-sungguh dalam perihal yang berfaedah baginya.” [3]
Salat adalah obat, salat adalah solusi
Islam tidak meninggalkan manusia tanpa solusi. Salah satu solusi terbesar yang Allah berikan adalah salat. Allah Ta’ala berfirman,
إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِ وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ
“Sesungguhnya salat mencegah dari perbuatan biadab dan munkar, dan mengingat Allah adalah lebih besar.” (QS. Al-Ankabut: 45)
Allah Ta’ala juga memerintahkan agar salat dijadikan penolong di saat-saat sulit,
وَاسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ وَإِنَّهَا لَكَبِيرَةٌ إِلَّا عَلَى الْخَاشِعِينَ
“Jadikanlah sabar dan salat sebagai penolongmu. Sesungguhnya yang demikian itu berat selain bagi orang-orang yang khusyuk.” (QS. Al-Baqarah: 45)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
الصَّلَاةُ نُورٌ
“Salat adalah cahaya.” (HR. Muslim) [4]
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga menjadikan salat sebagai tempat berlindung dari tekanan jiwa. Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu berkata,
كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا حَزَبَهُ أَمْرٌ صَلَّى
“Apabila Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ditimpa suatu urusan yang berat, beliau segera mendirikan salat.” (HR. Abu Dawud) [5]
Dalil-dalil ini tegas. Salat memang dirancang oleh Allah sebagai obat dan solusi. Salat adalah sarana mendekatkan diri kepada Allah sekaligus menyembuhkan penyakit hati, termasuk depresi. Salat bukan sekadar aktivitas fisik. Salat adalah proses transformasi spiritual yang nyata.
Baca juga: Cara Mengobati Hati yang Sempit dan Depresi
Boleh jadi salat kita belum sempurna
Jika seseorang telah giat salat, namun depresi tetap hadir, maka pertanyaan yang perlu dijawab dengan jujur adalah: sudahkah salat kita betul-betul sempurna?
Allah Ta’ala berfirman,
قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ هُمْ فِي صَلَاتِهِمْ خَاشِعُونَ
“Sungguh beruntung orang-orang yang beriman, ialah orang-orang yang intens dalam salatnya.” (QS. Al-Mukminun: 1-2)
Maka pemahaman dasarnya adalah ketika orang itu betul-betul melakukan salat, maka dia bakal beruntung. Pertanyaannya, kenapa kita tetap tidak merasa tenteram dengan salat kita? Apakah kita betul-betul telah menyempurnakan salat kita? Lebih dari itu, Allah Ta’ala memberikan ancaman keras bagi orang yang salat, namun salatnya tidak sampai pada hakikatnya. Allah Ta’ala berfirman,
فَوَيْلٌ لِّلْمُصَلِّينَ الَّذِينَ هُمْ عَن صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ
“Maka celakalah orang-orang yang salat, ialah orang-orang yang lalai dari salatnya.” (QS. Al-Ma’un: 4-5)
Ini adalah peringatan yang sangat serius. Salat yang tidak sempurna bukan hanya tidak bermanfaat. Lebih dari itu, salat bisa membawa kecelakaan bagi pelakunya. Bukan lantaran salatnya, melainkan lantaran salat itu dilakukan tanpa ruh dan tanpa prinsip yang sebenarnya.
Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata,
مَنْ لَمْ تَأْمُرْهُ صَلَاتُهُ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَهُ عَنِ الْمُنْكَرِ لَمْ يَزْدَدْ بِهَا إِلَّا بُعْدًا
“Barang siapa yang salatnya tidak memerintahkannya kepada yang ma’ruf dan tidak mencegahnya dari yang munkar, maka salatnya hanya menambah jauhnya dia dari Allah.” [6]
Perkataan Ibnu Mas’ud ini sangat dalam maknanya. Salat yang tidak mengubah perilaku bukan hanya tidak bermanfaat. Justru menjauhkan seseorang dari Allah. Bagaimana mungkin seseorang yang semakin jauh dari Allah bakal sembuh dari depresinya?
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memperingatkan,
رُبَّ قَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ قِيَامِهِ إِلَّا السَّهَرُ، وَرُبَّ صَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ صِيَامِهِ إِلَّا الْجُوعُ
“Ada orang yang berdiri untuk salat malam, namun yang dia dapatkan hanya kelelahan saja. Ada orang yang berpuasa, namun yang dia dapatkan hanya rasa lapar saja.” (HR. Ibnu Majah dan An-Nasa’i) [7]
Syekh Ar-Rajihi dalam kitabnya Fatawa Manu’ah berkata,
الخشوع هو لب الصلاة، والصلاة بلا خشوع كالجسد بلا روح
“Khusyuk adalah inti salat. Salat tanpa intens itu seumpama jasad tanpa ruh.” [8]
Keterangan para ustadz di atas sangat jelas. Salat yang tidak sempurna bukan hanya kandas menjadi obat. Bahkan bisa menjadi kecelakaan bagi pelakunya. Penyempurnaan salat bukan soal menambah jumlah rakaat. Bukan. Ini soal menghadirkan hati di setiap aktivitas dan bacaan. Merenungkan makna surah Al-Fatihah yang dibaca. Memastikan salat betul-betul mengubah adab dan perilaku sehari-hari.
Langkah-langkah lain yang Islam ajarkan
Selain menyempurnakan salat, Islam mengajarkan langkah-langkah lain yang perlu dijalankan bersama-sama.
Pertama, memperbanyak zikir dan membaca Al-Qur’an
Allah Ta’ala berfirman,
أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ
“Ketahuilah bahwa dengan mengingat Allah, hati menjadi tenang.” (QS. Ar-Ra’d: 28)
Allah Ta’ala juga berfirman,
وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْآنِ مَا هُوَ شِفَاءٌ وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ
“Kami menurunkan dari Al-Qur’an apa yang menjadi penyembuh dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (QS. Al-Isra: 82)
Syekhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, sebagaimana dinukil oleh Ibnul Qayyim dalam kitabnya, Al-Wabil Ash-Shayyib,
الذِّكْرُ لِلْقَلْبِ مِثْلُ الْمَاءِ لِلسَّمَكِ، فَكَيْفَ يَكُونُ حَالُ السَّمَكِ إِذَا فَارَقَ الْمَاءَ؟
“Zikir bagi hati adalah seperti air bagi ikan. Maka gimana keadaan ikan andaikan terpisah dari air?” [9]
Kedua, mengubah perspektif dengan pemahaman Islam
Cara seseorang memandang musibah dan ujian sangat mempengaruhi langkah dia merasakannya. Seseorang yang memandang ujian hanya sebagai beban, dia bakal semakin terpuruk. Sebaliknya, seseorang yang memandang ujian sebagai hikmah dari Allah, dia bakal menemukan ketenangan. Allah Ta’ala berfirman,
وَعَسَىٰ أَن تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ وَعَسَىٰ أَن تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَّكُمْ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنتُمْ لَا تَعْلَمُونَ
“Boleh jadi Anda membenci sesuatu, padahal itu baik bagimu; dan boleh jadi Anda menyukai sesuatu, padahal itu jelek bagimu. Allah mengetahui sedangkan Anda tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 216)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لِأَحَدٍ إِلَّا لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ
“Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin. Sesungguhnya semua urusannya adalah baik, dan perihal itu tidak dimiliki oleh siapa pun selain oleh seorang mukmin. Apabila dia mendapat kesenangan, dia bersyukur, maka itu baik baginya. Apabila dia ditimpa kesusahan, dia bersabar, maka itu pun baik baginya.” (HR. Muslim)[10]
Ibnu Qayyim al-Jauziyah rahimahullah berbicara dalam kitabnya, Miftah Dar As-Sa’adah,
إِذَا اسْتَكْمَلَ الْعَبْدُ حَقِيقَةَ الْيَقِينِ صَارَ الْبَلَاءُ عِنْدَهُ نِعْمَةً، وَالْمِحْنَةُ مِنْحَةً
“Apabila seorang hamba menyempurnakan prinsip keyakinan, maka ujian baginya menjadi nikmat, dan ujian menjadi karunia.” [11]
Perkataan Ibnul Qayyim ini jelas. Cara pandang seseorang terhadap cobaannya sangat menentukan kondisi jiwanya. Depresi yang dihadapi dengan kesabaran dan kepercayaan bahwa Allah tidak bakal menyia-nyiakan ujian hamba-Nya, maka bakal berubah menjadi jalan menuju kemuliaan. Sebaliknya, depresi yang dihadapi dengan keputusasaan hanya bakal menambah beban jiwa.
Ketiga, membangun hubungan sosial yang baik
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
الْمُؤْمِنُ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا
“Seorang mukmin bagi mukmin lainnya adalah seperti satu bangunan, sebagian saling menopang sebagian yang lain.” (Muttafaq ‘alaihi) [12]
Isolasi diri adalah salah satu aspek yang memperparah depresi. Islam justru mendorong umatnya untuk saling berinteraksi, saling menguatkan, dan saling mendukung.
Keempat, menjaga kesehatan fisik
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
الْمُؤْمِنُ الْقَوِيُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ
“Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah.” (HR. Muslim) [13]
Kesehatan bentuk dan kesehatan mental saling berangkaian erat. Pola tidur yang baik, makan yang bergizi, dan kegiatan bentuk yang teratur memberikan pengaruh nyata terhadap kestabilan emosi dan suasana hati.
Kelima, mencari support ahli sebagai ikhtiar
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
لِكُلِّ دَاءٍ دَوَاءٌ فَإِذَا أُصِيبَ دَوَاءُ الدَّاءِ بَرَأَ بِإِذْنِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ
“Setiap penyakit ada obatnya. Apabila obat telah tepat mengenai penyakit, maka dengan izin Allah penyakit itu bakal sembuh.” (HR. Muslim) [14]
Mencari support master alias psikolog adalah corak ikhtiar yang sesuai dengan aliran Islam. Tidak ada yang bertentangan antara mencari support ahli dengan keagamaan seseorang. Ini adalah bagian dari upaya yang disertai tawakal kepada Allah.
Kesimpulan
Seseorang yang salat, namun tetap mengalami depresi, tidak perlu memandang dirinya sebagai orang yang kandas secara spiritual. Islam memahami bahwa depresi adalah bagian dari ujian kemanusiaan. Ketika dia melakukan ibadah namun tetap depresi, yang perlu dievaluasi adalah kualitas ibadahnya. Apakah sudah betul-betul khusyuk? Apakah menghasilkan perubahan nyata dalam perilaku?
Di samping itu, langkah-langkah lain yang bisa ditempuh adalah memperbanyak zikir dan membaca Al-Qur’an, mengubah perspektif, menjaga kesehatan fisik, membangun hubungan sosial yang baik, dan mencari support ahli jika diperlukan. Semuanya adalah bagian dari solusi Islam yang menyeluruh.
Allah Ta’ala berfirman,
إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا
“Sesungguhnya berbareng kesulitan ada kemudahan.” (QS. Al-Insyirah: 6)
Ibnu Qayyim al-Jauziyah rahimahullah berbicara dalam kitabnya, Zad al-Ma’ad,
إِذَا اسْتَكْمَلَ الْعَبْدُ حَقِيقَةَ الْيَقِينِ صَارَ الْبَلَاءُ عِنْدَهُ نِعْمَةً، وَالْمِحْنَةُ مِنْحَةً
“Apabila seorang hamba menyempurnakan prinsip keyakinan, maka ujian baginya menjadi nikmat, dan ujian menjadi karunia.” [15]
Janji Allah ini bertindak untuk setiap orang yang sedang berjuang. Termasuk mereka yang sedang berjuang melawan depresi. Islam datang bukan untuk menghakimi. Islam datang untuk menemani dan memberikan jalan keluar terbaik.
Semoga Allah memberikan kesehatan fisik, mental, dan spiritual kepada kita semua. Aamiin.
Baca juga: Tips Khusyuk dalam Salat
***
Penulis: Muhammad Insan Fathin
Artikel Kincai Media
Catatan kaki:
[1] HR. Bukhari no. 5641 dan Muslim no. 2573.
[2] HR. Bukhari no. 1303.
[3] Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, Zad Al-Ma’ad fi Hadyi Khair Al-Ibad, 2: 327.
[4] HR. Muslim no. 223.
[5] HR. Abu Dawud no. 1319. Dinilai sahih oleh Al-Albani dalam Shahih Sunan Abi Dawud.
[6] Abu Ja‘far Muhammad bin Jarir At-Tabari, Jami‘ Al-Bayan ‘an Ta’wil Ay Al-Qur’an, 18: 408.
[7] HR. Ibnu Majah no. 1690 dan An-Nasa’i dalam Sunan Al-Kubra no. 8836. Dinilai sahih oleh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’ no. 3479.
[8] ‘Abd Al-‘Aziz bin ‘Abdullah Ar-Rajihi, Fatawa Munawwa‘ah (tafrigh dari situs Islamweb), 5: 204.
[9] Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, Al-Wabil Ash-Shayyib min Al-Kalim Al-Thayyib, hal. 69.
[10] HR. Muslim no. 2999.
[11] Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, Miftah Dar As-Sa‘adah, 1: 437.
[12] HR. Bukhari no. 481 dan Muslim no. 2585.
[13] HR. Muslim no. 2664.
[14] HR. Muslim no. 2204.
[15] Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, Miftah Dar As-Sa‘adah, 1: 437.
Daftar Pustaka
Abu Dawud, Sulaiman bin Al-Asy‘ats. Sunan Abi Dawud. Beirut: Dar Ar-Risalah Al-‘Alamiyyah, 2009.
Al-Albani, Muhammad Nashiruddin. Shahih Al-Jami‘ Ash-Shaghir wa Ziyadatuhu. Beirut: Al-Maktab Al-Islami, 1988.
Al-Albani, Muhammad Nashiruddin. Shahih Sunan Abi Dawud. Riyadh: Maktabah Al-Ma‘arif, 1998.
Al-Bukhari, Muhammad bin Isma‘il. Shahih Al-Bukhari. Beirut: Dar Ibn Katsir, 1987.
Ar-Rajihi, ‘Abd Al-‘Aziz bin ‘Abdullah. Fatawa Munawwa‘ah. Tafrigh pelajaran audio oleh Islamweb.
At-Tabari, Abu Ja‘far Muhammad bin Jarir. Jami‘ Al-Bayan ‘an Ta’wil Ay Al-Qur’an. Tahqiq ‘Abdullah bin ‘Abd Al-Muhsin At-Turki. Kairo: Dar Hajr, 2001.
An-Nasa’i, Ahmad bin Syu‘aib. As-Sunan Al-Kubra. Beirut: Muassasah Ar-Risalah, 2001.
Ibn Majah, Muhammad bin Yazid. Sunan Ibn Majah. Beirut: Dar Ihya Al-Kutub Al-‘Arabiyyah, 1975.
Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, Muhammad bin Abi Bakr. Al-Wabil Ash-Shayyib min Al-Kalim At-Thayyib. Beirut: Dar Al-Kitab Al-‘Arabi, 1985.
Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, Muhammad bin Abi Bakr. Miftah Dar As-Sa‘adah wa Mansyur Wilayah Al-‘Ilm wa Al-Iradah. Tahqiq ‘Abd Ar-Rahman bin Hasan bin Qa’id. Riyadh: Dar ‘Atha’at Al-‘Ilm; Beirut: Dar Ibn Hazm, 2019.
Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, Muhammad bin Abi Bakr. Zad Al-Ma‘ad fi Hadyi Khair Al-‘Ibad. Beirut: Muassasah Ar-Risalah, 1998.
Muslim bin Al-Hajjaj. Shahih Muslim. Beirut: Dar Ihya At-Turats Al-‘Arabi, 1972.