Menelusuri Makna Hakiki Bulan Muharram dalam Islam Kincai Media - Bulan muharram dalam keistimewaannya digolongkan sebagai bulan yang penuh berkah serta hikmah. Di dalamnya bukan hanya tentang banyaknya amaliyah yang mengandung banyak pahala. Akan tetapi, bulan tersebut ditetapkan sebagai awal tahun agar senantiasa dijadikan sebagai media renungan serta muhasabah bagi setiap umat.
Al-Ghazali pernah berbicara dalam kitabnya Ihya’ Ulumuddin tentang muharram,
المحرم ابتداء السنة فبناؤها على الخير احب وارجى لدوام بركته
“Muharram adalah permulaan tahun, mengawali tahun dengan kebaikan jauh lebih disukai dan senantiasa diharapkan keberkahannya”
Mengawali tahun baru dengan perihal positif dan kegiatan yang berfaedah merupakan wasilah agar keberkahan senantiasa mengalir. Dalam pernyataan al-Ghazali menunjukkan bahwa tahun baru bukan hanya sekedar peralihan dari almanak lama menuju almanak baru. Akan tetapi, memandang makna tersembunyi yang tersimpan di dalamnya. Dalam perihal ini marilah kita telaah makna apa yang terkandung dalam bulan Muharram itu.
Mengingat sejarah perjuangan dakwah
Adanya bulan muharram sebagai pengingat bagi kita untuk tidak melupakan kepedulian para ulama’ terdahulu. Dibentuknya almanak hijriah merupakan suatu simbol perjuangan bahwa ulama’ terdahulu senantiasa memikirkan kondisi islam pada generasi berikutnya. Islam tidak bakal menyebar luas hingga ke penjuru bumi bilamana pejuang muslim terdahulu tidak bertindak secara aktif.
Banyak kesulitan dan tantangan untuk menyampaikan dakwah Islam ke hati setiap orang. Dan tentunya memerlukan pengorbanan dalam merealisasikan suatu tujuan. Demikian halnya dengan pembuatan almanak hijriah juga merupakan suatu upaya alias langkah untuk menghidupkan dakwah.
Salah satu buktinya kita selaku muslim tidak mungkin melaksanakan seremoni besar islam tanpa adanya almanak hijriah sebagai patokannya. Di satu sisi, tujuan pembentukan hijriah sebagai tahun islam sekaligus menjadi karakter unik yang membedakan antara islam dengan kepercayaan lain. Namun poin utamanya adalah realita bahwa para cendikiawan Islam juga mempunyai peran yang besar dalam perkembangan dakwah di masanya.
Oleh karenanya, predikat muslim hanya sah disematkan kepada mereka yang ikut berkedudukan dalam melestarikan kebudayaan dan warisan para ulama’. Satu diantaranya adalah memperingati hari-hari besar seperti maulid Nabi, isra’ mi’raj dan lain-lain.
Media muhasabah untuk meningkatkan kualitas diri
Salah satu dalil yang berangkaian dengan bulan muharram adalah turunnya ayat yang menjelaskan tentang larangan melakukan peperangan di bulan-bulan yang mulia (asyhurul hurum). Sebagaimana keterangan yang terdapat dalam ayat al-Quran,
يسألونك عن الشهرالحرام قتال فيهۗ قل قتال فيه كبير ۗوصد عن سبيل الله وكفر به والمسجد الحرام واخراج اهله منه اكبر عند اللهۚ والفتنة اكبر من القتلۗ…
“Mereka bertanya kepadamu (Muhammad) tentang bertempur pada bulan haram. Katakanlah (Muhammad) bertempur pada bulan itu adalah (dosa) besar. Tetapi menghalangi (orang) dari jalan Allah, ingkar kepada Nya, (menghalangi orang masuk) masjidil haram dan mengusir masyarakat dari sekitarnya, lebih besar (dosanya) dalam pandangan Allah. Sedangkan tuduhan itu lebih sadis daripada pembunuhan.” (Q.S Al-Baqarah [2]: 217)
Dalam ayat tersebut merupakan perintah untuk melakukan genjatan senjata (tidak berperang) di bulan muharram. Namun seumpama kita memandang lebih luas, bahwa sebenarnya ayat tersebut merupakan perintah untuk menjadi pribadi yang lebih baik dengan mentaati perintah-Nya.
Bila seseorang bisa melaksanakan perintah tersebut, maka dia telah lulus dari level pertama dalam perihal ketaatan. Dalam artian, jika orang yang melanggar patokan hukum mengakibatkan dirinya jauh dari Allah, maka sebaliknya untuk orang yang alim serta melakukan intospeksi diri (muhasabah) setiap saat menjadikan dirinya lebih dekat kepada Allah.
Momen untuk mensyukuri nikmat Allah
Syariat islam selalu menekankan agar orang mukmin senantiasa berterima kasih atas karunia yang Allah berikan. Setiap hembusan nafas serta aktivitas bentuk yang kita rasakan merupakan amanah yang datang dari Tuhan. Artinya semua kenikmatan memerlukan timbal kembali sebagai corak syukur atas apa yang sudah diperoleh.
Maka dari itu, dengan adanya bulan muharram sebagai pembuka tahun baru menjadi keniscayaan bagi umat islam untuk senantiasa meng-upgrade (perbarui) rasa syukur kepada Allah. Dengan langkah menggunakan kenikmatan tersebut sebagai upaya untuk mendekatkan diri kepada-Nya. Atau dengan memberikan faedah kepada orang lain seperti melakukan dakwah sosial dan santunan kepada fakir miskin. Dalam sebuah hadits dikatakan,
من نفس عن اخيه كربة من كرب الدنيا نفس الله عنه كربة من كرب يوم القيامة, والله فى عون العبد ما دام العبد فى عون اخيه
“Barangsiapa memudahkan urusan saudaranya di dunia, maka Allah bakal memudahkan urusannya kelak dihari kiamat. Allah bakal senantiasa menolong seorang hamba yang membantu saudaranya” (HR. Muslim)
Intinya, mensyukuri nikmat tidak hanya sebatas dengan lisan. Melainkan juga berupa sebuah tindakan yang berfaedah bagi banyak orang. Sebab, sebaik-baik orang adalah yang paling berfaedah bagi orang lain.
Dari sini kita bisa memahami bahwa makna dari hijriah sendiri sebenarnya adalah hijrah. Yaitu beranjak dari sesuatu yang levelnya jelek menuju ke level baik alias dari dari level baik menuju kepada yang lebih baik. Sehingga orang tidak hanya memandang tahun baru sebagai perpindahan almanak lama ke almanak baru semata. Akan tetapi, memandang sesuatu yang ada di baliknya.
Wallahu a’lam bish shawab.