Sejumlah santri mengikuti angan berbareng akhir dan awal tahun hijriah di Pondok Pesantren Lirboyo, Kota Kediri, Jawa Timur, Selasa (18/7/2023). Doa berbareng yang diikuti ribuan santri dan penduduk tersebut sebagai bentuk rasa syukur dan pengharapan kehidupan yang lebih baik seiring pergantian tahun.
Kincai Media , Memasuki tahun baru Islam 1448 Hijriah, umat Islam kerap melakukan tradisi untuk membaca angan awal dan akhir tahun secara berjamaah di mushala, masjid alias masjid taklim. Meski demikian, ada juga segelintir pihak yang menilai tradisi membaca angan pada awal almanak hijriah ini adalah perkara yang tidak ada landasannya dari Nabi Muhammad SAW alias bid’ah.
Apa sebenarnya norma menggelar angan untuk menyambut datangnya bulan Muharram atau Tahun Baru Islam ini? Apakah memang betul bid’ah yang dilarang oleh Nabi?
Penulis Rumah Fiqih Indonesia, Ustaz Firman Arifandi menjelaskan, tradisi membaca angan untuk menyambut bulan Muharram tersebut dilakukan oleh umat Islam bukan tanpa landasan. Pada prinsipnya, selama tetap tidak bertentangan dengan prinsip Alquran, sunah, Ijma dan atsar sahabat maka perkara itu belum bisa dikatakan sesat.
Menurut dia, ada sebuah dalil yang diyakini merupakan ibadah dari para sahabat Nabi melalui riwayat Abdullah bin Hisyam dalam al mu’jam al awsath pemimpin Thabrani:
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَلِيٍّ الصَّائِغُ قَالَ: نا مَهْدِيُّ بْنُ جَعْفَرٍ الرَّمْلِيُّ قَالَ: نا رِشْدِينُ بْنُ سَعْدٍ، عَنْ أَبِي عُقَيْلٍ زُهْرَةُ بْنُ مَعْبَدٍ، عَنْ جَدِّهِ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ هِشَامٍ قَالَ: «كَانَ أَصْحَابُ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، يَتَعَلَّمُونَ هَذَا الدُّعَاءَ إِذَا دَخَلْتِ السَّنَةُ أَوِ الشَّهْرُ: اللَّهُمَّ أَدْخِلْهُ عَلَيْنَا بِالْأَمْنِ، وَالْإِيمَانِ، وَالسَّلَامَةِ، وَالْإِسْلَامِ، وَرِضْوَانٍ مِنَ الرَّحْمَنِ، وَجَوَازٍ مِنَ الشَّيْطَانِ
Dari Abdullah bin Hisyam, dia berbicara bahwa para Sahabat Rasulullah shalallahu alaihi wasallam mempelajari angan berikut jika memasuki tahun alias bulan: “Ya Allah, masukan kami ke dalamnya dengan aman, iman, selamat dan Islam. Mendapatkan ridha Allah dan dijauhkan dari gangguan syetan” (HR Thabrani, Al Hafizh Al Haitsamiy menilai Hasan)
Atsar ini tidak ada dalam riwayat lain selain dari Thabrani dan tidak ditemukan rantainya selain melalui sanad yang tersebut di atas, di mana Risydin bin Sa’ad menyendiri di jalur sanad tersebut. Kendati demikian, Imam Ahmad mengatakan bahwa hadist ini dinilai hasan oleh Al Hafidz Al Haitsamiy.
“Dalam menetapkan status hadits ataupun atsar sahabat, kadang para ustadz juga berselisih, inilah yang kerap menjadi bagian asbab ikhtilaf dalam konklusi norma dalam fikih,” kata Ustaz Firman dikutip dari Rumah Fiqih Indonesia.
English (US) ·
Indonesian (ID) ·