Apakah Ibu Hamil Penderita Asma Bisa Melahirkan Pervaginam?

May 11, 2026 01:00 PM - 1 hari yang lalu 1436

Jakarta -

Kehamilan katanya dapat menyebabkan perubahan pada asma seseorang. Lantas, apakah ibu mengandung penderita asma bisa melahirkan pervaginam?

Perempuan yang mengandung dengan asma merasakan kekhawatiran berlebih dengan kondisinya. Hal ini karena mereka cemas gimana kehamilan yang dijalaninya bakal memengaruhi pernapasan mereka dan apakah obat asma yang mereka konsumsi bakal membahayakan bayi.

Ibu mengandung penderita asma

Asma merupakan penyakit kronis yang bisa menyebabkan saluran napas seseorang menyempit sehingga pernapasan menjadi lebih sulit. Pada kehamilan yang normal, sebenarnya sesak napas merupakan indikasi kehamilan secara umum, apalagi di antara orang-orang yang tanpa asma sekalipun.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT


Namun, pada mereka yang menderita asma, kesulitan bernapas mungkin terasa terasa jauh lebih berat. Apalagi ada indikasi tambahan yang mengiringinya seperti mengi, batuk, dan sesak dada. Selain merasakan kekhawatiran tentang kesehatan diri sendiri, ibu mengandung dengan asma juga merasa cemas kesehatan janinnya termasuk kekhawatiran jika janin tidak mendapatkan cukup oksigen.

Apakah kehamilan dapat memperburuk asma?

Mengutip dari laman Cleveland Clinic, bisa jadi kasus kehamilan dapat memperburuk asma tetapi biasanya tergantung pada kasus pasien tersebut. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa sekitar 40 persen orang mengalami perburukan asma selama kehamilan.

Namun, sebagian besar orang yang kasus gejalanya memburuk tersebut terindikasi mempunyai asma berat (bukan ringan alias sedang) sebelum hamil. Serta, sebanyak 60 persen lainnya diketahui tidak merasakan perubahan alias indikasi asma mereka justru membaik.

Para peneliti juga menemukan beberapa poin berikut ini mengenai asma dan kehamilan:

1. Asma yang memburuk biasanya terjadi antara minggu ke-29 dan ke-36 kehamilan.
2. Asma yang membaik biasanya terjadi secara berjenjang selama kehamilan.
3. Gejala asma biasanya tidak memburuk selama persalinan.

Gejala asma yang berubah selama kehamilan biasanya kembali normal dalam tiga bulan pertama setelah bayi lahir. Dan, orang yang mengalami perubahan indikasi asma pada kehamilan sebelumnya mengalami perubahan serupa pada kehamilan selanjutnya.

Apakah asma dapat memengaruhi janin selama kehamilan?

Asma memang dapat menimbulkan akibat kesehatan bagi janin jika tidak dikelola dengan baik. Hal ini sangat krusial mengingat mengelola kondisi medis apa pun selama kehamilan sangat krusial untuk kesehatan Bunda dan janin.

Keberadaan asma yang tidak dikelola dengan baik dapat mengurangi jumlah oksigen yang tersedia dalam darah untuk janin yang sedang berkembang. Sehingga, perihal ini dapat meningkatkan akibat komplikasi kehamilan.

Sayangnya, sebagian besar ibu mengandung dengan asma yang mengalami komplikasi tidak percaya gimana mereka mengelola asma selama kehamilan. Misalnya, mereka cemas dengan obat asma mereka dapat membahayakan janin sehingga memutuskan berakhir mengonsumsinya. Padahal, tidak mengelola asma dengan baik justru menimbulkan akibat yang jauh lebih besar bagi janin daripada pengobatan apa pun.

Di sisi lain, mengambil langkah yang tepat untuk mengelola asma dengan baik seperti minum semua obat sesuai resep dapat meningkatkan kesempatan penderita asma untuk mempunyai kehamilan normal dan melahirkan bayi yang sehat.

Mengenal penyebab asma selama kehamilan

Kehamilan sedianya tidak menjadi penyebab seseorang terkena asma ya, Bunda. Tetapi, perubahan mengenai kehamilan pada tubuh dapat menyebabkan seseorang mengalami kondisi tersebut secara berbeda. Adapun perubahan yang memengaruhi pernapasan meliputi beberapa perihal berikut:

1. Peningkatan ukuran rahim

Rahim membesar untuk menampung janin yang sedang tumbuh ketika hamil. Saat itu terjadi, dia memposisikan ulang diafragma (otot yang membantu Bunda menarik udara ke paru-paru dan melepaskannya). Diafragma mungkin tidak dapat bergerak bebas untuk memungkinkan Bunda bernapas penuh.

2. Peningkatan hormon kehamilan

Lonjakan hormon kehamilan dapat mengeringkan sinus dan menyebabkan peradangan. Hal ini dapat membikin hidung terasa "tersumbat," sehingga pernapasan menjadi lebih sulit. Secara khusus, lonjakan progesteron merangsang pernapasan yang lebih cepat.

3. Peningkatan debar jantung

Jantung kudu bekerja lebih keras untuk memasok darah kepada Bunda dan janin. Kerja ekstra ini dapat terasa melelahkan dan membikin ibu mengandung sesak napas.

Apakah asma menyebabkan komplikasi selama kehamilan alias persalinan?

Asma yang tidak terkontrol dapat meningkatkan akibat komplikasi kehamilan tertentu. Selain itu, orang yang didiagnosis menderita asma berat lebih mungkin mengalami komplikasi daripada orang dengan asma ringan alias sedang.

Beberapa komplikasi yang mungkin berisiko dialami ibu mengandung dengan asma diantaranya preeklamsia, kelahiran prematur, usia kehamilan mini alias berat badan lahir rendah.

Apakah ibu mengandung penderita asma bisa melahirkan pervaginam?

Sebagian besar wanita dengan asma dapat melahirkan secara pervaginam, seperti dikutip dari laman Nhs. Tetapi, jika Bunda cemas apakah asma nantinya bakal memengaruhi persalinan pervaginam, diskusikan perihal ini dengan perawat alias master ahli Bunda. Jika setelah diskusi, Bunda merasa lebih nyaman dengan melakukan operasi caesar yang direncanakan, Bunda berkuasa untuk meminta opsi tersebut.

Jika persalinan Bunda kudu diinduksi, pastikan Bunda mengingatkan master alias perawat bahwa Bunda mempunyai riwayat asma sehingga mereka dapat menggunakan obat-obatan teraman sesuai kebutuhan. 

Pada akhirnya, menderita asma bukan berfaedah Bunda kudu menjalani operasi caesar saat persalinan. Tetapi, jika Bunda kudu menjalani operasi caesar, mahir anestesi bakal berupaya menggunakan blok spinal alias epidural daripada anestesi umum.

Operasi caesar dianggap sebagai pilihan yang lebih kondusif bagi ibu mengandung penderita asma, dan juga lebih kondusif untuk menggunakan obat pereda asma sebelum, selama, dan setelah operasi jika diperlukan.

Jika Bunda perlu  menjalani operasi caesar dengan anestesi umum, yakinlah bahwa mahir anestesi bakal memilihkan obat anestesi yang tepat jika Bunda menderita asma.

Mengendalikan asma selama kehamilan

Gejala asma pada ibu mengandung bisa membaik, tetap sama, alias apalagi memburuk selama kehamilan. Bahkan, sekitar 45 persen wanita dengan asma mengalami serangan asma selama kehamilannya. Karenanya, guna mengelola asma secara efektif, ada baiknya Bunda melakukan treatment unik yang meminimalisir serangan asma baik di siang dan malam hari.

Ada tiga perihal krusial yang perlu dilakukan ialah mengendalikan indikasi asma siang dan malam hari, mempertahankan kegunaan paru-paru dan tingkat kegiatan normal serta mencegah serangan asma. Langkah-langkah ini krusial untuk memastikan bahwa bayi mendapatkan banyak oksigen. 

Serangan asma selama kehamilan dapat menyebabkan penurunan oksigen dalam darah, yang berfaedah lebih sedikit oksigen yang mencapai bayi. Dengan kondisi tersebut, akibat bayi lebih tinggi untuk lahir prematur, berat badan lahir rendah, dan pertumbuhan yang buruk.

Selain itu, wanita dengan asma juga sedikit lebih mungkin daripada mereka yang tanpa asma mengalami tekanan hipertensi (preeklampsia), dan menjalani persalinan caesar. Bayi yang lahir terlalu mini dan terlalu awal lebih mungkin mengalami masalah kesehatan bayi baru lahir. Risiko terburuk lainnya, mereka dapat mengalami kesulitan bernapas dan kecacatan permanen, seperti keterbelakangan intelektual dan cerebral palsy.

Untuk menjaga kesehatan ibu dengan asma selama kehamilan tetap terpantau dengan baik, berikut ini tiga langkah yang dapat dilakukan ya, Bunda:

1. Pantau asma dengan rutin

Tim medis perlu memantau paru-paru Bunda selama kehamilan dan menyesuaikan obat asma jika diperlukan. Beritahukan petugas medis jika indikasi membaik alias memburuk.

2. Hindari pemicu asma

Dengan membatasi kontak dengan alergen dan pemicu asma lainnya, Bunda mungkin perlu minum lebih sedikit obat untuk mengendalikan gejalanya. Kuncinya adalah mengendalikan indikasi asma dengan menghindari pemicu asma dan minum obat asma sesuai petunjuk tim medis.

3. Minum obat asma

Ada banyak obat asma yang kondusif untuk dikonsumsi selama kehamilan, Bun. Bicarakan dengan master terkai pilihan tersebut. Jika Bunda mengonsumsi obat asma sebelum kehamilan, jangan berakhir tanpa membicarakannya dengan master terlebih dahulu. Ingatlah bahwa menghentikan obat secara tiba-tiba dapat membahayakan kesehatan Bunda dan bayi. 

Demikian penjelasan apakah ibu mengandung penderita asma bisa melahirkan pervaginam. Semoga informasinya membantu ya, Bunda.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join organisasi Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(pri/pri)

Selengkapnya