Bagaimana Menyikapi Prasangka (bag. 1)

May 08, 2026 11:00 AM - 1 hari yang lalu 1484

Prasangka, berasas Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah pendapat (anggapan) yang kurang baik mengenai sesuatu sebelum mengetahui (menyaksikan, menyelidiki) sendiri. Yang dimaksud di sini adalah ظنّ. Menurut Al-Jurjani rahimahullah, ظنّ adalah, “Meyakini sesuatu yang lebih rajih disertai keraguan terhadap yang kurang rajih.”

Al-Qur’an berbincang tentang prasangka

Ada sebanyak 60 kata ظنّ  di dalam Al-Qur’an dan mempunyai beberapa makna,

Yakin

Allah Ta’ala berfirman,

قَالَ ٱلَّذِينَ يَظُنُّونَ أَنَّهُم مُّلَٰقُواْ ٱللَّهِ

“Mereka yang meyakini bahwa mereka bakal menemui Allah.” (QS. Al-Baqarah: 249)

Donasi Kincai Media

Ath-Thabari rahimahullah mengatakan di dalam tafsirnya (1: 375) bahwa kata ظنّ di sini berasas pendapat jumhur adalah yakin. Abu Hayyan di dalam tafsirnya (1: 300) mengatakan bahwa makna يظنون adalah yakin. Di antara corak kekhusyukan adalah dia tidak ragu (alias yakin) bakal berjumpa dengan Rabbnya. Dan juga dalam ayat-ayat lain, di antaranya dalam surah Al-Jin ayat 12, Al-Haqqah ayat 20, dan Al-Qiyamah ayat 20 yang menunjukkan bahwa tafsir dari kata  ظنّ adalah yakin.

Ragu

Allah Ta’ala berfirman,

وَمِنْهُمْ أُمِّيُّونَ لَا يَعْلَمُونَ الْكِتَابَ إِلَّا أَمَانِيَّ وَإِنْ هُمْ إِلَّا يَظُنُّونَ

“Dan di antara mereka ada yang buta huruf, tidak memahami Kitab (Taurat), selain hanya berambisi dan mereka ragu.” (QS. Al-Baqarah: 78)

Setelah menyebut beberapa pendapat, Abu Hayyan mengatakan bahwa ظنّ berarti ragu.

Menuduh

Allah Ta’ala berfirman,

وَيُعَذِّبَ الْمُنَافِقِينَ وَالْمُنَافِقَاتِ وَالْمُشْرِكِينَ وَالْمُشْرِكَاتِ الظَّانِّينَ بِاللَّهِ ظَنَّ السَّوْءِ عَلَيْهِمْ دَائِرَةُ السَّوْءِ

“Dan Dia mengazab orang-orang munafik laki-laki dan perempuan, dan (juga) orang-orang musyrik laki-laki dan wanita yang menuduh keburukan terhadap Allah.” (QS. Al-Fath: 6)

Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan di dalam tafsirnya (7: 329) bahwa maksudnya adalah mereka menuduh keburukan terhadap Allah Ta’ala dalam hukum-Nya, serta terhadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabatnya.

Wahm

Wahm adalah dugaan yang lemah terhadap sesuatu. Allah Ta’ala berfirman,

وَإِذَا قِيلَ إِنَّ وَعْدَ اللَّهِ حَقٌّ وَالسَّاعَةُ لَا رَيْبَ فِيهَا قُلْتُمْ مَا نَدْرِي مَا السَّاعَةُ إِنْ نَظُنُّ إِلَّا ظَنًّا وَمَا نَحْنُ بِمُسْتَيْقِنِينَ

“Dan andaikan dikatakan (kepadamu), ‘Sungguh, janji Allah itu benar, dan hari hariakhir itu tidak diragukan adanya.’ Kamu menjawab, ‘Kami tidak tahu apakah hari hariakhir itu, kami hanyalah menduga-duga saja, dan kami tidak yakin’.” (QS. Al-Jatsiyah: 32)

Mengira-ngira

Allah Ta’ala berfirman,

وَأَنَّا ظَنَنَّا أَنْ لَنْ تَقُولَ الإنْسُ وَالْجِنُّ عَلَى اللَّهِ كَذِبًا

“Dan sesungguhnya kami mengira bahwa manusia dan hantu itu tidak bakal mengatakan perkataan yang bohong terhadap Allah.” (QS. Al-Jin: 5)

Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan di dalam tafsirnya (8: 237), ialah kami tidak mengira bahwa manusia dan hantu itu bermufakat membikin kedustaan terhadap Allah Ta’ala karena mereka menisbatkan istri dan anak kepada-Nya.

Keyakinan yang keliru

Allah Ta’ala berfirman,

فَمَا ظَنُّكُمْ بِرَبِّ الْعَالَمِينَ

“Maka apakah anggapanmu terhadap Tuhan semesta alam?” (QS. As-Saffat: 87)

Ibnu ‘Asyur mengatakan bahwa makna kata ظنّ di sini adalah keyakinan yang keliru. Disebut dengan ظنّ lantaran tidak sesuai dengan kenyataan, dan juga tidak disebut ilmu, lantaran istilah pengetahuan hanyalah untuk kepercayaan yang sesuai dengan kenyataan.

Dari sini, didapatkan bahwa makna ظنّ di dalam Al-Qur’an tidak hanya berarti satu. Ada suatu perkataan dari Adh-Dhahak, “Setiap kata ‘prasangka’ yang ada di dalam Al-Qur’an yang berangkaian dengan orang beriman, maka maknanya adalah ‘yakin’. Sedangkan yang berangkaian dengan orang kafir, maka maknanya adalah ‘ragu’.” (Tafsir Al-Qurthubi, 18: 270) Makna dari perkataan ini adalah, prasangka mereka yang berangkaian dengan Rabbnya. Orang beragama bakal percaya terhadap Rabbnya, sedangkan orang kafir bakal ragu terhadap Rabbnya di dunia. Adapun di akhirat, ada firman Allah Ta’ala yang menjelaskan bahwasanya orang kafir tersebut percaya bahwa mereka bakal dilemparkan ke dalam neraka. Allah Ta’ala berfirman,

وَرَأَى الْمُجْرِمُونَ النَّارَ فَظَنُّوا أَنَّهُمْ مُوَاقِعُوهَا وَلَمْ يَجِدُوا عَنْهَا مَصْرِفًا

“Dan orang yang berdosa memandang neraka, lampau mereka yakin, bahwa mereka bakal jatuh ke dalamnya, dan mereka tidak menemukan tempat beralih darinya.” (QS. Al-Kahfi: 53)

[Bersambung]

***

Penulis: Triani Pradinaputri

Artikel Kincai Media

Selengkapnya