Bagaimana Menyikapi Prasangka (bag. 2)

May 10, 2026 11:00 AM - 11 jam yang lalu 605

Menanamkan prasangka baik kepada Allah

Hamba yang beriman adalah orang yang mempunyai prasangka baik terhadap Rabb-nya. Hamba yang beragama percaya bahwa Rabb-nya bakal menolongnya dari keburukan musuh-musuhnya. Ketika dia tertimpa musibah, dia percaya bahwa musibah itu berasal dari kesalahan dirinya sendiri, bukan kezaliman yang Allah berikan. Hal ini lantaran Allah tidak pernah melakukan zalim, Allah selalu melakukan adil, apalagi murah hati kepada hamba-Nya. Dia percaya bahwa Allah yang memberikannya rezeki, dan tidak bakal menyia-nyiakan hamba-Nya yang beragama kepada-Nya. Dia percaya bahwa Allah yang memberikannya hidayah. Dia percaya bahwa Allah tidak pernah menyelisihi janji-Nya. Allah-lah yang paling memenuhi janji. Segala prasangka yang ada pada Rabb-nya adalah prasangka yang baik.

Di dalam sabda yang sahih, dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, Allah Ta’ala berfirman,

أنا عند ظن عبدي بي

“Sesungguhnya, Aku berasas prasangka hamba–Ku terhadap–Ku.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dari Jabir radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

Donasi Kincai Media

لا يموتن أحد منكم إلا وهو يحسن ظنه بالله عَزَّ وجَلَّ

“Janganlah salah seorang kalian meninggal dunia, selain dalam keadaan berprasangka baik kepada Allah ‘Azza wa Jalla.” (HR. Muslim)

Hanya prasangka tidaklah menentukan apapun

Allah Ta’ala berfirman,

وَمَا يَتَّبِعُ أَكْثَرُهُمْ إِلَّا ظَنًّا ۚ إِنَّ ٱلظَّنَّ لَا يُغْنِى مِنَ ٱلْحَقِّ شَيْـًٔا ۚ إِنَّ ٱللَّهَ عَلِيمٌۢ بِمَا يَفْعَلُونَ

“Dan kebanyakan mereka tidak mengikuti selain persangkaan saja. Sesungguhnya persangkaan itu tidak sedikitpun berfaedah untuk mencapai kebenaran. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan.” (QS. Yunus: 36)

Ayat di atas menceritakan bahwa ketika kaum musyrikin menyembah sesembahan selain Allah, mereka tidaklah mempunyai pengetahuan yang baik tentang sesembahan tersebut. Mereka hanyalah menduga-duga bahwa perihal tersebut adalah baik. Menduga bahwa sesembahan tersebut adalah wasilah (perantara) mereka kepada Allah. Menduga bahwa sesembahan tersebut bakal mempercepat terpenuhinya rencana mereka. Namun, Allah Ta’ala mengatakan bahwa dugaan mereka tidaklah berfaedah sedikit pun, dan tidaklah mengandung kebenaran sedikit pun. Maka, renungkanlah! Kesyirikan ini berasal dari prasangka-prasangka, dimana kesyirikan adalah dosa terbesar yang tidak bakal Allah ampuni sampai pelakunya bertobat sebelum kematiannya, dan bakal membuatnya kekal di dalam neraka.

Prasangka mengantarkan kepada dosa yang lebih besar

Allah Ta’ala berfirman,

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اجْتَنِبُوْا كَثِيْرًا مِّنَ الظَّنِّۖ اِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ اِثْمٌ وَّلَا تَجَسَّسُوْا وَلَا يَغْتَبْ بَّعْضُكُمْ بَعْضًاۗ اَيُحِبُّ اَحَدُكُمْ اَنْ يَّأْكُلَ لَحْمَ اَخِيْهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوْهُۗ وَاتَّقُوا اللّٰهَۗ اِنَّ اللّٰهَ تَوَّابٌ رَّحِيْمٌ

“Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah banyak prasangka! Sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa. Janganlah mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah ada di antara Anda yang menggunjing sebagian yang lain. Apakah ada di antara Anda yang suka menyantap daging saudaranya yang sudah mati? Tentu Anda merasa jijik. Bertakwalah kepada Allah! Sesungguhnya Allah Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Hujurat: 12)

Ayat di atas menunjukkan bahwa, sebagian prasangka bakal menimbulkan dosa. Mulai dari prasangka yang tidak baik kepada saudaranya, yang ini tidak didasari pengetahuan yang baik dan benar. Kemudian, perihal tersebut bakal mengantarkan pada mencari-cari kesalahan orang tersebut, kemudian dia menghibahkan perihal tersebut kepada orang lain. Tidak jarang, akhirnya terjadi adu domba, saling membenci, perselisihan, dan konflik. Timbul perkataan-perkataan yang tidak baik yang bisa mengantarkan pelakunya kepada perihal yang lebih besar bahayanya, semisal urusan norma negara, apalagi tertumpahnya darah. Maka renungkanlah, dosa yang besar ini hanya dimulai dari prasangka yang tidak baik kepada orang lain!

Salah sikap karena prasangka yang tidak benar

Allah Ta’ala menceritakan tentang orang-orang Yahudi yang berprasangka bahwa mereka telah sukses membunuh Isa al-Masih ‘alaihis salam, tetapi realitanya tidaklah demikian. Allah Ta’ala berfirman,

وَقَوْلِهِمْ إِنَّا قَتَلْنَا ٱلْمَسِيحَ عِيسَى ٱبْنَ مَرْيَمَ رَسُولَ ٱللَّهِ وَمَا قَتَلُوهُ وَمَا صَلَبُوهُ وَلَٰكِن شُبِّهَ لَهُمْ ۚ وَإِنَّ ٱلَّذِينَ ٱخْتَلَفُوا۟ فِيهِ لَفِى شَكٍّ مِّنْهُ ۚ مَا لَهُم بِهِۦ مِنْ عِلْمٍ إِلَّا ٱتِّبَاعَ ٱلظَّنِّ ۚ وَمَا قَتَلُوهُ يَقِينًۢا

“Dan lantaran ucapan mereka, “Sesungguhnya kami telah membunuh Al–Masih, Isa putra Maryam, Rasul Allah”, padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak (pula) menyalibnya. Akan tetapi, (yang mereka bunuh ialah) orang yang diserupakan dengan Isa bagi mereka. Sesungguhnya orang-orang yang berbeda mengerti tentang (pembunuhan) Isa, betul-betul dalam keragu-raguan tentang yang dibunuh itu. Mereka tidak mempunyai kepercayaan tentang siapa yang dibunuh itu, selain mengikuti persangkaan belaka, mereka tidak (pula) percaya bahwa yang mereka bunuh itu adalah Isa.” (QS. An-Nisa`: 157)

Dikarenakan mereka tidak mencari tahu dengan pasti. Mereka melakukan perihal yang besar hanya dilatarbelakangi oleh dugaan. Bukan pengetahuan yang pasti. Mereka melakukan perihal tersebut, apalagi didasari oleh keraguan dan kebingungan. Semoga Allah melaknat mereka.

Prasangka bukanlah kebenaran

Prasangka sebetulnya adalah sesuatu yang tidak membikin nyaman. Ketika seseorang mempunyai prasangka, maka dia berada dalam dua pilihan: mencari tahu alias melakukan tindakan meskipun ilmunya terbatas. Dalam keterbatasan ini, dan dia akhirnya bertindak, sebetulnya bakal menimbulkan keraguan dalam hati. Apakah yang dilakukan ini adalah kebenaran ataukah tidak?

Sebatas prasangka bisa membikin orang sedih terhadap sesuatu. Bisa membikin orang marah dan bertindak yang tidak wajar. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

 الْبِرُّ مَا اطْمَأَنَّتْ إِلَيْهِ النَّفْسُ وَالْإِثْمُ مَا حَاكَ فِي النَّفْسِ وَتَرَدَّدَ فِي الصَّدْرِ

“Kebaikan adalah yang membikin tenang jiwa dan hatimu. Dan dosa adalah yang membikin bimbang hatimu dan goncang dadamu.” (HR. Ahmad)

Maka, ada satu perihal yang perlu disadari, bahwa prasangka bukanlah kebenaran.

Keyakinan menghilangkan prasangka

Agama Islam adalah kepercayaan yang dibangun di atas kepercayaan yang kokoh. Tidak ada keraguan dan prasangka-prasangka. Islam adalah kepercayaan yang mengajarkan beragama dengan yakin, bukan dengan prasangka, keraguan, dan perasaan. Ada satu norma dalam bab fikih, yang ini termasuk lima dari norma besar dalam bab fikih,

اليقين لا يزول بالشك

“Yakin tidak bisa lenyap dengan keraguan.” 

Agar keraguan dan prasangka hilang, seseorang kudu belajar agar timbul keyakinan. Timbulnya prasangka jelek kepada Allah adalah tanda kita belum mengenal nama-nama dan sifat-sifat Allah yang mulia. Menuntut pengetahuan dalam Islam adalah wajib. Sehingga seorang hamba bisa beragama kepada Rabb-nya dengan penuh keyakinan. Dan percaya adalah tenangnya hati terhadap suatu realita. (Al-Qadimiy, 2019)

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

طلبُ العلمِ فريضةٌ على كلِّ مسلمٍ

“Menuntut pengetahuan adalah tanggungjawab bagi setiap muslim.” (HR. Ibnu Majah)

Belajar bakal membuahkan keyakinan. Maka terlebih dalam ibadah, seseorang memerlukan kepercayaan terhadap Rabb-nya. Dengan mempelajari iktikad yang benar, mencakup tauhid rububiyyah, tauhid uluhiyyah, dan tauhid asma wa shifat. Mempelajari kepercayaan bakal mendatangkan keyakinan, sehingga kita beragama kepada Allah dengan benar. Terutama mempelajari nama dan sifat Allah sehingga tidak ada lagi mengandalkan prasangka dalam agama. Termasuk dalam bab fikih. Beribadah kudu berdasarkan kepercayaan dan benar. Yang wajib, maka dia yakini wajib; yang sunah, maka dia yakini sunah; sedangkan yang haram dia yakini haram, dan seterusnya.

Termasuk juga dalam menghadapi suatu peristiwa, tidak diterima dengan mentah-mentah. Tetapi, kudu dipelajari sampai percaya bahwa buletin tersebut sesuai dengan kebenaran dan realita. Karena seringkali buletin yang tidak betul bakal menimbulkan prasangka yang tidak betul yang membikin emosi seseorang tersalurkan menjadi kesedihan dan kemarahan yang tidak mendasar.

[Selesai]

***

Penulis: Triani Pradinaputri

Artikel Muslimah.or.id

Referensi:

Al-Mujaddid, Shalih. 2021. Apa Makna Zhon dalam Al-Quran dan Apa Tafsir dari Perkataan Adh-Dhahak? 

Baz, Bin. Makna Prasangka Buruk Kepada Allah dan Sebabnya.

Al-Khamis, Othman. Bagaimana Menghindari Prasangka Buruk Kepada Allah? 

Selengkapnya