Ketujuh, pekerja berkuasa mengadu dan menuntut keadilan
Hukum-hukum Islam yang mengatur hubungan kerja tidak hanya menetapkan patokan dasar tentang hak-hak pekerja, tetapi juga memastikan adanya sistem yang memungkinkan mereka menyampaikan keluhan dan menuntut keadilan melalui jalur yang sah.
Islam tidak membiarkan hubungan kerja melangkah tanpa arah alias tanpa perlindungan. Sebaliknya, Islam memberi kemudahan bagi semua pihak untuk menuntut haknya, baik melalui jalan musyawarah dan penyelesaian damai, maupun melalui penegakan norma jika diperlukan. Perhatian besar pun diberikan agar hak-hak tersebut betul-betul terjaga, dengan menetapkan beragam langkah dan sarana agar tetap terlindungi.
Salah satu langkah krusial yang ditekankan Islam adalah menegakkan kebenaran dan keadilan di tengah masyarakat. Ketika kebenaran dan keadilan ditegakkan, ketenangan bakal tersebar, rasa kondusif terjaga, hubungan antarsesama semakin kuat, dan kepercayaan antara pekerja dan pemilik upaya pun tumbuh. Dampaknya, kekayaan dapat berkembang, kesejahteraan meningkat, dan tatanan sosial menjadi kokoh serta terlindung dari beragam gangguan. Dengan kondisi seperti ini, baik pekerja maupun pemilik upaya dapat konsentrasi bergerak menuju tujuan kerja dan produksi mereka tanpa halangan yang melemahkan alias menghalangi kemajuan.
Banyak ayat Al-Qur’an dan sabda Nabi yang menyeru kepada keadilan serta memperingatkan keras dari perbuatan zalim, apalagi mengharamkannya. Allah Subhanahu wa Ta’ala sama sekali tidak pernah menzalimi hamba-hamba-Nya sedikit pun. Dia juga tidak menghendaki adanya kezaliman terjadi di tengah manusia. Allah Ta‘ala berfirman,
وَمَا اللَّهُ يُرِيدُ ظُلْمًا لِلْعِبَادِ
“Dan Allah tidak menghendaki kezaliman bagi hamba-hamba-Nya.” (QS. Ghafir: 31)
Dalam hadis qudsi disebutkan,
يا عبادي، إني حرمت الظلم على نفسي، وجعلته بينكم محرمًا، فلا تظالموا
“Wahai hamba-hamba-Ku, sesungguhnya Aku telah mengharamkan kezaliman atas diri-Ku, dan Aku jadikan kezaliman itu haram di antara kalian. Maka, janganlah kalian saling menzalimi.” (HR. Muslim no. 2577)
Umat-umat terdahulu dibinasakan lantaran kezaliman dan kesewenang-wenangan yang mereka lakukan. Karena itulah, kezaliman menjadi karena utama kehancuran suatu kaum. Allah Ta‘ala berfirman,
وَلَقَدْ أَهْلَكْنَا الْقُرُونَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَمَّا ظَلَمُوا وَجَاءَتْهُمْ رُسُلُهُمْ بِالْبَيِّنَاتِ وَمَا كَانُوا لِيُؤْمِنُوا ۚ كَذَٰلِكَ نَجْزِي الْقَوْمَ الْمُجْرِمِينَ
“Sungguh, Kami telah membinasakan umat-umat sebelum kalian ketika mereka melakukan zalim; para rasul telah datang kepada mereka dengan membawa bukti-bukti nyata, tetapi mereka tidak beriman. Demikianlah Kami memberi jawaban kepada kaum yang berdosa.” (QS. Yunus: 13)
Allah Ta’ala juga berfirman,
فَتِلْكَ بُيُوتُهُمْ خَاوِيَةً بِمَا ظَلَمُوا ۗ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَةً لِقَوْمٍ يَعْلَمُونَ
“Maka itulah rumah-rumah mereka yang sekarang kosong lantaran kezaliman yang mereka lakukan. Sungguh, pada yang demikian itu terdapat tanda bagi kaum yang mengetahui.” (QS. An-Naml: 52)
Dan firman-Nya,
وَأَنْذِرْهُمْ يَوْمَ الْآزِفَةِ إِذِ الْقُلُوبُ لَدَى الْحَنَاجِرِ كَاظِمِينَ ۚ مَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ حَمِيمٍ وَلَا شَفِيعٍ يُطَاعُ
“Peringatkanlah mereka tentang hari yang dekat (kiamat), ketika hati berada di kerongkongan menahan sesak. Tidak ada bagi orang-orang kejam itu kawan setia maupun pemberi syafaat yang dapat ditaati.” (QS. Ghafir: 18)
Allah juga berfirman,
وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ نَصِيرٍ
“Dan tidak ada bagi orang-orang kejam seorang penolong pun.” (QS. Al-Hajj: 71)
Dalam sabda disebutkan,
اتقوا المظلوم فإن الظلم ظلمات يوم القيامة
“Takutlah kepada angan orang yang terzalimi, lantaran kezaliman bakal menjadi kegelapan pada hari kiamat.” (HR. Bukhari, dari Ibnu Umar dalam Al-Fath, 5: 2447 dan Muslim no. 2578)
Dan dalam sabda lainnya,
إنّ الله ليملي للظالم حتى إذا أخذه لم يفلته
“Sesungguhnya Allah memberi tenggang waktu kepada orang yang zalim. Namun ketika Dia menyiksanya, Dia tidak bakal melepaskannya.” (HR. Bukhari dalam Al-Fath, 8: 4686 dan Muslim no. 2583; dengan lafaz Muslim)
Kedelapan, pekerja berkuasa mendapatkan agunan perlindungan
Istilah dhaman alias tadhmin dalam hukum Islam adalah istilah yang paling mendekati konsep al-mas’uliyyah al-madaniyyah (tanggung jawab perdata) dalam fikih kontemporer.
Secara sederhananya, tadhmin alias pertanggungjawaban adalah ketetapan norma yang mewajibkan seseorang mengganti kerugian yang dia sebabkan kepada orang lain akibat perbuatannya. Prinsip ini telah ditegaskan secara jelas dalam Al-Qur’an sebagai sumber utama norma Islam. Di antaranya terdapat dalam firman Allah Ta‘ala,
وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ أَنْ يَقْتُلَ مُؤْمِنًا إِلَّا خَطَأً وَمَنْ قَتَلَ مُؤْمِنًا خَطَأً فَتَحْرِيرُ رَقَبَةٍ مُؤْمِنَةٍ وَدِيَةٌ مُسَلَّمَةٌ إِلَى أَهْلِهِ إِلَّا أَنْ يَصَّدَّقُوا فَإِنْ كَانَ مِنْ قَوْمٍ عَدُوٍّ لَكُمْ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَتَحْرِيرُ رَقَبَةٍ مُؤْمِنَةٍ وَإِنْ كَانَ مِنْ قَوْمٍ بَيْنَكُمْ وَبَيْنَهُمْ مِيثَاقٌ فَدِيَةٌ مُسَلَّمَةٌ إِلَى أَهْلِهِ وَتَحْرِيرُ رَقَبَةٍ مُؤْمِنَةٍ فَمَنْ لَمْ يَجِدْ فَصِيَامُ شَهْرَيْنِ مُتَتَابِعَيْنِ تَوْبَةً مِنَ اللَّهِ وَكَانَ اللَّهُ عَلِيمًا حَكِيمًا
“Tidak sepantasnya seorang mukmin membunuh mukmin lainnya selain lantaran tersalah. Siapa yang membunuh seorang mukmin tanpa sengaja, maka dia wajib memerdekakan seorang budak mukmin dan bayar diyat kepada keluarganya, selain jika mereka rela membebaskannya. Jika korban berasal dari kaum yang memusuhimu namun dia seorang mukmin, dia tetap wajib memerdekakan seorang budak mukmin. Dan jika korban berasal dari kaum yang mempunyai perjanjian dengan kalian, maka dia wajib bayar diyat kepada keluarganya dan memerdekakan seorang budak mukmin. Siapa yang tidak mampu, dia wajib berpuasa dua bulan berturut-turut sebagai corak tobat kepada Allah. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (QS. An-Nisa: 92)
Sunah sebagai sumber norma Islam yang kedua juga menegaskan prinsip ini dalam banyak penjelasan. Artinya, sunah menetapkan adanya tanggungjawab tanggung jawab dan penggantian kerugian (tadhmin) dalam beragam bentuk. Di antaranya dapat dijelaskan sebagai berikut:
Tanggung jawab atas perbuatan merusak secara langsung (al-itlaf al-mubasyir)
Dari Anas radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata,
أهدي إلى النبي صلى الله عليه وسلم طعامٌ في قصعة، فضربت عائشة القصعة بيدها، فألقت ما فيها، فقال النبي صلى الله عليه وسلم: طعام بطعام وإناء بإناء
“Pernah dihadiahkan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berupa makanan dalam sebuah bejana. Lalu ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha memukul bajan itu dengan tangannya hingga isinya tumpah. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun bersabda, ‘Makanan diganti dengan makanan, dan bajan diganti dengan bejana’.” (HR. Bukhari)
Tanggung jawab atas peralatan yang diambil tanpa izin (al-yad ‘ala ma akhadzat)
Sunah juga menegaskan bahwa seseorang bertanggung jawab atas kekayaan orang lain yang dia ambil secara paksa alias tanpa hak. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
على اليد ما أخذت حتى ترد
“Setiap tangan bertanggung jawab atas apa yang diambilnya hingga dia mengembalikannya.” (HR. at-Tirmidzi no. 1266, al-Hakim no. 2302, dan Abu Dawud no. 3561)
Inilah dasar dari tanggung jawab yang muncul akibat mengambil kekayaan orang lain secara paksa. Dalam istilah para fuqaha alias mahir fikih, perbuatan ini dikenal sebagai al-ghashab (الغصب), ialah menguasai alias mengambil kekayaan milik orang lain tanpa kewenangan dan dengan langkah yang tidak dibenarkan.
Siapa pun yang menelaah sunah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan praktik para sahabat bakal menemukan banyak penjelasan, rincian, serta contoh nyata tentang prinsip tanggung jawab yang menekankan tanggungjawab mengganti kerugian pihak yang dirugikan.
Berdasarkan prinsip-prinsip tersebut, seorang pekerja berkuasa menuntut agunan alias pertanggungjawaban dari pemilik upaya andaikan syarat-syaratnya terpenuhi, sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya. Ia juga berkuasa membawa perkaranya ke pihak yang berkuasa untuk menuntut tukar rugi atas kerugian yang dia alami.
Allah Ta‘ala berfirman,
وَإِلَىٰ مَدْيَنَ أَخَاهُمْ شُعَيْبًا ۚ قَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَٰهٍ غَيْرُهُ ۖ قَدْ جَاءَتْكُمْ بَيِّنَةٌ مِنْ رَبِّكُمْ فَأَوْفُوا الْكَيْلَ وَالْمِيزَانَ وَلَا تَبْخَسُوا النَّاسَ أَشْيَاءَهُمْ وَلَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ بَعْدَ إِصْلَاحِهَا ۚ ذَٰلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ
“Dan kepada masyarakat Madyan, Kami utus kerabat mereka, Syu‘aib. Ia berkata, ‘Wahai kaumku, sembahlah Allah; tidak ada sesembahan bagi kalian selain Dia. Sungguh telah datang kepada kalian bukti yang nyata dari Tuhan kalian. Maka sempurnakanlah takaran dan timbangan, janganlah kalian mengurangi hak-hak manusia, dan jangan pula melakukan kerusakan di bumi setelah diperbaiki. Itulah yang lebih baik bagi kalian jika kalian betul-betul beriman’.” (QS. Al-A‘raf: 85)
[Bersambung]
***
Penerjemah: Chrisna Tri Hartadi
Artikel Kincai Media
Sumber: Alukah.net
English (US) ·
Indonesian (ID) ·