Belakangan, ramai pola asuh orang tua yang sering mengatakan no, no, no pada anaknya. Kalimat no ini sering diucapkan untuk melarang anak, ketika mereka hendak melakukan sesuatu yang tidak semestinya.
Seperti yang kita ketahui, anak mini mempunyai rasa penasaran yang sangat tinggi, Bunda. Mereka mau menjelajahi bumi sekitar, sehingga sering kali mereka bakal menyentuh, mencicipi, hingga memanjat segalanya.
Akan tetapi, orang tua terkadang melarang dan berbicara “no alias tidak”. Misalnya, “No, no, no, jangan manjat pohon itu”, “Tidak, Anda tidak boleh menyentuh vas itu”, alias “Tidak, Anda tidak boleh makan permen itu.”
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Nah, tahukah Bunda, bahwa dengan diucapkannya kata-kata tersebut, itu tidak memberhentikan kemauan Si Kecil untuk melakukan hal-hal tersebut, lho. Justru, mereka merasa dirinya terkekang sehingga mereka bakal tantrum.
Meski begitu, tindakan Bunda tidak salah, kok. Wajar saja jika Bunda merasa cemas lantaran anak mungkin belum terlalu mengerti tentang apa yang dilakukan sehingga kita sebagai orang dewasa menjadi lebih waspada.
Namun, alangkah baiknya kita kurangi penggunaan kata “tidak” tersebut, Bunda. Untuk itu, yuk simak langkah menyampaikannya dengan lebih baik agar anak tetap memahami tanpa merasa ditolak.
Alasan orang tua mengatakan “tidak” kepada anak
Mungkin, di kembali orang tua yang berbicara “tidak”, terdapat beragam argumen yang juga perlu dimengerti. Percayalah, bahwa setiap keputusan yang mereka ambil umumnya didasari oleh rasa sayang dan kemauan untuk menjaga sang anak.
1. Kekhawatiran dan keselamatan
Orang tua pastinya bakal selalu memprioritaskan keselamatan anak-anak mereka. Oleh lantaran itu, orang tua yang berbicara “tidak” kemungkinan besar mau melindungi anak dari potensi ancaman alias ancaman.
2. Khawatir kesehatan anak
Tak sedikit orang tua yang cemas bakal kegiatan yang dijalani anak. Mereka merasa kegiatan tertentu dapat berakibat negatif bagi kesehatan anak, alias apalagi tidak memberikan faedah yang baik sama sekali untuk tumbuh kembangnya.
3. Keterbatasan keuangan
Selain kekhawatiran keselamatan dan kesehatan anak, finansial juga sering kali menjadi bahan pertimbangan bagi orang tua. Pada orang tua yang berbicara “tidak” pada permintaan tertentu, mungkin mereka sedang mengelola finansial agar penggunaannya sesuai prioritas.
4. Keterbatasan waktu
Orang tua juga mempunyai tanggung jawab sendiri, seperti pekerjaan untuk mencari nafkah alias pekerjaan rumah tangga yang menyita waktu mereka. Oleh lantaran itu, mereka mungkin tidak punya waktu untuk memenuhi setiap permintaan sang anak.
5. Masalah perilaku
Terkadang berbicara “tidak” juga bermaksud untuk memberikan pemahaman dan mengajarkan anak tentang batasan-batasan, serta perihal mana saja yang dapat dilakukan dan mana yang tidak. Langkah ini mendorong anak untuk mempunyai perilaku yang lebih baik.
6. Mengajarkan tanggung jawab
Mengatakan “tidak” juga bisa menjadi langkah untuk mengajarkan anak-anak tentang tanggung jawab dan kesabaran. Dengan belajar menunggu sesuatu yang mereka inginkan, anak juga belajar mengerti tentang sungguh pentingnya kerja keras untuk meraih sesuatu yang diinginkan.
7. Memprioritaskan nilai-nilai
Orang tua mungkin menolak permintaan tertentu yang bertentangan dengan nilai-nilai alias kepercayaan mereka. Salah satunya adalah menolak permintaan anak untuk menonton movie yang tidak layak alias bertentangan dengan nilai-nilai family yang dipegang.
8. Kesesuaian perkembangan
Orang tua juga biasanya bakal menolak andaikan permintaan anak tidak sesuai dengan usia alias kebutuhannya. Misalnya, orang tua melarang anak untuk bermain-main dengan pisau dapur alias barang tajam lainnya lantaran dapat membahayakan diri jika anak belum memahami penggunaannya.
Dampak negatif pada anak akibat orang tua selalu berbicara “no alias tidak”
Menurut para ahli, anak yang terus-menerus mendengar kata “tidak” bakal mengalami kemunduran dalam perkembangannya. Berikut beberapa pengaruh negatif yang dapat dirasakan anak secara dalam jangka panjang:
- Rendah diri
- Pengembangan gambaran diri (image) yang negatif
- Kesulitan dalam hubungan sosial
- Pengaturan emosi yang buruk
- Peningkatan akibat masalah perilaku
- Ketidakmampuan mengambil risiko
- Keterampilan pengambilan keputusan yang buruk
- Ketidakmampuan untuk mengatasi kegagalan dan menangani kekecewaan
- Kesulitan dalam memecahkan masalah
- Kurangnya kemandirian
- Dampak negatif pada hubungan orang tua dan anak
- Keterlambatan perkembangan kognitif, emosional, dan sosial
- Penurunan kreativitas.
Jadi, dapat dikatakan bahwa orang tua yang sering berbicara “tidak”, bukan hanya mengubah style hidup dan langkah berperilaku anak. Lebih dari itu, anak juga berisiko mengalami keterhambatan pertumbuhan.
Kalimat pengganti kata “tidak”
Berkata “tidak” secara langsung ke anak berpotensi menimbulkan beragam respons negatif. Anak pun menjadi tidak nyaman, dibatasi, dan tidak dipahami. Berikut pengganti kalimat untuk menggantikan kata “tidak” yang cocok untuk anak. Berikut rekomendasinya yang dikutip dari laman Psychology Today:
- Bunda kurang percaya deh.
- Yuk kita obrolin alias telaah besok.
- Mungkin saja.
- Nanti kita lihat apa yang terjadi.
- Bunda kudu mikir terlebih dahulu.
- Biar Bunda bicarakan dulu sama Bu pembimbing ya.
- Biar Bunda sama Ayah pertimbangkan dulu.
- Bunda perlu memikirkannya semalaman.
- Emm, Bunda kurang yakin.
Demikian gimana akibat dari berbicara “tidak” kepada anak yang bisa memengaruhi tumbuh kembangnya. Semoga info ini bermanfaat, Bunda.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join organisasi Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(rap/rap)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·