Hukum Cangkok Mata, Bolehkah?

Jun 09, 2026 02:59 PM - 16 jam yang lalu 735
Hukum Cangkok Mata, Bolehkah?Hukum Cangkok Mata, Bolehkah?

Kincai Media – Bagaimana norma cangkok mata dalam fikih? Perkembangan bumi kedokteran memungkinkan beragam upaya dilakukan untuk mengembalikan kegunaan personil tubuh yang mengalami kerusakan.

Salah satu yang sering menjadi perbincangan adalah transplantasi kornea mata alias yang terkenal disebut cangkok mata. Melalui prosedur ini, selaput mata (kornea) seseorang yang mengalami kerusakan diganti dengan kornea yang berasal dari orang lain, alias dalam kemungkinan tertentu dari hewan.

Perlu dicatat, yang dipindahkan dalam operasi ini bukan seluruh bola mata, melainkan hanya korneanya saja. Untuk memperoleh kornea tersebut, biasanya bola mata diambil dari seseorang yang telah meninggal dunia.

Bola mata itu kemudian dirawat secara unik dan umumnya tetap dapat dimanfaatkan hingga sekitar 72 jam setelah kematian. Adapun penggunaan kornea yang berasal dari hewan hingga sekarang sangat terbatas.

Lalu, gimana norma cangkok mata dalam Islam memandang praktik semacam ini?

Dalam kitab yang diterbitkan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama, menghimpun fatwa norma dalam Munas dan Muktamar NU, yang berjudul Masalah Keagamaan: Hasil Muktamar dan Munas Ulama Nahdlatul Ulama, menjelaskan ustadz berbeda pendapat dalam menyikapi norma transplantasi kornea mata.

Pendapat Pertama: Haram

Sebagian ustadz beranggapan bahwa transplantasi kornea dari manusia hukumnya haram, meskipun kornea tersebut diambil dari mayit yang tidak mempunyai kehormatan (hurmah), seperti mayit orang murtad alias kafir harbi. Menurut pendapat ini, haram pula menyambungkan personil tubuh manusia kepada manusia lainnya.

Alasannya, ancaman kebutaan tidak dianggap lebih besar daripada kerusakan yang ditimbulkan akibat pelanggaran terhadap kehormatan mayat. Dalam pandangan ini, jasad manusia tetap mempunyai kemuliaan yang kudu dijaga, apalagi setelah kematiannya.

Keterangan tersebut dijelaskan dalam kitab berikut:

(1) أحكام الفقهاء ج ٣ ص ١٥٩

مسألة: ما قولكم في افتاء مفتي الديار المصرية بجواز أخذ با إلى عين الأعمى . هل هو صحيح أو لا ؟ حداقة الميت لوصلها إلى عين الى

(۲)

قرر المؤتمر بأن ذلك الإفتاء غير صحيح: بل يحرم أخذ حداقة الميت ولو غير محترم كمرتد وحربي. ويحرم وصله بأجزاء الآدمى لأن ضرر العمى لا يزيد على مفسدة انتهاك حرمات الميت كما في حاشية الرشيدى على ابن العماد : ص ٢٦ وعبارته:

(٣)

أما الآدمى فوجوده حينئذ كالعدم كما قال الحلبي على المنهج ولو غير محترم كمرتد و حربي فيحرم الوصل به ويجب نزعه . أهـ .

(٤)

ولقوله صلى الله عليه وسلم: كسر عظم الميت ككسره حيا ( رواه أحمد في المسند وأبو داود وابن ماجة) . وعن عائشة كسر عظم الميت ككسر عظم الحي في الإثم ( رواه ابن ماجة عن أم سلمة) حديث حسن .

Artinya; (1) Ahkām al-Fuqahā’, Juz 3, hlm. 159:

Masalah: Bagaimana pendapat Anda mengenai fatwa Mufti Mesir yang membolehkan mengambil kornea mata orang yang telah meninggal untuk dipindahkan ke mata orang yang buta? Apakah fatwa tersebut betul alias tidak?

(2)

Muktamar memutuskan bahwa fatwa tersebut tidak benar. Bahkan, haram mengambil kornea mata mayat, meskipun mayit itu tidak mempunyai kehormatan (hurmah), seperti orang murtad alias kafir harbi.

Haram pula menyambungkan personil tubuh manusia kepada orang lain, lantaran ancaman kebutaan tidak lebih besar daripada kerusakan yang timbul akibat pelanggaran terhadap kehormatan mayat. Sebagaimana dijelaskan dalam Hāsyiyah ar-Rasyīdī ‘alā Ibni al-‘Imād, hlm. 26.

(3)

“Adapun personil tubuh manusia, maka keberadaannya dalam masalah ini dianggap seperti tidak ada, sebagaimana dikatakan oleh al-Halabi dalam syarah al-Manhaj. Meskipun berasal dari orang yang tidak mempunyai kehormatan, seperti orang murtad alias kafir harbi, tetap haram menyambungkannya kepada orang lain dan wajib melepaskannya kembali.”

(4)

Pendapat ini juga didasarkan pada sabda Nabi ﷺ:

كسر عظم الميت ككسره حيا

“Mematahkan tulang mayit sama seperti mematahkannya ketika dia tetap hidup.” (HR. Ahmad dalam al-Musnad, Abu Dawud, dan Ibnu Majah).

Dalam riwayat lain disebutkan:

كسر عظم الميت ككسر عظم الحي في الإثم

“Mematahkan tulang mayit sama seperti mematahkan tulang orang yang hidup dalam perihal dosanya.”

(HR. Ibnu Majah dari Ummu Salamah; sabda hasan).

Berdasarkan dalil-dalil tersebut, golongan ustadz ini memandang bahwa menjaga kehormatan jasad mayit kudu lebih diutamakan, sehingga transplantasi kornea dari jenazah tidak diperbolehkan.

Pendapat Kedua: Boleh dengan Syarat

Di sisi lain, terdapat ustadz yang membolehkan transplantasi kornea mata. Mereka mengqiyaskan persoalan ini dengan norma menyambung tulang menggunakan tulang manusia yang dibolehkan dalam keadaan tertentu.

Namun kebolehan tersebut tidak berkarakter mutlak. Setidaknya kudu terpenuhi beberapa syarat berikut:

  1. Terdapat kebutuhan yang mendesak.
  2. Tidak ditemukan pengganti lain selain personil tubuh manusia.
  3. Mata yang diambil berasal dari mayit yang ma‘shūm ad-dam (orang yang darahnya terpelihara menurut syariat).
  4. Antara donor dan penerima terdapat kesamaan agama.

Dengan demikian, perbedaan pendapat ustadz dalam masalah norma cangkok mata bertumpu pada dua pertimbangan besar: menjaga kehormatan mayit di satu sisi, dan kebutuhan pengobatan serta pemulihan kegunaan penglihatan di sisi yang lain. Karena itu, norma transplantasi kornea menjadi salah satu persoalan fiqih kontemporer yang terus mendapat perhatian para ulama.

Sertifikasi Halal

Selengkapnya